LOGIN“Bagaimana menurutmu? Apa kamu sudah mendapatkan dekorasi atau tema pernikahan yang kamu inginkan?”
Siang ini Lita mengajak Nara untuk melihat pameran pernikahan. Disana banyak vendor yang menyediakan berbagai jasa pernikahan, mulai dari dekorasi, gaun pengantin, katering, fotografer, hingga perencanaan pernikahan atau WO (Wedding Organizer). Tak hanya itu dekorasi di sana juga seperti berlomba-lomba menunjukkan desain dan tema yang mereka bawa. Selain itu calon pengantin juga bisa melakukan konsultasi langsung dan bertanya sepuasnya pada ahli pernikahan mengenai detail layanan yang mereka miliki. Banyak promo menarik yang juga mereka tawarkan untuk para calon pengantin yang akan menggunakan jasa mereka. “Ini terlalu banyak, Tante. Saya bingung harus memilih yang mana,” jawab Nara jujur. Terlalu banyak vendor yang dilihatnya dan semuanya bagus-bagus. Andai saja dia menikah dengan lelaki yang dicintainya, tentu ini akan menjadi mudah baginya. Masalahnya dia sama sekali tak memiliki gambaran ingin pernikahan seperti apa. “Bagaimana kalau kita konsultasi saja dengan salah satu vendor?” saran Lita. Nara menggaruk rambutnya yang tak gatal. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tiga jam lagi ia harus karena ada janji dengan seseorang. “Boleh Tante,” jawab Nara. Lita menggandeng tangan Nara. “Berhenti memanggilku Tante. Panggil aku Mama, oke?” “Bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi anakku,” sambung Lita. Nara hanya mengangguk dan tersenyum simpul menjawab ucapan Lita. Dari pada dirinya, masih ada wanita yang sangat ingin menjadi menantumu. Wanita itu bahkan sudah menentukan tema dan pakaian yang ingin dikenakannya. “Bagaimana kalau kita melihat yang sana dulu?” ujar Lita. “Boleh, Tante, eh Ma,” sahut Nara. Nara dan Lita bergandengan menuju vendor yang diinginkan Lita. namun, ketika hendak sampai tempat yang diinginkannya, matanya tak sengaja melihat Giorgio bersama dengan Saras. Nara yang tak ingin memperumit masalah, membawa Lita pergi ke tempat yang lainnya. Lebih baik Lita tidak tahu kelakuan putranya ketimbang ia dibuat pusing nantinya. Lita adalah tipe orang yang heboh akan sesuatu, begitu juga dengan Saras. Ia tidak ingin terhimpit di antara orang-orang heboh itu. “Loh bukannya kita mau ke sana?” Lita terlihat bingung saat Nara membawanya menuju ke Vendor yang menampilkan konsep pernikahan ala putri di negeri dongeng. “Tiba-tiba saya ingin melihat ke sini Ma,” jawab Nara asal. Lita mengerutkan keningnya. “Tapi kamu alergi dengan hal semacam ini kan. Itu yang kamu katakan waktu itu,” kata Lita. Nara tertawa kaku. Ia merutuki dirinya karena membawa Lita ke vendor pernikahan dengan tema princes yang sangat dibencinya. “Sepertinya aku berubah pikiran Tante,” jawab Nara. Tak mengubah arahnya, Nara menggandeng tangan Lita masuk ke dalam pameran wedding yang memamerkan konsep pernikahan ala princes. Kepalanya sesekali menengok ke belakang, melihat apakah Giorgio masih ada di sini atau tidak. “Selamat datang, Kak,” sapa salah satu penjaga wanita dengan ramah. “Perkenalkan, nama saya Rania. Apakah kalian ingin melihat-lihat terlebih dahulu atau mau langsung berkonsultasi?” tanya Rania dengan ramah. “Kami ingin melihat-lihat dulu, boleh?” sahut Nara. “Tentu. Ini silahkan dibawa!” jawab Rania sambil memberikan selebaran mengenai wedding organizernya. Nara tersenyum. Ia mengambil lembaran itu lalu masuk lebih ke dalam bersama Lita. mata keduanya menatap penuh kagum apa yang ada di depan mereka. Pakaian, dekorasi serta konsep pernikahan ala princes ini memang sangat menakjubkan. Pantas saja Saras menginginkannya. Jika ia menikah dengan orang yang dicintainya, pasti ia akan memilih tema yang sama dengan tema yang diinginkan Saras. Sayangnya ia harus menikah dengan musuh bebuyutannya. “Bagus ya,” lirih Lita. “bagaimana kalau kita menggunakan konsep ini?” tanyanya kemudian. Nara menoleh, menatap wajah Lita yang terlihat senang dengan konsep pernikahan ini. “Tapi Ma, aku rasa ini akan sangat mahal,” balas Nara mencoba mengubah keinginan Lita. demi apapun dia tidak ingin memiliki konsep yang sama dengan kekasih Giorgio, dia tidak ingin dicap sebagai wanita peniru yang tidak memiliki prinsip. “Mahal? Tenang saja uang Giorgio tidak akan habis hanya dengan menyewa ini semua,” sahut Lita. Nara hanya bisa tertawa. Dia tak tahu lagi harus bicara apa jika sudah seperti ini. Menolak juga tidak akan ada gunanya kecuali dia memiliki pendukung. “Kulitmu yang putih bersih pasti cocok dengan tema ini, ditambah lagi wajahmu yang cantik, semuanya akan terasa pas. Kita pilih yang ini saja, oke?” “Oke.” Bukan Nara yang menjawab. Wanita itu menoleh ke belakang, menatap tak percaya Giorgio yang sedang berdiri di belakangnya dengan senyum mengembang di wajahnya. “Gio…?” lirih NaraNara membuka matanya yang masih terasa berat. Tubuhnya remuk redam akibat ulah Giorgio semalam. Pria itu terus menginginkannya dan tak ingin berhenti. Jika tidak memiliki pekerjaan yang menumpuk tentu dia lebih memilih tidur ketimbang bangun.“Apa dia sudah berangkat?” gumam Nara saat mendapati kasur sebelahnya kosong.“Hist…dasar pria menyebalkan. Habis manis sepah dibuang!” omel Nara.“Akhh….” Nara merintih bagian sensitifnya terasa perih dan sakit bersamaan. Kakinya bahkan terasa lemas seolah tak memiliki tulang.Nara yang terduduk di lantai hanya bisa menghela napas berat, tidak ada yang bisa menolongnya. Suaminya bahkan meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan, entah kemana perginya. “Kenapa nasibku begitu menyedihkan sekali,” gerutu Nara.Tepat saat Nara berusaha bangkit, pintu kamar terbuka. Giorgio berdiri di sana dengan wajah terkejut. “Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa ada di bawah?” cecar Giorgio khawatir.“Aku ingin ke kamar mandi, tapi aku justru terjatuh,” jawab
Nara menelan ludahnya susah payah. Kakinya mundur beberapa langkah ke belakang mencoba menghindari Giorgio yang tampak serius dengan ucapannya.“Gio, bagaimana kalau kita bicara tentang ini,” kata Nara mencoba mengalihkan keinginan Giorgio.Giorgio tersenyum tipis. Langkah kakinya terus maju mendekati Nara. Matanya mengunci pergerakan sang istri. Dia tahu jika Nara gelisah dan takut, namun nafsunya mengalahkan segalanya.“Aku sudah menunggu lama untuk ini Nara, dan malam ini aku tidak akan menundanya,” balas Giorgio.Nyali Nara semakin mengkerut, kakinya tak lagi bisa melangkah ke belakang. “Gi–Gio…aku….”“Aku apa Nara?” potong Giorgio.Giorgio menarik pinggang Nara, membawa wanita itu ke dalam dekapannya. “Kamu terlalu menggoda Nara,” kata Giorgio dengan suara seraknya.Nara menggigit bibirnya. Jantungnya berdetak semakin cepat hanya karena hembusan napas Giorgio yang menerpa kulit wajahnya. “Gio, ingatlah, ada Saras yang menunggumu,” ucap Nara yang masih berusaha untuk menggagalkan
Giorgio tersenyum miring. “Menurutmu apa yang bisa aku lakukan Nara?”“Gi–gio, berhenti sampai di situ Gio,” perintah Nara tergagap. Langkahnya semakin sempit, punggungnya hampir membentur tembok.“Kenapa Nara, bukankah kita ini suami istri?” sahut GIorgio. Langkahnya semakin mendekat. Matanya menatap lurus Nara, seolah mengunci wanita itu.Nara menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya meremang, takut jika GIorgio melakukan hal yang aneh-aneh. “Gi–Gio, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh.” Nara masih mencoba membujuk Giorgio agar pria itu tidak berbuat hal di luar keinginannya.Giorgio tersenyum miring. “Aneh-aneh?” Giorgio semakin mendekat. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengunci tubuh Nara agar wanita itu tidak bisa pergi kemanapun. Senyum miring tercetak jelas di wajah Giorgio, membuat Nara semakin bergidik ngeri.“Gio ingat, ada kekasihmu yang menunggumu untuk menikahinya,” kata Nara. Ia tak tahu lagi harus berkata apa untuk menghentikan aksi Gio
“Pak Gio….” Moana menatap tak berkedip Giorgio yang baru saja keluar dari ruangannya. Aura pria itu terlihat dingin dan mematikan.“Nara akan lembur bersamaku membahas kerja sama dengan klien baru . jadi batalkan janji yang sudah kalian sepakati.”“Bukan begitu Nara,” tambah Giorgio memberikan tekanan pada setiap kalimat yang diucapkannya.Nara hanya bisa menghela napas beratnya. Meski tidak suka dengan keputusan sepihak Gio, ia tak bisa berbuat apa-apa. Komentarnya ataupun pendapatnya tidak akan berarti jika sudah disangkutkan dengan pekerjaan.“Be–benar,” jawab Nara.Wajah Revan tampak murung. Namun pria itu tetap berusaha untuk tersenyum di depan Nara. “baiklah kalau begitu. Mungkin lain kali kita bisa pergi bersama,” kata Revan tetap tidak ingin menyerah.Revan dan Moana langsung pergi usai Giorgio datang. Di meja kerja Nara hanya tinggal dirinya dan Giorgio, Nara menatap malas pria yang masih betah berdiri di depannya dengan wajah tanpa dosanya itu.“Apa?” ucap Giorgio saat Nara
Nara mengucek matanya. Tidurnya terasa nyenyak tak sama seperti biasanya. Nyawanya yang belum sepenuhnya sadar masih tidak menyadari jika ia tidur dengan posisi memeluk erat tubuh Giorgio. Baru beberapa detik kemudian wanita itu tersadar bahwa ia tengah tertidur dengan posisi memeluk tubuh Giorgio.Merasa malu dengan apa yang dilakukannya, Nara memilih menarik tangannya perlahan. Bibirnya bergumam pelan. “Kamu sungguh memalukan Nara.”Belum benar-benar memindahkan tangannya, Giorgio terbangun dengan suara serak khas orang bangun tidur. Bibirnya tersenyum tipis, menggoda Nara yang tampak malu-malu.“Selamat pagi istriku. Kemarin pasti tidurmu sangat nyenyak,” ucap Giorgio.Nara berdehem. Tangannya langsung ia tarik begitu saja. Tubuhnya juga bergeser beberapa centi dari tubuh GIorgio. “Aku mandi dulu. Kamu bisa mandi setelah aku selesai,” balas Nara mengalihkan pembicaraan.Nara langsung turun dari tempat tidur. Ia begitu malu sampai tak berani menatap Giorgio. Langkahnya yang terburu
“Ce–cemburu, siapa bilang?! Aku tidak cemburu ya. Hanya melihatmu keluar dari cafe tidak berpengaruh apapun untukku,” balas Nara sedikit tergagap.Giorgio mengulum senyumnya. Kakinya melangkah dua langkah lebih mendekat kepada Nara, matanya menatap intens istrinya yang tampak kikuk di depannya.“Jadi hari ini kamu melihatku keluar dari cafe bersama Saras dan kamu merajuk. Benar seperti itu?” tanya Giorgio dengan nada sedikit menggoda.Nara memalingkan wajahnya, mencoba menghindari tatapan Giorgio yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar kencang.“Ti–tidak! Jangan samakan aku denganmu. Aku sama sekali tidak merajuk. Aku hanya ingin lebih menikmati hidupku mulai sekarang. Jika kamu bisa berbuat sesukamu tanpa melaporkan apapun kepadaku, maka aku akan melakukan hal yang sama!” jawab Nara, nadanya kembali terdengar berapi-api.Giorgio mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya semakin merekah melihat sikap Nara yang terlihat mengemaskan. Wanita itu tampak cemburu namun tidak mau menga
"Ka–kamu…kenapa kamu ada disini?”Nara terlihat cukup terkejut saat melihat Revan duduk di samping Daniel. Sungguh dunia ini serasa begitu sempit. Akhirnya setelah hidup hampir dua puluh sembilan tahun, dia benar-benar mempercayai istilah dunia tak selebar daun kelor. Revan tersenyum tulus. “Aku m
Giorgio mengetuk pintu kamar Nara. Sejak pertengkaran kecil mereka tadi Nara mengunci dirinya di dalam kamar. Wanita itu juga tidak makan apapun sejak pagi. Menu makanan yang disiapkan oleh Bi Asih tak tersentuh sedikit pun. Tak lagi tahan dengan apa yang dilakukan oleh Nara, Giorgio mendatangi ka
Kaki Nara terus bergerak gelisah. Kata-kata yang diucapkan oleh Giorgio terus berputar seperti kaset kusut di otaknya. Pria itu ingin menuntut haknya sebagai seorang suami.“Dor…! Ngelamun apa sih, Neng?” tanya Moana.Nara menatap tampian Moana, sahabatnya itu terlihat lebih cantik. “Kamu berdandan
“Bangun Gio, pindah ke kamar mu sana!” Nara terus menggoyang-goyangkan tubuh Giorgio, bukan bangun pria itu justru tersenyum lebar dan meletakkan kepalanya di paha Nara.“Kamu tahu, kamu sangat lucu kalau marah-marah seperti ini Nara,” gumam Giorgio.Nara mengehela nap







