Se connecterDi sisi lain, dua mobil yang sejak tadi mengikuti dari belakang mulai melambat. Jarak mereka memang cukup jauh dari mobil Bima. Namun sejak awal semua komunikasi dilakukan melalui sambungan telepon yang terus aktif.Bima menjadi mata mereka di depan. Karena itulah saat suara dari ujung sana mendadak hilang, suasana langsung berubah.Awalnya masih normal, mereka masih mendengar suara mesin mobil. Sesekali suara sein kendaraan yang mereka buntuti. Lalu setelah van masuk ke kawasan villa-villa di Gang Macan, suara Bima semakin jarang terdengar.Hanya sesekali untuk mengarahkan jalan."Terus.""Belok kiri.""Masuk sini.""Lurus aja."Sampai akhirnya... diam selama beberapa menit, tidak ada suara apa pun.Arlan yang menyetir mulai mengernyit. Matanya sesekali melirik layar ponsel yang tersambung ke dashboard."Bim?"Tidak ada jawaban.Dito yang berada di mobil bagian belakang ikut menegakkan badan. "Gimana Bim? Aman nggak?"Sunyi.Maya yang sejak tadi menatap ke depan juga mulai merasa tid
Bima mematikan mesin mobil perlahan. Lampu depannya sudah ia matikan sejak beberapa puluh meter tadi. Mobilnya kini berhenti di sisi jalan yang lebih gelap, tertutup bayangan pohon dan tembok rumah warga.Di depannya, van hitam itu benar-benar berhenti tepat di depan sebuah villa sederhana. Tidak terlihat mencolok dan terkesan biasa saja.Bangunannya dua lantai dengan cat krem yang mulai kusam. Pagar pendek besi mengelilingi halaman kecil di depan. Dari luar, tempat itu bahkan terlihat seperti penginapan biasa yang sudah cukup lama berdiri.Namun justru itu yang membuat bulu kuduk Bima meremang. Seolah memang sengaja dibuat agar tidak menarik perhatian siapa pun.Pintu van terbuka, lalu Sonya langsung diturunkan. Bukan dengan cara halus, salah satu pria menarik lengannya sementara pria lain mendorong punggungnya dengan kesal."Jalan!"Sonya menoleh tajam. "Aku bisa jalan sendiri.""Kalau bisa dari tadi nggak usah bikin repot."Perempuan itu menarik tangannya kasar. Meski dari jarak cu
Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit dan suasana sekitar mulai jauh lebih sepi. Bahkan jalanan yang sejak pagi ramai kini hanya dilewati beberapa kendaraan sesekali.Semua orang mulai kelelahan. Maya bahkan beberapa kali menguap. Bagas mulai rebahan di sofa, sedangkan Dito sibuk memeriksa ulang baterai kamera.Lalu tiba-tiba,"Keluar." Suara Bima membuat semuanya langsung siaga."Apa?""Itu."Semua bergerak mendekati jendela. Gerbang samping peternakan kembali terbuka. Dan beberapa sosok mulai keluar.Jantung Bima langsung berdegup keras. Karena di tengah kelompok itu ada seseorang yang sangat dikenalnya, Sonya.Kali ini lebih jelas, walaupun penerangan dari matahari sudah meredup. Namun cahaya lampu dari pabrik cukup memperjelas wanitanya.Kini, mereka melihat sesuatu yang aneh. Sonya terlihat sedang melawan. Tidak sampai berteriak memang, namun cukup terlihat.Perempuan itu beberapa kali mencoba menghentikan langkahnya. Sesekali menarik tangannya
Ruangan itu mendadak terasa sesak. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah nama itu akhirnya benar-benar terkonfirmasi.Itu om Wijaya, bukan hanya sekedar dugaan atau asumsi belaka. Mereka semua melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pria yang selama ini menjadi salah satu orang paling dipercaya Arlan baru saja keluar dari area peternakan yang sejak beberapa hari terakhir mereka selidiki.Dan yang paling membuat Arlan sulit menerima kenyataan itu bukanlah fakta bahwa Om Wijaya ada di sana. Melainkan fakta bahwa pria itu tampak begitu santai seolah tempat itu memang sudah biasa ia datangi.Arlan perlahan menurunkan teropongnya. Tangannya terasa dingin dan pikirannya jauh lebih kacau dibanding hari-hari sebelumnya"Sayang..." Suara Sevi terdengar pelan.Arlan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengarah ke luar jendela. Ke arah gerbang yang kini mulai kembali sepi.Di benaknya muncul puluhan pertanyaan sekaligus. Om Wijaya adalah adik kandung ibunya. Orang yang memb
Beberapa menit kemudian Arlan kembali serius. "Oke."Semua langsung memperhatikan."Kita fokus ke apa yang kita punya sekarang."Maya memutar layar laptopnya, di sana sudah tersusun berbagai foto, rekaman kendaraan beserta nomor plat yang berhasil terlihat. Tak lupa dokumentasi aktivitas di sekitar peternakan. Dan tentu saja foto yang paling membuat semuanya terdiam, foto Sonya.Meski kualitasnya tidak sempurna, wajah itu cukup jelas untuk dikenali. Tidak ada yang bisa membantah, itu memang Sonya.Masalahnya, semakin banyak bukti terkumpul, semakin besar pula risiko yang mereka hadapi. Karena itu Arlan mengambil keputusan yang sejak pagi sudah dipikirkannya."Semua data kirim.""Kemana?" tanya Dito."Pihak berwajib."Maya mengangguk. "Aku juga mikir gitu, pak.""Minimal ada backup. Kalau nanti terjadi sesuatu, datanya nggak hilang."Bagas ikut mengangguk. Dan kali ini bahkan Bima tidak membantah. Baru saja ia adalah orang pertama yang tidak sabaran, namun setelah mendapat sedikit cer
"Kayaknya... kita ketahuan." Kalimat Maya membuat seluruh ruangan langsung membeku.Bahkan Bima yang sejak tadi hampir lepas kendali ikut menoleh."Maksudmu gimana?" tanya Arlan cepat.Maya tidak langsung menjawab, tangannya masih memegang ponsel. Wajahnya terlihat semakin tegang setiap detik berlalu."Ini kamera yang kita pasang di pohon belakang.""Terus?""Dua menit lalu masih normal."Jari Maya bergerak membuka rekaman, ia memajukan beberapa detik, lalu memperlihatkan layar kepada semua orang. Pada awalnya tidak terlihat sesuatu yang aneh.Hanya terlihat jalan kecil, semak-semak dan pagar belakang peternakan. Namun beberapa detik kemudian muncul seseorang, pria bertubuh besar yang mengenakan topi.Ia berjalan lurus ke arah kamera dan berhenti tepat di depannya, lalu menatap langsung ke lensa seolah tahu kamera itu ada di sana. Tidak, bukan seolah tahu, dia memang tahu. Karena setelah itu pria tersebut mengangkat tangan, layar langsung gelap.Ruangan menjadi sunyi, bahkan suara kip
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.







