MasukTerik matahari mulai beranjak turun, menyisakan awan oranye yang pelan-pelan mulai muncul. Suasana yang tadi ramai oleh obrolan kini perlahan menipis.Bima berdiri dari kursinya, menepuk pelan celana pendeknya.“Aku pamit ya, Sev… Mbak… Nitip salam ke Mama kalau aku pulang, jangan dibangunin kasihan capek.”Sevi mengangguk pelan, senyumnya tipis.“Iya, hati-hati ya, Bim.”Namun sebelum benar-benar pergi, Bima melirik ke arah Arlan. “Lan, anter bentar yok.”Nada suaranya berubah lebih serius. Tanpa basa basi Arlan langsung menyambar kunci mobil nya.“Iya,” jawabnya singkat.\\\Langkah mereka berdua keluar rumah terasa berbeda dingin dan serius. Hanya suara kerikil kecil yang terinjak dan angin menjelang sore yang berembus pelan.Sampai di dekat motor Bima, pria itu belum juga langsung naik. Ia berdiri, menatap ke depan, rahangnya mengeras.“Aku masih nggak terima, Lan.”Arlan menatapnya. “Siapa pun itu… berani banget anjing nyentuh Sevi.” Nada suara Arlan rendah seperti tertahan dan
Siang itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mbak sudah lebih dulu menyiapkan makan siang di dapur. Aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana terasa hangat walaupun di dalamnya ada seseorang yang justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sevi duduk di kursi makan, ia diam, tangannya memainkan ujung sendok tanpa benar-benar berniat makan. Mama sempat melirik.“Kok nggak dimakan, Sev?”Sevi tersenyum tipis. “Eh iya ma...”Namun sendok itu hanya bergerak pelan, seperti enggan untuk masuk ke dalam mulut.Tidak berselang lama, pintu depan terbuka. Arlan masuk dengan langkah cepat.“Udah pada makan?”“Iya, kamu sini cuci tangan dulu,” sahut mama.Arlan mengangguk, tapi matanya langsung mencari satu orang, Sevi. Ia memperhatikan beberapa detik, ia paham kalau Sevi yang biasanya paling banyak bicara di meja makan. Namun sekarang justru paling diam.Arlan mengernyit heran, namun ia tidak langsung bertanya. Ia duduk di sebelah Sevi setelah mencuci tangan.“Makan apa hari ini
Ruang CCTV itu terasa lebih sempit dari ukuran aslinya.Layar-layar monitor menyala berjajar, menampilkan sudut-sudut gym dari berbagai arah. Biasanya tempat itu hanya dipakai untuk pemantauan biasa, keamanan alat, keluar masuk member, hal-hal teknis.Namun kali ini,Ada sesuatu yang berbeda.Bima berdiri di depan layar dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya masih terasa nyeri, tapi ia bahkan tidak memedulikannya. Tatapannya tajam, berpindah dari satu layar ke layar lain.“Putar lagi yang tadi,” ucapnya tegas pada petugas.Rekaman diputar ulang.Area tempat Sevi berdiri tadi terlihat jelas.Sevi ikut memperhatikan, berdiri sedikit di belakang Bima. Tangannya saling menggenggam, berusaha menenangkan diri.Di layar, Ia terlihat sedang mengangkat barbel. Lalu tiba-tiba terkejut dan barbel jatuh.Namun…Tidak ada siapa pun di belakangnya. Bima mengernyit.“Zoom bagian sini.”Layar diperbesar.Tetap sama.Kosong.“Yang sudut kanan.”Dipindah.Tidak ada.“Belakang alat.”Diputar lagi.M
Gedung gym itu berdiri megah, jauh dari bayangan Sevi sebelumnya. Dari luar saja sudah terlihat luas, dengan kaca besar yang memperlihatkan aktivitas di dalamnya. Orang-orang lalu lalang, sebagian membawa tas olahraga, sebagian lagi sudah mengenakan pakaian gym lengkap dengan earphone di telinga. Sevi berhenti beberapa langkah dari pintu masuk.“Ma…” ucapnya pelan.Mama ikut menatap ke dalam.“Ini… gede banget ya…”Sevi mengangguk. “Aku kira cuma gym biasa.”Belum sempat mereka melangkah masuk, seseorang dari belakang langsung merangkul bahu Sevi.“Dateng juga akhirnya yang ditunggu-tunggu.”Sevi refleks kaget. “Eh!”Ia menoleh cepat. “Bima!”Bima tertawa lepas melihat ekspresi Sevi. Mama yang melihat itu juga ikut tersenyum. “Kaget ya kamu.”“Ya kaget lah, tiba-tiba…” Sevi memukul pelan lengan Bima.Bima malah semakin santai. Ia merangkul keduanya, berjalan masuk bersama.“Gimana? Lumayan kan tempatnya?”“Lumayan apanya… ini gede banget,” jawab Sevi jujur.Bima tersenyum bangga. “P
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu kamar sudah dimatikan sejak lama, namun mata Arlan masih terbuka menatap langit-langit. Bayangan kata-kata Sevi terus berputar di kepalanya, seperti kaset rusak yang tidak bisa berhenti.“Kalau nanti kamu mau cari perempuan lain…”Kalimat itu sederhana. Bahkan terdengar seperti candaan ringan. Tapi entah kenapa menancap terlalu dalam.Arlan menghela napas panjang. Tangannya terlipat di bawah kepala. Ia menoleh ke samping, melihat Sevi yang sudah tertidur lebih dulu. Wajahnya tenang. Napasnya teratur.Seolah tidak ada beban apa pun.“Kenapa kamu ngomong gitu…” gumam Arlan pelan, nyaris tanpa suara.Ia memejamkan mata. Namun bukan gelap yang datang. Melainkan bayangan. Bayangan kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum terjadi.Apa itu hanya celetukan?Atau… sesuatu yang selama ini Sevi pendam?Dada Arlan terasa sesak.Ia membuka mata lagi. Menatap ke arah Sevi.“Siapa yang kamu pikirin, Sev…”Tidak ada jawaban.Hanya suara jam dinding
Terangnya hari sudah mulai tergantikan gelapnya malam, semua. Mama dan Papa keluar sore tadi karena ada acara di luar, Mbak sendiri sudah pulang ke rumahnya. Kini tinggal Sevi dan Arlan yang masih belum beranjak dari kasur.Tangan Arlan juga tidak berhenti mengusap perut Sevi. Walau Sevi sudah mengatakan bahwa perutnya sudah tidak lagi sakit, namun kata itu tidak diindahkan oleh Arlan.“Mau makan apa sayang?”“Aku mau yang kuah-kuah boleh?” Karena Sevi sudah menentukan bentuk makanan apa yang mau dimakan, Arlan langsung terpikirkan untuk mengajak Sevi ke restoran Jepang tak jauh dari sini.“Mau ramen? Atau udon? Ada resto jepang baru nggak jauh dari sini.”“Ramen enak nggak sih... Yok sekarang berangkat.”Sevi langsung berdiri dan mencari cardigan yang ada di lemari Arlan. “Kadang heran, kamu tuh tadi siang udah pucet kayak nggak kuat ngapa-ngapain.” Ucap Arlan sambil terkekeh. Ia bingung akan hormon wanita yang begitu cepat berubah, kesakitan yang Sevi rasakan tadi siang kini sepe
Miko masih terpaku beberapa detik setelah melihat dua garis merah itu. Tangannya yang memegang alat tes kehamilan terasa dingin, sementara kepalanya justru panas oleh campuran syok dan kesadaran yang datang terlalu cepat.“Mila…” suaranya berat. “Ini… ini bener?”Mila berdiri di depannya dengan mat
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan
Siang itu seharusnya menjadi jeda yang tenang.Sevi duduk berhadapan dengan Arlan di ruangannya, makan siang sederhana yang Arlan bawa dari luar. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh gejolak, Sevi m
Mobil Arlan berhenti tepat di depan rumah orang tuanya. Mesin dimatikan, pintu dibuka, dan angin sore langsung menyergap masuk ke dalam kabin. Sevi yang duduk di kursi penumpang depan menoleh, memperhatikan kedua orang tua Arlan yang sudah bersiap turun.“Hati-hati di jalan,” kata mama Arlan sambil







