Compartir

Salah Paham

Autor: Olivia
last update Fecha de publicación: 2026-01-25 23:34:44

Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”

Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.”

“Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.”

“Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.”

“Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”

Kalimat itu menancap seperti duri.

Sevi terdiam. “Kalau itu yang kamu pikirkan… aku menyesal.”

Mila mengusap wajahnya kasar. “Aku nggak minta penyesalanmu.”

Hening jatuh di antara mereka. Sevi mela
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam yang Panjang

    Setelah percakapan itu, suasana meja mereka berubah. Bukan karena ada pertengkaran, justru sebaliknya. Terlalu banyak informasi yang baru saja mereka dengar dan terlalu banyak kemungkinan yang tiba-tiba muncul dalam waktu bersamaan.Akibatnya, tidak ada satu pun yang benar-benar tahu harus berkata apa. Arlan membuka kaleng berikutnya. Sedangkan Bima mengambil botol yang baru datang.Di atas meja, jumlah minuman perlahan bertambah. Bukan hanya satu merek, melainkan beberapa yang berbeda. Sebagian dipesan karena penasaran, sebagian lagi hanya karena mereka membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikiran yang terus bekerja tanpa henti.Namun anehnya, semakin banyak yang diminum, semakin sedikit yang dibicarakan. Arlan dan Bima hanya sesekali saling melirik, lalu kembali diam. Seolah keduanya sedang memproses informasi masing-masing.Dan tanpa perlu dijelaskan, mereka tahu apa yang sedang dipikirkan satu sama lain. Sonya, nama yang menghubungkan semua benang kusut yang selama ini berdiri se

  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Terhubung

    Awalnya Bima berniat berpura-pura tidak melihat mereka. Itu rencana yang muncul selama kurang lebih tiga detik. Setelah itu ia menyadari rencana tersebut mustahil dilakukan.Arlan dan Sevi berada tepat di depannya. Jarak mereka tidak sampai dua puluh meter. Dan semakin lama ia memandang, semakin besar kemungkinan mereka juga menyadari keberadaannya.Benar saja, saat Bima berdiri dari bangku dan melangkah mendekat, Sevi yang sedang berbicara tiba-tiba berhenti. Mata perempuan itu membesar, tangannya refleks menunjuk ke arah depan."Arlan.""Hm?""Itu..."Arlan mengikuti arah telunjuknya, lalu membeku."...Bima?"Beberapa detik berikutnya terasa aneh bagi ketiganya. Karena tidak ada satu pun yang menyangka akan bertemu di sini.Bukan di Jakarta, di kantor, apalagi di gym. Melainkan di tengah Kota Malang, pada malam hari, ketika masing-masing sedang menjalankan misi yang bahkan tidak mereka ceritakan satu sama lain.Bima berjalan mendekat. Arlan dan Sevi ikut mendekat. Mereka berhenti be

  • Bos, Jangan di Sini!   Nggak Mungkin Kebetulan

    Malam di Malang terasa berbeda dibanding malam-malam yang biasa dijalani Bima. Mungkin karena udara yang lebih dingin. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak sedang duduk di depan laptop menelusuri jejak yang terus menghilang.Sejak sore tadi ia sebenarnya tidak mendapatkan perkembangan berarti mengenai Sonya. Petunjuk yang ia kumpulkan masih sama, belum cukup kuat untuk memastikan apa pun dan belum cukup jelas untuk membawanya langsung kepada perempuan itu.Karena itulah, setelah berjam-jam berkutat dengan catatan dan lokasi-lokasi yang sudah ia datangi, Bima akhirnya menyerah untuk malam ini.Bukan menyerah mencari, hanya berhenti sejenak. Ia membutuhkan jeda, mengambil sedikit ruang untuk bernapas.Mobil yang dikendarainya melaju santai meninggalkan kawasan Batu menuju pusat Kota Malang. Lampu-lampu kendaraan membentuk garis panjang di sepanjang jalan. Sesekali ia membuka jendela sedikit agar udara malam masuk ke dalam mobil.Dingin, tetapi menyegar

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam di Kayutangan

    Dua puluh menit kemudian mereka sudah berada di kawasan Kayutangan. Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern yang penuh lampu mencolok, tempat ini memiliki suasana yang lebih hangat. Bangunan-bangunan lama berdiri di sepanjang jalan, beberapa sudah direnovasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Lampu jalan berwarna kekuningan memantul di trotoar yang bersih. Orang-orang berjalan santai, sebagian berfoto, sebagian lagi duduk menikmati malam.Arlan memasukkan kedua tangannya ke saku jaket."Aku baru tahu Malang punya tempat kayak ini."Sevi yang berjalan di sampingnya menoleh. "Kamu kalau ke luar kota memang pernah lihat apa selain ruang rapat dan hotel?""Itu fitnah.""Tapi fakta kan, hahhaa.""Aku pernah lihat bandara juga."Sevi langsung tertawa. "Makin parah."Arlan ikut tersenyum kecil.Biasanya ia akan membalas lebih banyak, tetapi malam itu ia justru menikmati melihat Sevi tertawa. Sudah cukup lama mereka tidak memiliki waktu seperti ini.Beberapa bulan terakhir hidup mereka ter

  • Bos, Jangan di Sini!   Kekhawatiran

    Diskusi di kamar hotel berlangsung lebih lama dari yang mereka perkirakan. Semakin banyak mereka membahas hasil kunjungan hari itu, semakin jelas satu kesimpulan yang muncul bahwa mereka tidak benar-benar melihat isi pabrik tersebut. Mereka hanya melihat lapisan luarnya.Maya membuka kembali catatan yang ia buat selama kunjungan."Coba pikirkan lagi. Kita masuk ke area penerimaan bahan baku, gudang utama, laboratorium, ruang produksi, sampai pengemasan.""Iya," jawab Dito."Tapi siapa saja yang menemui kita?"Bagas yang semula bersandar langsung mengangkat kepala."Karyawan lapangan."Maya mengangguk."Semuanya."Ruangan kembali hening.Arlan yang sejak tadi berdiri dekat jendela perlahan menoleh.Maya melanjutkan, "Tidak ada manajer utama. Tidak ada kepala operasional. Tidak ada penanggung jawab kualitas yang kemarin menolak audit.""Benar juga," gumam Dito."Kita bahkan tidak bertemu satu pun orang yang benar-benar punya kewenangan besar."Sevi yang duduk sambil melipat kaki ikut me

  • Bos, Jangan di Sini!   Normal kok...

    Pagi itu dimulai lebih awal dari yang direncanakan. Saat matahari bahkan belum sepenuhnya naik, Maya, Bagas, dan Dito sudah bersiap meninggalkan hotel. Mereka mengenakan pakaian biasa, berlagak seperti masih mahasiswa. Mereka juga memastikan tidak memakai identitas yang menunjukkan hubungan mereka dengan kantor pusat. Hanya tampak seperti tiga mahasiswa yang sedang melakukan penelitian.Sementara itu, di salah satu kamar hotel, Arlan dan Sevi memilih tetap tinggal. Bukan karena mereka tidak ingin turun langsung, malah justru sebaliknya.Arlan sadar dirinya terlalu dikenal. Jika ada orang di pabrik Malang yang pernah melihat foto atau menghadiri rapat perusahaan sebelumnya, kehadirannya bisa langsung menimbulkan kecurigaan. Begitu juga dengan Sevi yang posisi nya sebagai salah satu korban dari zat tersebut.Karena itu mereka membagi peran. Maya, Bagas, dan Dito menjadi mata-mata di lapangan. Arlan dan Sevi menjadi pengamat.Sebelum berangkat, Dito sempat menunjuk kancing bajunya."Uda

  • Bos, Jangan di Sini!   Tangisan Bersama

    Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu

    last updateÚltima actualización : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Makin Overthinking

    Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.

    last updateÚltima actualización : 2026-04-05
  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateÚltima actualización : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateÚltima actualización : 2026-03-17
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status