MasukMalam di apartemen terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Tidak ada suara televisi, atau candaan receh Arlan yang biasanya memenuhi ruang tengah.Bahkan suara notifikasi ponsel pun hampir tidak terdengar karena sejak sampai tadi, Arlan memilih membalik ponselnya begitu saja di atas meja.Ia terlihat benar-benar lelah. Bukan hanya fisiknya, tapi juga pikirannya.Sevi memperhatikan pria itu diam-diam dari dapur kecil apartemen sambil menuangkan sup hangat ke mangkuk. Tatapannya perlahan melunak.Arlan sedang duduk di sofa dengan kepala tersandar ke belakang dan mata terpejam. Dasi kantornya sudah entah dilempar ke mana, dua kancing atas kemejanya terbuka, sementara lengan bajunya tergulung asal sampai siku.Suara helaan nafas berulangkali terdengar, kini ia terlihat sangat rapuh.“Huff..”Sevi jarang sekali melihat Arlan serapuh ini. Biasanya pria itu selalu terlihat kuat di depan siapa pun. Seolah semua masalah bisa ia hadapi sendiri. Tapi akhir-akhir ini, bahu Arlan seperti mulai
“Kalau mau perusahaan kamu tetap berdiri… berhenti cari tahu soal Pak Damar.”Suara di seberang telepon terdengar berat dan ditahan-tahan, seperti seseorang yang sengaja mengubah nada bicaranya agar tidak dikenali. Namun ancamannya terasa nyata.Rahang Arlan langsung mengeras. Tatapan matanya berubah dingin dalam hitungan detik sampai Sevi yang duduk di sampingnya ikut menegang melihat perubahan ekspresi pria itu.“Siapa ini?” tanya Arlan pelan.Tidak ada jawaban. Hanya suara napas samar. Lalu,Tut.Telepon langsung dimatikan sepihak.Beberapa detik suasana di dalam mobil benar-benar sunyi.Sevi memperhatikan Arlan yang masih menatap layar ponselnya tanpa bergerak. Jemari pria itu perlahan mengepal kuat di setir mobil.“Lan…”Arlan mengusap wajahnya kasar. “Anjing...”“Ada apa?”Arlan terdiam sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah Sevi. “Tadi ada yang ngancem.”Deg.Jantung Sevi langsung terasa jatuh.“Ngancem gimana?”“Mereka nyuruh aku berhenti nyari soal Pak Damar.”Wajah Sevi pe
“Lan!”Suara Sevi terdengar jauh lebih panik dibanding sebelumnya.Tubuh Arlan sempat kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya ia menahan dirinya pada sisi meja stainless laboratorium. Napasnya berat, keningnya dipenuhi keringat dingin meski ruangan itu sangat dingin.Dokter Raka langsung bergerak cepat mendekat.“Pak Arlan, duduk dulu.”“Aku nggak apa-apa…” gumam Arlan pelan. Namun bahkan suaranya terdengar lemah.Sevi menatap pria di depannya dengan dada yang terasa sesak. Wajah Arlan pucat sekali. Mata pria itu juga tampak sayu seperti orang yang sudah terlalu lama memaksa tubuhnya tetap hidup.Padahal sedari awal, Sevi tahu Arlan sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja Arlan terlalu keras kepala untuk mengakuinya.“Kamu duduk sekarang,” ucap Sevi lebih tegas.Kali ini Arlan tidak membantah. Tubuhnya perlahan duduk di kursi dekat meja laboratorium sambil memijat pelipisnya pelan. Nafasnya masih tidak beraturan.Dokter Raka mulai memeriksa tekanan darah Arlan sementara Sevi berdiri
Ruangan laboratorium analisis itu terasa jauh lebih dingin dibanding ruangan biasa. Bukan karena suhu AC-nya. Tapi karena ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Arlan berdiri di depan meja stainless panjang sambil memperhatikan botol sampel susu yang tadi dibawa dari gudang distribusi pusat. Tangannya terlipat di depan dada, rahangnya mengeras sedari tadi pagi.Di sampingnya, Sevi mengenakan jas laboratorium putih lengkap dengan sarung tangan medis. Wajahnya terlihat serius, jauh berbeda dibanding dirinya yang biasa manja di depan Arlan.Karena kali ini, bukan sekadar masalah perusahaan melainkan menyangkut keamanan produk.Dan jika benar ada kandungan zat berbahaya di dalam susu produksi mereka, semuanya bisa hancur dalam satu malam.“Dokter Raka sebentar lagi datang,” ucap salah satu analis laboratorium.Arlan hanya mengangguk kecil.Semalaman ia hampir tidak tidur memikirkan satu hal yang terus menghantui kepalanya.“Gimana kalau produk nya udah tersebar luas?”“Gimana ka
Pagi itu suasana kantor sedikit lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Masalah penarikan produk susu mulai terkendali.Tim audit juga sudah berhasil mengumpulkan sebagian besar bukti transaksi fiktif yang dilakukan Pak Damar dan beberapa orang kepercayaannya.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Arlan bisa menarik napas sedikit lega.Meski begitu, wajahnya masih terlihat lelah.Pria itu sedang duduk di ruang kerjanya sambil membaca laporan akhir ketika Sevi masuk membawa sarapan.“Nggak boleh kopi dulu.”Arlan langsung mendesah. “Kenapa…”“Lambung kamu udah protes.”“Tapi aku ngantuk.”“Aku nggak peduli.”Sevi meletakkan bubur hangat di depan Arlan lalu menyilangkan tangan di dada.“Abisin.”Arlan menatap Sevi lama. Lalu tiba-tiba tersenyum kecil. “Kamu galak.”“Kamu bandel.”Namun belum sempat Arlan menjawab, suara notifikasi email masuk terdengar dari laptopnya.Ting.Arlan refleks melirik layar. Awalnya ia tidak terlalu peduli. Namun begitu membaca subjek email ters
Malam itu hujan turun cukup deras di sepanjang kota. Lampu apartemen Arlan masih menyala ketika jarum jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Di meja makan, beberapa dokumen audit masih berserakan bercampur dengan laptop yang sejak tadi tidak berhenti menerima notifikasi email.Namun pemiliknya justru sedang merebahkan kepala di pangkuan Sevi. Pria itu terlihat benar-benar kehabisan tenaga.Kemeja kerjanya sudah diganti kaos hitam longgar, rambutnya sedikit basah karena tadi baru mandi cepat sepulang kantor. Sedangkan Sevi duduk bersandar di sofa sambil perlahan mengusap kepala Arlan dengan jemari lembutnya.“Ngantuk?” tanya Sevi pelan.Arlan menggeleng kecil tanpa membuka mata. “Cuma pengen diem.”Sevi tersenyum tipis. Sudah beberapa hari terakhir Arlan berubah seperti ini.Kalau di kantor pria itu tetap terlihat tegas dan kuat di depan semua orang. Namun begitu pulang dan bertemu Sevi, seluruh pertahanannya runtuh begitu saja.Ia jadi jauh lebih manja. Lebih banyak diam. Dan se
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s
Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p







