LOGINPagi di rumah utama dimulai dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Sevi sudah lebih dulu bangun membantu Mama menyiapkan sarapan. Dari dapur terdengar suara obrolan ringan diselingi tawa kecil. Aroma bawang putih yang ditumis bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh memenuhi hampir seluruh rumah."Sev, telurnya jangan kelamaan.""Iya, Ma.""Kalau gosong nanti Arlan ngambek."Sevi terkekeh. "Dia mah dikasih apa aja dimakan.""Heh, jangan fitnah calon suamimu." Suara Arlan terdengar dari ruang makan.Rambutnya masih sedikit berantakan, kaus rumahan yang dipakai membuatnya terlihat jauh lebih santai dibanding saat mengenakan jas di kantor.Mama langsung meliriknya. "Loh, bos besar udah bangun.""Iya Ma, laper.""Dasar."Ayah yang sedang membaca koran hanya menggeleng pelan melihat tingkah anaknya. "Dari kecil juga gitu, bangun-bangun nyarinya makan."Arlan menarik kursi sambil tertawa. "Kan energi harus diisi dulu.""Alasan."Sevi meletakkan sepirin
Suasana ruang keluarga kembali tenang. Angin sore masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Aroma teh hangat yang baru diseduh Mama memenuhi ruangan, membuat percakapan terasa lebih santai dibanding semalam.Ayah Arlan meletakkan cangkirnya di atas meja. "Lan.""Iya, Pa.""Kamu tahu kenapa Papa nggak pernah terlalu ikut campur urusan kantor kamu?"Arlan mengangguk pelan. "Karena Papa pengen aku belajar.""Bukan cuma itu." Ayahnya tersenyum tipis. "Karena itu memang perusahaan yang sekarang kamu pimpin, kalau Papa terus yang turun tangan, kapan kamu bisa ambil keputusan sendiri?"Arlan hanya mengangguk memahami. "Tapi..." Ayahnya melanjutkan. "Ada batasnya."Kalimat itu membuat Arlan kembali fokus."Selama Wijaya masih ngomong sebagai investor, masih ngasih masukan, atau sekadar beda pendapat. Hadapi sendiri, itu emang bagian dari pekerjaan."Arlan mengangguk. "Iya.""Nah..." Ayahnya mencondongkan badan sedikit. "Begitu dia mulai masuk ke ranah pribadi perusahaan... ngatur-ngatur or
Perjalanan menuju rumah utama ditempuh hampir satu jam. Mobil Arlan melaju lebih santai dibanding biasanya. Jalanan akhir pekan memang tidak sepadat hari kerja, membuat perjalanan terasa lebih ringan. Sevi yang duduk di kursi penumpang sesekali membuka ponselnya, memastikan tidak ada pesan baru dari Bima."Udah dibales?" tanya Arlan sambil tetap fokus menyetir."Udah.""Gimana Sonya?""Bima bilang udah tidur lagi. Kondisinya juga lebih tenang."Arlan mengembuskan napas lega. "Syukurlah. Tapi tetap harus dibawa ke dokter.""Iya.""Semoga aja dia mau."Sevi mematikan layar ponselnya. "Aku nggak bakal maksa, trauma orang beda-beda. Kalau dipaksa sekarang, bisa jadi malah makin nutup diri."Arlan mengangguk pelan. "Iya juga."Beberapa menit kemudian suasana kembali hening. Lagu dari radio mobil mengalun pelan menemani perjalanan. Tak lama kemudian, gerbang rumah utama mulai terlihat.Mobil perlahan masuk ke halaman. Belum sempat mereka turun, pintu rumah sudah terbuka.Mama Arlan terseny
Selesai sarapan, suasana apartemen kembali tenang. Sevi melirik jam di dinding, lalu menoleh ke arah Sonya."Yuk, udah waktunya."Sonya mengangguk pelan. "Iya."Keduanya kemudian masuk ke kamar tamu sambil membawa pompa ASI dan perlengkapan yang sudah disiapkan sejak pagi.Pintu kamar pun tertutup. Di luar, hanya tersisa Arlan dan Bima. Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu.Tidak banyak yang dibicarakan. Sesekali hanya terdengar suara kendaraan dari jalan raya yang masuk melalui pintu balkon yang sengaja dibuka.Angin pagi berembus pelan. Membawa aroma khas kota yang mulai beranjak menuju siang.Bima memandang ke luar. "Capek ya."Arlan tersenyum tipis. "Banget, kayak hidup nggak dikasih jeda.""Paham banget bang. Ntar satu masalah selesai...muncul lagi yang lain."Arlan hanya mengangguk pelan. Belum sempat percakapan mereka berlanjut,"Aah!" Terdengar pekikan dari dalam kamar.Suara itu cukup keras hingga membuat keduanya langsung berdiri bersamaan. Mereka berlari menuju pint
Baru kali ini setelah beberapa hari terakhir, pagi datang tanpa bunyi alarm. Tidak ada jadwal rapat sejak subuh, tidak ada telepon dari kantor, notifikasi email yang terus berdatangan. Hari itu adalah akhir pekan.Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden perlahan menyinari kamar apartemen Arlan dan Sevi. Arlan membuka mata lebih dulu.Ia memiringkan tubuhnya, lalu tersenyum kecil melihat Sevi yang masih tertidur pulas sambil memeluk bantal. Rambut hitamnya sedikit berantakan menutupi sebagian wajah.Pelan-pelan Arlan menyibakkannya, lalu mengecup pipi wanita nya."Mwah. Pagi, cintaku."Sevi mengerjapkan mata beberapa kali. Masih setengah mengantuk."Hmm... jam berapa, Lan?"Arlan melirik jam digital di nakas. "Udah jam setengah delapan."Sevi menguap kecil. "Setengah delapan?""Iya. Mau ke apartemen Bima, kah?"Sevi tidak langsung menjawab. Ia justru bergeser mendekat. Lalu tanpa malu-malu menyandarkan kepalanya tepat di dada Arlan."Bentar deh... aku masih pengen di sini."Arla
Menjelang sore menuju malam, mobil Arlan akhirnya memasuki halaman rumah utama. Rumah itu masih sama seperti yang selalu Sevi ingat. Halaman depan dipenuhi tanaman yang terawat rapi, lampu teras mulai menyala, dan aroma masakan sudah tercium bahkan sebelum mereka masuk ke dalam rumah."Pulang..." gumam Sevi sambil tersenyum.Baru saja pintu dibuka, suara Mama langsung terdengar dari dapur."Loh, akhirnya datang juga."Sevi tersenyum lebar. "Maa..."Mama langsung memeluknya sebentar. "Capek?""Lumayan.""Kamu kurusan.""Ah, masa sih ma? Perasaan enggak."Sementara itu Arlan hanya mencium tangan kedua orang tuanya."Pah.""Hm.""Mah.""Hati-hati nyetir tadi?""Iya."Tidak banyak percakapan setelah itu. Arlan memang terlihat jauh lebih pendiam dibanding biasanya."Lan, istirahat dulu sana," ucap Sevi pelan.Arlan mengangguk. "Iya."Tanpa banyak bicara ia langsung naik ke lantai atas menuju kamar lamanya. Begitu pintu tertutup, tubuhnya langsung direbahkan di atas kasur.Ia menatap langi
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.
Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya







