تسجيل الدخولSonya tidak melawan, ia hanya menyembunyikan wajahnya di dada Bima. Ia masih menangis dengan tubuh gemetar. Begitu keluar menuju halaman, Bima baru menyadari dua mobil sudah berhenti tidak jauh dari sana.Arlan rupanya tidak bisa menunggu lebih lama. Pria itu baru saja turun ketika melihat Bima keluar sambil menggendong Sonya."Bim!"Bima mempercepat langkah, pintu mobilnya segera dibuka. Ia mendudukkan Sonya di kursi depan dengan hati-hati. Sabuk pengaman langsung ia pasangkan.Baru saja pintu hendak ditutup, seseorang menepuk pundaknya. Bima menoleh kaget, itu Arlan."aman?"Bima mengusap wajahnya sebentar, napasnya masih belum teratur. "Eh... Bang..." Ia tersenyum hambar. "Anu... Sorry banget tadi..."Arlan menggeleng. "Bukan itu." Pria itu menatap ke arah villa. "Aman nggak di dalem?"Bima ikut menoleh, beberapa detik ia terdiam lalu mengangguk pelan."Aman kok bang."Meski raut wajahnya berkata lain. Tatapannya masih dipenuhi amarah yang belum benar-benar padam. Arlan bisa melih
Bima sudah tidak mampu lagi menahan dirinya. Tamparan itu terus terulang di kepalanya. Suara telapak tangan yang menghantam pipi Sonya, dan bagaimana cara mereka memperlakukan Sonya, semuanya sudah cukup.Bima menarik napas dalam sekali. Kemudian keluar dari balik bayangan dengan satu langkah pasti. Tiga pria yang masih berada di depan teras belum menyadarinya. Sampai..."WOI!"Ketiganya menoleh bersamaan. "Hah?"Belum sempat mereka mencerna siapa pria yang berdiri beberapa meter di depan mereka, Bugh!Tinju kanan Bima lebih dulu menghantam rahang pria yang tadi menampar Sonya. Bukan pukulannya membabi buta, melainkan pukulan yang cepat dan mengenai titik yang membuat tubuh pria itu langsung kehilangan keseimbangan.Bruk! Tubuhnya ambruk menghantam lantai teras."Dih..." Pria kedua refleks mengayunkan tangan.Namun Bima sudah lebih dulu bergerak. Tangannya menangkap pergelangan lawan dan memutarnya. Krek!"AAARGH!" Siku pria itu langsung terpelintir.Belum selesai sampai disitu, sikut
Di sisi lain, dua mobil yang sejak tadi mengikuti dari belakang mulai melambat. Jarak mereka memang cukup jauh dari mobil Bima. Namun sejak awal semua komunikasi dilakukan melalui sambungan telepon yang terus aktif.Bima menjadi mata mereka di depan. Karena itulah saat suara dari ujung sana mendadak hilang, suasana langsung berubah.Awalnya masih normal, mereka masih mendengar suara mesin mobil. Sesekali suara sein kendaraan yang mereka buntuti. Lalu setelah van masuk ke kawasan villa-villa di Gang Macan, suara Bima semakin jarang terdengar.Hanya sesekali untuk mengarahkan jalan."Terus.""Belok kiri.""Masuk sini.""Lurus aja."Sampai akhirnya... diam selama beberapa menit, tidak ada suara apa pun.Arlan yang menyetir mulai mengernyit. Matanya sesekali melirik layar ponsel yang tersambung ke dashboard."Bim?"Tidak ada jawaban.Dito yang berada di mobil bagian belakang ikut menegakkan badan. "Gimana Bim? Aman nggak?"Sunyi.Maya yang sejak tadi menatap ke depan juga mulai merasa tid
Bima mematikan mesin mobil perlahan. Lampu depannya sudah ia matikan sejak beberapa puluh meter tadi. Mobilnya kini berhenti di sisi jalan yang lebih gelap, tertutup bayangan pohon dan tembok rumah warga.Di depannya, van hitam itu benar-benar berhenti tepat di depan sebuah villa sederhana. Tidak terlihat mencolok dan terkesan biasa saja.Bangunannya dua lantai dengan cat krem yang mulai kusam. Pagar pendek besi mengelilingi halaman kecil di depan. Dari luar, tempat itu bahkan terlihat seperti penginapan biasa yang sudah cukup lama berdiri.Namun justru itu yang membuat bulu kuduk Bima meremang. Seolah memang sengaja dibuat agar tidak menarik perhatian siapa pun.Pintu van terbuka, lalu Sonya langsung diturunkan. Bukan dengan cara halus, salah satu pria menarik lengannya sementara pria lain mendorong punggungnya dengan kesal."Jalan!"Sonya menoleh tajam. "Aku bisa jalan sendiri.""Kalau bisa dari tadi nggak usah bikin repot."Perempuan itu menarik tangannya kasar. Meski dari jarak cu
Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit dan suasana sekitar mulai jauh lebih sepi. Bahkan jalanan yang sejak pagi ramai kini hanya dilewati beberapa kendaraan sesekali.Semua orang mulai kelelahan. Maya bahkan beberapa kali menguap. Bagas mulai rebahan di sofa, sedangkan Dito sibuk memeriksa ulang baterai kamera.Lalu tiba-tiba,"Keluar." Suara Bima membuat semuanya langsung siaga."Apa?""Itu."Semua bergerak mendekati jendela. Gerbang samping peternakan kembali terbuka. Dan beberapa sosok mulai keluar.Jantung Bima langsung berdegup keras. Karena di tengah kelompok itu ada seseorang yang sangat dikenalnya, Sonya.Kali ini lebih jelas, walaupun penerangan dari matahari sudah meredup. Namun cahaya lampu dari pabrik cukup memperjelas wanitanya.Kini, mereka melihat sesuatu yang aneh. Sonya terlihat sedang melawan. Tidak sampai berteriak memang, namun cukup terlihat.Perempuan itu beberapa kali mencoba menghentikan langkahnya. Sesekali menarik tangannya
Ruangan itu mendadak terasa sesak. Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah nama itu akhirnya benar-benar terkonfirmasi.Itu om Wijaya, bukan hanya sekedar dugaan atau asumsi belaka. Mereka semua melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pria yang selama ini menjadi salah satu orang paling dipercaya Arlan baru saja keluar dari area peternakan yang sejak beberapa hari terakhir mereka selidiki.Dan yang paling membuat Arlan sulit menerima kenyataan itu bukanlah fakta bahwa Om Wijaya ada di sana. Melainkan fakta bahwa pria itu tampak begitu santai seolah tempat itu memang sudah biasa ia datangi.Arlan perlahan menurunkan teropongnya. Tangannya terasa dingin dan pikirannya jauh lebih kacau dibanding hari-hari sebelumnya"Sayang..." Suara Sevi terdengar pelan.Arlan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengarah ke luar jendela. Ke arah gerbang yang kini mulai kembali sepi.Di benaknya muncul puluhan pertanyaan sekaligus. Om Wijaya adalah adik kandung ibunya. Orang yang memb
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya bagi Sevi.Sejak pagi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia sudah berusaha bekerja seperti biasa dengan membuka dokumen, membalas beberapa email, membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Namun setiap beberapa menit sekali, fokusnya selalu pecah.







