LOGINPagi itu tidak berjalan seperti biasanya.Sevi berdiri di depan pintu apartemen dengan wajah pucat, tubuhnya masih terasa berat, dan kepalanya berdenyut sejak semalam. Demamnya belum benar-benar turun. Bahkan untuk berdiri tegak saja, ia harus menahan napas beberapa detik.Arlan yang berdiri di depannya menghela napas panjang, jelas menahan kesabaran.“Kamu nggak usah masuk hari ini,” ucap Arlan tegas. “Tinggal di apartemen. Atau ke rumah orang tua ku aja. Biar ada yang jagain.”Sevi menggeleng pelan, meskipun gerakannya terlihat lemah.“Nggak mau.”“Kenapa nggak mau?” nada Arlan mulai tegas. “Kamu sakit, Sevi.”“Masih bisa kerja kok.”“Kamu bahkan berdiri aja sempoyongan.”Sevi menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca, tapi tetap keras.“Aku nggak suka diam aja.”Arlan memberi pengertian. “Ini bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal kondisi kamu, sayang.”Sevi mengalihkan pandangan.“Kalau aku di rumah, aku malah kepikiran kerjaan.”“Dan kalau kamu masuk kerja, kamu bisa pingsan di
Mungkin bagi sebagian orang, mempercayai ramalan adalah sesuatu yang tabuh. Sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan cenderung dianggap tidak waras. Namun bagi Sonya, itu bukan sekadar percaya, itu adalah satu-satunya cara ia bertahan tanpa harus hancur sepenuhnya.Sonya bukan orang yang suka berdebat. Ia juga bukan tipe yang akan menjelaskan dirinya panjang lebar. Sejak kecil, ia sudah belajar satu hal, tidak semua hal yang diucapkan akan berakhir baik.Orang tuanya berpisah ketika ia masih terlalu muda untuk memahami arti pengkhianatan, tetapi cukup dewasa untuk merasakan dampaknya. Ayahnya ketahuan berselingkuh. Ibunya pergi, membawa adiknya. Dan Sonya… tetap tinggal.Bukan karena ia dipilih.Tapi karena ia tidak diperebutkan.“Sonya ikut Papa aja ya. Adik masih kecil,” ucap ibunya waktu itu, sambil tersenyum tipis, seolah keputusan itu ringan.Sonya kecil hanya mengangguk.“Baik, Ma.”Tidak ada tangisan. Tidak ada protes. Ia bahkan tidak bertanya kenapa.Sejak saat itu, hidupnya ber
Hari itu terasa berbeda bagi Arlan.Semakin ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan sikap Sonya dibanding hari-hari sebelumnya. Jika dulu interaksi mereka murni profesional, terukur, seperlunya, tanpa celah, hari ini terasa… terlalu dekat.Terlalu personal.Tatapan Sonya berubah.Senyumnya pun berbeda.Bukan lagi sekadar sopan, tapi seperti menyimpan maksud lain yang tidak diucapkan.Beberapa kali Sonya masuk ke ruangannya bukan hanya untuk urusan kerja. Ia mulai menanyakan hal-hal ringan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.“Bapak biasanya sarapan apa?”“Weekend kemarin ke mana?”Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia tanyakan.Arlan hanya menjawab seperlunya.Singkat.Jelas.Namun tidak memberi ruang untuk berkembang.Puncaknya ketika Sonya masuk membawa secangkir kopi.“Pak, ini kopi.”Arlan langsung mengangkat tangan.“Nggak usah, Sonya. Saya biasa bikin sendiri.”Namun Sonya tersenyum.“Sekali-sekali saya yang buat, Pak.”Arlan menghela napas pelan.Nada Sonya tidak memaksa,
Malam di Puncak terasa lebih dingin dari yang mereka bayangkan.Namun di dalam kamar itu, suasana justru hangat.Arlan dan Sevi menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan. Tidak ada suara notifikasi, tidak ada pekerjaan, tidak ada orang lain yang menuntut perhatian mereka. Malam itu benar-benar terasa seperti milik mereka."Lan... Jangan masuk sekaligus," Erangan Sevi yang terdengar seperti bisikan."Ahh.. enak sayang, ketat banget..."Arlan mencoba menyesuaikan ritme agar Sevi tak kesakitan, sebab disini ia tau kalau Sevi tak akan bersuara keras untuk meredam sakitnya. Namun apa daya, di bawah sana Arlan merasa seperti terjepit, enak namun ngilu, ia berusaha keras menahan agar tidak keluar dalam."Sayang..." Kejantanannya dikeluarkan paksa agar tidak terjadi pembuahan di dalam. Ciuman manis nan basah mengakhiri kegiatan mereka, setelah lelah dan tenang kembali, Sevi berbaring di samping Arlan. Kepalanya bersandar di lengan pria itu, sementara Arlan mengelus rambutnya perlahan.Beberap
Hari mulai beranjak sore ketika Arlan dan Sevi akhirnya meninggalkan kebun binatang. Tidak ada rencana pasti sejak awal. Semua yang mereka lakukan hari ini berjalan begitu saja, mengikuti keinginan sesaat yang terasa menyenangkan.Dan entah bagaimana, di tengah perjalanan pulang yang seharusnya sederhana, Sevi tiba-tiba mengusulkan sesuatu.“Kita ke Puncak, yuk.”Arlan melirik sekilas. “Sekarang?”Sevi mengangguk tanpa ragu. “Nginep. Cari suasana baru.”Arlan sempat terdiam beberapa detik. Namun melihat ekspresi Sevi yang penuh harap, ia hanya tersenyum nakal.“Yakali nolak.”Keputusan itu diambil tanpa banyak pertimbangan.Tanpa persiapan matang.Tanpa membawa perlengkapan apa pun.Hanya mereka berdua, dengan waktu yang mereka punya hari ini.\\\Di perjalanan, mereka sempat berhenti di sebuah pusat perbelanjaan terdekat.Sevi memilih beberapa pakaian ganti dengan cepat. Tidak terlalu banyak, hanya yang sekiranya cukup untuk satu malam. Arlan juga mengambil beberapa kaos santai dan p
Hari di kantor berjalan seperti biasanya bagi Sonya.Laptopnya terbuka sejak pagi, layar dipenuhi dokumen dan laporan yang harus diselesaikan. Sejak Arlan tidak masuk hari ini, sebagian pekerjaannya otomatis berpindah ke tangan Sonya.Ia mengatur jadwal Arlan untuk besok.Memeriksa beberapa email penting dari klien.Membaca laporan produksi susu hari itu dengan teliti, memastikan tidak ada angka yang janggal sebelum laporan tersebut dikirim ke manajemen pusat.Pekerjaan demi pekerjaan selesai ia tangani tanpa keluhan.Sonya memang terbiasa seperti itu. Rapi, terstruktur, dan selalu terlihat menguasai keadaan.Selama jam kerja, hampir tidak ada ruang bagi pikirannya untuk memikirkan Arlan secara pribadi.Namun ketika alarm kecil di ponselnya berbunyi, penanda waktu istirahat yang sengaja ia atur untuk dirinya sendiri, barulah ia berhenti sejenak.Sonya bersandar di kursinya.Tangannya berhenti mengetik.Matanya menatap layar laptop yang kini tampak kosong di hadapannya.Dan tanpa sadar
Alya menutup pintu apartemennya dengan perlahan, menjerat satu napas panjang di dada. Di balik kaca tebal itu, kota tampak biasa lampu lalu lintas berdenyut, kendaraan mengais jalan, namun semuanya terasa asing dan jauh. Ia menempelkan punggungnya pada pintu seolah berharap getarannya bisa meredak
Malam di kota itu terasa terlalu sunyi. Lampu-lampu jalan berpendar di balik jendela apartemen mewah milik Alya, memantulkan cahaya kekuningan di wajahnya yang dingin. Di meja ruang tamu, beberapa berkas berserakan, dokumen perusahaan, catatan percobaan, juga beberapa foto yang diambil diam-diam.
Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, menembus debu-debu halus yang menari di udara. Arlan membuka matanya perlahan. Hidungnya langsung menangkap aroma nasi goreng yang khas dengan aroma bawang putih dan kecap yang menguar dari dapur kecil kontrakan itu. Sudah lama ia tidak terbangu
“Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak







