Share

Panggilan

Author: Olivia
last update publish date: 2025-12-14 18:25:18

Sevi terbangun bukan karena cahaya pagi atau suara bising dari luar apartemen, melainkan oleh getaran pelan di samping kepalanya. Notifikasi ponsel. Awalnya ia hanya mengernyit, meraba-raba nakas dengan mata setengah tertutup, lalu menarik ponselnya mendekat.

Layarnya menyala, cukup terang untuk membuatnya sedikit menyipitkan mata.

Sebelum benar-benar fokus pada layar, Sevi refleks menoleh ke samping. Arlan masih tertidur pulas, wajahnya menghadap ke arahnya, satu lengan besar melingkar di ping
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
aiiuuu
aku heran di bab atas ayah nya sevi baru meninggal beberapa tahun yg lalu. ini author ny pelupa kek nya. yg awalnya alya mantan arlan sudah dijodohkan la.
goodnovel comment avatar
Sila Octariani
maaf kak, bukannya di bab 2 di ceritakan kalau ibu Sevi sudah meninggal saat Sevi umur 7tahun. Knp di bab ini ceritanya ibu Sevi masih hidup ......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Hangat

    Sepulang dari kantor, suasana di kontrakan Sevi terasa jauh lebih santai dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada beban pikiran yang menggantung, tidak ada rasa was-was yang mengganggu. Hari itu berjalan begitu mulus hingga Sevi sendiri merasa ingin menikmati momen kecil yang sering terlewat.Tanpa banyak kata, ia sudah duduk di pangkuan Arlan di sofa ruang tengah. Televisi menyala, namun tidak benar-benar mereka tonton. Fokus mereka sepenuhnya ada satu sama lain.Sevi bersandar, tubuhnya rileks. Tangannya melingkar di leher Arlan, sementara wajahnya perlahan mendekat. Ia mengusap pelan leher Arlan, menikmati kehangatan yang terasa familiar.Arlan tidak menolak. Justru tangannya refleks memeluk pinggang Sevi, menahan tubuh itu agar tidak menjauh.Beberapa detik terasa tenang.Namun Sevi, dengan sifat jahilnya, tidak berhenti sampai di situ. Ia mencium leher Arlan pelan, lalu dengan sengaja mengusik lebih jauh.Sevi menjilat pelan hingga tubuh Arlan menegang seketika, lalu wajahnya be

  • Bos, Jangan di Sini!   Main Rapi

    Di sisi lain, Arlan masih tidak menyadari apa pun. Ia berdiri di depan mejanya, merapikan beberapa dokumen yang tadi sempat ia tinggalkan. Tangannya bergerak cepat, teratur, tanpa beban. Sesekali ia menghela napas ringan, seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang melelahkan dan akhirnya menemukan jeda. Hari ini… terasa berbeda.Bukan karena ada sesuatu yang terjadi. Justru karena tidak ada apa-apa.Ia melirik layar komputernya sekali lagi, memastikan tidak ada pekerjaan yang tertinggal. Setelah itu, ia berdiri, merapikan kemeja di bagian lengan, lalu berjalan keluar dari ruangannya.Langkahnya ringan.Lebih ringan dari beberapa hari terakhir.“Pagi,” sapa Arlan kepada salah satu staf yang berpapasan.“Pagi, Pak,” jawab staf itu sambil sedikit menunduk.Arlan mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Semua terlihat biasa.Normal.Seperti hari-hari sebelum semua kekacauan itu muncul. Namun ketika ia melewati meja Sonya, langkahnya sempat terhenti. “Dokumen tadi su

  • Bos, Jangan di Sini!   Jujur Janggal

    Pagi itu dimulai lebih cepat dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit, suasana rumah masih sunyi, bahkan udara terasa lebih dingin dari biasanya.Arlan dan Sevi sudah duduk di meja makan bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Mama Arlan sudah berdiri di dapur sejak tadi.“Aduh, Mama nggak sempat masak yang berat,” gumamnya sambil meletakkan dua piring roti panggang di meja. “Yang biasa masak belum datang jam segini.”Sevi langsung menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Ma. Ini juga udah cukup banget.”Arlan menarik kursi dan duduk. “Iya, Ma. Kita juga cuma butuh ganjel perut.”Mama tersenyum kecil, lalu menuangkan susu ke dalam gelas.“Yang penting jangan sampai berangkat kosong.”Sevi mengangguk. “Iya, Ma.”Mereka bertiga makan dalam suasana yang tenang. Tidak banyak percakapan, hanya suara kecil sendok dan gelas yang sesekali terdengar.Papa Arlan belum bangun. Rumah masih terasa seperti setengah terjaga.Setelah selesai, Sevi segera membereskan sedikit piringnya.

  • Bos, Jangan di Sini!   Nah kan Kepikiran

    “Itu sekretarisnya Arlan… suka centil ke Arlan. Males banget.”Hening.Satu detik.Dua detik.Lalu..Tatapan tajam langsung mengarah ke Arlan.Mata mama mendelik. Papa ikut menoleh perlahan.Arlan yang awalnya santai langsung terdiam. Gelas air di tangannya menggantung di udara, belum sempat ia teguk.“Bukan..” ia mencoba membuka suara.Namun mama sudah lebih dulu memotong. “Arlan.” Nada suaranya berubah menjadi dingin. “Ini maksudnya apa?”Sevi hanya melipat tangan, bersandar kembali ke sofa. Wajahnya tenang, tapi matanya jelas menunggu jawaban. Arlan menelan ludah. Situasi yang tadi hangat, seketika berubah.Ia menarik napas.“Ma… Pa… ini nggak seperti yang kedengarannya kok,” ucapnya pelan.Papa menyandarkan tubuhnya ke depan, mengubah posisi duduk. Kedua tangannya bertumpu di paha, dagunya ditopang jemari.“Ya terus seperti apa?” tanyanya datar.Arlan mengusap tengkuknya.“Itu… Sonya, sekretaris aku… dia memang akhir-akhir ini agak..”“Agak apa?” potong mama.Arlan diam sejenak, m

  • Bos, Jangan di Sini!   Ngadu ke Mama

    “Mandi bareng? Sekalian mandiin bawah, hehehe.”Arlan langsung berdiri dengan semangat, seolah lupa kalau beberapa jam lalu ia masih meracau karena demam. Tanpa menunggu jawaban, ia sudah melangkah cepat ke arah kamar mandi.Sevi hanya bisa terkekeh pelan melihat tingkahnya.“Kok bisa ya…” gumamnya sambil bangkit perlahan. “Orang yang tadi pagi ngeluh panas, sekarang malah semangat banget mandi bareng.”Ia menggeleng kecil, namun senyumnya tidak hilang.Tak lama kemudian, suara air terdengar dari dalam kamar mandi, diiringi sesekali suara Arlan yang memanggil.“Sev! Lama banget!”“Iya, sabar!” balas Sevi.Begitu masuk, suasana berubah menjadi lebih ringan. Candaan kecil, percikan air, dan tawa. Bukan Arlan namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Beberapa kali ketika ia membantu Sevi menyabuni punggungnya, tangannya bergerak kedepan dan meremas dada bulat Sevi."“Uhh, Lan... ja-jangan disitu.”Bukannya berhenti, kedua jari Arlan menjepit ujung dada Sevi yang kini ke

  • Bos, Jangan di Sini!   Rencana

    Di sisi lain kota, suasana jauh berbeda.Sonya berdiri di tengah lorong supermarket dengan napas tersengal. Tangannya gemetar, matanya memerah, dan dadanya naik turun tidak teratur.Ia baru saja mematikan telepon.Sepihak.Namun bukan itu yang membuatnya kehilangan kendali. Kata-kata Arlan. Nada suaranya. Dan… suara Sevi di belakangnya.“Istri saya udah siap sedia di samping.”Kalimat itu seperti terus terngiang. Menghantam. Mengulang. Tanpa henti.“Sevi sialan…!” suara Sonya tiba-tiba meledak.Beberapa orang langsung menoleh. Namun Sonya tidak peduli.“Sevi sialan… Sevi sialan…!”Ia menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.Keras.Emosinya meluap tanpa bisa ia tahan. Seolah semua kontrol yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.“Kenapa sih selalu dia?!”Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Beberapa orang mulai berbisik. Satpam yang berjaga segera mendekat.“Kak… kak, tenang dulu ya,” ucapnya hati-hati.Sonya menatapnya dengan mata tajam. Namun beberapa detik kemudian, ia te

  • Bos, Jangan di Sini!   Buka Suara

    Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta m

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Belum Move On

    Keramaian di rumah orang tua Miko akhirnya mereda menjelang sore. Tawa yang sejak siang memenuhi ruang tamu perlahan berubah menjadi obrolan ringan yang melelahkan. Mila terlihat menahan kantuknya meski masih berusaha tersenyum sopan.Miko menangkap itu dengan cepat.“Ma,” katanya sambil berdiri, “

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Salah Paham

    Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.” “Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.” “Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.” “Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status