Share

Berkunjung

Author: Olivia
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-15 22:32:25

Pagi weekend ini benar-benar tidak memberi ruang tenang bagi Arlan.

Apartemennya yang biasanya rapi dan senyap kini berubah seperti ruang ganti darurat. Pintu lemari terbuka lebar. Beberapa jas tergantung di sisi ranjang. Kemeja dilipat asal di kursi. Celana berserakan di sofa. Arlan berdiri di depan cermin dengan alis berkerut, ponsel di tangan kanan, napasnya berat.

“Kalau pake jas… kelihatan terlalu resmi nggak sih?” gumamnya sendiri.

Ia menatap pantulan dirinya dengan setelan jas abu-abu ya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bos, Jangan di Sini!   Nggak Tau Malu

    Mesin mobil menyala halus memenuhi area parkiran rumah sakit. Udara pagi yang masih dingin membuat kaca mobil sedikit berembun. Arlan menatap lurus ke depan sambil menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang sedari tadi naik turun di dadanya.Ia benar-benar tidak menyangka hari ini akan serumit ini. Harusnya pagi ini ia bahagia.Mengurus administrasi rumah sakit, membawa Sevi pulang, lalu beristirahat bersama di apartemennya. Tidak ada drama lagi, hanya dirinya dan Sevi.Tapi kenyataannya? Kini Sonya duduk di kursi depan mobilnya. Sedangkan Sevi yang baru saja keluar dari rumah sakit malah duduk di belakang.Arlan sampai mengeratkan rahangnya menahan kesal.“Anjing lah.” Umpatnya berulang kali.Saat tadi Sevi hendak membuka pintu depan, Sonya malah lebih dulu bersuara dengan wajah polos seolah benar-benar peduli.“Kamu tadi keliatan ngantuk banget, Sev. Di belakang aja biar bisa rebahan. Ada bantal tuh.” Nada suaranya lembut tapi seolah mengolok.“Aku juga nggak enak kalau di b

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Pulang

    Pagi itu suasana kamar rawat Sevi terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, membuat ruangan tampak hangat dan nyaman.Sevi yang sedari tadi diperiksa dokter akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar kalimat yang ia tunggu-tunggu.“Kalau nggak ada keluhan lagi, hari ini sudah boleh pulang ya.”Mata Sevi langsung membesar senang. “Serius dok?”Dokter itu tersenyum kecil sambil menulis beberapa catatan. “Iya. Tapi tetap jangan terlalu stres dan jangan terlalu capek dulu.”Arlan yang berdiri di samping ranjang langsung mengangguk cepat. “Siap dok.”Padahal yang ditanya Sevi. Namun dokter malah terkekeh melihat Arlan yang lebih semangat.“Yang sakit siapa, yang jawab siapa.”“Takut dia bandel dok.”Sevi langsung mencubit pinggang Arlan pelan. “Apaan sih.”Setelah dokter keluar, Arlan benar-benar bergerak cepat seperti baru mendapat hadiah besar. Ia membereskan semua barang Sevi satu per satu ke dalam tas.Mulai dari charger. Boto

  • Bos, Jangan di Sini!   Menghabiskan ASI

    “Ya kan aku dipelet pake ASI mu yang strawberry.”Kini giliran Sevi yang mendelik tak percaya. Mulutnya sampai terbuka sedikit menatap Arlan yang malah menahan tawa.“Arlan!”“Apa sayang? Faktanya gitu kok.”“Apaan sih!”Sevi langsung memukul lengan Arlan dengan bantal kecil di sampingnya. Sedangkan Arlan malah tertawa makin keras sambil menghindar.“Eh sakit yang...”“Biarin!”“Buas banget sih istri ku.”“Buas gundul mu!”Tawa mereka memenuhi ruangan rawat inap itu. Bahkan suster yang lewat di depan kamar sempat menoleh sebentar karena suara Arlan yang terlalu keras tertawa.Arlan akhirnya kembali duduk di samping Sevi sambil menghapus air mata akibat terlalu banyak tertawa.“Aduh… sakit perut aku.”“Lagian ngomong aneh-aneh.”“Tapi serius itu.”Sevi langsung melotot lagi.“Lan, diem nggak!”“Hehehe, iya enggak lagi.” Namun senyum di wajah pria itu tidak hilang sedikit pun.Siang tadi yang penuh ketegangan itu akhirnya berubah jauh lebih hangat. Mereka mengobrol banyak hal sampai tid

  • Bos, Jangan di Sini!   Sonya di Mata Arlan

    Sore mulai turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Langit yang tadinya terang kini berubah jingga redup, membuat suasana kamar rawat Sevi terasa lebih tenang dibanding siang tadi. Televisi menyala kecil tanpa benar-benar mereka perhatikan.Di atas meja samping ranjang sudah ada beberapa camilan yang dibawa Arlan sebelumnya, lengkap dengan susu stroberi dingin favorit Sevi. Namun perempuan itu masih belum benar-benar berselera makan sendiri karena tubuhnya masih terasa lemas.Maka sekarang, Arlan duduk di samping ranjang sambil memegang mangkuk makanan. Sedangkan Sevi duduk bersandar dengan selimut menutupi kakinya.“Mulutnya buka.”Sevi menurut pelan.Suapan demi suapan masuk dengan tenang. Sesekali Arlan meniup makanannya dulu sebelum menyuapi Sevi lagi, takut masih terlalu panas.Padahal tangan Sevi sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Infusnya pun berada di tangan kiri. Namun Arlan tetap keras kepala ingin menyuapi.“Nggak usah disuapin juga bisa kali…” gumam Sevi pelan.“Bisa sih

  • Bos, Jangan di Sini!   Pura-pura Pingsan?

    Ruangan itu kembali sunyi setelah Arlan keluar untuk meeting tadi pagi. Pendingin ruangan terasa dingin menusuk kulit, namun Sonya tetap memejamkan matanya di sofa panjang milik Arlan. Napasnya perlahan mulai teratur kembali. Pusing yang tadi menyerang memang nyata adanya, kepalanya bahkan masih terasa berat sampai sekarang.“A-aku pingsan?” Tanya nya pada dirinya sendiri.Jujur saja, kemarin ia benar-benar keteteran. Semua pekerjaan yang biasanya dibantu Arlan mendadak harus ia tangani sendiri karena pria itu terus fokus pada Sevi yang pingsan. Belum lagi revisi data, laporan meeting, dan email yang masuk tanpa henti membuat Sonya nyaris tidak tidur.Ditambah pikirannya sendiri yang semakin kacau. Ia terlalu memikirkan Arlan, tentang bagaimana pria itu sekarang mulai menjaga jarak yang membuatnya tak bisa lagi menggoda ataupun memberi perhatian kecil.Sonya menggertakkan giginya pelan. Dadanya terasa sesak lagi mengingat perubahan itu.“Emang pengganggu, sial.”Padahal dulu Arlan ma

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Tegas

    Langkah Arlan yang awalnya ringan langsung terhenti di depan pintu ruang rawat. Kantong plastik berisi camilan dan susu stroberi yang ia bawa bergesekan pelan di tangannya. Wajahnya yang tadi sempat terlihat lega karena meeting selesai lebih cepat, kini perlahan berubah tegang.Sevi duduk di sofa dekat jendela rumah sakit. Tubuhnya menyandar lemah dengan selimut tipis menutupi kakinya. Cahaya sore dari luar masuk menerpa wajah pucatnya.Namun yang membuat dada Arlan terasa tidak nyaman, Sevi bahkan tidak menoleh sedikit pun saat dirinya datang.“Sayang…” panggil Arlan pelan.Tidak ada jawaban.Hanya suara notifikasi handphone yang sedari tadi berbunyi tanpa henti.Arlan berjalan mendekat. Baru saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Sevi mengangkat tangannya pelan.Bukan untuk menyambut, melainkan menunjuk handphone di meja samping sofa.“Liat aja sendiri.” Nada suaranya datar. Alis Arlan langsung mengernyit. Ia mengambil handphone itu dan membaca isi grup kantor yang ramai seja

  • Bos, Jangan di Sini!   Tak pernah Berubah

    “Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
  • Bos, Jangan di Sini!   Gangguan dikala Romantis

    Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
  • Bos, Jangan di Sini!   Bukan Siapa-Siapa

    Mobil Arlan berhenti tepat di depan kontrakan kecil itu. Nafasnya masih terengah, tangannya bergetar ketika ia mematikan mesin. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju pintu, menekan angka-angka pada gembok digital yang sudah diingatnya dari kunjungan sebelumnya.Pintu terbuka dengan bunyi kl

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Bos, Jangan di Sini!   Mulai Tertarik

    Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status