Share

Berkunjung

Author: Olivia
last update publish date: 2025-12-15 22:32:25

Pagi weekend ini benar-benar tidak memberi ruang tenang bagi Arlan.

Apartemennya yang biasanya rapi dan senyap kini berubah seperti ruang ganti darurat. Pintu lemari terbuka lebar. Beberapa jas tergantung di sisi ranjang. Kemeja dilipat asal di kursi. Celana berserakan di sofa. Arlan berdiri di depan cermin dengan alis berkerut, ponsel di tangan kanan, napasnya berat.

“Kalau pake jas… kelihatan terlalu resmi nggak sih?” gumamnya sendiri.

Ia menatap pantulan dirinya dengan setelan jas abu-abu ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Gym Date

    Malam itu apartemen Arlan terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Pelukan dan kecipak basah diantara mereka membuat ruang yang luas itu terasa sempit.“Capek nggak sayang?”“Ahh, engga…”“Enak?”Sevi mengangguk pelan sambil memeluk leher Arlan lebih erat.Penyatuan tubuh mereka yang tertunda kemarin, kini akhirnya terpenuhi. Genjotan pelan mengikuti irama, dan juga erangan yang tak lagi Sevi tahan. Arlan merasa semakin jatuh hati pada wanita di bawah nya, wanita yang sekarang sedang meraung-raung meminta tempo nya dicepatkan. “Sa-sayang.. mau.. kelu-” Kalimat itu belum selesai, dan sebuah cairan kental keluar di sela kejantanan Arlan. Seringai Arlan langsung terlihat, barulah sekarang giliran Arlan yang menyusul.Malam ini mereka merasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Arlan memperlakukannya seolah dirinya benar-benar berharga, sangat dijaga dan dicintai.Dan itu membuat hati Sevi perlahan luluh.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di samp

  • Bos, Jangan di Sini!   Ada Aja Tingkahnya

    Perjalanan terasa jauh lebih lama dari biasanya, kini bukan karena macet. Tapi karena suasana di dalam mobil yang terasa menyesakkan bagi Arlan. Ia bahkan beberapa kali menghela napas pelan sambil menatap jalanan di depannya.Untungnya apartemen Sonya akhirnya mulai terlihat. Sebuah gedung tinggi dengan dominasi warna abu muda itu berdiri tak jauh dari jalan utama. Arlan langsung membelokkan mobil masuk ke area drop off tanpa banyak bicara.Begitu mobil berhenti sempurna, Sonya terlihat merapikan rambutnya terlebih dahulu lewat kaca kecil di dashboard.Sevi yang duduk di belakang hanya memperhatikan dengan wajah datar.“Udah sampe,” ucap Arlan singkat.Sonya menoleh ke arahnya lalu tersenyum manis. “Makasih ya Pak Arlan... udah mau saya repotin.”“Iya.” Jawaban itu terdengar terlalu dingin sampai Sonya sedikit menahan senyumnya.Namun perempuan itu tetap belum menyerah. Tangannya membuka seatbelt perlahan, lalu sebelum turun ia malah memiringkan tubuh sedikit mendekati Arlan.“Pak…”“

  • Bos, Jangan di Sini!   Nggak Tau Malu

    Mesin mobil menyala halus memenuhi area parkiran rumah sakit. Udara pagi yang masih dingin membuat kaca mobil sedikit berembun. Arlan menatap lurus ke depan sambil menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang sedari tadi naik turun di dadanya.Ia benar-benar tidak menyangka hari ini akan serumit ini. Harusnya pagi ini ia bahagia.Mengurus administrasi rumah sakit, membawa Sevi pulang, lalu beristirahat bersama di apartemennya. Tidak ada drama lagi, hanya dirinya dan Sevi.Tapi kenyataannya? Kini Sonya duduk di kursi depan mobilnya. Sedangkan Sevi yang baru saja keluar dari rumah sakit malah duduk di belakang.Arlan sampai mengeratkan rahangnya menahan kesal.“Anjing lah.” Umpatnya berulang kali.Saat tadi Sevi hendak membuka pintu depan, Sonya malah lebih dulu bersuara dengan wajah polos seolah benar-benar peduli.“Kamu tadi keliatan ngantuk banget, Sev. Di belakang aja biar bisa rebahan. Ada bantal tuh.” Nada suaranya lembut tapi seolah mengolok.“Aku juga nggak enak kalau di b

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Pulang

    Pagi itu suasana kamar rawat Sevi terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, membuat ruangan tampak hangat dan nyaman.Sevi yang sedari tadi diperiksa dokter akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar kalimat yang ia tunggu-tunggu.“Kalau nggak ada keluhan lagi, hari ini sudah boleh pulang ya.”Mata Sevi langsung membesar senang. “Serius dok?”Dokter itu tersenyum kecil sambil menulis beberapa catatan. “Iya. Tapi tetap jangan terlalu stres dan jangan terlalu capek dulu.”Arlan yang berdiri di samping ranjang langsung mengangguk cepat. “Siap dok.”Padahal yang ditanya Sevi. Namun dokter malah terkekeh melihat Arlan yang lebih semangat.“Yang sakit siapa, yang jawab siapa.”“Takut dia bandel dok.”Sevi langsung mencubit pinggang Arlan pelan. “Apaan sih.”Setelah dokter keluar, Arlan benar-benar bergerak cepat seperti baru mendapat hadiah besar. Ia membereskan semua barang Sevi satu per satu ke dalam tas.Mulai dari charger. Boto

  • Bos, Jangan di Sini!   Menghabiskan ASI

    “Ya kan aku dipelet pake ASI mu yang strawberry.”Kini giliran Sevi yang mendelik tak percaya. Mulutnya sampai terbuka sedikit menatap Arlan yang malah menahan tawa.“Arlan!”“Apa sayang? Faktanya gitu kok.”“Apaan sih!”Sevi langsung memukul lengan Arlan dengan bantal kecil di sampingnya. Sedangkan Arlan malah tertawa makin keras sambil menghindar.“Eh sakit yang...”“Biarin!”“Buas banget sih istri ku.”“Buas gundul mu!”Tawa mereka memenuhi ruangan rawat inap itu. Bahkan suster yang lewat di depan kamar sempat menoleh sebentar karena suara Arlan yang terlalu keras tertawa.Arlan akhirnya kembali duduk di samping Sevi sambil menghapus air mata akibat terlalu banyak tertawa.“Aduh… sakit perut aku.”“Lagian ngomong aneh-aneh.”“Tapi serius itu.”Sevi langsung melotot lagi.“Lan, diem nggak!”“Hehehe, iya enggak lagi.” Namun senyum di wajah pria itu tidak hilang sedikit pun.Siang tadi yang penuh ketegangan itu akhirnya berubah jauh lebih hangat. Mereka mengobrol banyak hal sampai tid

  • Bos, Jangan di Sini!   Sonya di Mata Arlan

    Sore mulai turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Langit yang tadinya terang kini berubah jingga redup, membuat suasana kamar rawat Sevi terasa lebih tenang dibanding siang tadi. Televisi menyala kecil tanpa benar-benar mereka perhatikan.Di atas meja samping ranjang sudah ada beberapa camilan yang dibawa Arlan sebelumnya, lengkap dengan susu stroberi dingin favorit Sevi. Namun perempuan itu masih belum benar-benar berselera makan sendiri karena tubuhnya masih terasa lemas.Maka sekarang, Arlan duduk di samping ranjang sambil memegang mangkuk makanan. Sedangkan Sevi duduk bersandar dengan selimut menutupi kakinya.“Mulutnya buka.”Sevi menurut pelan.Suapan demi suapan masuk dengan tenang. Sesekali Arlan meniup makanannya dulu sebelum menyuapi Sevi lagi, takut masih terlalu panas.Padahal tangan Sevi sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Infusnya pun berada di tangan kiri. Namun Arlan tetap keras kepala ingin menyuapi.“Nggak usah disuapin juga bisa kali…” gumam Sevi pelan.“Bisa sih

  • Bos, Jangan di Sini!   Nenek

    Miko mengelus rambut Mila. “Kamu istirahat yang baik. Jangan banyak gerak.” “Iya.” Miko melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Mil…” Mila menoleh. “Makasi ya,” katanya singkat. “Untuk semuanya.” Mila tersenyum kecil. “Sama-sama, Ko.” Pintu tertutup. Mila menatap kosong ke arah pint

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Bos, Jangan di Sini!   Hari Terakhir Pengobatan

    Pagi itu, cahaya matahari merembes lembut melalui celah gorden kamar kontrakan Sevi. Udara sejuk menandai bahwa hari sedang berjalan dengan tenang, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Sevi bangun tanpa rasa cemas di dadanya.Ia membuka gorden perlahan, membiarkan cahaya menerpa

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Bos, Jangan di Sini!   Hilangnya Alya dan Kemarahannya

    Alya menutup pintu apartemennya dengan perlahan, menjerat satu napas panjang di dada. Di balik kaca tebal itu, kota tampak biasa lampu lalu lintas berdenyut, kendaraan mengais jalan, namun semuanya terasa asing dan jauh. Ia menempelkan punggungnya pada pintu seolah berharap getarannya bisa meredak

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Bos, Jangan di Sini!   Tak pernah Berubah

    “Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status