MasukPagi itu alarm berbunyi berkali-kali, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin bangun.Tubuh Sevi terasa pegal di hampir seluruh bagian. Begitu juga Arlan. Bahkan hanya untuk membalikkan badan saja rasanya malas.Sevi menarik selimut hingga dagunya. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah tertutup sambil menatap Arlan yang telungkup di sampingnya.“Lan…”“Hm?” jawab Arlan dengan suara serak khas bangun tidur.“Badanku sakit semua.”Arlan mengangkat tangannya pelan lalu menunjuk dirinya sendiri tanpa membuka mata.“Sama.”Sevi terkekeh kecil melihat tingkah Arlan yang seperti orang sekarat. Padahal semalam mereka masih tertawa puas karena akhirnya berhasil gym bareng tanpa drama. Sekarang baru terasa akibatnya.Arlan memaksakan membuka mata. Ia melirik jam di meja samping kasur lalu langsung mengerang.“Anjir sayang…”“Kenapa?”“Kita kesiangan.”Sevi langsung bangun setengah duduk. Namun baru beberapa detik kemudian ia kembali rebah sambil memegangi paha.“Aduh…
Rumah utama malam itu terasa ramai walau hanya diisi suara tawa keluarga kecil mereka.Begitu Arlan dan Sevi masuk membawa tas olahraga, mama langsung heboh menyuruh keduanya duduk di ruang tengah. Di atas meja sudah ada durian yang dibuka sebagian, lengkap dengan teh hangat dan beberapa camilan.“Nah ini atlet-atlet baru datang,” goda papa sambil tertawa kecil.Sevi langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan dramatis.“Capek pa… ternyata gym susah.”“Alay ma,” balas Arlan santai sambil duduk di sampingnya.Mama langsung memperhatikan mereka berdua dengan mata berbinar penasaran.“Jadi gimana gym nya? Beneran bagus kan?”“Bagus banget ma,” jawab Sevi semangat. “Bima makin serius ngajarnya.”Papa langsung mengangkat alis. “Oh yang anak gede item manis itu?”“PA!” Sevi langsung tertawa.“Lah emang iya.”Arlan yang sedari tadi makan durian langsung tersedak kecil menahan tawa.“Papa jangan ngomong depan orangnya nanti.”“Kenapa? Salah?”Suasana langsung dipenuhi tawa lagi.Mama sendiri
Hari sudah benar-benar gelap ketika sesi olahraga mereka selesai. Gym yang tadi ramai perlahan mulai lebih lengang. Beberapa orang sudah pulang, sedangkan sisanya masih sibuk dengan latihan masing-masing.Sevi duduk di bangku dekat area loker sambil mengusap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil.“Capek juga ternyata…” gumamnya.Arlan yang berdiri di depannya langsung memberikan botol minum.“Makanya tadi jangan sok kuat.”“Padahal kamu yang ngos-ngosan duluan.”“Fitnah.”Bima yang mendengar itu langsung tertawa keras dari meja resepsionis.“Emang paling lucu kalau cowok gengsi diajak olahraga.”“Diam coach gagal,” balas Arlan santai.“Gagal gimana?”“Member baru aja hampir tumbang.”“Lah itu gara-gara kebanyakan ketawa.”Sevi langsung terkekeh lagi.Suasana sore ini terasa ringan. Tidak ada ketegangan seperti beberapa hari lalu. Bahkan Arlan mulai merasa nyaman berada di gym milik Bima. Setidaknya pria itu memang terlihat tulus menjaga Sevi.Setelah semuanya selesai mandi dan
Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika mobil Arlan memasuki area gym milik Bima. Lampu-lampu besar di bagian depan gedung sudah menyala terang, memperlihatkan logo gym dengan huruf besar berwarna putih.Terlihat parkiran cukup ramai sore itu. Beberapa orang keluar masuk dengan pakaian olahraga, sebagian lagi terlihat mengobrol santai di depan lobby sambil membawa shaker protein mereka.Sevi menatap sekitar dengan kagum. “Rame banget buset.”Arlan memarkir mobilnya pelan lalu ikut melihat ke arah gedung gym itu. Jujur saja, walau dirinya masih sedikit tidak suka pada Bima, ia harus mengakui kalau tempat ini memang besar dan terlihat profesional. Begitu mereka turun dari mobil, pintu lobby langsung terbuka.“WOI SEVI!”Suara menggelegar khas Bima langsung terdengar memenuhi area depan gym.Pria bertubuh besar itu berjalan cepat menghampiri mereka dengan kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya. Namun baru saja Bima ingin merangkul Sevi seperti biasa, tangannya berhenti d
Malam itu apartemen Arlan terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Pelukan dan kecipak basah diantara mereka membuat ruang yang luas itu terasa sempit.“Capek nggak sayang?”“Ahh, engga…”“Enak?”Sevi mengangguk pelan sambil memeluk leher Arlan lebih erat.Penyatuan tubuh mereka yang tertunda kemarin, kini akhirnya terpenuhi. Genjotan pelan mengikuti irama, dan juga erangan yang tak lagi Sevi tahan. Arlan merasa semakin jatuh hati pada wanita di bawah nya, wanita yang sekarang sedang meraung-raung meminta tempo nya dicepatkan. “Sa-sayang.. mau.. kelu-” Kalimat itu belum selesai, dan sebuah cairan kental keluar di sela kejantanan Arlan. Seringai Arlan langsung terlihat, barulah sekarang giliran Arlan yang menyusul.Malam ini mereka merasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Arlan memperlakukannya seolah dirinya benar-benar berharga, sangat dijaga dan dicintai.Dan itu membuat hati Sevi perlahan luluh.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di samp
Perjalanan terasa jauh lebih lama dari biasanya, kini bukan karena macet. Tapi karena suasana di dalam mobil yang terasa menyesakkan bagi Arlan. Ia bahkan beberapa kali menghela napas pelan sambil menatap jalanan di depannya.Untungnya apartemen Sonya akhirnya mulai terlihat. Sebuah gedung tinggi dengan dominasi warna abu muda itu berdiri tak jauh dari jalan utama. Arlan langsung membelokkan mobil masuk ke area drop off tanpa banyak bicara.Begitu mobil berhenti sempurna, Sonya terlihat merapikan rambutnya terlebih dahulu lewat kaca kecil di dashboard.Sevi yang duduk di belakang hanya memperhatikan dengan wajah datar.“Udah sampe,” ucap Arlan singkat.Sonya menoleh ke arahnya lalu tersenyum manis. “Makasih ya Pak Arlan... udah mau saya repotin.”“Iya.” Jawaban itu terdengar terlalu dingin sampai Sonya sedikit menahan senyumnya.Namun perempuan itu tetap belum menyerah. Tangannya membuka seatbelt perlahan, lalu sebelum turun ia malah memiringkan tubuh sedikit mendekati Arlan.“Pak…”“
Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”Mila berdi
Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah
“Kamu suka Sevi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mila, tanpa aba-aba, tanpa nada bercanda. Sunyi di ruang perawatan rumah sakit seketika terasa lebih tebal dari sebelumnya.Miko yang sejak tadi duduk sambil menatap layar ponselnya langsung terdiam. Bahunya sedikit menegang. Ia tidak
Pagi itu, cahaya matahari merembes lembut melalui celah gorden kamar kontrakan Sevi. Udara sejuk menandai bahwa hari sedang berjalan dengan tenang, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Sevi bangun tanpa rasa cemas di dadanya.Ia membuka gorden perlahan, membiarkan cahaya menerpa







