FAZER LOGINHari sudah benar-benar gelap ketika sesi olahraga mereka selesai. Gym yang tadi ramai perlahan mulai lebih lengang. Beberapa orang sudah pulang, sedangkan sisanya masih sibuk dengan latihan masing-masing.Sevi duduk di bangku dekat area loker sambil mengusap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil.“Capek juga ternyata…” gumamnya.Arlan yang berdiri di depannya langsung memberikan botol minum.“Makanya tadi jangan sok kuat.”“Padahal kamu yang ngos-ngosan duluan.”“Fitnah.”Bima yang mendengar itu langsung tertawa keras dari meja resepsionis.“Emang paling lucu kalau cowok gengsi diajak olahraga.”“Diam coach gagal,” balas Arlan santai.“Gagal gimana?”“Member baru aja hampir tumbang.”“Lah itu gara-gara kebanyakan ketawa.”Sevi langsung terkekeh lagi.Suasana sore ini terasa ringan. Tidak ada ketegangan seperti beberapa hari lalu. Bahkan Arlan mulai merasa nyaman berada di gym milik Bima. Setidaknya pria itu memang terlihat tulus menjaga Sevi.Setelah semuanya selesai mandi dan
Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika mobil Arlan memasuki area gym milik Bima. Lampu-lampu besar di bagian depan gedung sudah menyala terang, memperlihatkan logo gym dengan huruf besar berwarna putih.Terlihat parkiran cukup ramai sore itu. Beberapa orang keluar masuk dengan pakaian olahraga, sebagian lagi terlihat mengobrol santai di depan lobby sambil membawa shaker protein mereka.Sevi menatap sekitar dengan kagum. “Rame banget buset.”Arlan memarkir mobilnya pelan lalu ikut melihat ke arah gedung gym itu. Jujur saja, walau dirinya masih sedikit tidak suka pada Bima, ia harus mengakui kalau tempat ini memang besar dan terlihat profesional. Begitu mereka turun dari mobil, pintu lobby langsung terbuka.“WOI SEVI!”Suara menggelegar khas Bima langsung terdengar memenuhi area depan gym.Pria bertubuh besar itu berjalan cepat menghampiri mereka dengan kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya. Namun baru saja Bima ingin merangkul Sevi seperti biasa, tangannya berhenti d
Malam itu apartemen Arlan terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Pelukan dan kecipak basah diantara mereka membuat ruang yang luas itu terasa sempit.“Capek nggak sayang?”“Ahh, engga…”“Enak?”Sevi mengangguk pelan sambil memeluk leher Arlan lebih erat.Penyatuan tubuh mereka yang tertunda kemarin, kini akhirnya terpenuhi. Genjotan pelan mengikuti irama, dan juga erangan yang tak lagi Sevi tahan. Arlan merasa semakin jatuh hati pada wanita di bawah nya, wanita yang sekarang sedang meraung-raung meminta tempo nya dicepatkan. “Sa-sayang.. mau.. kelu-” Kalimat itu belum selesai, dan sebuah cairan kental keluar di sela kejantanan Arlan. Seringai Arlan langsung terlihat, barulah sekarang giliran Arlan yang menyusul.Malam ini mereka merasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Arlan memperlakukannya seolah dirinya benar-benar berharga, sangat dijaga dan dicintai.Dan itu membuat hati Sevi perlahan luluh.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di samp
Perjalanan terasa jauh lebih lama dari biasanya, kini bukan karena macet. Tapi karena suasana di dalam mobil yang terasa menyesakkan bagi Arlan. Ia bahkan beberapa kali menghela napas pelan sambil menatap jalanan di depannya.Untungnya apartemen Sonya akhirnya mulai terlihat. Sebuah gedung tinggi dengan dominasi warna abu muda itu berdiri tak jauh dari jalan utama. Arlan langsung membelokkan mobil masuk ke area drop off tanpa banyak bicara.Begitu mobil berhenti sempurna, Sonya terlihat merapikan rambutnya terlebih dahulu lewat kaca kecil di dashboard.Sevi yang duduk di belakang hanya memperhatikan dengan wajah datar.“Udah sampe,” ucap Arlan singkat.Sonya menoleh ke arahnya lalu tersenyum manis. “Makasih ya Pak Arlan... udah mau saya repotin.”“Iya.” Jawaban itu terdengar terlalu dingin sampai Sonya sedikit menahan senyumnya.Namun perempuan itu tetap belum menyerah. Tangannya membuka seatbelt perlahan, lalu sebelum turun ia malah memiringkan tubuh sedikit mendekati Arlan.“Pak…”“
Mesin mobil menyala halus memenuhi area parkiran rumah sakit. Udara pagi yang masih dingin membuat kaca mobil sedikit berembun. Arlan menatap lurus ke depan sambil menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang sedari tadi naik turun di dadanya.Ia benar-benar tidak menyangka hari ini akan serumit ini. Harusnya pagi ini ia bahagia.Mengurus administrasi rumah sakit, membawa Sevi pulang, lalu beristirahat bersama di apartemennya. Tidak ada drama lagi, hanya dirinya dan Sevi.Tapi kenyataannya? Kini Sonya duduk di kursi depan mobilnya. Sedangkan Sevi yang baru saja keluar dari rumah sakit malah duduk di belakang.Arlan sampai mengeratkan rahangnya menahan kesal.“Anjing lah.” Umpatnya berulang kali.Saat tadi Sevi hendak membuka pintu depan, Sonya malah lebih dulu bersuara dengan wajah polos seolah benar-benar peduli.“Kamu tadi keliatan ngantuk banget, Sev. Di belakang aja biar bisa rebahan. Ada bantal tuh.” Nada suaranya lembut tapi seolah mengolok.“Aku juga nggak enak kalau di b
Pagi itu suasana kamar rawat Sevi terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, membuat ruangan tampak hangat dan nyaman.Sevi yang sedari tadi diperiksa dokter akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar kalimat yang ia tunggu-tunggu.“Kalau nggak ada keluhan lagi, hari ini sudah boleh pulang ya.”Mata Sevi langsung membesar senang. “Serius dok?”Dokter itu tersenyum kecil sambil menulis beberapa catatan. “Iya. Tapi tetap jangan terlalu stres dan jangan terlalu capek dulu.”Arlan yang berdiri di samping ranjang langsung mengangguk cepat. “Siap dok.”Padahal yang ditanya Sevi. Namun dokter malah terkekeh melihat Arlan yang lebih semangat.“Yang sakit siapa, yang jawab siapa.”“Takut dia bandel dok.”Sevi langsung mencubit pinggang Arlan pelan. “Apaan sih.”Setelah dokter keluar, Arlan benar-benar bergerak cepat seperti baru mendapat hadiah besar. Ia membereskan semua barang Sevi satu per satu ke dalam tas.Mulai dari charger. Boto
Dengkuran halus terdengar bersahutan.Televisi sudah lama dimatikan. Cahaya layar hitam memantulkan bayangan samar di dinding ruang tengah. Selimut tebal menutup rapi tubuh para ayah yang tertidur di depan TV, posisi mereka berantakan namun nyaman, seolah dunia bisa menunggu sampai pagi.Namun tida
Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.” “Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.” “Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.” “Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”
Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p
Situasi itu berpotensi meledak. Namun sebelum Sevi sempat berkata lebih jauh, Arlan muncul dan langsung berdiri di depan Sevi, tubuhnya menjadi penghalang.“Ada apa?” tanya Arlan dingin. “Kamu ngapain ke sini, Miko?”Miko menunduk. Bahunya turun, seolah beban berat menekannya. “Aku… aku mau minta m







