Share

Kerja Kerja

Author: Olivia
last update publish date: 2025-12-26 23:16:12

Hari itu dimulai lebih pagi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menyelinap lewat celah gorden ketika Sevi sudah terjaga. Ia tidak langsung bangun, beberapa detik ia habiskan untuk menatap langit-langit kamar, mengatur napas, memastikan hatinya siap menghadapi hari.

Sevi bangun, merapikan tempat tidur, lalu menuju dapur. Tangannya bergerak cekatan, ia kembali ke kebiasaan lama yang selalu membuatnya merasa lebih terkendali.

Nasi hangat ia siapkan secukupnya, telur dadar tipis dengan irisan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Linaindriyana Ayuna
waah siapa tuh,semoga sevi gak berpaling dari arlan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Orang Dalam

    “Siapa aja?”Suara Arlan terdengar pelan dan mengintimidasi, membuat suasana ruang meeting terasa jauh lebih menegangkan.Pak Reno menunduk dalam. Keringat di dahinya terus mengalir sampai membasahi kerah kemejanya yang mulai kusut.“Saya dipaksa, Pak…”“Itu nggak menjawab pertanyaan saya.”Arlan berjalan mendekat perlahan hingga berdiri tepat di depan meja. Langkah sepatunya menggema pelan di lantai ruangan yang sunyi. Tatapan matanya dingin, tajam, dan penuh tekanan sampai membuat beberapa staf audit ikut menahan napas.Ia mengulang pertanyaan yang sama, lebih lambat dan lebih menekan.“Siapa orangnya?”Pak Reno menggenggam celananya kuat-kuat seperti sedang mencari keberanian untuk bicara. Bibirnya bergetar kecil.Lalu…“Pak Damar…”Deg.Ruangan langsung hening total.Bahkan suara pendingin ruangan terasa begitu jelas di telinga semua orang.Sevi mengernyit pelan. Sedangkan Sonya yang berdiri dekat pintu langsung membelalak tidak percaya.Pak Damar, Nama itu bukan nama asing. Ia ad

  • Bos, Jangan di Sini!   Nama yang Mulai Muncul

    Malam sudah lewat pukul sembilan, namun lampu di lantai utama kantor pusat masih menyala terang.Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak dua jam lalu, menyisakan beberapa staf audit, tim IT, dan Arlan yang masih duduk di ruang meeting dengan wajah penuh tekanan.Map-map laporan memenuhi meja panjang di depannya. Kopi hitam ketiga malam itu bahkan sudah dingin sejak setengah jam lalu.Sedangkan Sevi masih setia duduk di samping Arlan sambil sesekali membantu memeriksa data pengeluaran yang terlihat semakin tidak masuk akal.“Ini juga dobel…” gumam Sevi pelan sambil menunjuk layar laptop.Arlan langsung mendekat. Benar saja, invoice pengiriman jalur Malang–Surabaya tercatat dua kali dengan nominal berbeda.Padahal nomor armada yang digunakan sama persis.“Bangsat…” desis Arlan pelan. Tangannya otomatis mengepal.Ia mulai sadar kalau ini bukan sekadar kesalahan administrasi biasa. Seseorang benar-benar sengaja memainkan sistem distribusi perusahaan.Dan pelakunya jelas cukup pintar. K

  • Bos, Jangan di Sini!   Data yang Dihilangkan

    Brak!Kursi kulit di ruang meeting terdorong keras hingga nyaris terbalik.“Siapa yang punya akses server?”Suara Arlan menggema memenuhi ruangan.Tidak ada lagi nada dingin seperti tadi. Kali ini emosinya benar-benar meledak tanpa sisa. Rahangnya mengeras, urat di lehernya terlihat jelas, sementara tatapan matanya membuat beberapa staf bahkan tidak berani mengangkat kepala.Staf IT yang membawa laptop tadi langsung gugup setengah mati.“Pak… akses administrator cuma ada tiga. Saya, Pak Reno bagian keuangan, sama...”“Siapa lagi?”“…mantan supervisor distribusi lama sebelum merger.”Ruangan langsung hening. Arlan tertawa pendek penuh emosi.“Mantan?” ulangnya pelan. “Orang yang udah resign masih punya akses server perusahaan?”“Karena proses perpindahan sistem belum selesai total, Pak…”“Hebat.” Arlan mengangguk kecil sambil tersenyum sinis. “Luar biasa.”Sevi yang berdiri di samping meja mulai khawatir melihat kondisi Arlan. Tangannya sudah mengepal kuat sedari tadi, napasnya juga mu

  • Bos, Jangan di Sini!   Audit Mendadak

    Suasana kantor pusat pagi itu jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada suara candaan ringan antar staf, tidak ada aroma kopi yang biasa memenuhi pantry utama sejak jam delapan pagi. Semua orang berjalan cepat sambil membawa map dan laptop masing-masing, wajah mereka tegang seperti sedang menunggu badai besar datang menghantam.Dan memang benar, badai itu baru saja dimulai.Pintu lift utama terbuka cukup keras hingga beberapa karyawan spontan menoleh. Arlan keluar dengan langkah cepat ditemani dua orang tim audit internal dari pusat holding Om Wijaya.Kemeja hitam yang ia pakai tergulung hingga siku, rahangnya mengeras, sementara matanya tajam menyapu seluruh ruangan kantor.“Pak Arlan…”Beberapa staf langsung berdiri gugup. Namun Arlan tidak membalas sapaan siapa pun.Ia berjalan lurus menuju ruang meeting utama dengan map merah tebal di tangannya. Sonya yang sejak tadi mengikuti dari belakang bahkan sampai harus mempercepat langkah agar tidak tertinggal.Pintu ruang meeting dibuka kasa

  • Bos, Jangan di Sini!   Pelan-pelan Membaik

    Aroma sup ayam hangat memenuhi dapur apartemen kecil itu sejak pagi. Sevi berdiri di depan kompor sambil mengaduk perlahan isi panci, sesekali meniup rambut depannya yang jatuh mengganggu penglihatan. Tubuhnya memang belum sepenuhnya kembali fit seperti biasa, namun setidaknya pagi ini ia sudah tidak lagi pucat seperti beberapa hari terakhir. Dan ia memilih rawat jalan saja, daripada harus di rumah sakit.Rasa nyeri di dadanya perlahan mulai berkurang, begitu juga pikirannya. Semua terasa jauh lebih ringan sejak malam panjang di rumah sakit itu.Mereka akhirnya benar-benar bicara. Bukan sekadar saling meminta maaf sambil menangis, tapi benar-benar membuka isi kepala masing-masing yang selama ini terlalu sibuk memendam semuanya sendiri.Tentang Sonya, Om Wijaya dan tekanan pekerjaan nya. Juga tentang rasa takut kehilangan, bagaimana mereka sama-sama hampir menghancurkan hubungan sendiri karena terlalu sibuk berasumsi.“Ngelamun lagi?” Suara berat Arlan membuat Sevi menoleh.Pria itu b

  • Bos, Jangan di Sini!   Bantuan yang Berlebihan

    “Bawahnya juga distimulasi ya, siapa tau bisa bikin keluar.”Sevi hanya mengangguk pasrah, ia pikir apa salah nya mencoba. Sebab keduanya juga sama-sama bingung, ia juga tak mau jika harus dibantu oleh dokter.Dengan cepat Arlan menanggalkan semua yang menutupi bagian bawah Sevi. Cairan bening mengalir lembut disela-sela, kedutan tipis dari milik Sevi membuat cairan itu menetes di sprei.Jari jemari nya ia basahi sendiri dengan mulutnya sebagai pelumas agar tak terlalu kesat. Jempol nya bergerak memutar di area kacang, sedangkan jari tengah nya masuk menelisik ke dalam mencari titik sensitif wanita nya.“Ahh... Disitu...” Sevi menggeliat tak karuan, sebab di atas dan bawah nya terstimulasi dengan baik dan membuatnya hilang akal. Rasa sakit dan nyeri yang tadi ia rasakan, diganti oleh kenikmatan yang membuatnya lupa bahwa dirinya sedang di bangsal rumah sakit.“Sayanhh.. Kelu..”Gumpalan yang sedari tadi membuat Sevi sengsara kini sudah keluar, berwarna merah segar dan gumpalannya pu

  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Hamil?

    Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status