Share

Kerja Kerja

Auteur: Olivia
last update Date de publication: 2025-12-26 23:16:12

Hari itu dimulai lebih pagi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menyelinap lewat celah gorden ketika Sevi sudah terjaga. Ia tidak langsung bangun, beberapa detik ia habiskan untuk menatap langit-langit kamar, mengatur napas, memastikan hatinya siap menghadapi hari.

Sevi bangun, merapikan tempat tidur, lalu menuju dapur. Tangannya bergerak cekatan, ia kembali ke kebiasaan lama yang selalu membuatnya merasa lebih terkendali.

Nasi hangat ia siapkan secukupnya, telur dadar tipis dengan irisan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Linaindriyana Ayuna
waah siapa tuh,semoga sevi gak berpaling dari arlan
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Pasti Mau Ngikut

    Pagi itu alarm berbunyi berkali-kali, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin bangun.Tubuh Sevi terasa pegal di hampir seluruh bagian. Begitu juga Arlan. Bahkan hanya untuk membalikkan badan saja rasanya malas.Sevi menarik selimut hingga dagunya. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah tertutup sambil menatap Arlan yang telungkup di sampingnya.“Lan…”“Hm?” jawab Arlan dengan suara serak khas bangun tidur.“Badanku sakit semua.”Arlan mengangkat tangannya pelan lalu menunjuk dirinya sendiri tanpa membuka mata.“Sama.”Sevi terkekeh kecil melihat tingkah Arlan yang seperti orang sekarat. Padahal semalam mereka masih tertawa puas karena akhirnya berhasil gym bareng tanpa drama. Sekarang baru terasa akibatnya.Arlan memaksakan membuka mata. Ia melirik jam di meja samping kasur lalu langsung mengerang.“Anjir sayang…”“Kenapa?”“Kita kesiangan.”Sevi langsung bangun setengah duduk. Namun baru beberapa detik kemudian ia kembali rebah sambil memegangi paha.“Aduh…

  • Bos, Jangan di Sini!   Makan Bersama

    Rumah utama malam itu terasa ramai walau hanya diisi suara tawa keluarga kecil mereka.Begitu Arlan dan Sevi masuk membawa tas olahraga, mama langsung heboh menyuruh keduanya duduk di ruang tengah. Di atas meja sudah ada durian yang dibuka sebagian, lengkap dengan teh hangat dan beberapa camilan.“Nah ini atlet-atlet baru datang,” goda papa sambil tertawa kecil.Sevi langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan dramatis.“Capek pa… ternyata gym susah.”“Alay ma,” balas Arlan santai sambil duduk di sampingnya.Mama langsung memperhatikan mereka berdua dengan mata berbinar penasaran.“Jadi gimana gym nya? Beneran bagus kan?”“Bagus banget ma,” jawab Sevi semangat. “Bima makin serius ngajarnya.”Papa langsung mengangkat alis. “Oh yang anak gede item manis itu?”“PA!” Sevi langsung tertawa.“Lah emang iya.”Arlan yang sedari tadi makan durian langsung tersedak kecil menahan tawa.“Papa jangan ngomong depan orangnya nanti.”“Kenapa? Salah?”Suasana langsung dipenuhi tawa lagi.Mama sendiri

  • Bos, Jangan di Sini!   Adik

    Hari sudah benar-benar gelap ketika sesi olahraga mereka selesai. Gym yang tadi ramai perlahan mulai lebih lengang. Beberapa orang sudah pulang, sedangkan sisanya masih sibuk dengan latihan masing-masing.Sevi duduk di bangku dekat area loker sambil mengusap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil.“Capek juga ternyata…” gumamnya.Arlan yang berdiri di depannya langsung memberikan botol minum.“Makanya tadi jangan sok kuat.”“Padahal kamu yang ngos-ngosan duluan.”“Fitnah.”Bima yang mendengar itu langsung tertawa keras dari meja resepsionis.“Emang paling lucu kalau cowok gengsi diajak olahraga.”“Diam coach gagal,” balas Arlan santai.“Gagal gimana?”“Member baru aja hampir tumbang.”“Lah itu gara-gara kebanyakan ketawa.”Sevi langsung terkekeh lagi.Suasana sore ini terasa ringan. Tidak ada ketegangan seperti beberapa hari lalu. Bahkan Arlan mulai merasa nyaman berada di gym milik Bima. Setidaknya pria itu memang terlihat tulus menjaga Sevi.Setelah semuanya selesai mandi dan

  • Bos, Jangan di Sini!   Ternyata Bima...

    Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika mobil Arlan memasuki area gym milik Bima. Lampu-lampu besar di bagian depan gedung sudah menyala terang, memperlihatkan logo gym dengan huruf besar berwarna putih.Terlihat parkiran cukup ramai sore itu. Beberapa orang keluar masuk dengan pakaian olahraga, sebagian lagi terlihat mengobrol santai di depan lobby sambil membawa shaker protein mereka.Sevi menatap sekitar dengan kagum. “Rame banget buset.”Arlan memarkir mobilnya pelan lalu ikut melihat ke arah gedung gym itu. Jujur saja, walau dirinya masih sedikit tidak suka pada Bima, ia harus mengakui kalau tempat ini memang besar dan terlihat profesional. Begitu mereka turun dari mobil, pintu lobby langsung terbuka.“WOI SEVI!”Suara menggelegar khas Bima langsung terdengar memenuhi area depan gym.Pria bertubuh besar itu berjalan cepat menghampiri mereka dengan kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya. Namun baru saja Bima ingin merangkul Sevi seperti biasa, tangannya berhenti d

  • Bos, Jangan di Sini!   Gym Date

    Malam itu apartemen Arlan terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Pelukan dan kecipak basah diantara mereka membuat ruang yang luas itu terasa sempit.“Capek nggak sayang?”“Ahh, engga…”“Enak?”Sevi mengangguk pelan sambil memeluk leher Arlan lebih erat.Penyatuan tubuh mereka yang tertunda kemarin, kini akhirnya terpenuhi. Genjotan pelan mengikuti irama, dan juga erangan yang tak lagi Sevi tahan. Arlan merasa semakin jatuh hati pada wanita di bawah nya, wanita yang sekarang sedang meraung-raung meminta tempo nya dicepatkan. “Sa-sayang.. mau.. kelu-” Kalimat itu belum selesai, dan sebuah cairan kental keluar di sela kejantanan Arlan. Seringai Arlan langsung terlihat, barulah sekarang giliran Arlan yang menyusul.Malam ini mereka merasa jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Arlan memperlakukannya seolah dirinya benar-benar berharga, sangat dijaga dan dicintai.Dan itu membuat hati Sevi perlahan luluh.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya redup dari lampu tidur di samp

  • Bos, Jangan di Sini!   Ada Aja Tingkahnya

    Perjalanan terasa jauh lebih lama dari biasanya, kini bukan karena macet. Tapi karena suasana di dalam mobil yang terasa menyesakkan bagi Arlan. Ia bahkan beberapa kali menghela napas pelan sambil menatap jalanan di depannya.Untungnya apartemen Sonya akhirnya mulai terlihat. Sebuah gedung tinggi dengan dominasi warna abu muda itu berdiri tak jauh dari jalan utama. Arlan langsung membelokkan mobil masuk ke area drop off tanpa banyak bicara.Begitu mobil berhenti sempurna, Sonya terlihat merapikan rambutnya terlebih dahulu lewat kaca kecil di dashboard.Sevi yang duduk di belakang hanya memperhatikan dengan wajah datar.“Udah sampe,” ucap Arlan singkat.Sonya menoleh ke arahnya lalu tersenyum manis. “Makasih ya Pak Arlan... udah mau saya repotin.”“Iya.” Jawaban itu terdengar terlalu dingin sampai Sonya sedikit menahan senyumnya.Namun perempuan itu tetap belum menyerah. Tangannya membuka seatbelt perlahan, lalu sebelum turun ia malah memiringkan tubuh sedikit mendekati Arlan.“Pak…”“

  • Bos, Jangan di Sini!   Lamaran

    Udara siang itu terasa berbeda. Hangat, namun tidak menyengat. Matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Angin berembus perlahan, menyapu dedaunan di halaman rumah Sevi, membawa aroma tanah basah dan bunga segar yang sejak pagi dirangkai dengan penuh ketelatenan.Mobil y

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Tertahan

    Dengkuran halus terdengar bersahutan.Televisi sudah lama dimatikan. Cahaya layar hitam memantulkan bayangan samar di dinding ruang tengah. Selimut tebal menutup rapi tubuh para ayah yang tertidur di depan TV, posisi mereka berantakan namun nyaman, seolah dunia bisa menunggu sampai pagi.Namun tida

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Salah Paham

    Bermaksud atau tidak,” sela Mila, “hasilnya sama.”Sevi menunduk. “Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu.” “Maaf?” Mila tersenyum miring. “Kamu selalu punya kata itu.” “Mila,” suara Sevi bergetar. “Aku nggak merebut siapa pun.” “Ya,” balas Mila dingin. “Karena dari awal dia milik kamu, kan.”

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-31
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status