Mag-log inArlan kira setelah lelah melakukan kegiatan panas tadi, Sebi akan langsung tertidur. Nyata nya, Sevi malah merengek ingin menonton acara kesukaan nya.Lampu ruang tamu menyala hangat, sementara televisi hanya menjadi latar tanpa benar-benar mereka perhatikan.Sevi duduk bersila di sofa, baju nya sudah diganti menjadi baju tidur. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di pipi.“Lan…”“Iya?”“Kita jadi gym bareng kan nanti?”Arlan yang sedang membuka kulkas menoleh. “Jadi.”Sevi mengangguk pelan,. “Tapi aku masih takut sih.” Gumam nya pelan, bahkan Arlan pun tidak mendengar.“Kenapa sayang? Aku nggak denger suara mu.” Arlan terdiam sebentar, lalu menutup kulkas. Sebenarnya Arlan paham apa yang dikatakan Sevi, namun dalam kasus sekarang Arlan pura-pura tidak tau apapun.“Itu, kan aku nggak ada pakaian olahraga di sini. Tadi kan ditinggal di rumah utama.” “Kamu kuat jalan nggak? Kalau kuat kita keluar sekarang aja.”Sevi langsung menoleh cepat. “Sekarang?”“Iya. Sekalian makan mal
“Mau..” Ucap Sevi sambil mendusal pelan di leher Arlan.“Mau apa sayang?” Arlan dengan lembut mengelus surai hitam Sevi, memberinya kecupan singkat di kening dan pipi nya. Dengan sengaja Sevi menggoyangkan pinggul nya dengan ritme yang pelan. Tak disangka, di bawah sana sudah menonjol kuat hingga terasa oleh Sevi."Ja-jangan sayang, nggak sekarang ya.” Arlan mendorong tubuh Sevi pelan, mereka berdua bertatapan beberapa menit. Senyum ceria Sevi tadi seketika hilang digantikan cemberut di wajahnya. “Oh yaudah.” Jawab Sevi sesingkat mungkin.Lalu ia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar, pun pintu sengaja ia tutup. “Apaan coba, giliran aku yang mau, dia nya nolak. Nggak jelas banget” Gerutu Sevi sembari menarik selimut.Disisi lain Arlan terkekeh pelan, melihat wanita nya yang ia tolak tadi langsung berubah drastis.Tangan Arlan bergerak mengelus benda keras miliknya, “Nggak sekarang waktunya.”Sebenarnya bisa saja Arlan menerkam Sevi sekarang, namun pikirannya masih mengingat apa
Terik matahari mulai beranjak turun, menyisakan awan oranye yang pelan-pelan mulai muncul. Suasana yang tadi ramai oleh obrolan kini perlahan menipis.Bima berdiri dari kursinya, menepuk pelan celana pendeknya.“Aku pamit ya, Sev… Mbak… Nitip salam ke Mama kalau aku pulang, jangan dibangunin kasihan capek.”Sevi mengangguk pelan, senyumnya tipis.“Iya, hati-hati ya, Bim.”Namun sebelum benar-benar pergi, Bima melirik ke arah Arlan. “Lan, anter bentar yok.”Nada suaranya berubah lebih serius. Tanpa basa basi Arlan langsung menyambar kunci mobil nya.“Iya,” jawabnya singkat.\\\Langkah mereka berdua keluar rumah terasa berbeda dingin dan serius. Hanya suara kerikil kecil yang terinjak dan angin menjelang sore yang berembus pelan.Sampai di dekat motor Bima, pria itu belum juga langsung naik. Ia berdiri, menatap ke depan, rahangnya mengeras.“Aku masih nggak terima, Lan.”Arlan menatapnya. “Siapa pun itu… berani banget anjing nyentuh Sevi.” Nada suara Arlan rendah seperti tertahan dan
Siang itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mbak sudah lebih dulu menyiapkan makan siang di dapur. Aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana terasa hangat walaupun di dalamnya ada seseorang yang justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sevi duduk di kursi makan, ia diam, tangannya memainkan ujung sendok tanpa benar-benar berniat makan. Mama sempat melirik.“Kok nggak dimakan, Sev?”Sevi tersenyum tipis. “Eh iya ma...”Namun sendok itu hanya bergerak pelan, seperti enggan untuk masuk ke dalam mulut.Tidak berselang lama, pintu depan terbuka. Arlan masuk dengan langkah cepat.“Udah pada makan?”“Iya, kamu sini cuci tangan dulu,” sahut mama.Arlan mengangguk, tapi matanya langsung mencari satu orang, Sevi. Ia memperhatikan beberapa detik, ia paham kalau Sevi yang biasanya paling banyak bicara di meja makan. Namun sekarang justru paling diam.Arlan mengernyit heran, namun ia tidak langsung bertanya. Ia duduk di sebelah Sevi setelah mencuci tangan.“Makan apa hari ini
Ruang CCTV itu terasa lebih sempit dari ukuran aslinya.Layar-layar monitor menyala berjajar, menampilkan sudut-sudut gym dari berbagai arah. Biasanya tempat itu hanya dipakai untuk pemantauan biasa, keamanan alat, keluar masuk member, hal-hal teknis.Namun kali ini,Ada sesuatu yang berbeda.Bima berdiri di depan layar dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya masih terasa nyeri, tapi ia bahkan tidak memedulikannya. Tatapannya tajam, berpindah dari satu layar ke layar lain.“Putar lagi yang tadi,” ucapnya tegas pada petugas.Rekaman diputar ulang.Area tempat Sevi berdiri tadi terlihat jelas.Sevi ikut memperhatikan, berdiri sedikit di belakang Bima. Tangannya saling menggenggam, berusaha menenangkan diri.Di layar, Ia terlihat sedang mengangkat barbel. Lalu tiba-tiba terkejut dan barbel jatuh.Namun…Tidak ada siapa pun di belakangnya. Bima mengernyit.“Zoom bagian sini.”Layar diperbesar.Tetap sama.Kosong.“Yang sudut kanan.”Dipindah.Tidak ada.“Belakang alat.”Diputar lagi.M
Gedung gym itu berdiri megah, jauh dari bayangan Sevi sebelumnya. Dari luar saja sudah terlihat luas, dengan kaca besar yang memperlihatkan aktivitas di dalamnya. Orang-orang lalu lalang, sebagian membawa tas olahraga, sebagian lagi sudah mengenakan pakaian gym lengkap dengan earphone di telinga. Sevi berhenti beberapa langkah dari pintu masuk.“Ma…” ucapnya pelan.Mama ikut menatap ke dalam.“Ini… gede banget ya…”Sevi mengangguk. “Aku kira cuma gym biasa.”Belum sempat mereka melangkah masuk, seseorang dari belakang langsung merangkul bahu Sevi.“Dateng juga akhirnya yang ditunggu-tunggu.”Sevi refleks kaget. “Eh!”Ia menoleh cepat. “Bima!”Bima tertawa lepas melihat ekspresi Sevi. Mama yang melihat itu juga ikut tersenyum. “Kaget ya kamu.”“Ya kaget lah, tiba-tiba…” Sevi memukul pelan lengan Bima.Bima malah semakin santai. Ia merangkul keduanya, berjalan masuk bersama.“Gimana? Lumayan kan tempatnya?”“Lumayan apanya… ini gede banget,” jawab Sevi jujur.Bima tersenyum bangga. “P
Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah
Suara erangan manis bersahutan dengan bunyi kulit mereke yang bersentuhan, Miko yang sudah kehilangan akal tak memikirkan apapun kecuali Mila yang berada diatas nya. Gerakan tubuh yang membuat kejantanannya puas, serta dua dada nya beradu satu sama lain.“Nggak kuat, Ko. Mau.. mauu..” Tepat di hen
Sevi melangkah menjauh. Langkahnya pelan, tidak tergesa, seolah setiap pijakan adalah keputusan yang sudah ia pertimbangkan matang-matang. Ia tidak menoleh lagi.Apa yang ia katakan barusan, semuanya datang dari sudut pandangnya, dari luka yang ia simpan lama, dari kelelahan yang tak pernah benar-b
Lampu tidur menyala redup, tirainya tertutup rapat, hanya menyisakan cahaya kota yang samar dari celah kecil jendela. Sevi dan Arlan sudah berada di ranjang, berbagi satu selimut yang sama. Udara malam dingin, tapi tubuh mereka hangat.Sevi meringkuk setengah menghadap Arlan. Rambutnya tergerai di







