共有

Rumah Baru

作者: Olivia
last update 公開日: 2025-12-16 21:34:26

Mobil Arlan sudah terparkir rapi di pelataran rumah yang dikelilingi halaman luas dan tanah merah yang masih lembap. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan sekeliling dengan saksama. Udara yang tak pernah ia rasakan setelah sekian lama berada di kota, Lembang memang masih menyimpan udara bersih daripada Jakarta.

Diperjalanan tadi, tak jauh dari rumah ini, terlihat area peternakan sapi perah yang selama ini hanya ia kenal lewat laporan dan angka produksi. Ironis rasanya, ia sering mengecek h
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Fitria Suryanti
tambah lagi min
goodnovel comment avatar
Sila Octariani
masih jd tanda tanya perihal cerita sosok ibu Sevi yg masih hidup pdhl di bab 2 ceritanya ibunya sudah meninggal saat Sevi umur 7tahun
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Bos, Jangan di Sini!   Jadi Basah

    “Mau..” Ucap Sevi sambil mendusal pelan di leher Arlan.“Mau apa sayang?” Arlan dengan lembut mengelus surai hitam Sevi, memberinya kecupan singkat di kening dan pipi nya. Dengan sengaja Sevi menggoyangkan pinggul nya dengan ritme yang pelan. Tak disangka, di bawah sana sudah menonjol kuat hingga terasa oleh Sevi."Ja-jangan sayang, nggak sekarang ya.” Arlan mendorong tubuh Sevi pelan, mereka berdua bertatapan beberapa menit. Senyum ceria Sevi tadi seketika hilang digantikan cemberut di wajahnya. “Oh yaudah.” Jawab Sevi sesingkat mungkin.Lalu ia segera berdiri dan masuk ke dalam kamar, pun pintu sengaja ia tutup. “Apaan coba, giliran aku yang mau, dia nya nolak. Nggak jelas banget” Gerutu Sevi sembari menarik selimut.Disisi lain Arlan terkekeh pelan, melihat wanita nya yang ia tolak tadi langsung berubah drastis.Tangan Arlan bergerak mengelus benda keras miliknya, “Nggak sekarang waktunya.”Sebenarnya bisa saja Arlan menerkam Sevi sekarang, namun pikirannya masih mengingat apa

  • Bos, Jangan di Sini!   Takut, Tapi Lebih ke Manja

    Terik matahari mulai beranjak turun, menyisakan awan oranye yang pelan-pelan mulai muncul. Suasana yang tadi ramai oleh obrolan kini perlahan menipis.Bima berdiri dari kursinya, menepuk pelan celana pendeknya.“Aku pamit ya, Sev… Mbak… Nitip salam ke Mama kalau aku pulang, jangan dibangunin kasihan capek.”Sevi mengangguk pelan, senyumnya tipis.“Iya, hati-hati ya, Bim.”Namun sebelum benar-benar pergi, Bima melirik ke arah Arlan. “Lan, anter bentar yok.”Nada suaranya berubah lebih serius. Tanpa basa basi Arlan langsung menyambar kunci mobil nya.“Iya,” jawabnya singkat.\\\Langkah mereka berdua keluar rumah terasa berbeda dingin dan serius. Hanya suara kerikil kecil yang terinjak dan angin menjelang sore yang berembus pelan.Sampai di dekat motor Bima, pria itu belum juga langsung naik. Ia berdiri, menatap ke depan, rahangnya mengeras.“Aku masih nggak terima, Lan.”Arlan menatapnya. “Siapa pun itu… berani banget anjing nyentuh Sevi.” Nada suara Arlan rendah seperti tertahan dan

  • Bos, Jangan di Sini!   Bima dan Arlan

    Siang itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Mbak sudah lebih dulu menyiapkan makan siang di dapur. Aroma masakan memenuhi seluruh ruangan, membuat suasana terasa hangat walaupun di dalamnya ada seseorang yang justru tenggelam dalam pikirannya sendiri.Sevi duduk di kursi makan, ia diam, tangannya memainkan ujung sendok tanpa benar-benar berniat makan. Mama sempat melirik.“Kok nggak dimakan, Sev?”Sevi tersenyum tipis. “Eh iya ma...”Namun sendok itu hanya bergerak pelan, seperti enggan untuk masuk ke dalam mulut.Tidak berselang lama, pintu depan terbuka. Arlan masuk dengan langkah cepat.“Udah pada makan?”“Iya, kamu sini cuci tangan dulu,” sahut mama.Arlan mengangguk, tapi matanya langsung mencari satu orang, Sevi. Ia memperhatikan beberapa detik, ia paham kalau Sevi yang biasanya paling banyak bicara di meja makan. Namun sekarang justru paling diam.Arlan mengernyit heran, namun ia tidak langsung bertanya. Ia duduk di sebelah Sevi setelah mencuci tangan.“Makan apa hari ini

  • Bos, Jangan di Sini!   Kecewa

    Ruang CCTV itu terasa lebih sempit dari ukuran aslinya.Layar-layar monitor menyala berjajar, menampilkan sudut-sudut gym dari berbagai arah. Biasanya tempat itu hanya dipakai untuk pemantauan biasa, keamanan alat, keluar masuk member, hal-hal teknis.Namun kali ini,Ada sesuatu yang berbeda.Bima berdiri di depan layar dengan napas yang tidak beraturan. Dadanya masih terasa nyeri, tapi ia bahkan tidak memedulikannya. Tatapannya tajam, berpindah dari satu layar ke layar lain.“Putar lagi yang tadi,” ucapnya tegas pada petugas.Rekaman diputar ulang.Area tempat Sevi berdiri tadi terlihat jelas.Sevi ikut memperhatikan, berdiri sedikit di belakang Bima. Tangannya saling menggenggam, berusaha menenangkan diri.Di layar, Ia terlihat sedang mengangkat barbel. Lalu tiba-tiba terkejut dan barbel jatuh.Namun…Tidak ada siapa pun di belakangnya. Bima mengernyit.“Zoom bagian sini.”Layar diperbesar.Tetap sama.Kosong.“Yang sudut kanan.”Dipindah.Tidak ada.“Belakang alat.”Diputar lagi.M

  • Bos, Jangan di Sini!   Ditoel

    Gedung gym itu berdiri megah, jauh dari bayangan Sevi sebelumnya. Dari luar saja sudah terlihat luas, dengan kaca besar yang memperlihatkan aktivitas di dalamnya. Orang-orang lalu lalang, sebagian membawa tas olahraga, sebagian lagi sudah mengenakan pakaian gym lengkap dengan earphone di telinga. Sevi berhenti beberapa langkah dari pintu masuk.“Ma…” ucapnya pelan.Mama ikut menatap ke dalam.“Ini… gede banget ya…”Sevi mengangguk. “Aku kira cuma gym biasa.”Belum sempat mereka melangkah masuk, seseorang dari belakang langsung merangkul bahu Sevi.“Dateng juga akhirnya yang ditunggu-tunggu.”Sevi refleks kaget. “Eh!”Ia menoleh cepat. “Bima!”Bima tertawa lepas melihat ekspresi Sevi. Mama yang melihat itu juga ikut tersenyum. “Kaget ya kamu.”“Ya kaget lah, tiba-tiba…” Sevi memukul pelan lengan Bima.Bima malah semakin santai. Ia merangkul keduanya, berjalan masuk bersama.“Gimana? Lumayan kan tempatnya?”“Lumayan apanya… ini gede banget,” jawab Sevi jujur.Bima tersenyum bangga. “P

  • Bos, Jangan di Sini!   Ngegym di Bima

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu kamar sudah dimatikan sejak lama, namun mata Arlan masih terbuka menatap langit-langit. Bayangan kata-kata Sevi terus berputar di kepalanya, seperti kaset rusak yang tidak bisa berhenti.“Kalau nanti kamu mau cari perempuan lain…”Kalimat itu sederhana. Bahkan terdengar seperti candaan ringan. Tapi entah kenapa menancap terlalu dalam.Arlan menghela napas panjang. Tangannya terlipat di bawah kepala. Ia menoleh ke samping, melihat Sevi yang sudah tertidur lebih dulu. Wajahnya tenang. Napasnya teratur.Seolah tidak ada beban apa pun.“Kenapa kamu ngomong gitu…” gumam Arlan pelan, nyaris tanpa suara.Ia memejamkan mata. Namun bukan gelap yang datang. Melainkan bayangan. Bayangan kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum terjadi.Apa itu hanya celetukan?Atau… sesuatu yang selama ini Sevi pendam?Dada Arlan terasa sesak.Ia membuka mata lagi. Menatap ke arah Sevi.“Siapa yang kamu pikirin, Sev…”Tidak ada jawaban.Hanya suara jam dinding

  • Bos, Jangan di Sini!   Malam Panjang

    Perjalanan pulang dari pasar malam terasa berbeda.Tidak ada obrolan berisik, tidak ada tawa berlebihan, hanya keheningan yang hangat dan penuh rasa.Sevi dan Arlan duduk berdampingan di dalam mobil, tangan mereka saling bertaut di atas konsol tengah. Genggamannya erat, seolah dunia di luar sana bi

    last update最終更新日 : 2026-03-27
  • Bos, Jangan di Sini!   Lega dan.. Ekhem

    Klinik terasa lebih sepi daripada biasanya. Udara dinginnya menggigit, namun bagi Sevi, ada sesuatu yang lain yang membuat tubuhnya kaku, ketakutan yang sejak semalam menggerogoti ketenangannya.Arlan berdiri sangat dekat, bahkan terlalu dekat, seolah takut jika Sevi menjauh satu langkah saja, ia a

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • Bos, Jangan di Sini!   Komunikasi itu Dua Arah

    Malam itu, setelah piring-piring kosong ditumpuk rapi di meja, suasana kontrakan berubah lebih hening daripada biasanya. Hening yang bukan dingin, bukan jaga jarak, melainkan hening yang menunggu.Sevi duduk bersandar di sofa, tangannya masih menggenggam gelas hangat berisi teh jahe yang Arlan buat

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • Bos, Jangan di Sini!   Hari Terakhir Pengobatan

    Pagi itu, cahaya matahari merembes lembut melalui celah gorden kamar kontrakan Sevi. Udara sejuk menandai bahwa hari sedang berjalan dengan tenang, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Sevi bangun tanpa rasa cemas di dadanya.Ia membuka gorden perlahan, membiarkan cahaya menerpa

    last update最終更新日 : 2026-03-26
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status