Share

Menagih Janji

Author: Olivia
last update publish date: 2026-02-08 22:58:06

Mobil Arlan berhenti tepat di depan rumah orang tuanya. Mesin dimatikan, pintu dibuka, dan angin sore langsung menyergap masuk ke dalam kabin. Sevi yang duduk di kursi penumpang depan menoleh, memperhatikan kedua orang tua Arlan yang sudah bersiap turun.

“Hati-hati di jalan,” kata mama Arlan sambil tersenyum.

“Iya, Ma,” jawab Arlan.

“Sampai rumah langsung kabarin.”

Ayah Arlan menepuk bahu anaknya. “Kamu juga. Jangan kebut-kebutan.”

Arlan mengangguk. “Siap.”

Setelah kedua orang tuanya masuk ke r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Kayak Nggak Asing

    Pagi itu suasana rumah utama terasa jauh lebih hangat dibanding semalam. Matahari masuk lewat jendela ruang makan, menimpa meja kayu panjang yang penuh dengan sarapan sederhana. Ada bubur ayam, telur dadar, roti panggang, dan teh hangat yang masih mengepul.Mama memang belum benar-benar pulih, wajahnya masih sedikit pucat, namun setidaknya pagi ini beliau sudah bisa duduk sendiri di kursi makan tanpa harus dipapah Papa. Dan itu sudah cukup membuat Arlan kembali hidup.“Ma, nanti kalau badanku udah gede kayak bima, Mama jangan kaget ya kalau aku tiba-tiba jadi atlet.”“Yang ada kamu encok duluan,” sahut Papa santai sambil menyeruput teh.Sevi menahan tawa kecil melihat Arlan yang langsung manyun.“Papa nggak supportif banget sih.”“Mama dukung kok,” ucap Mama sambil tersenyum tipis. “Asal habis olahraga nggak ngeluh badan sakit lagi.”Arlan langsung menunjuk Sevi. “Nih ya Ma, saksi hidup. Semalam aku turun kasur aja bunyi ‘krek’.”“Padahal yang paling heboh ngeluh siapa coba,” balas Se

  • Bos, Jangan di Sini!   Jadi Manja

    Malam itu Arlan terlihat jauh lebih diam dibanding biasanya. Walau tubuhnya rebah di samping Sevi, pikirannya jelas masih tertinggal di rumah utama bersama Mama dan Papa. Sesekali ia membuka ponsel hanya untuk memastikan tidak ada pesan atau panggilan masuk. Sevi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mendekat pelan.“Kepikiran terus ya?” tanyanya lembut.Arlan mengangguk kecil tanpa menoleh. “Hm.”Sevi langsung menggeser tubuhnya lebih dekat lalu memeluk pinggang Arlan. Kepalanya bersandar di dada lelaki itu sambil mengusap pelan lengannya.“Kan udah ada dokter di sana.”“Iya…”“Papa juga jagain.”Arlan menghela napas panjang. “Aku tuh takut tiba-tiba kenapa-kenapa pas nggak ada aku.” Nada suaranya terdengar kecil sekali.Sevi langsung mendongak menatap wajah Arlan. Untuk pertama kalinya Sevi melihat Arlan begitu rapuh. Seperti melihat seorang anak yang takut kehilangan ibunya. Tanpa banyak bicara Sevi mencium pipi Arlan singkat.“Mama kamu kuat.”Arlan memejamkan mata sebentar. “

  • Bos, Jangan di Sini!   Arlan Khawatir

    Rumah utama Arlan pagi itu terasa jauh lebih sepi dibanding biasanya. Tidak ada suara Mama yang sibuk memanggil orang rumah atau suara televisi yang menyala keras di ruang tengah. Yang terdengar hanya suara langkah mereka ketika masuk ke dalam rumah. Papa yang membuka pintu langsung menghela napas lega melihat Arlan dan Sevi datang.“Tumben cepet.”“Ya panik lah pa.” jawab Arlan sambil buru-buru masuk. “Mama mana?”“Di kamar.”Sevi langsung berjalan lebih dulu menuju kamar Mama. Begitu pintu dibuka, terlihat Mama sedang bersandar di kepala kasur dengan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya memang terlihat pucat, rambutnya juga sedikit berantakan.Namun begitu melihat Sevi dan Arlan masuk, Mama langsung tersenyum kecil.“Loh malah kesini kalian.”“Mama sakit malah santai banget ngomongnya.” Sevi langsung duduk di samping kasur sambil memegang tangan Mama, tangannya hangat.“Mama demam dari kapan?” tanya Arlan sambil menyentuh dahi sang mama.“Semalem aja kok. Kayaknya kecapekan.”Papa i

  • Bos, Jangan di Sini!   Mama Sakit

    Obrolan malam itu akhirnya berlanjut lebih santai. Walau Arlan sempat diam karena cemburu kecilnya muncul lagi, Sevi beberapa kali sengaja menyentuh tangan Arlan di bawah meja. Kadang menggenggam jemarinya, kadang sekadar mengusap punggung tangannya pelan seperti memberi tahu kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Dan memang benar, rasa cemburu Arlan perlahan mereda sendiri. Miko yang sedari tadi memperhatikan malah menyeringai jahil.“Gym lagi kapan kalian?”“Lusa kayaknya.” jawab Sevi sambil menyuap mie.“Eh serius?” Mila langsung antusias. “Aku mau ikut yoga nya.”“Nah iya sekalian aja.”Miko langsung menunjuk dirinya sendiri. “Gue ikut juga.”“Kamu olahraga?” Sevi tertawa mengejek.“Kurang ajar.”Mila ikut tertawa kecil sambil mengelus perutnya. “Sekalian lah Mik, biar nggak ngeluh encok terus.”“Padahal belum tua.” gerutu Miko.Arlan yang sedari tadi diam akhirnya ikut menyahut. “Papa mama ku juga mau ikut kayaknya.”“Hah serius?”“Iya. Mama malah ngambek kemarin karena kita

  • Bos, Jangan di Sini!   Dinner Double Date

    Malam semakin larut ketika Arlan dan Sevi akhirnya sampai di kontrakan Sevi. Begitu pintu dibuka, keduanya langsung masuk dengan langkah malas. Tas kerja dilempar asal ke sofa, sepatu dilepas sembarangan, lalu mereka sama-sama menjatuhkan diri ke kasur kecil di kamar Sevi.“Capek…” gumam Sevi sambil memeluk bantal.Arlan bahkan lebih parah. Ia telungkup sambil mengerang pelan karena pahanya masih terasa nyut-nyutan akibat latihan kemarin.“Kayaknya aku besok nggak bisa jalan.”“Lebay.”“Serius yang.”Sevi tertawa kecil. Tangannya mengusap rambut Arlan pelan yang sudah mulai panjang menutupi dahi.Selang beberapa menit kemudian, perut mereka justru mulai protes. Suara perut Sevi bahkan cukup jelas sampai Arlan langsung tertawa.“Katanya capek.”“Laper juga.”“Yaudah pesen online aja?”Sevi menggeleng sambil duduk pelan. “Bosen.”“Terus?”“Lan, katanya ada pasar malam loh. Mau nyari makan di situ nggak?”Arlan langsung menoleh dengan wajah tidak percaya. “Sebelah mana? Jauh nggak?”Sevi

  • Bos, Jangan di Sini!   Survey Gym

    Hari kerja akhirnya selesai juga. Langit di luar gedung kantor sudah berubah jingga gelap dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu. Karyawan lain perlahan pulang meninggalkan lantai kantor yang sejak pagi ramai suara keyboard dan telepon. Sevi meregangkan tubuhnya pelan sambil berdiri dari kursi. Namun baru beberapa detik kemudian ia langsung memegangi pinggangnya sendiri.“Aduh…”Arlan yang melihat langsung tertawa kecil sambil menutup laptopnya.“Tuh kan, kemarin sok nambah set.”“Padahal yang ngajak gym siapa coba.”“Aku ngajak olahraga sehat, bukan ngajak kamu balapan angkat beban.”Sevi mendelik kesal. Ia mengambil pouch kecil miliknya lalu memukul pelan lengan Arlan.“Jahat.”Arlan malah makin tertawa. Ia berdiri lalu berjalan mendekati Sevi. Tangannya otomatis memijat pundak perempuan itu pelan.“Masih sakit?”“Paha sama tangan.”“Besok udah mendingan kok.”“Kalau besok makin sakit gimana?”“Ya aku gendong.”Sevi langsung menahan senyumnya sendiri. “Gombal.”“Serius i

  • Bos, Jangan di Sini!   Keputusan

    Siang itu seharusnya menjadi jeda yang tenang.Sevi duduk berhadapan dengan Arlan di ruangannya, makan siang sederhana yang Arlan bawa dari luar. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh gejolak, Sevi m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Lamaran

    Udara siang itu terasa berbeda. Hangat, namun tidak menyengat. Matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Angin berembus perlahan, menyapu dedaunan di halaman rumah Sevi, membawa aroma tanah basah dan bunga segar yang sejak pagi dirangkai dengan penuh ketelatenan.Mobil y

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Hamil?

    Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status