Beranda / Romansa / Jangan Hisap, Pak Bos! / Rumah belum Tentu Berbentuk Bangunan

Share

Rumah belum Tentu Berbentuk Bangunan

Penulis: Olivia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-05 22:54:18
Hujan sudah berhenti, tapi aroma tanah basah masih tersisa di udara.

Kontrakan kecil itu kini dipenuhi cahaya hangat lampu meja, dan suara lembut air mendidih dari dapur menjadi satu-satunya bunyi yang hidup di dalamnya.

Sevi berdiri di depan kompor, menggenggam sendok kayu sambil mencicipi sup yang baru saja ia buat.

Arlan, dengan kemeja yang masih setengah basah, duduk di kursi ruang tamu sambil menatapnya diam-diam. Ada sesuatu yang menenangkan dari pemandangan itu perempuan yang ia cintai tanpa perlu banyak kata.

“Harusnya kamu ganti baju dulu,” kata Sevi akhirnya, tanpa menoleh. Suara lembutnya memecah keheningan seperti bisikan angin.

“Udah,” jawab Arlan, mengangkat kerah kaus abu-abunya yang ia temukan di rak jemuran Sevi. “Aku pinjam yang ini, nggak apa-apa kan?”

Sevi menoleh sekilas dan tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, asal nanti kamu cuci sendiri.”

Arlan terkekeh, suaranya pelan dan terdengar kekehan kecil yang membarengi suaranya. “Iya, siap nyonya.”

Kata-kat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Perjuangan Miko

    Tahun-tahun benar-benar berlalu tanpa pernah meminta izin. Kini Sevi pergi mengejar mimpinya, kuliah, bekerja, menata hidup yang selama ini hanya ia bayangkan di kamar sempit rumahnya. Kota Jakarta memberinya kesempatan sekaligus kelelahan yang tak pernah ia ceritakan sepenuhnya. Sementara itu, Miko juga berjuang dengan caranya sendiri, ia bertahan di kota lama, mengurus pekerjaan, dan mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa seseorang yang dulu selalu ada kini hanya bisa ia jangkau lewat layar.Awalnya, mereka masih saling berkabar.Miko menatap layar ponselnya malam itu. Room chat itu masih ada, tak pernah ia hapus. Nama Sevi tertera di bagian atas, dengan foto profil sederhana, wajah yang tak banyak berubah, hanya terlihat lebih dewasa.Ia menggulir ke atas, membuka percakapan lama.10.07.2022Anda (09.07) : Kamu gimana di sana? Capek?Sevi (10.04) : Capek banget, tapi aku senang. Jakarta kayak nggak pernah libur, rame terus, Ko15.07.2022Anda (10.06) : Jangan lupa makan.Sevi (11

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Janji

    Miko menarik napas panjang. “Ya… teman, Nek.” “Cuma teman?” ulang nenek. “Iya.” “Kenapa jawabnya mikir dulu coba?” sela kakek sambil tertawa kecil. “Karena pertanyaannya berat,” balas Miko jujur. Nenek menyandarkan punggungnya ke kursi. “Nenek cuma tanya. Kamu sudah umur segini, masa nggak mikir ke sana-sana.” Mama tirinya menimpali lembut, “Kalau memang masih berteman, nggak apa-apa. Semua ada waktunya.” Miko mengangguk. “Aku tahu, Ma.” “Tapi wajah kamu beda kalau dengar namanya,” kata nenek pelan. “Nenek tau ya.” Ruangan kembali hening sesaat. Miko menatap meja makan. “Aku nggak tahu harus jawab apa, Nek.” “Itu juga jawaban,” kata kakek bijak. Nenek tersenyum tipis. “Nenek cuma mau kamu bahagia, Ko. Jangan terlalu lama muter-muter sendiri.” Miko mengangguk pelan. “Iya, Nek.” Makan malam dilanjutkan tanpa topik itu lagi. Namun di kepala Miko, pertanyaan nenek terus berputar. Hubungannya dengan Sevi. Dengan Mila. Dengan dirinya sendiri. Setelah makan, mereka pindah ke r

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Nenek

    Miko mengelus rambut Mila. “Kamu istirahat yang baik. Jangan banyak gerak.” “Iya.” Miko melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Mil…” Mila menoleh. “Makasi ya,” katanya singkat. “Untuk semuanya.” Mila tersenyum kecil. “Sama-sama, Ko.” Pintu tertutup. Mila menatap kosong ke arah pintu itu cukup lama. Sejujurnya, ia masih mengharapkan menjadi tempat pulang Miko. Tidak bisakah semua yang lalu diulang.\\\Setelah berpamitan kepada ibu Mila, Miko melangkah cepat menuju mobil. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu, balasan dari pesannya barusan membuatnya sedikit gugup dan khawatir.Ayah new (18.56) : Kamu di mana? Kakek sama nenek udah nunggu ini.Nama pengirimnya membuat dada Miko menghangat sekaligus tertekan. Ia menghela napas panjang, lalu menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.Langit sore sudah berubah jingga keabu-abuan. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Jalanan kota padat, khas jam pulang kerja. Deretan mobil bergerak merayap, klakson sesekali

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Miko dan Mila

    “Kamu suka Sevi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mila, tanpa aba-aba, tanpa nada bercanda. Sunyi di ruang perawatan rumah sakit seketika terasa lebih tebal dari sebelumnya.Miko yang sejak tadi duduk sambil menatap layar ponselnya langsung terdiam. Bahunya sedikit menegang. Ia tidak menoleh, tidak juga langsung menjawab. Jarinya berhenti bergerak, layar ponsel meredup dengan sendirinya.“Mila…” Miko menghela napas pendek. “Kamu capek. Nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu.”Mila menatapnya lurus. “Aku nanya baik-baik, Ko.”“Aku cuma bilang, kamu lagi capek,” ulang Miko, kali ini sambil tersenyum tipis yang terasa dipaksakan. “Habis jatuh, habis panik, habis ke rumah sakit. Wajar kalau pikiran ke mana-mana.”“Itu bukan jawaban.”Miko akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan di sanalah Mila menangkap sesuatu yang membuat dadanya terasa sedikit sesak. Wajah Miko memperlihatkan… keraguan.“Cuma temen SMA,” lanjut Miko cepat, seolah ingin menutup percakapan itu secepat

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Teman

    Di seberang telepon, Sevi menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Keheningan singkat kembali tercipta, namun kali ini berbeda. Bukan canggung, melainkan penuh antisipasi. “Maaf,” kata Sevi akhirnya. “Kalau hari ini banyak hal yang bikin kamu bingung.” Arlan menutup matanya sejenak. “Sevi… aku nggak marah. Aku cuma...” “Aku tahu,” potong Sevi cepat. “Makanya aku mau jelasin. Biar nggak ada yang salah paham.” Arlan membuka mata, menatap jalan di depannya. “Oke. Aku dengerin.” Di seberang sana, Sevi menghela napas lagi. “Orang yang kamu lihat tadi,” katanya pelan, “itu Miko. Teman SMA aku. Dan… iya, dia juga orang yang sempat ketemu aku waktu reuni.” Arlan menggenggam setir lebih erat, tapi suaranya tetap tenang. “Terus?” “Dia hubungi aku lagi. Cuma mau minta maaf soal masa lalu. Nggak lebih,” lanjut Sevi. “Aku nggak cerita ke kamu karena… aku sendiri masih bingung gimana cara ngomonginnya.” “Kenapa harus video call malam-malam?” tanya Arlan, jujur. Sevi

  • Jangan Hisap, Pak Bos!   Belum Terjawab

    Keheningan yang tercipta di tengah kebingungan itu terasa terlalu berat untuk Sevi. Dadanya sesak, bukan karena takut semata, melainkan karena terlalu banyak pasang mata dan terlalu banyak makna dalam satu momen yang datang bersamaan. Namanya dipanggil barusan masih bergema di kepalanya, seolah tertinggal di udara lobby yang dingin dan penuh gema langkah kaki.“Sevi?”Ia masih berdiri kaku, tangan kirinya menggenggam tali tas terlalu erat. Di hadapannya, pria itu, yang tak lain adalah Miko, masih berdiri dengan senyum canggung, seakan menyadari bahwa situasi ini jauh dari sederhana. Mila, yang sejak tadi berada di samping Miko, menoleh bolak-balik antara Sevi dan pria itu, mencoba memahami dinamika yang tiba-tiba muncul tanpa aba-aba.Dan Arlan.Sevi tahu Arlan ada di sana bahkan sebelum menoleh. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Ketika ia akhirnya melirik ke samping, benar saja, Arlan berdiri tak jauh dari lift, mematung, wajahnya tenang tapi sorot matanya jelas menyimpan ses

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status