Share

Siapa?

Author: Olivia
last update publish date: 2025-12-27 23:55:37

Kontrakan Sevi malam itu terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu dapur menyala terang, uap tipis mengepul dari panci kecil di atas kompor. Aroma kari Jepang memenuhi ruangan terasa hangat, sedikit manis, dengan sentuhan rempah yang menenangkan.

Sevi sudah berganti pakaian tidur, kaus longgar dan celana rumah yang nyaman. Rambutnya dibiarkan tergerai seadanya, beberapa helai jatuh ke depan wajah. Tak lupa apronnya juga sudah rapi terpasang.

Di atas talenan, potongan ayam katsu tersusun rapi, me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Wiwik Syarief
apa lg mau si sevi ini ,arlan uda begitu baik kel uda oke..
goodnovel comment avatar
Chippy Ray
mohon dilanjutkan lagi ceritanya yaaa makin seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Nama yang Lebih Besar

    Pagi itu suasana kantor sedikit lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Masalah penarikan produk susu mulai terkendali.Tim audit juga sudah berhasil mengumpulkan sebagian besar bukti transaksi fiktif yang dilakukan Pak Damar dan beberapa orang kepercayaannya.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Arlan bisa menarik napas sedikit lega.Meski begitu, wajahnya masih terlihat lelah.Pria itu sedang duduk di ruang kerjanya sambil membaca laporan akhir ketika Sevi masuk membawa sarapan.“Nggak boleh kopi dulu.”Arlan langsung mendesah. “Kenapa…”“Lambung kamu udah protes.”“Tapi aku ngantuk.”“Aku nggak peduli.”Sevi meletakkan bubur hangat di depan Arlan lalu menyilangkan tangan di dada.“Abisin.”Arlan menatap Sevi lama. Lalu tiba-tiba tersenyum kecil. “Kamu galak.”“Kamu bandel.”Namun belum sempat Arlan menjawab, suara notifikasi email masuk terdengar dari laptopnya.Ting.Arlan refleks melirik layar. Awalnya ia tidak terlalu peduli. Namun begitu membaca subjek email ters

  • Bos, Jangan di Sini!   Rumah

    Malam itu hujan turun cukup deras di sepanjang kota. Lampu apartemen Arlan masih menyala ketika jarum jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Di meja makan, beberapa dokumen audit masih berserakan bercampur dengan laptop yang sejak tadi tidak berhenti menerima notifikasi email.Namun pemiliknya justru sedang merebahkan kepala di pangkuan Sevi. Pria itu terlihat benar-benar kehabisan tenaga.Kemeja kerjanya sudah diganti kaos hitam longgar, rambutnya sedikit basah karena tadi baru mandi cepat sepulang kantor. Sedangkan Sevi duduk bersandar di sofa sambil perlahan mengusap kepala Arlan dengan jemari lembutnya.“Ngantuk?” tanya Sevi pelan.Arlan menggeleng kecil tanpa membuka mata. “Cuma pengen diem.”Sevi tersenyum tipis. Sudah beberapa hari terakhir Arlan berubah seperti ini.Kalau di kantor pria itu tetap terlihat tegas dan kuat di depan semua orang. Namun begitu pulang dan bertemu Sevi, seluruh pertahanannya runtuh begitu saja.Ia jadi jauh lebih manja. Lebih banyak diam. Dan se

  • Bos, Jangan di Sini!   Senyuman yang Berbeda

    Pagi itu suasana kantor pusat masih dipenuhi aura tegang akibat masalah audit dan penarikan produk susu yang belum sepenuhnya selesai. Beberapa staf bahkan terlihat membawa map ke sana kemari sejak jam delapan pagi, sementara ruang meeting lantai utama nyaris tidak pernah kosong.Namun di tengah suasana penuh tekanan itu, ada satu hal kecil yang terasa berbeda.Sonya tersenyum, bukan senyum formalnya yang biasa ia pasang untuk klien. Bukan juga senyum tipis penuh perhitungan yang dulu sering membuat Sevi tidak nyaman.Melainkan senyum kecil yang muncul begitu saja saat perempuan itu menatap layar ponselnya diam-diam.Dan pemandangan itu tertangkap jelas oleh Sevi.Pagi tadi Sevi memang sengaja datang lebih awal karena ingin membantu Arlan menyiapkan beberapa dokumen audit sebelum meeting dengan Om Wijaya dimulai. Ia baru saja keluar dari pantry membawa dua gelas kopi saat melewati meja sekretaris.Di sanalah ia melihat Sonya.Perempuan itu sedang duduk sendiri sambil menopang dagu. Ma

  • Bos, Jangan di Sini!   Bukan Sekedar Simpati

    Malam itu suasana gym sudah jauh lebih lengang dibanding beberapa jam sebelumnya. Deretan treadmill di sisi kanan ruangan satu per satu mulai dimatikan. Musik yang tadinya menggelegar kini hanya terdengar pelan sebagai backsound samar yang menemani para staf membereskan alat olahraga.Lampu bagian depan bahkan sudah diredupkan sebagian, menyisakan cahaya hangat kekuningan yang memantul di lantai gym yang mengilap.Beberapa pegawai pamit pulang sambil melambaikan tangan ke arah Bima.“Duluan, Mas!”“Iya, hati-hati!”Bima membalas santai, namun setelah itu matanya kembali bergerak ke arah yang sama sedari tadi.Ke arah Sonya.Perempuan itu masih duduk di area rehat gym, jemarinya bergerak cepat di layar handphone nya. Sesekali ia mengusap matanya pelan seperti sedang menahan lelah.Rambutnya malam ini diikat asal menggunakan claw clip hitam kecil. Beberapa helai rambut jatuh berantakan di dekat pipinya.Kemeja kerja yang ia gunakan kembali untuk ganti baju, sudah tampak kusut. Namun ane

  • Bos, Jangan di Sini!   Satu Data Lolos

    Suasana kantor pusat tidak pernah benar-benar tenang sejak telepon dari Om Wijaya malam itu Semua divisi bergerak seperti dikejar waktu.Tim audit bolak-balik masuk ruang server. Divisi keuangan hampir lembur setiap hari. Sedangkan Arlan, pria itu seperti kehilangan waktu istirahatnya sendiri.Bahkan pagi ini saat Sevi masuk ke ruang kerja Arlan membawa kopi hangat, pria itu masih tertidur di sofa ruangannya dengan laptop yang belum tertutup.Terlihat kemejanya kusut, rambutnya berantakan. Dan di bawah matanya mulai muncul lingkar gelap yang jelas terlihat.Sevi menghela napas pelan. Ia berjalan mendekat lalu mematikan layar laptop yang masih menyala penuh data audit.“Kamu tidur jam berapa sih…” gumamnya lirih.Arlan bergerak kecil, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Sevi, wajah tegangnya sedikit melunak.“Sayang…”“Kopi dulu ini.”Sevi membantu Arlan duduk sebelum menyodorkan gelas hangat itu ke tangannya. Arlan menerimanya sambil mengusap wajah kasar.“Aku kayak habis peran

  • Bos, Jangan di Sini!   Orang Dalam

    “Siapa aja?”Suara Arlan terdengar pelan dan mengintimidasi, membuat suasana ruang meeting terasa jauh lebih menegangkan.Pak Reno menunduk dalam. Keringat di dahinya terus mengalir sampai membasahi kerah kemejanya yang mulai kusut.“Saya dipaksa, Pak…”“Itu nggak menjawab pertanyaan saya.”Arlan berjalan mendekat perlahan hingga berdiri tepat di depan meja. Langkah sepatunya menggema pelan di lantai ruangan yang sunyi. Tatapan matanya dingin, tajam, dan penuh tekanan sampai membuat beberapa staf audit ikut menahan napas.Ia mengulang pertanyaan yang sama, lebih lambat dan lebih menekan.“Siapa orangnya?”Pak Reno menggenggam celananya kuat-kuat seperti sedang mencari keberanian untuk bicara. Bibirnya bergetar kecil.Lalu…“Pak Damar…”Deg.Ruangan langsung hening total.Bahkan suara pendingin ruangan terasa begitu jelas di telinga semua orang.Sevi mengernyit pelan. Sedangkan Sonya yang berdiri dekat pintu langsung membelalak tidak percaya.Pak Damar, Nama itu bukan nama asing. Ia ad

  • Bos, Jangan di Sini!   Baikan

    Arlan membawa Sevi keluar dari gedung kantor tanpa berkata apa pun. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar kecil di sisi gedung, langkah mereka pelan, seolah sama-sama sedang menata ulang isi kepala masing-masing. Tidak ada percakapan, tetapi genggaman tangan mereka tidak terlepas sedetik p

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Tanggung Jawab

    Miko berdiri lebih dulu. Ia meraih jaketnya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Tidak ada lagi kecanggungan seperti sebelumnya, hanya sisa lelah dan perasaan yang akhirnya menemukan tempatnya masing-masing.“Aku pulang dulu,” ucapnya pelan.Sevi mengangguk. “Hati-hati di jalan.”Mila berdi

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Hubungan yang Merenggang

    Mila berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, menatap bayangannya sendiri. Mata itu tampak lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak menahan. Sejak beberapa hari terakhir, ia sengaja menjaga jarak dari Sevi. Bukan sekali dua kali Sevi menyapanya di pantry, di lorong, bah

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Bos, Jangan di Sini!   Tak pernah Berubah

    “Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status