Mag-log inMiko masih berdiri di tempat yang sama.Langkahnya tak bergerak, seolah kakinya menolak diajak pergi. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek, seperti ada tangan tak kasatmata yang menekan dari dalam. Pemandangan barusan terus berputar di kepalanya, Sevi, tersenyum, berada dalam pelukan pria lain. Terlihat wajar. Terlihat pantas. Terlihat… bukan miliknya.“Ini… janji yang selama ini aku genggam?” bisiknya lirih.Tangannya mengepal tanpa sadar. Ia mengingat bunga itu. Janji kecil yang dulu terasa begitu besar. Ia mengingat pesan semalam, Aku ingat. Dua kata yang sempat membuatnya percaya, bahwa mungkin masih ada ruang, bahwa mungkin ia belum sepenuhnya terlambat.“Kalau kayak gini,” gumamnya dengan suara parau, “apa maksudmu kirim pesan itu sih, Vi?”Pertanyaan-pertanyaan bermunculan tanpa jeda.Bagaimana bisa Sevi mengingat, tapi tetap melangkah sejauh ini?Bagaimana bisa ia merasa ditarik kembali, sementara Sevi tampak melanjutkan hidup tanpa menoleh?“Atau… selama ini cuma aku?
Tahun-tahun benar-benar berlalu tanpa pernah meminta izin. Kini Sevi pergi mengejar mimpinya, kuliah, bekerja, menata hidup yang selama ini hanya ia bayangkan di kamar sempit rumahnya. Kota Jakarta memberinya kesempatan sekaligus kelelahan yang tak pernah ia ceritakan sepenuhnya. Sementara itu, Miko juga berjuang dengan caranya sendiri, ia bertahan di kota lama, mengurus pekerjaan, dan mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa seseorang yang dulu selalu ada kini hanya bisa ia jangkau lewat layar.Awalnya, mereka masih saling berkabar.Miko menatap layar ponselnya malam itu. Room chat itu masih ada, tak pernah ia hapus. Nama Sevi tertera di bagian atas, dengan foto profil sederhana, wajah yang tak banyak berubah, hanya terlihat lebih dewasa.Ia menggulir ke atas, membuka percakapan lama.10.07.2022Anda (09.07) : Kamu gimana di sana? Capek?Sevi (10.04) : Capek banget, tapi aku senang. Jakarta kayak nggak pernah libur, rame terus, Ko15.07.2022Anda (10.06) : Jangan lupa makan.Sevi (11
Miko menarik napas panjang. “Ya… teman, Nek.” “Cuma teman?” ulang nenek. “Iya.” “Kenapa jawabnya mikir dulu coba?” sela kakek sambil tertawa kecil. “Karena pertanyaannya berat,” balas Miko jujur. Nenek menyandarkan punggungnya ke kursi. “Nenek cuma tanya. Kamu sudah umur segini, masa nggak mikir ke sana-sana.” Mama tirinya menimpali lembut, “Kalau memang masih berteman, nggak apa-apa. Semua ada waktunya.” Miko mengangguk. “Aku tahu, Ma.” “Tapi wajah kamu beda kalau dengar namanya,” kata nenek pelan. “Nenek tau ya.” Ruangan kembali hening sesaat. Miko menatap meja makan. “Aku nggak tahu harus jawab apa, Nek.” “Itu juga jawaban,” kata kakek bijak. Nenek tersenyum tipis. “Nenek cuma mau kamu bahagia, Ko. Jangan terlalu lama muter-muter sendiri.” Miko mengangguk pelan. “Iya, Nek.” Makan malam dilanjutkan tanpa topik itu lagi. Namun di kepala Miko, pertanyaan nenek terus berputar. Hubungannya dengan Sevi. Dengan Mila. Dengan dirinya sendiri. Setelah makan, mereka pindah ke r
Miko mengelus rambut Mila. “Kamu istirahat yang baik. Jangan banyak gerak.” “Iya.” Miko melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. “Mil…” Mila menoleh. “Makasi ya,” katanya singkat. “Untuk semuanya.” Mila tersenyum kecil. “Sama-sama, Ko.” Pintu tertutup. Mila menatap kosong ke arah pintu itu cukup lama. Sejujurnya, ia masih mengharapkan menjadi tempat pulang Miko. Tidak bisakah semua yang lalu diulang.\\\Setelah berpamitan kepada ibu Mila, Miko melangkah cepat menuju mobil. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu, balasan dari pesannya barusan membuatnya sedikit gugup dan khawatir.Ayah new (18.56) : Kamu di mana? Kakek sama nenek udah nunggu ini.Nama pengirimnya membuat dada Miko menghangat sekaligus tertekan. Ia menghela napas panjang, lalu menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.Langit sore sudah berubah jingga keabu-abuan. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Jalanan kota padat, khas jam pulang kerja. Deretan mobil bergerak merayap, klakson sesekali
“Kamu suka Sevi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Mila, tanpa aba-aba, tanpa nada bercanda. Sunyi di ruang perawatan rumah sakit seketika terasa lebih tebal dari sebelumnya.Miko yang sejak tadi duduk sambil menatap layar ponselnya langsung terdiam. Bahunya sedikit menegang. Ia tidak menoleh, tidak juga langsung menjawab. Jarinya berhenti bergerak, layar ponsel meredup dengan sendirinya.“Mila…” Miko menghela napas pendek. “Kamu capek. Nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu.”Mila menatapnya lurus. “Aku nanya baik-baik, Ko.”“Aku cuma bilang, kamu lagi capek,” ulang Miko, kali ini sambil tersenyum tipis yang terasa dipaksakan. “Habis jatuh, habis panik, habis ke rumah sakit. Wajar kalau pikiran ke mana-mana.”“Itu bukan jawaban.”Miko akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan di sanalah Mila menangkap sesuatu yang membuat dadanya terasa sedikit sesak. Wajah Miko memperlihatkan… keraguan.“Cuma temen SMA,” lanjut Miko cepat, seolah ingin menutup percakapan itu secepat
Di seberang telepon, Sevi menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Keheningan singkat kembali tercipta, namun kali ini berbeda. Bukan canggung, melainkan penuh antisipasi. “Maaf,” kata Sevi akhirnya. “Kalau hari ini banyak hal yang bikin kamu bingung.” Arlan menutup matanya sejenak. “Sevi… aku nggak marah. Aku cuma...” “Aku tahu,” potong Sevi cepat. “Makanya aku mau jelasin. Biar nggak ada yang salah paham.” Arlan membuka mata, menatap jalan di depannya. “Oke. Aku dengerin.” Di seberang sana, Sevi menghela napas lagi. “Orang yang kamu lihat tadi,” katanya pelan, “itu Miko. Teman SMA aku. Dan… iya, dia juga orang yang sempat ketemu aku waktu reuni.” Arlan menggenggam setir lebih erat, tapi suaranya tetap tenang. “Terus?” “Dia hubungi aku lagi. Cuma mau minta maaf soal masa lalu. Nggak lebih,” lanjut Sevi. “Aku nggak cerita ke kamu karena… aku sendiri masih bingung gimana cara ngomonginnya.” “Kenapa harus video call malam-malam?” tanya Arlan, jujur. Sevi







