Compartir

Bab 2 — Waktu yang salah 

Autor: Runayanti
last update Última actualización: 2026-02-12 14:20:34

Aku tersentak, mundur dengan kedua mata membulat.

Mengangguk dengan canggung dan membungkukkan tubuh memberi hormat.

"P-permisi..." Tanpa menunggu balasan, aku mundur dari lorong itu, jantungku berdetak terlalu keras untuk rumah setenang ini.

Aku masih bisa mendengar perempuan itu terkekeh di belakangku–ringan, remeh, seolah semua yang barusan terjadi hanyalah hiburan kecil baginya. Dan kini aku tahu, dia salah satu penghuni rumah ini. Salah satu sepupu tiriku.

Kakak sepupu.

Dan dia... sangat menggoda.

Tapi tetap saja, dia sepupuku. Dan aku baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya kulihat. Bayangan itu menempel di kepalaku seperti noda yang tak bisa dihapus. Cara rambutnya jatuh di bahu, senyum tipis yang sulit ditebak, serta suara desahannya yang terasa terlalu dekat di telingaku.

Aku melangkah lebih cepat, nyaris tersandung oleh kakiku sendiri. Masih bisa kudengar ia terkikik pelan, seolah menertawakan gesturku yang canggung dan serba salah.

"Ujung koridor! Itu kamarku!" gumamku, berusaha menguatkan diri, meski lututku terasa dingin dan lemas.

Beberapa saat kemudian, aku menghempaskan diri ke ranjang kecil untuk satu orang. Kasurnya tidak empuk, pegasnya terasa saat punggungku menyentuhnya, tetapi masih layak pakai. Langit-langit kamar itu kosong dan sunyi, kontras dengan isi kepalaku yang justru riuh.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan, menghela napas panjang.

Aku tidak pernah membayangkan kunjungan ke keluarga baruku bisa membuatku merasa sekecil ini, seperti anak asing yang tak tahu harus menaruh pandangan ke mana.

Perlahan, rasa lelah mengalahkan kegelisahanku.

Dan tanpa sadar, aku tertidur sambil membawa bayangan perempuan itu, dengan suara tawa dan desahan manja yang terus terngiang, masuk ke dalam mimpiku.

Entah berapa lama aku terpejam, sampai tiba-tiba sebuah bunyi derit pintu membuatku terkejut.

Ada langkah seseorang masuk.

Dia melangkah mendekati ranjangku. Sepupu yang kulihat tadi.

“Kamu…”

“Ssst… Diam.” Dia duduk di atas tubuhku dengan cepat lalu jari telunjuknya yang lentik menempel di bibirku. 

Gerakannya lembut dan menjalar semakin ke bawah.

Jari lentik itu menekan seolah sedang menggambar sesuatu di atas tubuhku.

“Kamu tampan sekali, Bayu. Sepertinya kamu cukup kuat di atas ranjang,” ucapnya dengan setengah berbisik.

Kedua mataku tidak berkedip, menatap tubuhnya yang hanya berbalut lingerie tipis berwarna burgundy. Celana boxer yang kupakai terasa sempit seketika.

Baru saja aku ingin mengatakan sesuatu, mulutku langsung tertutup oleh bibir hangat milik gadis dengan tubuh berisi itu.

Gerakannya terlalu cepat sehingga aku kehilangan kata-kata selain membiarkan dirinya menguasainya sampai hasratku tak tertahan lagi.

Tanpa mengulur waktu, aku segera membalikkan keadaan. Meraih pinggulnya dan memutar tubuhnya sehingga berada di bawahku.

Bibirku langsung sibuk menjelajahi setiap senti kulit mulusnya yang membuatku mabuk.

“Cukup untuk hari ini, Bayu…,” ucapnya dengan suara manja sambil menahan bibirku dan mendorongku sehingga ada jarak untuknya melepaskan diri.

Dia berdiri lalu membelakangiku dan seolah hendak melangkah pergi sambil menaikkan tali lingerie ke bahunya. 

Aku tidak mungkin membiarkan dia pergi.

Aku segera menarik tubuhnya lalu mulai menjelajahi leher jenjangnya dari belakang.

Saat desahannya mulai terdengar, aku segera menutup mulutnya.

"Jangan bersuara, Sayang. Aku tidak ingin kita ketahuan, Sepupuku."

"B-bayu... pelankan. Ini nikmat sekali. Errrgh..." desahnya manja.

Aku bisa melihat pantulan tubuhnya yang sedang kujelajahi dari kaca jendela kamarku yang tidak kututup tirainya. Cahaya senja merayap masuk perlahan dan membuat gundukan bukitnya yang menyembul tampak begitu menggoda dalam balutan lingerie tipis berwarna burgundy itu.

Tubuh yang begitu sempurna dan dewasa.

Aku segera meraih miliknya yang indah itu dari belakangnya. Sensasinya membuat darahku mendidih dan meronta, ingin segera menenggelamkan gadis cantik yang menjadi sepupuku itu sampai dirinya menjerit untuk berhenti.

"Bay, cukup. Erghh, aku tidak tahan lagi… Ayo kita lakukan."

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 8 — Kembali ke kamar.

    Kami sampai di ruang makan.Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.Julia mengambil kursi di sebelahku.Duduk. Jaraknya terlalu dekat.Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.Satu kalimat singkat..Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.Kami mulai makan.Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.Semua terdengar normal.Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpalin

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 7 — Cantik sekali

    Aku menghela napas pelan.Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.Tanpa banyak pertimbangan—Tok.Tok.Tok.Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.Suara di dalam langsung berhenti.Sunyi.Aku hampir berharap dia tidak membukanya.Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.Pintu terbuka.Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”“Oh.”Jawaban itu singkat.Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempers

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 6 — Renda atau tali?

    Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.“Tidak bertanya padamu?”Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”“Eh?”Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”Aku mengedipkan mata berula

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 5 — Gaun yang hampir sama

    “Uhuk!”Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'. Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 4 — Gadis-gadis Eyang

    Diana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”“Julia, terus Diana,” gumamku.Tanganku masih bergetar saat membuka keran.Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.Sungguh memalukan.Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 3 — Basah jadinya

    Aku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku. Aku mengumpat pelan."Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah."Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!Dan sungguh memalukan.“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari keci

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status