LOGINAku menghela napas pelan.
Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.
Tanpa banyak pertimbangan—
Tok.
Tok.
Tok.
Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.
Suara di dalam langsung berhenti.
Sunyi.
Aku hampir berharap dia tidak membukanya.
Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.
Pintu terbuka.
Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.
Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.
“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”
Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.
“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”
“Oh.”
Jawaban itu singkat.
Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempersilakanku masuk. Kami berdiri di situ, berhadapan, dengan sisa percakapan yang belum benar-benar menghilang dari udara.
“Kamu lagi...” kataku dengan canggung, entah kenapa.
Dia menaikkan telunjuknya, “duluan, dhe... Aku lagi sibuk.”
Aku mengangguk, pura-pura paham.
Padahal satu pertanyaan terus mengganggu: *sibuk dengan video call tak jelas?* Tapi aku sadar, tidak ada otoritasku untuk melarangnya.
Aku berniat pergi.
Namun sebelum aku benar-benar berbalik, Julia bertanya,
“Kamu dengar ya barusan?”
Aku berhenti lalu menoleh.
“Dengar apa?”
“Kamu dengar aku bicara di telepon? Seperti caramu menguping tadi pagi.”
"Eh?" Aku ragu sebentar. Lalu menggeleng.
“Enggak.”
Dia menatapku, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahku.
“Kamu bohong,” katanya ringan seraya menyipitkan kedua mata indah miliknya.
Aku ingin menyangkal, tapi suaraku tertahan.
Julia melangkah satu langkah mendekat.
“Tenang aja,” katanya pelan. “Pria itu cuma teman.”
Teman.
Kata itu terasa tidak sepenuhnya meyakinkan.
“Ayo makan,” lanjutnya sambil membuka pintu lebih lebar. “Nanti Kak Lora ngamuk.”
Dia berjalan lebih dulu melewatiku.
Aku mengikutinya, tapi pikiranku tertinggal di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Aku mencuri lirikan ke dalam kamar, mengecek keberadaan gaun penuh misteri itu.
Kosong. Sprei juga masih rapi.
Tiba-tiba ponsel di tangannya kembali berdering.
Nada itu singkat, tapi cukup membuat langkah Julia melambat. Dia melirik layar sekilas, lalu tanpa menoleh ke arahku, menekan tombol *off*.
Namun bukannya benar-benar mematikannya, dia justru mengirim *voice note* singkat.
“Kita lanjutkan nanti siang, ya,” katanya pelan dengan suara manjanya yang terdengar lembut.
“Aku mau makan dulu. Nanti… aku akan kasih kamu kejutan itu.”
Dan entah kenapa, terlalu intim untuk kudengar. Aku tidak suka mendengarnya.
Dia menyelipkan ponsel ke saku celananya, lalu melanjutkan berjalan di koridor dengan santai di depanku seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal aku ada tepat di belakangnya. Mengekori dalam diam.
Langkah kami pelan, nyaris sejajar.
Julia mengangkat rambutnya dan mengikatnya dengan sebuah karet.
Aku bisa melihat tengkuknya yang berbulu halus, rambutnya yang sedikit berantakan karena tidak memakai sisir, dan garis bahunya yang naik turun setiap kali dia menarik napas sambil melangkah.
"Putih, cantik sekali," gumamku dalam hati.
Tiba-tiba ia berbalik dan menghentikan langkahnya sehingga aku terkejut. Hampir menabraknya.
"Kamu lihat apa?"
"T-tidak ada...," jawabku gugup, seolah sedang ketahuan.
Aku berpura-pura sibuk memperhatikan dinding, lukisan, apa saja selain dirinya.
"Ya, sudah. Cepat jalan," ucapnya sambil melangkah santai.
Tapi pikiranku tidak mau bekerja sama.
“Nanti aku akan kasih kamu kejutan itu.”
Kalimat itu terus terulang. Aku tahu itu bukan urusanku, tapi justru itu yang membuat dadaku terasa aneh.
Kulit jenjang di tengkuk lehernya yang membelakangiku membuat mimpi itu kembali melintas dalam benakku.
Tentang bagaimana aku berhasil menguncangnya sehingga ia meminta ampun.
Kami sampai di ruang makan.Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.Julia mengambil kursi di sebelahku.Duduk. Jaraknya terlalu dekat.Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.Satu kalimat singkat..Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.Kami mulai makan.Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.Semua terdengar normal.Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpalin
Aku menghela napas pelan.Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.Tanpa banyak pertimbangan—Tok.Tok.Tok.Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.Suara di dalam langsung berhenti.Sunyi.Aku hampir berharap dia tidak membukanya.Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.Pintu terbuka.Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”“Oh.”Jawaban itu singkat.Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempers
Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.“Tidak bertanya padamu?”Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”“Eh?”Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”Aku mengedipkan mata berula
“Uhuk!”Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'. Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-
Diana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”“Julia, terus Diana,” gumamku.Tanganku masih bergetar saat membuka keran.Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.Sungguh memalukan.Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.
Aku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku. Aku mengumpat pelan."Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah."Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!Dan sungguh memalukan.“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari keci







