Share

Bab 6 — Renda atau tali?

Penulis: Runayanti
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 14:24:32

Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.

Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.

“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”

“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.

“Tidak bertanya padamu?”

Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.

“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”

“Eh?”

Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.

Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.

Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.

Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.

“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”

Aku mengedipkan mata berulang. Siluet Julia yang memakai gaun itu mulai berkeliaran dalam kepalaku.

Cantik dan menggairahkan saat siluet gadis itu memutar tubuhnya di balik pantulan cahaya dengan lambaian rambut panjang dan kulitnya yang mulus.

Hening.

Detik itu terasa terlalu sunyi. Jantungku berdegup tidak karuan seolah berlomba untuk menyimpan siluet itu dan takut merasa ketahuan.

Dan sebelum aku sempat menjawab—

Julia melangkah mundur.

“Tapi tenang,” katanya sambil tertawa kecil. “Aku tidak akan pakai buat kamu.”

Tawa lepas terdengar setelahnya.

"Dahlah tuh..."

Dia berbalik, berjalan menuju kamarnya sambil mengangkat lingerie itu begitu saja, tanpa memasukkannya kembali ke plastik. Tanpa melipatnya kembali.

Beberapa helai tali berbulu tak simetris itu melambai-lambai di atas lantai yang ia lewati, seolah sedang menantang. Memancingku untuk mengekori langkahnya dan mengintip apa yang akan dia lakukan dengan lingerie itu.

“Terima kasih, Auntie. Aku suka oleh-olehnya,” ucapnya sambil lalu.

“Aku mau coba dulu. Panggil aku, kalau Kak Lora uda siap masak!”

Sebelah tangannya melambai lembut tanpa menghentikan langkahnya menuju koridor.

Blam!

Pintu kamarnya tertutup.

Aku berdiri terpaku, pikiran kembali berisik. Bayangan pagi tadi muncul tanpa diundang. Dan satu pikiran yang membuat dadaku kembali mengeras oleh cemas:

'Dia pasti akan melakukan panggilan video jarak jauh lagi'

'Kali ini… dengan gaun itu.'

'Terus dia akan...'

Otakku membeku seketika.

Tiba-tiba suara Kak Lora terdengar dari dapur.

“Hei, aku sudah siap masak, loh!” 

Diana membersihkan tangannya seraya berkata, “Julia memang manja, aku yang manggil dia aja.”

Suara itu datang seperti tamparan kecil yang menarikku kembali ke dunia nyata. Seolah semua ketegangan barusan hanyalah ilusi di kepalaku sendiri.

Aku refleks mengangkat tangan. “Biar a-aku yang manggil dia.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa kupikir panjang.

Ayah hanya mengangguk, Ibu tiri sibuk membereskan piring. Diana mengangguk kecil lalu kembali ke urusannya di dapur. Tidak ada yang menaruh curiga.

Aku segera memutar tubuh dan melangkah cepat ke arah lorong.

Entah sejak kapan aku ingin sekali menghentikan apa pun yang akan Julia lakukan di dalam kamar.

Atau, aku hanya… ingin tahu.

Atau, aku hanya ingin... mengintip.

Apa yang sedang dia lakukan di dalam sana dengan gaun penuh maksiat itu.

Langkah kakiku melambat tanpa sadar. Lorong terasa sunyi, hanya sedikit suara percakapan dari kejauhan dan detak jantungku yang semakin cepat.

"Ini konyol," pikirku.

"Panggil saja dia, lalu kembali ke meja makan," gerutuku seolah sedang memperingatkan diri.

Tapi tubuhku tidak patuh.

Bayangan wajah Julia tadi muncul lagi. Tatapan matanya. Cara dia bertanya. Cara dia menjilat... lolipopnya. 

Padahal aku sempat melihat Diana dengan segala tubuh sempurna miliknya. Namun, perasaan ini berbeda. Entah apa yang membuatku tidak suka..

Aku berhenti di depan pintu kamarnya.

Tanganku terangkat, lalu ragu.

Haruskah aku mengetuk? Atau lebih baik aku balik sekarang, pura-pura lupa tugas ini?

Aku berdiri terlalu lama.

Lalu dari balik pintu, terdengar suara.

Nada dering ponsel dan suara Julia, jelas.

“Lihat… aku dapat oleh-oleh. Dan tebak isinya.”

Dadaku langsung mengencang.

Aku tahu kepada siapa dia bicara.

Pria itu. Yang pagi tadi.

Aku tidak berniat menguping. Sungguh. Tapi kakiku sudah terlanjur diam di situ, dan telingaku menangkap setiap suku kata.

“Aku baru dapat hari ini,” lanjutnya. “Warnanya… menantang.”

"Kamu mau aku mencobanya?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 8 — Kembali ke kamar.

    Kami sampai di ruang makan.Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.Julia mengambil kursi di sebelahku.Duduk. Jaraknya terlalu dekat.Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.Satu kalimat singkat..Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.Kami mulai makan.Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.Semua terdengar normal.Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpalin

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 7 — Cantik sekali

    Aku menghela napas pelan.Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.Tanpa banyak pertimbangan—Tok.Tok.Tok.Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.Suara di dalam langsung berhenti.Sunyi.Aku hampir berharap dia tidak membukanya.Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.Pintu terbuka.Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”“Oh.”Jawaban itu singkat.Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempers

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 6 — Renda atau tali?

    Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.“Tidak bertanya padamu?”Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”“Eh?”Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”Aku mengedipkan mata berula

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 5 — Gaun yang hampir sama

    “Uhuk!”Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'. Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 4 — Gadis-gadis Eyang

    Diana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”“Julia, terus Diana,” gumamku.Tanganku masih bergetar saat membuka keran.Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.Sungguh memalukan.Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 3 — Basah jadinya

    Aku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku. Aku mengumpat pelan."Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah."Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!Dan sungguh memalukan.“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari keci

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status