MasukAku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.
Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku.
Aku mengumpat pelan.
"Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah.
"Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"
Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!
Dan sungguh memalukan.
“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.
Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.
Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari kecil sambil menunduk.
Jantungku berdentum lebih keras karena rasa malu daripada takut ketahuan.
“Tenang, Bayu. Cuma cuci, habis itu beres,” gumamku sendiri.
“Tidak ada yang akan curiga dan menebak isi mimpi!”
Tanganku mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.
Dan dunia langsung terasa jungkir balik.
Di dalam, seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai sedang membelakangiku, sibuk menarik celana dalamnya ke pinggang. Gerakannya santai, sama sekali tidak menyangka ada orang lain yang masuk.
Aku refleks berteriak.
“Ah—!”
Belum sempat suara itu keluar sempurna, sebuah tangan menutup mulutku dengan cepat.
“Shhh!” bisiknya tajam.
Aku membeku. Tangan perempuan itu terasa dingin di bibirku.
Posisinya aneh—terbalik dari yang seharusnya. Dia terlihat tenang, sementara aku panik setengah mati, mataku membulat, tubuhku kaku seperti patung bodoh yang salah kamar.
“Diam,” katanya lagi, lebih pelan tapi tegas. “Kayak nggak pernah lihat perempuan aja.”
Aku mengangguk cepat di balik telapak tangannya. Yang lebih salah lagi adalah sebuah fakta bahwa satu-satunya kain yang melekat di tubuh perempuan itu hanya celana dalam berbentuk segitiga berwarna gading dengan renda tipis berwarna hitam di sela pahanya.
Aku bisa merasakan gundukan dingin bercampur hangat yang menempel di dada bidang milikku tanpa sengaja. Jantungku hampir melompat keluar dari tempatnya.
Aku menutup kedua mata dan sama sekali tidak berani melihat lebih jelas.
Dia melepas tangannya, lalu menepuk bahuku ringan. “Putar badanmu. Aku sudah mau selesai.”
Aku berbalik secepat mungkin, menatap dinding yang entah kenapa terlihat seperti berputar saat itu. Wajahku panas, telingaku berdenging. Jantungku berdetak tidak karuan.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang canggung. Aku bisa mendengar suara kain, gesekan kecil, lalu helaan napas santai.
“Oke,” katanya akhirnya. “Sudah.”
Aku menoleh ragu.
Dia sudah berdiri lebih santai, rambutnya masih terurai, tetesan air masih membasahi sebagian tengkuk lehernya, ekspresinya malah terlihat… geli.
“Kamu siapa?” tanyanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“B-bayu,” jawabku cepat. “Aku—aku nggak tahu kalau ada...”
Matanya menyipit sebentar, lalu sorotnya berubah paham. “Ohhh,” katanya pelan. “Jadi kamu putra dari pria yang menikahi tanteku.”
Aku mengangguk.
“Pantas,” lanjutnya sambil mengamatiku tanpa sungkan. “Cukup tampan. Dan kelihatan masih muda.”
Aku hampir tersedak ludah sendiri.
“E—eh…”
“Aku Diana,” katanya santai. “Aku memang biasa pakai kamar mandi belakang. Lebih sepi. Dan aku suka mandi air dingin.”
Baru saat itu matanya turun ke tanganku.
Ke celana dalam yang masih kugenggam erat, seolah itu barang bukti kejahatan. Keringatku mulai menetes dari dada ke perut.
Sudut bibirnya terangkat.
“Oh,” katanya pendek, tapi penuh arti.
Aku ingin lenyap.
Wajahku pasti sudah merah padam sekarang. Aku refleks menyembunyikannya sedikit ke belakang tubuh, tapi itu justru membuatnya semakin jelas.
Dia terkekeh kecil. Bukan mengejek—lebih seperti memahami.
“Sudah sana,” katanya sambil melangkah ke samping, memberi jalan. “Cuci.”
"Aku masuk."
“Iya.” Dia meraih handuk, membalutkannya ke rambut dengan gerakan luwes. “Tenang saja. Aku nggak akan cerita ke siapa pun.”
Itu seharusnya melegakan.
Tapi entah kenapa, nada suaranya justru membuat dadaku semakin sesak.
Kami sampai di ruang makan.Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.Julia mengambil kursi di sebelahku.Duduk. Jaraknya terlalu dekat.Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.Satu kalimat singkat..Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.Kami mulai makan.Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.Semua terdengar normal.Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpalin
Aku menghela napas pelan.Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.Tanpa banyak pertimbangan—Tok.Tok.Tok.Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.Suara di dalam langsung berhenti.Sunyi.Aku hampir berharap dia tidak membukanya.Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.Pintu terbuka.Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”“Oh.”Jawaban itu singkat.Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempers
Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.“Tidak bertanya padamu?”Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”“Eh?”Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”Aku mengedipkan mata berula
“Uhuk!”Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'. Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-
Diana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”“Julia, terus Diana,” gumamku.Tanganku masih bergetar saat membuka keran.Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.Sungguh memalukan.Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.
Aku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku. Aku mengumpat pelan."Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah."Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!Dan sungguh memalukan.“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari keci







