LOGINDiana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.
“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”
Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.
Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.
“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”
“Julia, terus Diana,” gumamku.
Tanganku masih bergetar saat membuka keran.
Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.
Sungguh memalukan.
Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.
Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.
Siluet Diana kembali melintas dalam pikiranku. Aku meraba dadaku yang belum sempat memakai atasan dan berusaha menebak ukuran gundukan dingin bercampur hangat yang sempat menempel sekejap tadi.
“Sial, aku lapar dan kepalaku penuh ilusi!” geramku sambil memakai kaos oblong putih dengan cepat lalu segera keluar dari kamar.
***
Siang itu, rumah Eyang Sumi dipenuhi suara. Tawa, obrolan ringan, langkah kaki yang berlalu-lalang. Rumah besar ini seolah menelan semua kegelisahanku dan menyisakannya di sudut-sudut yang tidak terlihat.
Ayah duduk bersama Eyang di ruang tengah, sementara ibu tiriku terlihat sibuk membantu di dapur, wajahnya berseri seolah ini rumahnya sendiri.
Aku duduk dengan kaku di sofa, mencoba mengatur napas, dengan wajah yang masih kusut karena baru bangun.
“Eh, Nak Bayu,” sambut ibu tiriku sambil tersenyum.
“Aku mau kenalkan kamu dengan Sepupu-Sepupumu.”
"Gadis-Gadis Eyang, kemarilah!" panggil ibu tiriku sambil melambai.
Tiga perempuan yang hampir sama tingginya merapat.
Yang pertama melangkah maju tampak tenang dan berwibawa. Posturnya tegak, sorot matanya tajam namun terkendali. Dia menjabat tanganku singkat, seolah sudah menilainya dalam sekali pandang. Rambutnya ikal dan penampilannya modern dengan rok span yang menonjolkan bentuk bokong nan sempurna.
"Lora," ucapnya dengan ketus.
“B-Bayu, senang bertemu denganmu Kak Lora.”
Perempuan itu berdehem sekilas lalu memalingkan wajahnya. Melangkah kembali ke dapur.
"Dia kakak pertama," lanjut Ibu tiriku dengan senyuman cerah di wajahnya, "lalu ini Diana."
Yang kedua tersenyum hangat. Terlalu hangat. Caranya menatapku seperti kami sudah lama saling mengenal, membuatku sedikit gugup tanpa alasan yang jelas. Aku berusaha pura-pura tidak mengenalnya.
Senyum perempuan itu terlihat manis dan sopan. Terlihat lebih ramah dari pada yang tadi.
"Diana," sambutnya dengan uluran tangan dan senyum cerah, “Selamat Datang, semoga betah ya…”
"Bayu," balasku sambil mengulurkan tangan. Tangan yang hangat dan senyuman manisnya membuat hatiku terasa nyaman. Tidak kacau seperti pertemuan awal tadi.
"Dan yang paling muda, ini... Julia."
Dadaku mengencang.
Dia.
Perempuan dari balik pintu itu berdiri di sana, wajahnya masih menyisakan kesan kesal. Rambutnya kini rapi diikat ekor kuda dan menyisakan sedikit poni depan, membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.
Gadis dalam mimpi yang membuat celanaku basah kuyub.
Sikapnya kembali terkendali, seolah pertemuan pagi tadi pagi tidak pernah ada.
Dia memakai kaos casual dengan cetakan angka 88 dan celana pendek santai. Sebuah lolilop terlihat di dalam mulutnya yang tipis dan topi baseball menutupi sebagian wajahnya yang harus kuakui sangat manis.
Namun saat matanya bertemu denganku, ada kilat singkat yang tidak bisa kusalahartikan.
Dia tentu saja mengenaliku.
Aku mengulurkan tangan dengan canggung. Jadi gadis dalam mimpiku itu, namanya Julia.
“Jadi namamu Bayu, hmm... ,” katanya singkat sambil mengeluarkan kepala lolipop dan menjilatnya dengan gerakan lembut menggoda.
Nada suaranya netral. Terlalu netral.
Aku menelan salivaku untuk sekali lagi. Bibir tipis itu memancingku untuk ikut mengigit lolipop itu. Waktu sesingkat itu cukup untuk membuat ingatanku melayang kembali ke lorong tadi pagi dan suara desahan yang tidak seharusnya kudengar.
“Semoga betah,” katanya, lalu menarik keluar masuk lolipop di mulutnya lebih cepat dari yang diperlukan. Sama sekali tidak ada niat untuk mengulurkan tangan menyalami.
"Betapa sopannya," rutukku dalam hati. Menarik kembali tangan kosongku.
Aku tersenyum kaku.
Di antara tiga sepupu itu, hanya Julia yang menatapku dengan kesal seolah aku telah melanggar sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Sementara yang lainnya kembali membantu di dapur, Julia duduk di samping ibu tiri.
Aku melangkah dengan canggung ke arah dispenser untuk mengisi minuman, tapi aku bisa merasakan ekor matanya seperti sedang mengikuti bayanganku.
Tatapan yang liar, tapi cukup untuk membuatku sadar aku sedang menjadi pusat pikirannya… atau justru sebaliknya.
“Oh ya, Julia sayang, hampir lupa,” suara ibu tiri terdengar ceria. “Auntie bawa oleh-oleh buatmu.”
"Nih."
Bungkusan plastik itu berpindah tangan.
"Lora dan Diana sudah lebih dulu dapat oleh-oleh mereka, mereka suka. Buka dong."
Julia membuka miliknya.
Dunia terasa berhenti sepersekian detik saat sesuatu itu keluar dari bungkusan plastik tersebut.
Lingerie.
Kami sampai di ruang makan.Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.Julia mengambil kursi di sebelahku.Duduk. Jaraknya terlalu dekat.Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.Satu kalimat singkat..Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.Kami mulai makan.Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.Semua terdengar normal.Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpalin
Aku menghela napas pelan.Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.Tanpa banyak pertimbangan—Tok.Tok.Tok.Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.Suara di dalam langsung berhenti.Sunyi.Aku hampir berharap dia tidak membukanya.Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.Pintu terbuka.Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”“Oh.”Jawaban itu singkat.Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempers
Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.“Tidak bertanya padamu?”Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”“Eh?”Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”Aku mengedipkan mata berula
“Uhuk!”Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'. Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-
Diana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”“Julia, terus Diana,” gumamku.Tanganku masih bergetar saat membuka keran.Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.Sungguh memalukan.Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.
Aku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku. Aku mengumpat pelan."Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah."Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!Dan sungguh memalukan.“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari keci







