Masuk“Uhuk!”
Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.
Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.
Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.
Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.
Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.
Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'.
Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-terangan.
Pantulan dalam mimpi itu terlalu jelas dalam ingatanku. Untaian tali yang tidak beraturan itu semakin memperjelas semuanya.
Tenggorokanku terasa mengeras.
“Bagus, kan?” ibu tiri tersenyum puas.
Senyum yang sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi di kepalaku.
“Kata penjualnya ini nyaman, loh!” lanjutnya ringan.
Nyaman.
Kata itu menghantam lebih keras dari seharusnya. Aku menelan ludah, berusaha memusatkan pandangan ke mana saja asal tidak ke kain itu.
Warna burgundy-nya bergerak pelan karena hembusan kipas besar di atas plafon tinggi ruang tamu. Setiap goyangan kecil membuat renda-renda itu seolah hidup, bayangannya menari tipis di udara.
Tali-tali kecil berbulu lembut yang fungsinya tidak jelas itu, justru membuat semuanya terasa semakin… tidak pantas untuk dilihat lama-lama.
Julia tertawa kecil.
Bukan tawa lepas, malah terdengar tawa tanpa malu. Lebih seperti tawa seseorang yang sadar sedang diperhatikan dan tidak sepenuhnya keberatan.
Jari-jarinya yang berkuku panjang dan dicat warna lembut, meremas kain itu sedikit lebih lama sebelum akhirnya menggulung ujung salah satu talinya dengan jari telunjuk secara asal.
Lalu dia menoleh ke arahku.
Bukan lirikan cepat seperti sebelumnya. Tatapan itu penuh, langsung, dan tenang. Tepat ke mataku.
Tidak meminta. Tidak menantang.
Tapi jelas—memancing.
Aku buru-buru memalingkan wajah, tapi sudah terlambat. Imajinasi keburu berkhianat. Dadaku terasa sempit, pikiranku mulai berlari ke arah yang tidak seharusnya. Dan aku membenci diriku sendiri karena menyadari satu hal yang tak bisa kutarik kembali: aku tidak lagi sepenuhnya netral.
Kaos oblong yang kupakai terasa lengket oleh keringat dingin. Tubuhku tidak bekerja sama apalagi jantungku sudah terdengar seperti derap kaki kuda berlari.
Aku meneguk sisa minumanku cepat-cepat, berharap sensasi dingin bisa menenangkan kepalaku.
“Uhuk! Uhuk!”
Tawa pecah. Ayah, ibu tiri, bahkan Julia ikut tertawa seolah semua ini hanya hiburan kecil siang hari.
Julia mengeluarkan lolipop dari bibir tipisnya, lalu meletakkannya di atas tisu di meja tamu. Gerakannya santai.
“Warnanya menantang,” katanya pelan sambil mengelus kain itu sekali lagi. Nadanya terdengar seperti berbicara pada diri sendiri.
“Aku suka burgundy. Misterius. Kayak… penuh sensasi.”
Burgundy, warna yang sama dalam mimpiku. Mengapa ada kebetulan yang sialan seperti ini?
Aku berpura-pura tidak mendengar. Namun pandanganku terperangkap bukan pada warna apalagi bentuk kainnya, melainkan pada cara jari-jari lentik itu menyentuhnya.
Gerakan itu memanggil ingatan lain, yang seharusnya tidak muncul di waktu seperti ini.
Saat dia melingkarkan jari lentiknya di dada bidangku tadi pagi.
Pola lingkarannya tidak jelas. Dan justru karena itu pikiranku mengisinya dengan hal-hal yang tidak seharusnya ada.
Julia berdiri. Melangkah setengah langkah mendekat.
“Menurutmu… berlebihan?” tanyanya, akhirnya menatapku lurus.
Kami sampai di ruang makan.Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.Julia mengambil kursi di sebelahku.Duduk. Jaraknya terlalu dekat.Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.Satu kalimat singkat..Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.Kami mulai makan.Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.Semua terdengar normal.Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpalin
Aku menghela napas pelan.Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.Tanpa banyak pertimbangan—Tok.Tok.Tok.Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.Suara di dalam langsung berhenti.Sunyi.Aku hampir berharap dia tidak membukanya.Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.Pintu terbuka.Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”“Oh.”Jawaban itu singkat.Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempers
Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.“Tidak bertanya padamu?”Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”“Eh?”Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”Aku mengedipkan mata berula
“Uhuk!”Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'. Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-
Diana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”“Julia, terus Diana,” gumamku.Tanganku masih bergetar saat membuka keran.Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.Sungguh memalukan.Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.
Aku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku. Aku mengumpat pelan."Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah."Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!Dan sungguh memalukan.“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari keci







