Share

Bab 8 — Kembali ke kamar.

Penulis: Runayanti
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 14:29:02

Kami sampai di ruang makan.

Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.

Julia mengambil kursi di sebelahku.

Duduk. Jaraknya terlalu dekat.

Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.

“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.

“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.

Satu kalimat singkat..

Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.

Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.

Kami mulai makan.

Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.

Semua terdengar normal.

Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpaling.

Ponselnya bergetar sesekali.

Dia meliriknya. Tidak mengangkat.

Hanya membalik layar ponsel menghadap meja. Sesekali mengetikkan sesuatu dengan cepat.

Aku pura-pura tidak melihat, tapi sudut mataku menangkap gerakan itu dengan jelas. Dan entah mengapa aku merasa tidak suka.

Kami duduk canggung, bahu hampir bersentuhan, tapi tidak pernah benar-benar menyentuh.

Ada banyak hal di antara kami yang tidak diucapkan. Namun, kami lebih mendahulukan cerita tentang Ayah dan Ibu tiriku.

Tidak ada yang menarik. Makanannya juga tidak terasa enak di lidahku.

Aku hanya menatap piring, mengunyah tanpa benar-benar merasakan apa pun.

Sementara di kepalaku, satu kesadaran pelan-pelan tumbuh:

Masalahku bukan lagi pada gaun tidur berwarna burgundy itu. Bukan pada lingerie.

Masalahnya adalah…

Aku mulai terlalu peduli pada apa yang dilakukan Julia saat aku tidak ada. Video call itu.

Dan itu bukan pertanda baik. Seharusnya aku tidak perlu ikut campur.

Aku menggeleng kepalaku dengan cepat dan ibu tiriku menyadarinya.

Ibu tiriku melirik ke arahku, lalu tersenyum kecil seolah baru sadar sejak tadi aku terlalu diam.

“Kamu kenapa dari tadi?” tanyanya ringan. “Makan kok kayak lagi dihukum.” Ibu tiriku mengambil sebuah ayam goreng lalu menaruhnya di piringku.

“Tapi kalau kulihat, kamu memang tampan sekali, Bayu. Mirip Ayahmu,” ucap ibu tiriku sambil melirik kecil ke arah ayah.

Semua mata langsung mengarah padaku.

Aku sedikit terkejut, lalu buru-buru tersenyum tipis.

Julia melirik sekilas ke arahku, cepat sekali, lalu kembali menggigit Fried Chicken drumstick di tangannya. Demikian juga kakak sepupuku yang lain.

“Tapi kamu memang kelihatan capek,” lanjut ibu tiriku, “perjalanannya melelahkan, ya?”

Perjalanan dari kotaku ke kota tempat Eyang Sumi tinggal membutuhkan enam jam dengan mobil angkutan umum yang penuh dengan sesak serta bau keringat penumpangnya. Bagaimana mungkin tidak melelahkan? Namun aku enggan menjelaskan terlalu detail agar tidak terkesan lebay.

Aku mengangguk. “Iya, lumayan."

“Ceritakan sedikit tentang dirimu,” kata ibu tiri sambil meletakkan sendoknya. “Sekarang kamu sibuk apa? Sudah punya pacar belum?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba. Aku refleks melirik ke arah Julia. Tanpa sadar.

Dan yang kulihat justru membuat dadaku sedikit mengencang—dia sama sekali tidak bereaksi. Tetap menunduk, melahap makanannya dengan tenang, seolah pertanyaan itu tidak menarik perhatiannya sama sekali.

“Belum,” jawabku akhirnya. “Tapi… ada yang kutaksir di kampus.”

“Oh?” ibu tiri tampak tertarik. “Jadi kamu kuliah sekarang?”

Aku mengangguk.

“Iya. Semester tiga, Tante.”

Ayah ikut menoleh. “Masih muda 'kan putraku, ya. Masih banyak waktu. Jangan menariknya ke dalam bisnismu, Sayang. Nanti dia terkejut.”

Bisnis?

Aku menaikkan alisku karena tidak mengerti apa yang mereka katakan. Ayah sama sekali tidak pernah menceritakan tentang perempuan yang tiba-tiba menikah dengannya dan menjadi ibu tiriku. Juga rumah Eyang Sumi yang penuh dengan perempuan muda nan cantik ini. 

Namun, bila kuperhatikan lebih teliti, pakaian yang dikenakan ibu tiriku bisa menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang wanita karir yang sukses, demikian juga pakaian yang dikenakan Lora, kakak sepupuku yang pertama. Sementara dua kakak sepupuku yang lain berpakaian lebih santai.

Ibu tiri tersenyum lebar.

“Pasti gadis beruntung itu cantik sekali.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan lagi-lagi, aku melirik Julia.

Entah kenapa, refleks itu terus terjadi tanpa bisa kutahan. Padahal tidak ada sangkut pautnya kehidupannya dengan kehidupanku, kami sama sekali belum pernah kenal selain kejadian tadi pagi yang cukup membuat canggung.

Dia masih tenang. Mengunyah pelan. Seolah pembicaraan ini tidak menyentuhnya sedikit pun.

“Ya… cantik,” jawabku. Bayangan Juliayang tubuhnya kucumbu di pantulan kaca dalam mimpiku tadi,  kembali menguasai pikiranku. Lalu tanpa sadar, satu kalimat meluncur terlalu cepat.

“Tapi, Julia lebih seksi saat mengerang tadi.”

Semua sendok berhenti bergerak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 8 — Kembali ke kamar.

    Kami sampai di ruang makan.Meja sudah tertata rapi. Kak Lora sibuk menyajikan lauk di atas meja, ibu tiri menuang minuman, ayah duduk sambil membaca berita di ponselnya.Julia mengambil kursi di sebelahku.Duduk. Jaraknya terlalu dekat.Ada jarak kecil di antara lengan kami, jarak yang seharusnya biasa saja, tapi terasa sangat disadari oleh tubuhku.“Kenapa lama banget?” tanya Kak Lora sambil melirik ke arah kami.“Lagi nelpon,” jawab Julia santai.Satu kalimat singkat..Cukup untuk membuatku kembali teringat pada suara manja itu dan desahan di pagi hari.Aku segera meneguk habis minumanku agar gerakan canggung yang kutimbulkan tidak mengundang gelak tawa bagi mereka.Kami mulai makan.Sendok beradu dengan piring, suara percakapan kecil, komentar tentang rasa masakan.Semua terdengar normal.Aku makan pelan, lebih banyak diam. Julia juga tidak banyak bicara. Sesekali dia tersenyum kecil mendengar candaan ayah, tapi matanya sering turun ke meja, ke ponselnya, lalu cepat-cepat berpalin

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 7 — Cantik sekali

    Aku menghela napas pelan.Di kepalaku, siluet Julia dengan gaun burgundy itu kembali muncul. Bayangan yang sejak tadi berusaha kutepis. Halusinasi tentang bagaimana dia akan mengoyang pinggulnya di depan layar ponsel membuat wajahku mulai hangat.Tanpa banyak pertimbangan—Tok.Tok.Tok.Aku sengaja mengetuk pintu. Keras. Lebih tepatnya mengedor pintu.Suara di dalam langsung berhenti.Sunyi.Aku hampir berharap dia tidak membukanya.Tapi beberapa detik kemudian, kunci diputar.Pintu terbuka.Julia berdiri di hadapanku dengan mata membulat sempurna.Rambutnya sudah tergerai dan sedikit berantakan, pipinya masih memerah, dan ponsel itu masih ada di tangannya. Layar menyala sebentar sebelum cepat-cepat dia matikan.“Kenapa ngetuk keras-keras sih?” katanya kesal. “Kaget, tahu.”Aku terdiam sejenak, mencari nada yang terdengar biasa.“Ehem, dari dapur,” kataku akhirnya. “Kak Lora bilang makan sudah siap.”“Oh.”Jawaban itu singkat.Dia tidak langsung menutup pintu, tapi juga tidak mempers

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 6 — Renda atau tali?

    Pertanyaan sederhana. Tapi jeda setelahnya terasa panjang, menggantung, berbahaya.Aku menelan ludah. Semua tubuhku terasa sesak.“Kak Julia,” suaraku keluar lebih berat dari yang kuinginkan. “Kamu seharusnya—”“Aku seharusnya apa?” potongnya cepat. Nada manja itu muncul, senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Tapi matanya terlalu terang. Terlalu sadar.“Tidak bertanya padamu?”Dia memiringkan kain itu sedikit. Tersenyum penuh misteri.“Kamu lebih suka warnanya… rendanya… atau talinya?”“Eh?”Jarak kami sekarang terlalu dekat untuk aman. Aku bisa mencium aromanya, sabun mahal yang lembut, kulit yang bersih, dengan sisa wangi sampo pada rambutnya yang mengganggu fokusku.Sekali lagi aku menelan salivaku. Merasa canggung dan merasa situasi ini semakin mengangguku.Aku ingin mundur, tapi kakiku seperti menolak perintah.Julia memiringkan kepala, menatapku seolah sedang menimbang sesuatu.“Kalau aku pakai,” katanya pelan, hampir berbisik, “kamu rasa cocok, enggak?”Aku mengedipkan mata berula

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 5 — Gaun yang hampir sama

    “Uhuk!”Aku benar-benar hampir memuntahkan minumanku. Terlintas mimpiku yang kurang ajar tadi.Cairan dingin sialan itu salah jalan, membuat dadaku sesak sesaat. Namun di sana, Julia sama sekali tidak tampak terkejut.Dengan wajah yang nyaris datar, wajah yang terlalu tenang untuk situasi seaneh ini. Dia justru membentangkan lingerie itu lebih jelas.Kain itu terbuka penuh di antara kami. Yang membuatku terkejut adalah, hampir sama persis warnanya dengan gaun yang ia pakai dalam mimpiku.Renda tipisnya menangkap cahaya lampu ruang tamu, memantulkannya samar ke dinding, ke meja kaca, ke wajah-wajah yang menganggap pemandangan itu biasa saja. Seolah tidak ada yang ganjil. Seolah ini hanya selembar pakaian tidur, bukan sesuatu yang membuat napasku tercekat dan pikiranku berisik.Bukan gaun tidur murahan. Justru sebaliknya, terlalu 'berbahaya'. Kain tipis itu jatuh lembut mengikuti teori gravitasi, dengan detail renda yang seperti dibuat untuk dibayangkan, bukan untuk ditunjukkan terang-

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 4 — Gadis-gadis Eyang

    Diana berjalan keluar lebih dulu, mengenakan celana panjang kasual dan kaos tipis, seolah kejadian barusan hanyalah gangguan kecil dalam harinya. Saat melewatiku, dia sempat berhenti sebentar.“Selamat datang di rumah ini, Bayu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Sepertinya… kamu bakal sering kaget dan kita harus membagi jatah waktu untuk memakai kamar mandi belakang.”Lalu dia pergi begitu saja, langkahnya ringan menyusuri koridor.Aku berdiri beberapa detik sendirian di kamar mandi, menatap pintu yang sudah tertutup.“Wah, cantik juga, dan seksi. Tapi sayang, mereka adalah sepupuku.”“Julia, terus Diana,” gumamku.Tanganku masih bergetar saat membuka keran.Air mengalir deras, menenggelamkan semua suara di kepalaku. Aku menghela napas panjang.Sungguh memalukan.Aku meraba dada bidangku yang berbulu tipis. Debaran itu masih terasa kencang.Aku mencuci dengan cepat dan kembali ke kamar agar bisa menjemur celanaku di kamar saja. Terlalu memalukan bila ada yang mengetahui hal ini lagi.

  • Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!   Bab 3 — Basah jadinya

    Aku terbangun saat mendengar alarm sial di nakas berbunyi. Aku terduduk dengan keringat basah dan kasur yang setengah basah.Aku baru sadar ada yang salah dengan tubuhku saat panas siang itu terasa makin menyiksa. Kaos yang kupakai sudah menempel di punggung, napasku berat, dan ada sensasi lengket yang sama sekali tidak ingin kuakui dari celanaku. Aku mengumpat pelan."Sial!" geramku saat melihat celanaku sudah basah."Hanya mimpi! Berantakan jadinya!"Aku mimpi Kakak sepupu yang baru kutemui tadi. Ini tidak benar!Dan sungguh memalukan.“Astaga. Ini benar-benar waktu yang salah untuk mimpi semacam itu,” umpatku dengan kesal.Aku bangkit dengan tergesa, memastikan koridor sepi, lalu melirik ke seberang kamarku. Sebuah pintu setengah terbuka di ujung lorong—kamar mandi. Sepertinya.Aku segera meraih celana baru dari dalam tas yang belum kususun dan menggantinya, tidak sempat memakai atasan. Tanpa banyak pikir, aku menyambar celana dalamku yang kotor, melipatnya asal, lalu berlari keci

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status