로그인Aldi berdiri di depan cermin apartemen dinasnya sambil merapikan kerah kemeja.Tatapannya tampak lelah.Sudah hampir seminggu hidupnya berputar di sekitar satu hal.Melin.Wanita itu akhirnya diperbolehkan pulang setelah empat hari menjalani perawatan intensif di rumah sakit jiwa. Dokter mengatakan kondisi Melin mulai stabil, meski trauma yang dialaminya masih sangat dalam.Sekarang Melin berada di rumah.Seorang perawat khusus ditugaskan mengawasinya.Melin tidak lagi berteriak atau berusaha kabur tanpa arah seperti hari-hari awal.Ia hanya diam.Duduk berjam-jam memandang jendela.Kadang menatap kosong ke halaman.Kadang menangis tanpa suara.Kadang tertidur sambil memeluk lutut.Keadaan itu menyedihkan.Namun bagi Aldi, itu jauh lebih baik dibanding melihat Melin mengamuk ketakutan setiap malam.Ia menghela napas panjang.Lalu mengambil kunci mobil.Hari ini kantornya mengadakan acara anniversary perusahaan.
Lampu mobil menyorot sosok wanita di pinggir jalan itu. Wanita tersebut berdiri limbung dengan pakaian kotor dan rambut kusut menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya dipenuhi goresan kecil. Kedua tangannya gemetar hebat seolah sedang kedinginan. Aldi mengernyit. Ada sesuatu yang terasa familiar. Perlahan ia membuka pintu mobil lalu turun. "Mbak...?" Wanita itu langsung mundur ketakutan. "Jangan dekat-dekat!" Suaranya serak dan penuh kepanikan. Aldi membeku. Jantungnya mendadak berdegup keras. Suara itu... "Melin?" Wanita itu tidak menjawab. Matanya kosong. Seolah tidak mengenali siapa pun. Aldi melangkah lebih dekat. "Melin!" Kali ini wanita itu menoleh. Namun tatapannya tetap asing. Tidak ada pengenalan. Tidak ada kelegaan. Tidak ada apa-apa. Yang ada hanya ketakutan. Aldi merasa darahnya seperti berhenti mengalir. "Ya Tuhan..." Ia benar-benar Melin. Istrinya. Wanita yang selama ini tinggal serumah dengannya. Wanita yang baru b
Melin mundur pelan saat melihat Robin mematikan mesin mobil di tengah kawasan hutan yang gelap dan sepi. Angin malam berembus dingin, membuat dedaunan bergesekan menimbulkan suara menyeramkan. "Ke-kenapa kita berhenti di sini?" suaranya bergetar. Robin tersenyum tipis sambil membuka pintu mobil. "Turun." Melin menggeleng cepat. "Aku takut." "Takut?" Robin tertawa pelan. "Bukannya kamu wanita pemberani? Berani merencanakan kehancuran orang lain." Wajah Melin langsung pucat. "A-apa maksudmu?" "Kamu nggak tau?" Ia mulai sadar ada yang salah. "Pak Robin... apa yang anda rencanakan?" Robin menatapnya datar. "Kau sendiri? apa yang sudah kau lakukan? apa kau tak ingat? atau mau aku bantu buat ingat?" "Sa-saya tidak mengerti kenapa Pak Robin lakukan ini?" "Turun!" "Sa-saya tidak mau." "Kau mau aku bantu turun?" Melin buru-buru turun dari mobil. Kakinya gemetar ketika melihat sekeliling yang gelap. Tidak ada rumah. Tidak ada kendaraan lain. Hanya jalan kecil dan suar
"Noah?" "Noah." Noah baru saja memasuki kamar, tertegun melihat Alin memanggil namanya. lekas ia datang mendekat. "Sayang!?" Noah menggenggam tangan istrinya. "Aku di sini," tanyanya duduk di bibir ranjang."Apa yang kamu rasakan?" "Noah, aku... aku merasa kotor." Noah menatap istrinya sendu. "Jangan katakan itu. jika kotor, kita bisa membersihkannya." "Tapi..." "ssttt!" Noah menempelkan jari di bibir Alin. "Aku akan memandikanmu nanti, tapi, aku lapar, ayo kita makan dulu, hum?" Noah menggendong Alin keluar kamar, membawanya sampai ke dapur lalu mendudukkan di kursi bar. "Kita lihat ada apa di sini," cetusnya membuka kulkas. "Hmm, cuma ada telur, keju, dan roti tawar. Apa kita buat roti bakar saja?" usulnya menoleh pada Alin. "Aku ingin mandi Noah," ucap Alin lirih. "Iya, nanti aku mandikan," balas Noah mencoba terlihat acuh walau sebenarnya hati pria ini sudah sangat remuk. "Kita makan dulu. Setelah makan, aku janji akan membersihkan mu sampai benar-benar ber
Mata Noah tajam terarah. Bahkan bola mata yang kini di selimuti amarah itu hampir keluar dari rongganya. "Serahkan padaku.""Aku harus menyelesaikannya sendiri, Bin."Robin menggeleng, "tidak, serahkan padaku.""Kau mau aku diam saja saat istriku mendapat pelecehan seperti ini?"Robin diam, memilih kata yang tepat agar sedikit mengurangi amarah di dada Noah saat ini."Tidak, tentu saja tidak. Kamu harus lebih bisa menenangkan Alin. Saat ini ia membutuhkan dirimu. Masalah yang lain, serahkan padaku. Aku percaya padaku, kan?" Robin menatap Noah bersungguh-sungguh.Sedangkan Noah menatap dengan amarah yang berkobar di matanya."Bagaimana jika dia bangun dan mendapati dirimu tak ada di sisi. Saat ini, dia membutuhkanmu, bukan aku. Atau kamu memang lebih rela aku yang menenangkannya dalam pelukan ini?"Noah mencengkram kerah depan baju Robin. Dan itu berhasil membuat Robin tersenyum."Jadi, biarkan kami yang selesaikan. Kamu cukup terima laporan dari kami saja. Akan kami selesaikan dengan
"Kenapa kamu tinggalkan Alin sama Tasya aja?" Noah berteriak penuh emosi karena orangnya malah sangat teledor meninggalkan dua wanita saat Alin jelas dalam incaran."Maaf, saya sudah meninggalkan beberapa orang juga di sana."Ricky menjawab penuh sesal, di wajahnya sudah membekas lebam oleh pukulan Noah tadi."Lalu bagaimana bisa Alin sampai diculik!? Bagaimana kalian bekerja? Hah?""Maaf, Tuan." "Haahh!" Noah menendang jog belakang di depannya. Marah, marah, dan amarah itu terus menjilati dirinya. "Jika sampai terjadi hal buruk padanya, habis kalian semua!""Tenanglah!" ucap Robin yang menyetir di depan melihat Noah sedari tadi hanya marah-marah dan mengamuk."Kita sudah dapat lokasinya. Jangan habiskan tenagamu untuk mengamuk di sini."Noah berdecak kesal, tangan itu terus mengepal dan wajah yang semakin mengeras. Dalam pikirannya Alin kini sedang ketakutan. Pikiran buruk terus berkelebat mencemaskan wanitanya."Aku bersumpah, ta
Saat Alin berpamitan pun Noah hanya menganggguk di kejauhan. Tanpa memperdulikan Aldi yang berdiri disamping mobilnya. Hingga keluarga kecil itu hilang ke dalam Mobil hitam mereka dan menjauh. Noah menatap nanar.Dalam perjalanan pulang dari rumah singgah, Noah flash back.-Flash back-Siang itu, No
Melinda melihat kedepan dalam jarak beberapa meter darinya ada Alin dan Langit yang berjalan kearahnya. Mereka terlihat sedang bercengkrama. Asyik sekali.Meli menyipitkan matanya, Dia menoleh kebelakang, Aldi masih berada dibelakangnya, sepertinya belum sadar akan keberadaan Alin d
Aldi dan Melinda bersiap untuk jalan-jalan."Mas, Kita ke Wonderland saja yuk. Udah lama aku nggak kesana." Meli memoles bibirnya dengan lipstik didepan meja rias."Iya. Asal nggak kepantai saja. Disana ada Langit, nggak enak kalau nanti dia lihat." Aldi menyisir rambu
"Mas? Nggak pulang?"("Tidak Alin. Mas ambil long shift. Nanti sore baru pulang.")"Sekarang hari minggu kan, Mas?"("Mas lembur.") balas Aldi gelagapan.("Sudah ya.")"Mas..."Telpon di tutup. Alin menghela nafasnya."Bu?" panggil Langit menatap harap pada ibunya.Alin berjongkok menjajarkan tinggi







