MasukAlin tak pernah menyangka, jika suaminya, Aldi, yang telah lama membina rumah tangga dan dikarunia seorang putra, Langit. Akan berselingkuh dan menceraikan dirinya. Alin yang berkulit kusam dan berjerawat itu, harus menerima hinaan dari suami dan juga keluarganya. Bara dendam dalam diri Alin menyala, kala anak semata wayangnya di sakiti. Dengan kemampuannya, dan kehadiran sosok Noah yang membantunya dibalik layar, merubah Alin menjadi wanita mandiri dan cantik. Wanita tangguh yang siap menghancurkan mantan suaminya, dan orang-orang yang menghinanya dulu. Bagaimana kisah Alin akan berlanjut?
Lihat lebih banyak"You have to leave." Tila bombang sumabog sa aking pandinig ang sinabing iyon ni Daddy.
From fixing my newly bought designer clothes ay napaharap ako kay Daddy with my eyes wide open and my mouth hanging.
Umiling ako. "You're kidding, right?" I said and laughed nervously.
Maybe my Dad was just trying to piss me off like he always does. He would annoy me and once I got pissed, he would laugh his ass off at lalambingin ako but this time, wala akong ibang mababanaag sa kanyang mukha kung hindi purong kaseryosohan.
"Y-you can't be serious, Dad." I said with a small, shaky voice.
"I am, Judyfirst." Ang pagtawag niya sa aking buong pangalan ay sapat na upang panghinaan ako ng mga tuhod.
Tinawag niya ako sa aking buong pangalan and he rarely does that. He only does that when he is being serious and whenever he wanted me to listen to him.
Sa labis na panghihina ng aking mga tuhod ay napaupo ako sa dulo ng aking kama saka umiling ng makailang beses.
"This is for your own good, princess." Marahas akong napatayo ng marinig ko ang sinabi ng aking ama.
"For my own good? Really, Dad? So taking me away from our castle is for my own good? God damn it, Dad!---
"Don't raise your voice on me, young lady!" Nabitin ang aking pagsesemyento ng dumagundong sa aking buong kwarto ang galit na boses ni Dad.
And as I looked at his face, tila ako isang pusa na binahagan ng buntot.
His face was dark. Even his lips were tightly closed.
Gone were the loving and sweet father Dante Miranda. The Dante Miranda I am facing right now is entirely different.
"I am done with all of your mistakes and stupidity, Judy! Ilang beses ko ng ipinagsawalang-bahala ang mga kahihiyan na idinulot mo sa akin at sa ating pangalan. Kung siguro ay naglasing at nakipag-away ka lang sa isang bar like what you always do, matatanggap ko pa. But this one? You just had a scandal with the biggest jerk on earth and I can't tolerate that anymore. So whether you like it or not, you're leaving. It's time for you to learn how to survive in this cruel world without my money and my power."
Aldi berdiri di depan cermin apartemen dinasnya sambil merapikan kerah kemeja.Tatapannya tampak lelah.Sudah hampir seminggu hidupnya berputar di sekitar satu hal.Melin.Wanita itu akhirnya diperbolehkan pulang setelah empat hari menjalani perawatan intensif di rumah sakit jiwa. Dokter mengatakan kondisi Melin mulai stabil, meski trauma yang dialaminya masih sangat dalam.Sekarang Melin berada di rumah.Seorang perawat khusus ditugaskan mengawasinya.Melin tidak lagi berteriak atau berusaha kabur tanpa arah seperti hari-hari awal.Ia hanya diam.Duduk berjam-jam memandang jendela.Kadang menatap kosong ke halaman.Kadang menangis tanpa suara.Kadang tertidur sambil memeluk lutut.Keadaan itu menyedihkan.Namun bagi Aldi, itu jauh lebih baik dibanding melihat Melin mengamuk ketakutan setiap malam.Ia menghela napas panjang.Lalu mengambil kunci mobil.Hari ini kantornya mengadakan acara anniversary perusahaan.
Lampu mobil menyorot sosok wanita di pinggir jalan itu. Wanita tersebut berdiri limbung dengan pakaian kotor dan rambut kusut menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya dipenuhi goresan kecil. Kedua tangannya gemetar hebat seolah sedang kedinginan. Aldi mengernyit. Ada sesuatu yang terasa familiar. Perlahan ia membuka pintu mobil lalu turun. "Mbak...?" Wanita itu langsung mundur ketakutan. "Jangan dekat-dekat!" Suaranya serak dan penuh kepanikan. Aldi membeku. Jantungnya mendadak berdegup keras. Suara itu... "Melin?" Wanita itu tidak menjawab. Matanya kosong. Seolah tidak mengenali siapa pun. Aldi melangkah lebih dekat. "Melin!" Kali ini wanita itu menoleh. Namun tatapannya tetap asing. Tidak ada pengenalan. Tidak ada kelegaan. Tidak ada apa-apa. Yang ada hanya ketakutan. Aldi merasa darahnya seperti berhenti mengalir. "Ya Tuhan..." Ia benar-benar Melin. Istrinya. Wanita yang selama ini tinggal serumah dengannya. Wanita yang baru b
Melin mundur pelan saat melihat Robin mematikan mesin mobil di tengah kawasan hutan yang gelap dan sepi. Angin malam berembus dingin, membuat dedaunan bergesekan menimbulkan suara menyeramkan. "Ke-kenapa kita berhenti di sini?" suaranya bergetar. Robin tersenyum tipis sambil membuka pintu mobil. "Turun." Melin menggeleng cepat. "Aku takut." "Takut?" Robin tertawa pelan. "Bukannya kamu wanita pemberani? Berani merencanakan kehancuran orang lain." Wajah Melin langsung pucat. "A-apa maksudmu?" "Kamu nggak tau?" Ia mulai sadar ada yang salah. "Pak Robin... apa yang anda rencanakan?" Robin menatapnya datar. "Kau sendiri? apa yang sudah kau lakukan? apa kau tak ingat? atau mau aku bantu buat ingat?" "Sa-saya tidak mengerti kenapa Pak Robin lakukan ini?" "Turun!" "Sa-saya tidak mau." "Kau mau aku bantu turun?" Melin buru-buru turun dari mobil. Kakinya gemetar ketika melihat sekeliling yang gelap. Tidak ada rumah. Tidak ada kendaraan lain. Hanya jalan kecil dan suar
"Noah?" "Noah." Noah baru saja memasuki kamar, tertegun melihat Alin memanggil namanya. lekas ia datang mendekat. "Sayang!?" Noah menggenggam tangan istrinya. "Aku di sini," tanyanya duduk di bibir ranjang."Apa yang kamu rasakan?" "Noah, aku... aku merasa kotor." Noah menatap istrinya sendu. "Jangan katakan itu. jika kotor, kita bisa membersihkannya." "Tapi..." "ssttt!" Noah menempelkan jari di bibir Alin. "Aku akan memandikanmu nanti, tapi, aku lapar, ayo kita makan dulu, hum?" Noah menggendong Alin keluar kamar, membawanya sampai ke dapur lalu mendudukkan di kursi bar. "Kita lihat ada apa di sini," cetusnya membuka kulkas. "Hmm, cuma ada telur, keju, dan roti tawar. Apa kita buat roti bakar saja?" usulnya menoleh pada Alin. "Aku ingin mandi Noah," ucap Alin lirih. "Iya, nanti aku mandikan," balas Noah mencoba terlihat acuh walau sebenarnya hati pria ini sudah sangat remuk. "Kita makan dulu. Setelah makan, aku janji akan membersihkan mu sampai benar-benar ber
"Tolong siapkan untuk meja nomor lima. Yang ini sedikit spesial ya, pesanan khusus." Alin memberi instruksi pada koki di dapur restonya. "Baik, Bu.""Dan untuk ruang VIP satu. Sudah dibooking oleh Mr. Marvin untuk meting nanti malam.""Baik."Setelah memberi beberapa arahan dan mengecek laporan, Alin m
Di lorong depan pintu apartemen Alin, tampak tiga orang preman tengah berkelahi dengan seorang pria dan wanita. ketiganya tampak kuwalahan meskipun memiliki badan lebih besar karna kelincahan sepasang pria dan wanita yang tiba-tiba mengganggu pekerjaan mereka. kedua orang itu adalah bodyguard Alin i
Bab 48"Apa ini? Kenapa kamu malah membawaku kemari?" Sergah Noah meminta penjelasan, sementara matanya melihat pada gedung yang menjadi kantornya. Karena kali ini Alin yang menyetir, Noah tak bisa memutar dan terpaksa mengikuti kemauan Alin."Kau mau bilang jalan-jalan, rupanya kamu malah menjebakku
Bab 47Ciuman Noah semakin menuntut sampai Alin kesulitan bernafas. Tangan wanita itu berusaha menahan dada Noah walau kekuatannya jelas tak sebanding. “Aku ingin lebih dari ini,” bisik Noah dengan mata sayu.“Kita makan dulu, aku terlalu lelah dan tak punya tenaga.” Tanpa bermaksud menolak keinginan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.