MasukSelamat membaca 🙏 komen dong biar author semangat up nya, 😟😟
Setelah menyelesaikan makan malamnya, rasa canggung Azalea perlahan luntur, tergeser oleh kehangatan suasana malam di tepi pantai. Jeje langsung menarik lengannya untuk bergabung dengan lingkar utama di dekat api unggun.Di sana, suasana makin riuh saat salah satu teman sekelas mereka mulai memetik gitar akustik, memainkan lagu-lagu ceria yang dihafal semua orang. Azalea ikut tertawa saat Jeje dan beberapa siswa lain berjoget heboh dengan gerakan asal-asalan, menyanyikan lirik lagu secara sumbang tanpa beban. Permainan truth or dare sederhana yang memanfaatkan botol minuman kosong pun dimulai, memicu gelak tawa dan sorak-sorai riuh setiap kali botol berhenti menunjuk salah satu dari mereka.Sementara Azalea tenggelam dalam keseruan bersama anak-anak kelas, Zayn tetap menjaga jarak. Pemuda itu berkumpul tak jauh dari sana bersama Varan, Varel, dan Ezra. Mereka duduk santai di atas kursi lipat pantai dengan kaleng minuman dingin di tangan, mengobrol santai khas cowok.Meskipun te
Azalea menelan ludah. Tuduhan Marta membuatnya mematung di sebelah Zayn. Ia kira Marta akan marah lalu kembali memusuhi mereka. Marta melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan keponakannya. Dengan senyum miring di wajahnya, ia berbisik pelan pada Zayn yang sejak tadi menatapnya dingin."Tante kenapa ada di sini?" potong Zayn cepat, menyela bisikan itu dengan suaranya yang tegas dan tak tersentuh."Kenapa? Tante juga butuh liburan," jawab Marta santai, masih memamerkan senyum miring yang jelas-jelas sengaja untuk menggoda keponakannya itu. "Lagipula kamu belum menjawab pertanyaan Tante tadi. Liburan ini....""Bukan urusan Tante," pangkas Zayn tanpa ragu, menatap Marta tanpa ada rasa takut sedikit pun.Mendengarnya, Marta justru tertawa pelan. "Baiklah. Tante tahu kamu paling tidak suka diusik, dan Tante tidak akan ikut campur urusan anak muda. Hanya saja, karena kamu membuang sumber daya sebesar ini untuk liburan... pastikan ke depannya kamu bekerja lebih keras lagi memban
Varel menyaksikan semua kejadian itu bersama murid-murid lainnya, ia tersenyum miring, sikutnya bertopang di pundak Ezra. "Apa kali ini Haikal dan Naura benar-benar tidak akan lolos?"Ezra mengusap tengkuknya, merespons dengan ragu. "Kurasa Zayn tetap akan memberi Naura pengampunan lagi seperti biasanya."Varan hanya berdiri mematung dengan wajah dingin. Tatapannya tertuju pada Naura yang mulai diseret pengawal."Untuk apa? Kalau Naura bukan anak yang Zayn maksud, dia tidak punya lagi tiket istimewa untuk mendapat pengampunan dari Zayn." Kalimat Varan terdengar cukup masuk akal, Zayn tidak akan mentolerir seseorang yang sudah berbuat buruk padanya apalagi dengan membohonginya. Ezra menyela cepat, raut wajahnya berubah cemas. Dan ia masih ragu dengan keputusan yang akan diambil Zayn. "Apa menurut kalian Naura selama ini berbohong? Apa Zayn sudah tahu yang sebenarnya? Tapi sejak awal Haikal yang memberi tahu Zayn kalau anak yang menolongnya dulu itu Naura--"Varel menautkan alisn
Azalea terbatuk pelan, memuntahkan sisa air laut dari tenggorokannya. Begitu kelopak matanya mengerjap menyesuaikan cahaya, Zayn langsung merengkuh tubuhnya yang dingin. Pria yang biasanya selalu tenang dan terkendali itu memeluk Azalea begitu erat. Ada getaran tipis pada jemari Zayn saat mengusap kepala Azalea, memperlihatkan betapa paniknya ia saat hampir kehilangan gadis itu."Lea--" Azalea bisa mendengar degup jantung pemuda itu yang begitu cepat. "Aku tidak apa-apa, Zayn," ucap Azalea yang masih menyandarkan kepalanya, ia berusaha terlihat baik-baik saja hanya agar Zayn kembali tenang. Beberapa saat mereka bertahan di posisi yang sama hingga saling tenang dan Zayn melepaskan gadis itu dari dekapannya. "Istirahatlah dulu," titahnya. Setelah memastikan Azalea aman bersandar pada salah satu kru kapal, Zayn perlahan bangkit. Tatapannya langsung tertuju pada Haikal dan Naura yang masih berdiri dengan raut panik. Brak!Tanpa memberi kesempatan untuk menghindar, tangan besar Za
Tangan Zayn beralih, ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap sudut bibir Azalea lalu menekan pelan bibir yang terasa lembut dan lembab itu. Tatapan Zayn intens ke sana, seolah ingin menikmatinya namun masih menahan diri. "Tapi, siapa tahu apa yang akan Haikal katakan menguntungkanmu," pangkas Azalea pelan, mencoba membujuk Zayn untuk membiarkannya pergi dan mencari informasi. "Mungkin ini ada hubungannya dengan Naura? Kamu sendiri lihat kan perubahan raut wajah Haikal di luar tadi saat melihatmu dan Naura? Sepertinya dia cemburu." Mendengar nama Haikal dan Naura disebut, sorot mata Zayn berubah dingin. Kelembutan yang tadinya menghiasi wajah tampannya memudar, berganti dengan senyum miring. "Raut wajah Haikal bukan urusanmu," tegas Zayn pelan namun dingin. Ia menangkup kedua pipi Azalea, memaksa gadis itu menatap ke arahnya. "Tugasmu di sini cuma satu ... nikmati liburanmu, dan tetap berada di jangkauanku. Paham?" Kalimat penuh penekanan itu jelas membuat Azalea merasa teri
"Jangan bergerak. Biarkan begini sebentar," bisik Zayn rendah. Embusan napas hangatnya menyapu ceruk leher Azalea membuat gadis itu merinding geli.Azalea berusaha melepas cengkeraman tangan Zayn di pinggangnya, namun tenaga Zayn jauh lebih kuat. "Zayn, lepas. Nanti ada yang lihat.""Biarkan saja," jawab Zayn santai. Bukannya melepas, pemuda itu justru makin menyandarkan dagunya di bahu Azalea, menikmati aroma tubuh gadis itu yang selalu berhasil menenangkan pikirannya yang riuh. "Kenapa lari, hm?""Aku tidak lari. Cuma ingin istirahat sebentar, sebelum kita sampai," alih Azalea. Tatapannya mengarah keluar, melihat birunya air laut di kejauhan. Ia coba bersikap datar dan biasa saja, gengsi membuatnya enggan bicara jika ia tidak suka Zayn dekat-dekat dengan wanita lain. Zayn terkekeh pelan. Suara tawanya yang berat dan dekat di telinga Azalea terasa begitu intim. Sejak tadi Azalea lebih kalem dan diam, Zayn yakin ada yang aneh dari gadisnya. "Bicara padaku, Lea," bujuk Zayn lem
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--







