INICIAR SESIÓNAzalea tidak memperpanjang celotehan Varel dan memilih langsung beranjak menuju ruang dewan siswa.Begitu sampai di depan pintu berpelitur gelap itu, pintunya mendadak terbuka dari dalam. Pak Heru-- sang pembina keluar dengan membawa beberapa berkas. Azalea yang terkejut buru-buru menghentikan langkahnya dan membungkuk sopan."Selamat siang, Pak Heru," sapa Azalea ramah."Siang, Azalea. Kebetulan sekali, Zayn masih ada di dalam," ujar Pak Heru mengangguk pelan sebelum melangkah meninggalkan koridor.Azalea menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Di ruangan yang tenang itu, Zayn tampak terduduk. Mendengar langkah kaki mendekat, pemuda itu mendongak. Begitu menyadari siapa yang datang, raut wajah Zayn berubah datar dan tak acuh, meski tatapan matanya menancap tajam, seolah siap menuntut penjelasan atas pesan singkatnya yang diabaikan semalam.Paham betul arti tatapan itu, Azalea langsung melancarkan aksi penyelam
Azalea mengangguk, ia terkekeh pelan sembari berbalik menjauh. Ia mendekati anak-anak lagi setelah mobil Zayn melaju pergi. Azalea merasa pilihannya cukup tepat, berada di panti membuatnya tidak perlu merasa kesepian. Di sana ada banyak anak-anak lucu yang menemaninya. Gadis itu juga mendapat kamar yang cukup nyaman, ruangannya terpisah dari tempat tidur anak-anak panti. Malamnya Azalea belajar, mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok.Ponsel di mejanya bergetar, ada pesan masuk, namun Azalea yang tanggung ingin merampungkan tugasnya memilih untuk tidak melihatnya dulu. Hingga jam menunjuk pukul sepuluh, Azalea baru selesai. Ia meraih ponselnya, ingin mengecek pesan namun ternyata ponsel itu mati kehabisan baterai. Pantas saja tadi hanya bergetar sekali. Azalea mengambil charger dan mengisi dayanya lebih dulu. Niatnya ia menunggu beberapa menit untuk menyalakan ponselnya, tapi rasa kantuk itu tidak tertahan. Tanpa menunggu Azalea menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dan mat
Azalea menarik napas panjang, berusaha menata detak jantungnya yang mendadak berantakan. Takut hadiah dari sahabatnya benar-benar melayang.Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling sekali lagi, memastikan situasi di panti benar-benar aman dan tidak ada yang memperhatikan mereka.Dengan cepat, Azalea memutar tubuh dan memanjat masuk melalui pintu kemudi, lalu buru-buru menarik pintu hingga tertutup rapat agar tidak terlihat dari luar.Melihat reaksi pasrah Azalea, Zayn dengan sigap menekan tombol di samping kursinya, memundurkan dan mencondongkan kursi kemudi jauh ke belakang untuk memberikan ruang yang lapang. Tanpa memberi kesempatan Azalea berpikir dua kali, Zayn menarik pinggang gadis itu hingga Azalea kini duduk tepat di pangkuannya.Azalea memposisikan tubuhnya menghadap Zayn secara penuh. Kedua lututnya ditekuk mengapit pinggul Zayn, sementara kedua telapak kakinya menapak santai di bagian sisi lantai mobil. Posisi itu membuat tubuh mereka saling terkunci dalam jarak
Zayn melihatnya sekilas, namun ia tak acuh. Ia meraih tangan Azalea dan menggenggamnya. "Biarkan saja, mungkin Pak Marvel hendak memohon belas kasih agar tidak didepak dari rumah sakit." Azalea tersenyum getir, raut wajahnya tidak banyak berubah. Tentu bukan karena ia senang melihat lelaki brengsek itu jatuh, hanya saja Azalea mungkin sudah mati rasa. Apa pun yang terjadi pada ayahnya, bukan urusannya lagi. Zayn melanjutkan perjalanan, sampai di panti ada anak-anak dan pengurus yayasan yang menyambut Azalea, terutama Renata. "Hai, Lea, bagaimana kabarmu?" Wanita paruh baya itu langsung menyapa dengan ramah. Ia mungkin masih tidak menyangka jika Zayn akan membawanya ke sini, dan gadis itu bersedia untuk membantu setiap kegiatan di panti. Sejak awal Renata lihat ada yang berbeda dari tatapan Zayn untuk Azalea, ia jadi ingat saat pertama kali Zayn datang membawa Azalea, pemuda itu bilang Azalea istimewa. Renata mengartikan jika gadis itu mungkin berkebutuhan khusus seperti anak lai
Ucapan Zayn membuat wajah Azalea makin merona. Tak tahan terus-menerus diledek, gadis itu meraih bantal terdekat di atas ranjang dan mengayunkannya tanpa ampun ke arah Zayn."Zayn! Diam tidak?!" seru Azalea gemas mendaratkan pukulan bantal. Zayn tertawa lepas, tangannya sigap menangkis serangan bertubi-tubi. Perkelahian kecil dan menggemaskan itu tak terelakkan di antara mereka. Azalea yang kepalang kesal berusaha menindih gerak Zayn dengan bantalnya, tetapi Zayn yang memiliki refleks lebih cepat justru melihat celah. Dengan satu gerakan gesit, Zayn menangkap kedua pergelangan tangan Azalea dan menarik tubuh gadis itu hingga jatuh terjerembap tepat di atas dadanya.Suasana seketika hening. Azalea menahan napas, menempel rapat di atas dada tegap Zayn. Manik mata mereka saling terkunci dalam jarak yang sangat dekat."Lepas, Zayn..." cicit Azalea, mulai memberontak dan mencoba mendorong dada Zayn agar bisa bangkit.Zayn tidak membiarkannya lolos begitu saja. Memanfaatkan momen
Ia menyusup ke balik tirai dan merapatkan tubuhnya, memojokkan Azalea hingga punggung gadis itu membentur dinding kaca. "Z-Zayn... aku terjepit!" pekik Azalea pelan seraya menyibak sedikit kain tirai, ia mendelik menatap wajah nakal Zayn yang sengaja mengurungnya di sana. Bukannya menjauh, Zayn justru makin menghimpit tubuh Azalea. Kurungan tirai tebal itu membuat jarak di antara mereka terkikis habis, menyisakan kehangatan yang mendebarkan. Azalea bisa merasakan embusan napas Zayn menyapu permukaan kulit lehernya. Punggungnya yang menempel pada dinginnya dinding kaca terasa kontras dengan panas tubuh pemuda di hadapannya. "Zayn, geli..." bisik Azalea lirih, berusaha menahan napas. "Nanti Tante Marta curiga!" "Biar saja," sahut Zayn santai. Suaranya memberat, berbisik tepat di samping telinga Azalea. "Salah sendiri... kenapa bersembunyi di tempat sesempit ini?" Jemari Zayn terangkat, mengusap pelan pipi Azalea yang kini memerah, lalu bergerak turun mengelus dagu gadis itu h
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan







