登入"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," ucapnya dengan suara rendah dan tenang, tatapannya fokus pada Azalea. "Yakin, mau tidur dengan Jeje? Tidak di--""Iya. Aku lebih nyaman bersamanya, lagi pun aku dan Jeje masih ada banyak cerita yang ingin kami bahas sebelum tidur," lanjut Azalea dengan antusias. Ia sengaja menunjukan diri penuh samangat dan senang di depan Zayn, hanya agar pemuda itu mau mengizinkannya tidur bersama Jeje tanpa perlu khawatir. "Hm, baiklah--" Zayn tidak banyak bicara namun sebelah tangannya beralih membelai pipi Azalea dengan pelan dan lembut, bahkan seolah penuh kehati-hatian dan rasa menikmati. Tatapannya mengikuti setiap gerak telunjuknya yang sedang bermain di kulit pipi Azalea yang halus. "Zayn--" Azalea menahan napas, ia kembali berdebar dan salah tingkah. "Bisakah kamu mengizinkanku pergi? Jeje mungkin sudah sampai di kamar, kalau tahu aku tidak ada pasti dia akan--"Ucapan Azalea terhenti saat telunjuk Zayn tertahan di bibir bawahnya dan men
Setelah menyelesaikan makan malamnya, rasa canggung Azalea perlahan luntur, tergeser oleh kehangatan suasana malam di tepi pantai. Jeje langsung menarik lengannya untuk bergabung dengan lingkar utama di dekat api unggun.Di sana, suasana makin riuh saat salah satu teman sekelas mereka mulai memetik gitar akustik, memainkan lagu-lagu ceria yang dihafal semua orang. Azalea ikut tertawa saat Jeje dan beberapa siswa lain berjoget heboh dengan gerakan asal-asalan, menyanyikan lirik lagu secara sumbang tanpa beban. Permainan truth or dare sederhana yang memanfaatkan botol minuman kosong pun dimulai, memicu gelak tawa dan sorak-sorai riuh setiap kali botol berhenti menunjuk salah satu dari mereka.Sementara Azalea tenggelam dalam keseruan bersama anak-anak kelas, Zayn tetap menjaga jarak. Pemuda itu berkumpul tak jauh dari sana bersama Varan, Varel, dan Ezra. Mereka duduk santai di atas kursi lipat pantai dengan kaleng minuman dingin di tangan, mengobrol santai khas cowok.Meskipun te
Azalea menelan ludah. Tuduhan Marta membuatnya mematung di sebelah Zayn. Ia kira Marta akan marah lalu kembali memusuhi mereka. Marta melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan keponakannya. Dengan senyum miring di wajahnya, ia berbisik pelan pada Zayn yang sejak tadi menatapnya dingin."Tante kenapa ada di sini?" potong Zayn cepat, menyela bisikan itu dengan suaranya yang tegas dan tak tersentuh."Kenapa? Tante juga butuh liburan," jawab Marta santai, masih memamerkan senyum miring yang jelas-jelas sengaja untuk menggoda keponakannya itu. "Lagipula kamu belum menjawab pertanyaan Tante tadi. Liburan ini....""Bukan urusan Tante," pangkas Zayn tanpa ragu, menatap Marta tanpa ada rasa takut sedikit pun.Mendengarnya, Marta justru tertawa pelan. "Baiklah. Tante tahu kamu paling tidak suka diusik, dan Tante tidak akan ikut campur urusan anak muda. Hanya saja, karena kamu membuang sumber daya sebesar ini untuk liburan... pastikan ke depannya kamu bekerja lebih keras lagi memban
Varel menyaksikan semua kejadian itu bersama murid-murid lainnya, ia tersenyum miring, sikutnya bertopang di pundak Ezra. "Apa kali ini Haikal dan Naura benar-benar tidak akan lolos?"Ezra mengusap tengkuknya, merespons dengan ragu. "Kurasa Zayn tetap akan memberi Naura pengampunan lagi seperti biasanya."Varan hanya berdiri mematung dengan wajah dingin. Tatapannya tertuju pada Naura yang mulai diseret pengawal."Untuk apa? Kalau Naura bukan anak yang Zayn maksud, dia tidak punya lagi tiket istimewa untuk mendapat pengampunan dari Zayn." Kalimat Varan terdengar cukup masuk akal, Zayn tidak akan mentolerir seseorang yang sudah berbuat buruk padanya apalagi dengan membohonginya. Ezra menyela cepat, raut wajahnya berubah cemas. Dan ia masih ragu dengan keputusan yang akan diambil Zayn. "Apa menurut kalian Naura selama ini berbohong? Apa Zayn sudah tahu yang sebenarnya? Tapi sejak awal Haikal yang memberi tahu Zayn kalau anak yang menolongnya dulu itu Naura--"Varel menautkan alisn
Azalea terbatuk pelan, memuntahkan sisa air laut dari tenggorokannya. Begitu kelopak matanya mengerjap menyesuaikan cahaya, Zayn langsung merengkuh tubuhnya yang dingin. Pria yang biasanya selalu tenang dan terkendali itu memeluk Azalea begitu erat. Ada getaran tipis pada jemari Zayn saat mengusap kepala Azalea, memperlihatkan betapa paniknya ia saat hampir kehilangan gadis itu."Lea--" Azalea bisa mendengar degup jantung pemuda itu yang begitu cepat. "Aku tidak apa-apa, Zayn," ucap Azalea yang masih menyandarkan kepalanya, ia berusaha terlihat baik-baik saja hanya agar Zayn kembali tenang. Beberapa saat mereka bertahan di posisi yang sama hingga saling tenang dan Zayn melepaskan gadis itu dari dekapannya. "Istirahatlah dulu," titahnya. Setelah memastikan Azalea aman bersandar pada salah satu kru kapal, Zayn perlahan bangkit. Tatapannya langsung tertuju pada Haikal dan Naura yang masih berdiri dengan raut panik. Brak!Tanpa memberi kesempatan untuk menghindar, tangan besar Za
Tangan Zayn beralih, ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap sudut bibir Azalea lalu menekan pelan bibir yang terasa lembut dan lembab itu. Tatapan Zayn intens ke sana, seolah ingin menikmatinya namun masih menahan diri. "Tapi, siapa tahu apa yang akan Haikal katakan menguntungkanmu," pangkas Azalea pelan, mencoba membujuk Zayn untuk membiarkannya pergi dan mencari informasi. "Mungkin ini ada hubungannya dengan Naura? Kamu sendiri lihat kan perubahan raut wajah Haikal di luar tadi saat melihatmu dan Naura? Sepertinya dia cemburu." Mendengar nama Haikal dan Naura disebut, sorot mata Zayn berubah dingin. Kelembutan yang tadinya menghiasi wajah tampannya memudar, berganti dengan senyum miring. "Raut wajah Haikal bukan urusanmu," tegas Zayn pelan namun dingin. Ia menangkup kedua pipi Azalea, memaksa gadis itu menatap ke arahnya. "Tugasmu di sini cuma satu ... nikmati liburanmu, dan tetap berada di jangkauanku. Paham?" Kalimat penuh penekanan itu jelas membuat Azalea merasa teri
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd







