เข้าสู่ระบบKeesokan harinya, liburan mereka di vila masih terus berlanjut. Kali ini suasana terasa berbeda karena hanya tersisa Azalea dan geng Zayn—Varan, Varel, serta Ezra yang masing-masing sudah ditemani oleh pasangan mereka.Pagi itu, Azalea selesai bersiap di kamarnya. Gadis itu mengenakan gaun santai selutut khas pantai dengan topi lebar untuk menghalau teriknya sinar matahari. Gaun berbahan jatuh berwarna lembut itu terlihat sangat feminin—sebuah gaun yang diberikan Zayn. Langkah Azalea terasa agak berat saat berjalan menuju area ruang makan luar ruangan yang menghadap langsung ke pantai. Rasa gugup dan salah tingkah melingkupinya, membayangkan harus berhadapan dengan Zayn. Saat Azalea berjalan mendekat, atmosfer meja makan seketika berubah.Zayn, yang semula sedang memangku segelas minuman sembari mendengarkan obrolan santai teman-temannya, menghentikan pergerakannya. Pemuda itu menatap Azalea tanpa kedip, menyapu penampilan feminin gadis itu dari atas hingga bawah dengan binar
Azalea tertegun. Ucapan Zayn sungguh berhasil membuat Azalea linglung untuk sesaat. Suasana mendadak hening, hanya tatapan mereka yang saling bertaut. Bibir Azalea bergetar namun tidak ada suara yang berhasil ia keluarkan. Jantungnya berdebar kencang hingga membuat gadis itu bahkan hanya mendengar detak jantungnya saat ini. Melihat Azalea yang membisu dengan pipi merona merah, sudut bibir Zayn terangkat tipis. Bagi cowok yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya dan tak pernah mengenal kata penolakan, diamnya Azalea berarti setuju dengan ucapan Zayn. Tanpa mengalihkan pandangan, Zayn mengikis sisa jarak di antara mereka. Tangan kokohnya meraih jemari Azalea, menyatukannya satu per satu hingga genggaman itu terikat erat. Azalea tersentak pelan saat rasa hangat dari telapak tangan Zayn merayap di kulitnya, memicu getaran manis yang mendadak liar di dalam dadanya.Belum sempat Azalea menghela napas, Zayn dengan lembut menarik tangan yang tertaut itu, memutar pelan tubuh
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," ucapnya dengan suara rendah dan tenang, tatapannya fokus pada Azalea. "Yakin, mau tidur dengan Jeje? Tidak di--""Iya. Aku lebih nyaman bersamanya, lagi pun aku dan Jeje masih ada banyak cerita yang ingin kami bahas sebelum tidur," lanjut Azalea dengan antusias. Ia sengaja menunjukan diri penuh samangat dan senang di depan Zayn, hanya agar pemuda itu mau mengizinkannya tidur bersama Jeje tanpa perlu khawatir. "Hm, baiklah--" Zayn tidak banyak bicara namun sebelah tangannya beralih membelai pipi Azalea dengan pelan dan lembut, bahkan seolah penuh kehati-hatian dan rasa menikmati. Tatapannya mengikuti setiap gerak telunjuknya yang sedang bermain di kulit pipi Azalea yang halus. "Zayn--" Azalea menahan napas, ia kembali berdebar dan salah tingkah. "Bisakah kamu mengizinkanku pergi? Jeje mungkin sudah sampai di kamar, kalau tahu aku tidak ada pasti dia akan--"Ucapan Azalea terhenti saat telunjuk Zayn tertahan di bibir bawahnya dan men
Setelah menyelesaikan makan malamnya, rasa canggung Azalea perlahan luntur, tergeser oleh kehangatan suasana malam di tepi pantai. Jeje langsung menarik lengannya untuk bergabung dengan lingkar utama di dekat api unggun.Di sana, suasana makin riuh saat salah satu teman sekelas mereka mulai memetik gitar akustik, memainkan lagu-lagu ceria yang dihafal semua orang. Azalea ikut tertawa saat Jeje dan beberapa siswa lain berjoget heboh dengan gerakan asal-asalan, menyanyikan lirik lagu secara sumbang tanpa beban. Permainan truth or dare sederhana yang memanfaatkan botol minuman kosong pun dimulai, memicu gelak tawa dan sorak-sorai riuh setiap kali botol berhenti menunjuk salah satu dari mereka.Sementara Azalea tenggelam dalam keseruan bersama anak-anak kelas, Zayn tetap menjaga jarak. Pemuda itu berkumpul tak jauh dari sana bersama Varan, Varel, dan Ezra. Mereka duduk santai di atas kursi lipat pantai dengan kaleng minuman dingin di tangan, mengobrol santai khas cowok.Meskipun te
Azalea menelan ludah. Tuduhan Marta membuatnya mematung di sebelah Zayn. Ia kira Marta akan marah lalu kembali memusuhi mereka. Marta melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan keponakannya. Dengan senyum miring di wajahnya, ia berbisik pelan pada Zayn yang sejak tadi menatapnya dingin."Tante kenapa ada di sini?" potong Zayn cepat, menyela bisikan itu dengan suaranya yang tegas dan tak tersentuh."Kenapa? Tante juga butuh liburan," jawab Marta santai, masih memamerkan senyum miring yang jelas-jelas sengaja untuk menggoda keponakannya itu. "Lagipula kamu belum menjawab pertanyaan Tante tadi. Liburan ini....""Bukan urusan Tante," pangkas Zayn tanpa ragu, menatap Marta tanpa ada rasa takut sedikit pun.Mendengarnya, Marta justru tertawa pelan. "Baiklah. Tante tahu kamu paling tidak suka diusik, dan Tante tidak akan ikut campur urusan anak muda. Hanya saja, karena kamu membuang sumber daya sebesar ini untuk liburan... pastikan ke depannya kamu bekerja lebih keras lagi memban
Varel menyaksikan semua kejadian itu bersama murid-murid lainnya, ia tersenyum miring, sikutnya bertopang di pundak Ezra. "Apa kali ini Haikal dan Naura benar-benar tidak akan lolos?"Ezra mengusap tengkuknya, merespons dengan ragu. "Kurasa Zayn tetap akan memberi Naura pengampunan lagi seperti biasanya."Varan hanya berdiri mematung dengan wajah dingin. Tatapannya tertuju pada Naura yang mulai diseret pengawal."Untuk apa? Kalau Naura bukan anak yang Zayn maksud, dia tidak punya lagi tiket istimewa untuk mendapat pengampunan dari Zayn." Kalimat Varan terdengar cukup masuk akal, Zayn tidak akan mentolerir seseorang yang sudah berbuat buruk padanya apalagi dengan membohonginya. Ezra menyela cepat, raut wajahnya berubah cemas. Dan ia masih ragu dengan keputusan yang akan diambil Zayn. "Apa menurut kalian Naura selama ini berbohong? Apa Zayn sudah tahu yang sebenarnya? Tapi sejak awal Haikal yang memberi tahu Zayn kalau anak yang menolongnya dulu itu Naura--"Varel menautkan alisn
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd







