LOGINZayn tidak menjawab secara gamblang. Tadi di dalam gudang, ia memang sempat tersungkur akibat tinju telak Raven. Namun, kejatuhatannya itu justru membakar sisa-sisa amarahnya. Dengan sisa tenaga dan ego yang terluka, Zayn bangkit kembali dan membantai Raven tanpa ampun hingga lawannya itu tak sanggup berdiri lagi sampai hitungan sepuluh berakhir. Zayn menang, hanya saja, saat Azalea bertanya di luar gudang tadi, Zayn memilih diam karena emosinya masih belum berakhir. "Aku tidak pernah kalah dari bajingan itu, Lea," ucap Zayn penuh penekanan. Cengkeramannya pada roda kemudi makin mengencang. "Raven tidak punya hak apa pun atas kamu. Pertandingan itu selesai, dan aku yang menang."Azalea menatap Zayn tak percaya, campuran antara lega, marah, dan semakin terkejut dengan jalan pikiran Zayn "Kalau kamu memang menang, kenapa tadi kamu diam saja saat aku tanya?!"Zayn tersenyum miring. "Itu karena sejak awal kamu menganggapku kalah. Jadi aku enggan bicara."Azalea menarik napas dalam-d
Sementara itu tak jauh dari sana, sebuah mobil hitam terparkir tanpa lampu menyala. Rico bersama dua anak buahnya sudah sejak tadi mengintai pergerakan Zayn dan Azalea dari kejauhan tanpa menarik perhatian. "Bos, mereka pergi," ucap salah satu anak buah Rico seraya menunjuk mobil Zayn yang melesat pergi meninggalkan pelataran. Rico terkekeh rendah, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum miring yang penuh arti. "Biarkan saja dulu, aku yakin mereka hanya akan menghabiskan waktu untuk bertengkar," sahut Rico tenang, menikmat kekacauan yang baru saja terjadi. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara, menatap jalanan kosong yang baru saja dilewati mobil Zayn. Bagi Rico, kehancuran hubungan Zayn dan Azalea dari dalam adalah pemandangan yang sangat menguntungkan. "Yang penting... selalu awasi pergerakan Zayn," lanjut Rico dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Tunggu sampai dia benar-benar lengah." Dua anak buahnya mengangguk. "Kurasa Zayn s
Azalea termenung di sudut luar gudang tua yang remang-remang, masih didampingi Jeje dan Ezra yang tampak merasa bersalah. Suara riuh penonton di dalam bangunan tua itu samar-samar masih terdengar memekakkan telinga."Kenapa kamu tidak bilang padaku, Ez? Harusnya pertandingan konyol ini tidak perlu ada," kata Azalea dengan raut wajah tegang.Ezra tergagap, salah tingkah. "Bukan begitu, Lea. Kamu tahu sendiri, Zayn kalau sudah mengambil keputusan tidak bisa diubah. Dan dia memintaku untuk diam... ."Ezra sama sekali tidak berdaya. Meski ia takut, teman-temannya jelas menekan dan memintanya untuk bungkam dari Azalea.Azalea menghela napas berat, merasakan kepalanya makin berdenyut nyeri.Jeje mengusap pundak Azalea untuk menenangken sahabatnya itu. "Sabar ya, Lea... .""Aku hanya merasa ini sangat konyol," Azalea berucap getir. "Raven bahkan bukan anggota inti Black Viper, tapi Zayn justru menantangnya. Apa yang sebenarnya kalian pertaruhkan di dalam sana?"Azalea kembali menata
"Kita lewat samping," bisik Azalea, mengabaikan rasa takut yang sempat merayapi benaknya.Menggunakan bayangan kontainer-kontainer bekas di sekitar gudang, Azalea dan Jeje menyelinap masuk melalui pintu samping yang terbuka sedikit.Pemandangan di dalam gudang tua itu seketika membuat napas Azalea tertahan.Di tengah ruangan yang remang-remang, berdiri sebuah ring tinju rakitan berbahan besi dan rantai kawat, dikelilingi oleh puluhan sorot lampu gantung. Seratusan orang berkerumun riuh memegang uang taruhan, saling berteriak melempar provokasi.Mata Azalea menelusuri sudut-sudut ring dengan cepat, mencari keberadaan sosok yang dicarinya. Dan di sana, di bawah ring, Azalea menemukan Zayn.Zayn sedang bersiap hendak berjalan ke arah arena. Azalea tidak sanggup lagi berdiam. Sebelum Zayn sempat melangkah naik ke atas ring, Azalea berlari menerobos kerumunan orang, lalu berdiri tepat menghadang langkah cowok itu dengan mata yang memerah menahan tangis."Zayn," panggil Azalea. Suar
"Tidak. Aku tidak punya acara, hanya saja kamu pasti lelah setelah kegiatan kemarin, lebih baik istirahat dulu di panti. Di apartemen kamu pasti tidak mau diam, selalu ingin beres-beres," kata Zyan cukup panjang, penjelasan yang jarang lelaki itu lakukan. Azalea mendengarkan. Zayn berdehem pelan, membuang muka saat menyadari tatapan heran dari Azalea. Ia tahu penjelasannya barusan terdengar terlalu dipaksakan. Seorang Zayn yang biasanya hemat bicara tiba-tiba menasihati Azalea panjang lebar, jelas aneh."Pokoknya kamu istirahat aja," tambah Zayn singkat, berusaha mengembalikan nada bicaranya menjadi dingin dan datar seperti biasa sebelum Azalea makin curiga. Azalea hanya mengangguk pelan tanpa membantah. Meski lidahnya gatal ingin mendesak, ia menahannya. Sikap Zayn yang tampak menutupi sesuatu justru makin memperkeruh suasana hatinya yang sudah kacau akibat pesan dari Alya.Melihat Zayn yang kukuh menolak bertemu malam ini, pikiran Azalea langsung berputar mencari jalan kelua
Malam makin larut saat Azalea merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasa lelah setelah seharian ikut kegiatan bakti sosial membuat matanya berat. Namun, tepat ketika ia hendak mematikan lampu kamar, ponselnya berdenting, menandakan ada pesan masuk.Azalea mengurungkan niatnya untuk tidur, ia meraih ponsel lalu membuka pesan. Dahi gadis itu berkerut dalam saat mendapati pengirimnya adalah nomor yang tidak dikenal.Layar ponselnya menampilkan sebuah foto testpack dengan dua garis yang sangat jelas. Belum sempat Azalea mencerna maksud gambar itu, sebuah pesan teks langsung menyusul di bawahnya.[Lea, aku yakin kamu sangat penasaran kenapa Ibu dan Kakek Adinata sangat cemas denganku siang tadi. Kondisiku memang sedang sangat butuh perhatian.]Azalea mematung sesaat. Otaknya butuh waktu beberapa detik untuk mencerna korelasi antara foto, kalimat penuh teka-teki itu, serta kejadian siang tadi. Hingga akhirnya sebuah nama terlintas di kepalanya, memicu rasa curiga. Ia yakin pengirim pesan in
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a







