LOGIN"Ah, haha ... tidak Zayn." Ezra tertawa bodoh, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku rasa tidak akan meminjam Azalea lagi, aku akan cari teman wanita lain saja!" ucapnya bergeser beberapa langkah lalu memilih kabur dari ruangan itu. Ezra memilih pergi ketimbang harus mendapat pelototan Zayn. Ia kembali ke kelas, di saat itu lagi-lagi ia mendengar suara Naura dan keributan di kelasnya. "Al, kamu jangan sampe deket sama Lea lagi. Dia cuma parasit yang nggak tahu diri!" Suara Naura keras. Gadis itu duduk di meja Alvano dengan beberapa siswa duduk di sekitarnya. "Sekarang saja Lea sedang coba mendekati Zayn! Aku tahu, diam-diam Lea sering merayu dan menggoda pacarku!" "Serius? Pantas saja sekarang kamu nggak deket lagi sama Lea dan memilih pindah tempat duduk!" Naura tersenyum miring dengan mimik wajah menunjukan ketidaksukaan saat nama Azalea disebut. "Ya iyalah, aku udah tahu belangnya! Cuma aku diem ajah pura-pura tidak tahu. Aku cuma tidak mau ribut. Soalnya dia lebi
"Hei, kenapa bengong?" "A-pa? Aku tidak apa-apa!" jawab Azalea tersadar dari lamunannya. "Aku yang salah, maafkanku," ucap Azalea tidak ingin memperpanjang masalah. Ia segera menyingkir sebelum Alya semakin kasar padanya. Marvel mengangkat sebelah alisnya, ia pandangi putrinya yang berwajah tegang dan memerah. "Kamu sungguh marah hanya karena masalah sepele?""Ayah!" Alya mulai merengek. "Apa Ayah masih belum tahu juga? Gadis itu yang bermasalah dengan Alya! Dia yang membuatku di DO dari sekolah!" Mendengarnya Marvel jadi paham kenapa putrinya bersikap seketus itu. "Oh, jadi itu gadis yang kamu bully?" Berbeda dengan ibunya, ayah Alya menanggapi dengan sedikit lebih bijak. "Alya, tidak sepenuhnya ia bersalah! Justru kamu yang harusnya intropeksi." Marvel bergeleng, ia tidak tahu banyak dengan masalah yang menimpa anaknya sebelumnya, atau lebih tepatnya Marvel tidak cukup peduli. Marta yang selama ini mengurus semua tentang putrinya, Marvel hanya berperan sebagai ayah yang sibuk
"Langsung antar pulang!" titah Zayn pada supirnya. Ia mengantar Azalea pulang lebih dulu. Sepanjang jalan gadis itu terdiam dan memilih memejamkan mata. Lelah membuatnya ingin tidur. Sedangkan Zayn anteng bermain ponsel. Berita tentang kompetisi melukis langsung menyebar begitu acara selesai. Acara itu masuk salah satu kabar berita di stasiun TV nasional, juga mulai ramai di sosial media. Yang paling menarik perhatian acara, ketika reporter berhasil mewawancarai Adinata--tokoh yang dianggap penting dan berpengaruh dalam dunia pendidikan. Di stasiun televisi disiarkan secara runtut, mulai dari para peserta kompetisi membuat karyanya, hingga saat penjurian, dan akhirnya pemenang diumumkan. Namun ada beberapa bagian yang dipotong. Berbeda dengan itu, di sosial media justru ramai membicarakan potongan video saat Adinata bertanya pada salah satu peserta dan memintanya untuk menjelaskan tentang karyanya. Di situ wajah Azalea terlihat, ia yang sedang menjelaskan tentang karya yang dilu
"Agar tanganmu lebih baik." Zayn mengusap tangan Azalea sebentar, keduanya saling tatap. Azalea bisa merasakan bagaimana perhatian itu dan rasa hangat yang tidak hanya di tangannya namun sampai ke dalam dada. Jantungnya jadi berdebar kencang. Zayn kembali berdiri tegap lalu melangkah menyusul kakeknya. Azalea terdiam sejenak, memperhatikan punggung lelaki itu hingga jauh sembari meminum obat tablet yang tadi diberi.Senyumnya terulas, ia jadi merasa aneh--tidak bisa menahan rasa senang yang datang tiba-tiba. Obat dari Zayn membuat nyeri di tangan Azalea sedikit berkurang. Gadis itu kembali melanjutkan lukisannya hingga waktu yang ditentukan panitia selesai. Setelah waktu habis, semua peserta lomba diminta keluar untuk sterilisasi area. Sementara tim juri mulai melakukan penilaian. Selagi menunggu, Zayn mengajak Azalea untuk makan siang bersama di salah satu restoran tak jauh dari sana. "Tanganmu sakit?" Zayn mengagetkan Azalea saat tiba-tiba sebuah sendok tersodor ke arahnya le
Azalea menarik tangannya, ia memaksakan senyumnya. Tidak ingin Zayn ikut cemas dengan keadaannya sekarang. "Kena air panas," jawab Azalea jujur. Namun ia agak ragu untuk menceritakan yang sesungguhnya. "Kamu bisa melanjutkan kompetisi?" Azalea mengangguk. "Masih bisa pegang kuas, aku yakin bisa!" Zayn terdiam, ia tampak sedang berpikir. Kompetisi akan dimulai setengah jam lagi, dan ia baru tahu kalau tangan Azalea terluka. Sebelumnya Azalea tidak mengatakan apa pun bahkan lewat pesan. Kompetisi itu pun berlangsung, Azalea duduk di posisi yang sudah ditentukan. Terhitung ada tiga puluh siswa yang mengikuti kompetisi itu, dan mereka sepertinya sudah profesional. Azalea yakin bisa merampungkan lukisannya meski dengan susah payah, namun yang membuatnya ragu justru karena teringat dengan lukanya. Luka itu adalah tanda jika ada seseorang yang tidak suka dengan Azalea mengikuti kompetisi. Karena tidak mungkin seseorang yang tidak kenal tiba-tiba meneyerang tanpa maksud, semua in
Zayn berdiri, ia terlihat enggan mendengarkan cerita Azalea lagi. "Zayn, mau ke mana?" Azalea menyusul Zayn yang melangkah pergi. Pemuda itu berjalan menuju ruang seni, ia lalu masuk dan duduk di salah satu kursi. "Besok kompetisi melukis, kamu sudah mempersiapkan semua?"Azalea masih berdiri, melihat sekitar dan mencari sesuatu yang menarik perhatiannya. "Sudah. Karena kompetisinya on the spot, jadi aku hanya memikirkan desainnya di kepala. Besok tinggal kutuangkan di kanvas," Azalea tersenyum meyakinkan."Kamu tenang saja, aku sudah memikirkannya matang-matang dengan tema yang kebetulan sangat cocok dengan kompetisi itu."Azalea terlihat sangat optimis sekarang, membahas tentang lukisan, Zayn tidak lupa jika ia pernah mematahkan alat lukis Azalea. ***Haikal tidak tega melihat Naura yang memasang wajah murung. Gadis itu sedih karena merasa cemburu pada Azalea yang semakin dekat dengan Zayn. "Haikal, bukan aku benci Lea, aku hanya ingin Lea menjauh dari Zayn. Kamu tahu sendir
"Bukan seperti itu! Kubilang usap saja," kata Zayn lagi ketika pijatan Azalea melenceng dari aturannya. Azalea menghela napas. Mereka tidak lagi di ruang kesehatan, melainkan sudah pulang dan berada di apartemen Zayn. Namun pemuda itu terus saja memberi banyak perintah pada Azalea. Azalea mengusa
Azalea mematung, ia tidak menyangka Zayn akan mendekat hanya untuk mengingatkan tugasnya. Zayn mendengus dingin, lalu kembali ke posisinya. Peluit berbunyi, dan atmosfer di lapangan mendadak berubah menegangkan.Meskipun tim Alvano didominasi oleh anak-anak pencinta rumus, keberadaan Ezra sebag
"Aku tidak berminat mengajarimu, Lea. Tapi melihat catatanmu saja aku sudah sangat yakin, kamu tertinggal jauh dari teman sekelasmu sekarang." Azalea terdiam, ia mungkin tidak menyangka jika catatannya akan dikritisi Zayn. Padahal di sekolahnya dulu, buku catatan miliknya selalu menjadi kitab pal
"Zayn, apa kamu ingin aku ambilkan minum?" tanya Azalea saat ia merasa bingung tidak ada kerjaan, sementara sejak tadi Zayn hanya diam saja dan sibuk dengan ponsel. "Tidak.""Atau kamu butuh sesuatu? Aku akan--""Duduklah," titah Zayn sambil menggerakan dagunya ke arah sofa. Azalea meringis cang







