LOGIN
Agam merasa sangat lelah, dia hanya mampu menyaksikan Andin membawa kotak makanan itu ke dalam gedung.Dia teringat akan masa lalu.Dulu, dia selalu melewatkan sarapan dan sering menderita sakit maag.Andin akan menyiapkan berbagai macam sup setiap kali dia pulang kerja. Agam akan menemukan semangkuk sup hangat di meja, dan selalu berganti menu."Agam, ayo cepat cicipi, ini resep baru. Dijamin akan menghangatkan perutmu!"Namun sekarang, semangkuk sup itu masih tetap dimasak, tetapi sudah bukan untuknya lagi.Agam menangkupkan tangan di wajahnya, tidak mampu lagi menahan rasa sesak di dada, kemudian menangis tersedu-sedu.Dia bertemu Andin lagi lima tahun kemudian.Sepupunya Agam mengajak keluar untuk berjalan-jalan, atas permintaan Bu Vina.Di sebuah pusat perbelanjaan, dia bertemu dengan sepasang gadis kembar.Kedua gadis kecil itu sedang diam-diam berbagi es krim."Cepat makan, nanti bisa ketahuan mama!""Giliranku! Giliranku sekarang!" Agam terpesona menatap kedua gadis itu, kare
Kerumunan orang perlahan mulai bubar, dan para tamu pun beranjak ke lokasi berikutnya.Mina memandang Agam yang duduk terkapar di aspal.Dia kemudian berbicara dengan suara pelan."Agam, aku sudah tahu lama kalau hari ini Andin akan menikah."Agam tiba-tiba menatapnya, sorot matanya penuh dengan ketidakpercayaan."Jadi, itu alasanmu terus memintaku menemanimu?"Mina mengangguk."Aku hanya ingin kau sadar, kalau dia sama sekali tidak mencintaimu!""Aku sudah menyukaimu selama ini! Jelas-jelas aku lebih cocok untukmu daripada Andin!""Kau juga mencintaiku, kan?"Agam memejamkan mata dengan kuat, hatinya terasa seperti diremas hancur oleh sebuah tangan tak terlihat.Dia mengira Andin akan selalu menunggunya.Dia mengira Andin adalah orang yang mudah dibujuk.Dia bahkan secara konyol berpikir, bahwa selembar akta nikah bisa menutupi semua keberpihakan dan pengkhianatannya.Dia sungguh bodoh.Saat membuka mata kembali, tatapannya sudah dipenuhi tekad."Mina, janji yang kuberikan padamu, sud
Mina menarik lengan Agam dari belakang."Agam, tenanglah!"Namun, dia justru disingkirkan oleh Agam. Saat hendak berteriak lagi, sebuah suara tegas menghentikannya."Agam."Saat menoleh, ternyata itu adalah ibunya Andin, Bu Leni."Apa kau datang untuk mengganggu?"Agam seolah sedang menggenggam satu-satunya harapan terakhir, dia lalu mendekat dengan langkah lebar."Tante, ada apa ini?""Kenapa Andin bisa ada di sini dan jadi pengantin wanita?""Kami sebentar lagi akan segera mendaftarkan pernikahan."Bu Leni malah tersenyum mendengar ucapannya, lalu melirik ke arah Mina dengan nada mengejek."Agam, kau pasti bercanda, kan? Bukannya ini pacarmu?""Lantas, kau mau mendaftarkan pernikahan macam apa dengan anakku?"Wajah Agam seketika memucat.Suaranya mengecil, dan refleks disertai nada bersalah yang bahkan dia sendiri tidak sadari."Bukan begitu, Tante. Aku cuma menganggap Mina sebagai adik saja ....""Hubungan kami sudah berjalan tujuh tahun!""Aku sudah berjanji pada Andin, besok kami
Tepat saat penutup kepala pengantin berwarna merah itu hampir terangkat oleh hembusan angin, seorang pengiring pengantin di samping segera menahannya.Namun seiring gerakannya, wajah pengiring pengantin itu menoleh, ternyata itu adalah Yulia.Yulia adalah sahabat baik Andin.Jantungnya seketika berdebar kencang, pandangannya terpaku pada sang pengantin wanita.Semakin lama dia memandangnya, semakin terasa familier, dan sebuah perasaan ganjil yang begitu kuat meluap di hatinya.Mengapa meski hanya sesaat, dia merasa pengantin wanita itu adalah Andin?Ini benar-benar tidak masuk akal!Namun, perasaan aneh di hatinya tak bisa ditekan sama sekali.Mina dengan nada riang menarik lengannya."Agam, coba lihat itu, perahu pengantinnya penuh bunga magnolia, cantik sekali!"Suara itu bagaikan petir yang menyambar di benaknya.Dia teringat kata-kata yang pernah diucapkan Andin."Agam, di hari pernikahan nanti, aku ingin kapal pengantinku dipenuhi dengan bunga magnolia! Pasti akan jadi yang paling
Selama seminggu berikutnya, Agam terus menemani Mina.Memenuhi segala macam kebutuhannya.Selama waktu itu, Agam terkadang mengirim pesan kepada Andin, tetapi Andin tidak pernah membalasnya.Pada malam hari keenam, Mina mengajaknya menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.Sepanjang malam itu, pikiran Agam terus melayang dan tampak linglung.Karena sudah lama sekali Andin tidak membalas pesannya.Bukan hanya tidak membalas, Andin juga tidak menanyakan kapan dia akan pulang seperti biasanya.Ini sangat tidak wajar, apakah wanita itu masih marah?Padahal dia sudah berjanji, begitu pulang akan segera mendaftarkan pernikahan mereka, jadi apa lagi yang bisa membuat Andin marah?Dengan perasaan gelisah, dia meneguk segelas minuman lagi.Teman-teman perempuan Mina mulai menggoda mereka."Pacar tujuh hari ini manis sekali! Menurutku sih, mana mungkin hanya tujuh hari, ini jelas-jelas pengumuman cinta sejati!""Ini bukan hanya menemani sementara, menurutku kalian berdua cepat atau
Undangan pernikahan itu seolah-olah dibuat khusus untuknya.Di sana tertulis, [Toni Yuaris dengan tulus mengundang Anda untuk hadir.]Selain itu, tidak ada tulisan lain.Agam mengenal Toni, dia adalah seniornya semasa kuliah, yang dulu juga pernah mengejar Andin, meskipun saat itu Andin sudah menjalin hubungan dengannya.Namun, apakah hubungan mereka memang sedekat itu?Agam tidak terlalu tertarik dan merasa semua ini agak membingungkan.Agam membalas pesan ibunya, dan mengatakan bahwa dia tidak punya waktu.Lalu, dia naik ke lantai atas.Begitu masuk, Mina langsung menerjang dan memeluknya erat."Agam, akhirnya kau datang!""Aku sangat takut."Agam merasakan kelembutan di pelukannya, seluruh tubuhnya sempat kaku sejenak.Namun, akal sehat tetap membuatnya mendorong wanita di pelukannya itu menjauh dengan lembut."Mina, berdiri dulu."Saat menunduk, dia melihat Mina hanya mengenakan piyama tidur tipis berwarna merah muda.Rambut panjangnya yang basah menempel di leher, matanya memerah,







