Share

Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu
Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu
Author: Ges

Bab 1

Author: Ges
Ketika perahu baru yang dihiasi dengan bunga mawar itu diluncurkan ke tengah sungai, beberapa orang mulai bersorak dan mendorong.

"Andin, cepat naik ke perahu!"

“Andin, setelah tujuh tahun, hubungan kalian akhirnya masuk ke jenjang pernikahan!”

Sahabatku yang bernama Yulia Rosan terdengar begitu bersemangat, dia merasa sangat bahagia untukku.

Di bawah sorotan mata semua orang, Agam turun dari perahu dan berjalan ke arahku.

Dia hanya berhenti sejenak di sampingku, lalu berjalan melewatiku begitu saja.

Hingga akhirnya dia berhenti tepat di hadapan Mina, nada suaranya terdengar santai dan penuh kasih sayang.

“Ini hadiah ulang tahunmu, apa kau menyukainya?”

Suasana di sekitar kami menjadi sunyi penuh kecanggungan.

Mina menutup mulutnya dengan sorot mata bahagia penuh keterkejutan.

Mereka berdua lalu berjalan beriringan menuju perahu itu.

Saat dia kembali melewatiku kali ini, Agam berhenti dan berbicara dengan nada datar dan santai.

"Andin, kapal ini akan kuberikan untuk Mina dulu. Kapal berikutnya sudah mulai dibuat. Jadi, jangan khawatir soal ini, ya."

Beberapa orang menonton pertunjukan, dan beberapa orang menatapku.

Seolah-olah mereka sedang menunggu diriku, si petasan Kota Muara Apung yang terkenal, untuk menimbulkan keributan besar.

Tetapi, aku hanya menatapnya dengan tenang.

“Tidak perlu, Agam.”

Dia sedikit terkejut, seolah tidak membayangkan akan menerima reaksi seperti itu.

Melihat suasana yang canggung, sahabat-sahabatnya Agam mulai berbicara mewakilinya.

"Andin, jangan berpikir yang tidak-tidak. Agam hanya membantu Mina mewujudkan salah satu keinginan di hari ulang tahunnya!"

“Iya, benar. Pengantinnya Agam nanti, tetap kau.”

Aku merasa ingin tertawa ketika mendengar alasan mereka yang konyol.

Yulia mengertakkan gigi di sampingku.

"Bagaimana bisa Agam melakukan ini?"

"Dia jelas tahu bahwa seorang pria hanya bisa membuat satu perahu dayung dalam hidupnya!"

Ada rasa pedih muncul di hatiku.

Ucapannya memang benar. Di Kota Muara Apung, bahkan anak-anak berusia tiga tahun pun sudah tahu bahwa seorang pria akan menikahi istrinya dengan memberikan mahar berupa perahu dayung pertama yang dia buat, sebagai lambang cinta sejati seumur hidupnya.

Suara di samping telingaku terdengar agak tertahan.

"Andin, aku merasa kesal sekali ...."

“Demi seorang asisten yang ingin naik posisi, apakah Agam sudah buta?”

Sebenarnya, dia bukan hanya seorang asisten biasa, dia adalah putri seorang teman lama Keluarga Laguna yang dipercayakan untuk dirawat oleh Keluarga Laguna.

Jadi, Agam memberi Mina perhatian dan kasih sayang yang tidak terbatas.

Agam selalu membawanya ke berbagai acara, dan menyertakan dirinya untuk hadiah festival apapun yang diberikan padaku.

Bahkan perahu pernikahan yang telah kunantikan selama tujuh tahun ini, malah diberikan kepadanya hanya karena sebuah keinginan di hari ulang tahun.

“Itu tidak penting lagi, Yulia.”

Aku menepuk lembut tangannya.

Tak lama kemudian, kedua orang di kapal itu menyelesaikan upacara peluncuran dan kembali naik ke darat.

Mina masih menyisakan senyuman di wajahnya. Dia datang dengan melompat-lompat kecil, nada suaranya terdengar menggemaskan seperti biasa.

"Andin, Agam cuma memenuhi keinginan ulang tahunku. Kau jangan marah ya."

Dia menyebut nama Agam dengan sangat mesra.

Tepat saat aku hendak berbicara, Agam sudah melangkah maju dan memegang bahuku.

“Andin, itu hanya sebuah perahu.”

“Ada banyak orang di sini, jangan buat masalah.”

Nada suaranya terdengar lembut, tetapi terpancar sebuah peringatan di sorot matanya.

"Tidak akan."

Aku mundur selangkah, tersenyum dan mengangguk ke arah Mina.

"Selamat ulang tahun."

Begitu aku selesai mengatakan itu, ada keheningan yang aneh terasa di sekitarku.

Agam menatap tangannya yang kosong dan tertegun sejenak.

Memang benar. Kalau dulu, aku pasti sudah mengamuk dan membuat keributan.

Yulia yang sudah tidak tahan, langsung bertanya dengan suara keras.

“Agam, kau sudah memberi Mina perahu. Lalu, kau akan melamar Andin pakai apa?”

"Dia sudah menunggumu selama tujuh tahun. Berikan kepastian!"

Semua mata tertuju padanya.

Aku juga memandangnya dengan tenang, masih ada sedikit harapan yang muncul di hatiku.

Agam, ini kesempatan terakhir yang kuberikan padamu.

Satu detik, dua detik.

Jari-jariku mengepal erat menusuk telapak tanganku sendiri. Ketika aku tidak tahan lagi dan ingin mencairkan suasana.

Agam terkekeh dan berbicara dengan santai.

"Pasti, lain kali."

Sangat ringan, sebuah jawaban retorik dan asal-asalan.

Sisa cinta terakhir di dalam hatiku saat itu ibaratkan sebuah balon yang meletus, dan akhirnya kempes tak bersisa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 10

    Agam merasa sangat lelah, dia hanya mampu menyaksikan Andin membawa kotak makanan itu ke dalam gedung.Dia teringat akan masa lalu.Dulu, dia selalu melewatkan sarapan dan sering menderita sakit maag.Andin akan menyiapkan berbagai macam sup setiap kali dia pulang kerja. Agam akan menemukan semangkuk sup hangat di meja, dan selalu berganti menu."Agam, ayo cepat cicipi, ini resep baru. Dijamin akan menghangatkan perutmu!"Namun sekarang, semangkuk sup itu masih tetap dimasak, tetapi sudah bukan untuknya lagi.Agam menangkupkan tangan di wajahnya, tidak mampu lagi menahan rasa sesak di dada, kemudian menangis tersedu-sedu.Dia bertemu Andin lagi lima tahun kemudian.Sepupunya Agam mengajak keluar untuk berjalan-jalan, atas permintaan Bu Vina.Di sebuah pusat perbelanjaan, dia bertemu dengan sepasang gadis kembar.Kedua gadis kecil itu sedang diam-diam berbagi es krim."Cepat makan, nanti bisa ketahuan mama!""Giliranku! Giliranku sekarang!" Agam terpesona menatap kedua gadis itu, kare

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 9

    Kerumunan orang perlahan mulai bubar, dan para tamu pun beranjak ke lokasi berikutnya.Mina memandang Agam yang duduk terkapar di aspal.Dia kemudian berbicara dengan suara pelan."Agam, aku sudah tahu lama kalau hari ini Andin akan menikah."Agam tiba-tiba menatapnya, sorot matanya penuh dengan ketidakpercayaan."Jadi, itu alasanmu terus memintaku menemanimu?"Mina mengangguk."Aku hanya ingin kau sadar, kalau dia sama sekali tidak mencintaimu!""Aku sudah menyukaimu selama ini! Jelas-jelas aku lebih cocok untukmu daripada Andin!""Kau juga mencintaiku, kan?"Agam memejamkan mata dengan kuat, hatinya terasa seperti diremas hancur oleh sebuah tangan tak terlihat.Dia mengira Andin akan selalu menunggunya.Dia mengira Andin adalah orang yang mudah dibujuk.Dia bahkan secara konyol berpikir, bahwa selembar akta nikah bisa menutupi semua keberpihakan dan pengkhianatannya.Dia sungguh bodoh.Saat membuka mata kembali, tatapannya sudah dipenuhi tekad."Mina, janji yang kuberikan padamu, sud

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 8

    Mina menarik lengan Agam dari belakang."Agam, tenanglah!"Namun, dia justru disingkirkan oleh Agam. Saat hendak berteriak lagi, sebuah suara tegas menghentikannya."Agam."Saat menoleh, ternyata itu adalah ibunya Andin, Bu Leni."Apa kau datang untuk mengganggu?"Agam seolah sedang menggenggam satu-satunya harapan terakhir, dia lalu mendekat dengan langkah lebar."Tante, ada apa ini?""Kenapa Andin bisa ada di sini dan jadi pengantin wanita?""Kami sebentar lagi akan segera mendaftarkan pernikahan."Bu Leni malah tersenyum mendengar ucapannya, lalu melirik ke arah Mina dengan nada mengejek."Agam, kau pasti bercanda, kan? Bukannya ini pacarmu?""Lantas, kau mau mendaftarkan pernikahan macam apa dengan anakku?"Wajah Agam seketika memucat.Suaranya mengecil, dan refleks disertai nada bersalah yang bahkan dia sendiri tidak sadari."Bukan begitu, Tante. Aku cuma menganggap Mina sebagai adik saja ....""Hubungan kami sudah berjalan tujuh tahun!""Aku sudah berjanji pada Andin, besok kami

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 7

    Tepat saat penutup kepala pengantin berwarna merah itu hampir terangkat oleh hembusan angin, seorang pengiring pengantin di samping segera menahannya.Namun seiring gerakannya, wajah pengiring pengantin itu menoleh, ternyata itu adalah Yulia.Yulia adalah sahabat baik Andin.Jantungnya seketika berdebar kencang, pandangannya terpaku pada sang pengantin wanita.Semakin lama dia memandangnya, semakin terasa familier, dan sebuah perasaan ganjil yang begitu kuat meluap di hatinya.Mengapa meski hanya sesaat, dia merasa pengantin wanita itu adalah Andin?Ini benar-benar tidak masuk akal!Namun, perasaan aneh di hatinya tak bisa ditekan sama sekali.Mina dengan nada riang menarik lengannya."Agam, coba lihat itu, perahu pengantinnya penuh bunga magnolia, cantik sekali!"Suara itu bagaikan petir yang menyambar di benaknya.Dia teringat kata-kata yang pernah diucapkan Andin."Agam, di hari pernikahan nanti, aku ingin kapal pengantinku dipenuhi dengan bunga magnolia! Pasti akan jadi yang paling

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 6

    Selama seminggu berikutnya, Agam terus menemani Mina.Memenuhi segala macam kebutuhannya.Selama waktu itu, Agam terkadang mengirim pesan kepada Andin, tetapi Andin tidak pernah membalasnya.Pada malam hari keenam, Mina mengajaknya menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.Sepanjang malam itu, pikiran Agam terus melayang dan tampak linglung.Karena sudah lama sekali Andin tidak membalas pesannya.Bukan hanya tidak membalas, Andin juga tidak menanyakan kapan dia akan pulang seperti biasanya.Ini sangat tidak wajar, apakah wanita itu masih marah?Padahal dia sudah berjanji, begitu pulang akan segera mendaftarkan pernikahan mereka, jadi apa lagi yang bisa membuat Andin marah?Dengan perasaan gelisah, dia meneguk segelas minuman lagi.Teman-teman perempuan Mina mulai menggoda mereka."Pacar tujuh hari ini manis sekali! Menurutku sih, mana mungkin hanya tujuh hari, ini jelas-jelas pengumuman cinta sejati!""Ini bukan hanya menemani sementara, menurutku kalian berdua cepat atau

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 5

    Undangan pernikahan itu seolah-olah dibuat khusus untuknya.Di sana tertulis, [Toni Yuaris dengan tulus mengundang Anda untuk hadir.]Selain itu, tidak ada tulisan lain.Agam mengenal Toni, dia adalah seniornya semasa kuliah, yang dulu juga pernah mengejar Andin, meskipun saat itu Andin sudah menjalin hubungan dengannya.Namun, apakah hubungan mereka memang sedekat itu?Agam tidak terlalu tertarik dan merasa semua ini agak membingungkan.Agam membalas pesan ibunya, dan mengatakan bahwa dia tidak punya waktu.Lalu, dia naik ke lantai atas.Begitu masuk, Mina langsung menerjang dan memeluknya erat."Agam, akhirnya kau datang!""Aku sangat takut."Agam merasakan kelembutan di pelukannya, seluruh tubuhnya sempat kaku sejenak.Namun, akal sehat tetap membuatnya mendorong wanita di pelukannya itu menjauh dengan lembut."Mina, berdiri dulu."Saat menunduk, dia melihat Mina hanya mengenakan piyama tidur tipis berwarna merah muda.Rambut panjangnya yang basah menempel di leher, matanya memerah,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status