Share

Bab 3

Author: Ges
Gelas air di tangan Agam sedikit bergetar, lalu dia terkekeh.

“Kau sedang ganti taktik ya? Kau tidak akan berhenti sampai aku membongkar permainanmu ini, kan?”

Aku tertegun, tidak langsung mengerti apa yang dia maksudkan.

Dia mencibir.

“Bukannya tadi kau yang menyuruh Yulia memaksaku melamarmu, kan?”

“Kenapa? Apa karena gagal memaksaku, jadi kau sekarang pura-pura minta putus?”

Saat itu, aku akhirnya mengerti. Dia berpikir bahwa ucapan Yulia hari ini adalah perintah dariku untuk memaksanya melamar.

Aku merasa hal ini sedikit tidak masuk akal, tetapi aku tidak menjelaskan apa pun.

Aku hanya mengangguk.

“Iya, gagal memaksamu, jadi aku ingin menikah dengan orang lain saja.”

Setelah aku selesai berbicara, ekspresi sinis di wajahnya semakin terlihat jelas.

“Andin, apa kau beneran ingin putus denganku?”

“Sudahlah, jangan dibesar-besarkan lagi.”

“Usiamu itu sudah dua puluh delapan tahun, selain aku, memangnya siapa lagi yang bisa kau nikahi?”

“Sekarang kita tidur saja. Besok kita harus pulang untuk merayakan ulang tahun nenek.”

Dia lalu berbalik dan berjalan menuju kamar tidur.

Aku memperhatikan sosoknya yang menjauh, dan hanya ada rasa lelah yang tersisa di hatiku.

Keesokan harinya, aku tetap menghadiri pesta ulang tahun Nenek Yeri.

Nenek Yeri pernah memberiku cincin giok sebelumnya, sehingga aku merasa harus mengembalikannya.

Ketika aku tiba di rumah Keluarga Laguna, Ibunya Agam, Bu Vina, terlihat sedang berdiri di depan pintu bersama Mina yang tampak menggandeng lengannya. Matanya berkerut karena tersenyum, tampak seperti calon menantu sungguhan.

Mina melihat kami terlebih dahulu, dia langsung tersenyum lebar dan berjalan ke arahku.

“Andin, Agam bilang kau marah. Kukira kau tidak akan datang hari ini!”

Dia sengaja memamerkan gelang giok di pergelangan tangannya. Itu adalah gelang khusus yang akan diberikan kepada menantu Keluarga Laguna.

Nenek Yeri punya cincin, sedangkan Bu Vina punya sebuah gelang.

Namun, Agam sudah lama meminta gelang itu dari ibunya, dan mengatakan akan memasangkannya sendiri ke tanganku nanti.

Sekarang, sepertinya aku sudah tidak membutuhkannya lagi.

Agam juga melihat hal itu dan menunduk untuk menjelaskan padaku.

"Mina hanya meminjamnya sebentar, dia akan mengembalikannya nanti. Jangan terlalu dipikirkan."

Bu Vina juga berjalan mendekat, ekspresinya tenang, namun nada suaranya menyiratkan sebuah teguran.

"Kau sudah sampai?"

"Aku sudah dengar tentang kejadian kemarin. Itu kan hanya perahu saja."

"Mina sekarang tidak punya siapa-siapa, sudah seharusnya kita memperlakukannya dengan lebih baik. Kendalikan emosimu itu, jangan sampai membuat dirimu sendiri jadi bahan tertawaan orang tanpa alasan."

Semua orang mengira aku akan marah, tetapi tidak ada satu pun yang menghentikan tindakan Agam.

Aku merasa itu agak menggelikan.

Agam mengulurkan tangan, refleks ingin merangkul pinggangku, mencoba menenangkanku dengan gestur penuh kasih sayang seperti biasanya, tetapi aku langsung sigap menghindar.

Tangannya membeku di udara, dan alis Agam langsung mengerut.

"Kau mau apa sekarang?"

Agam merendahkan suaranya, terdengar sedikit amarah yang tertahan.

"Ini hari ulang tahun nenek, jangan merusak suasana. Aku akan meminta maaf saat kita pulang nanti, oke?"

Aku mendongak dengan tenang dan menatap matanya.

"Aku beneran tidak marah."

Aku mengeluarkan cincin giok itu, lalu menyerahkannya dengan mantap kepada Bu Vina.

"Tante, berikan saja cincin ini untuk Mina. Aku tidak akan masuk dan mengganggu Nenek Yeri."

Melihat hal itu, pupil mata Agam tiba-tiba menyempit.

Mina mencengkeram pinggiran roknya, dia memasang wajah kesal sekaligus pengertian.

"Andin, apa kau sedang merajuk?"

"Agam, ini semua salahku. Aku sudah serakah dan mengambil perahu itu ...."

"Aku sudah membuat Andin marah. Bagaimana kalau aku mengembalikan perahu dan gelang ini padanya ...."

Sambil berbicara, dia seolah teringat sesuatu dan buru-buru mencoba melepaskan gelang di tangannya.

Namun entah kenapa, meskipun gelang itu longgar, dia tidak bisa melepaskannya.

Benar saja, rasa gugup Agam saat melihatku mengeluarkan cincin tadi langsung hilang seketika.

Dia tersenyum dingin, lalu merebut cincin itu dari tanganku, dan berjalan menuju Mina.

"Tidak perlu dikembalikan. Aku sudah bilang itu hadiah, jadi itu adalah milikmu. Ini, pakai cincinnya sekalian."

Lalu, dia menatapku dengan sorot mata penuh penghinaan.

"Baiklah, Andin. Mari kita lihat berapa lama kau akan merajuk seperti ini!"

"Karena kau tidak menginginkannya lagi, biarkan Mina saja yang memakainya."

"Bukannya kau bilang tidak mau masuk? Kenapa masih belum pergi?"

Dulu, semakin provokatif Agam, maka semakin aku akan bertindak sebaliknya dan memilih untuk tetap tinggal.

Tetapi sekarang, aku hanya merasa lega.

"Kalau begitu, aku pulang dulu."

Aku berbalik dan melangkah pergi.

Di belakangku terdengar suara Mina yang penuh nasihat dan pengertian.

Kemarahan Agam terdengar semakin memuncak, suaranya semakin keras.

"Biarkan saja dia pergi! Dia itu sangat ingin menikah, mau menggunakan cara ini untuk mengendalikanku. Apa dia tidak sadar berapa umurnya sekarang!"

Aku tidak menoleh sama sekali, dan langsung naik ke dalam taksi.

Saat itu, pesan dari ibuku masuk.

[Andin, cepat lihat. Ini adalah perahu dayung milikmu.]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 10

    Agam merasa sangat lelah, dia hanya mampu menyaksikan Andin membawa kotak makanan itu ke dalam gedung.Dia teringat akan masa lalu.Dulu, dia selalu melewatkan sarapan dan sering menderita sakit maag.Andin akan menyiapkan berbagai macam sup setiap kali dia pulang kerja. Agam akan menemukan semangkuk sup hangat di meja, dan selalu berganti menu."Agam, ayo cepat cicipi, ini resep baru. Dijamin akan menghangatkan perutmu!"Namun sekarang, semangkuk sup itu masih tetap dimasak, tetapi sudah bukan untuknya lagi.Agam menangkupkan tangan di wajahnya, tidak mampu lagi menahan rasa sesak di dada, kemudian menangis tersedu-sedu.Dia bertemu Andin lagi lima tahun kemudian.Sepupunya Agam mengajak keluar untuk berjalan-jalan, atas permintaan Bu Vina.Di sebuah pusat perbelanjaan, dia bertemu dengan sepasang gadis kembar.Kedua gadis kecil itu sedang diam-diam berbagi es krim."Cepat makan, nanti bisa ketahuan mama!""Giliranku! Giliranku sekarang!" Agam terpesona menatap kedua gadis itu, kare

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 9

    Kerumunan orang perlahan mulai bubar, dan para tamu pun beranjak ke lokasi berikutnya.Mina memandang Agam yang duduk terkapar di aspal.Dia kemudian berbicara dengan suara pelan."Agam, aku sudah tahu lama kalau hari ini Andin akan menikah."Agam tiba-tiba menatapnya, sorot matanya penuh dengan ketidakpercayaan."Jadi, itu alasanmu terus memintaku menemanimu?"Mina mengangguk."Aku hanya ingin kau sadar, kalau dia sama sekali tidak mencintaimu!""Aku sudah menyukaimu selama ini! Jelas-jelas aku lebih cocok untukmu daripada Andin!""Kau juga mencintaiku, kan?"Agam memejamkan mata dengan kuat, hatinya terasa seperti diremas hancur oleh sebuah tangan tak terlihat.Dia mengira Andin akan selalu menunggunya.Dia mengira Andin adalah orang yang mudah dibujuk.Dia bahkan secara konyol berpikir, bahwa selembar akta nikah bisa menutupi semua keberpihakan dan pengkhianatannya.Dia sungguh bodoh.Saat membuka mata kembali, tatapannya sudah dipenuhi tekad."Mina, janji yang kuberikan padamu, sud

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 8

    Mina menarik lengan Agam dari belakang."Agam, tenanglah!"Namun, dia justru disingkirkan oleh Agam. Saat hendak berteriak lagi, sebuah suara tegas menghentikannya."Agam."Saat menoleh, ternyata itu adalah ibunya Andin, Bu Leni."Apa kau datang untuk mengganggu?"Agam seolah sedang menggenggam satu-satunya harapan terakhir, dia lalu mendekat dengan langkah lebar."Tante, ada apa ini?""Kenapa Andin bisa ada di sini dan jadi pengantin wanita?""Kami sebentar lagi akan segera mendaftarkan pernikahan."Bu Leni malah tersenyum mendengar ucapannya, lalu melirik ke arah Mina dengan nada mengejek."Agam, kau pasti bercanda, kan? Bukannya ini pacarmu?""Lantas, kau mau mendaftarkan pernikahan macam apa dengan anakku?"Wajah Agam seketika memucat.Suaranya mengecil, dan refleks disertai nada bersalah yang bahkan dia sendiri tidak sadari."Bukan begitu, Tante. Aku cuma menganggap Mina sebagai adik saja ....""Hubungan kami sudah berjalan tujuh tahun!""Aku sudah berjanji pada Andin, besok kami

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 7

    Tepat saat penutup kepala pengantin berwarna merah itu hampir terangkat oleh hembusan angin, seorang pengiring pengantin di samping segera menahannya.Namun seiring gerakannya, wajah pengiring pengantin itu menoleh, ternyata itu adalah Yulia.Yulia adalah sahabat baik Andin.Jantungnya seketika berdebar kencang, pandangannya terpaku pada sang pengantin wanita.Semakin lama dia memandangnya, semakin terasa familier, dan sebuah perasaan ganjil yang begitu kuat meluap di hatinya.Mengapa meski hanya sesaat, dia merasa pengantin wanita itu adalah Andin?Ini benar-benar tidak masuk akal!Namun, perasaan aneh di hatinya tak bisa ditekan sama sekali.Mina dengan nada riang menarik lengannya."Agam, coba lihat itu, perahu pengantinnya penuh bunga magnolia, cantik sekali!"Suara itu bagaikan petir yang menyambar di benaknya.Dia teringat kata-kata yang pernah diucapkan Andin."Agam, di hari pernikahan nanti, aku ingin kapal pengantinku dipenuhi dengan bunga magnolia! Pasti akan jadi yang paling

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 6

    Selama seminggu berikutnya, Agam terus menemani Mina.Memenuhi segala macam kebutuhannya.Selama waktu itu, Agam terkadang mengirim pesan kepada Andin, tetapi Andin tidak pernah membalasnya.Pada malam hari keenam, Mina mengajaknya menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.Sepanjang malam itu, pikiran Agam terus melayang dan tampak linglung.Karena sudah lama sekali Andin tidak membalas pesannya.Bukan hanya tidak membalas, Andin juga tidak menanyakan kapan dia akan pulang seperti biasanya.Ini sangat tidak wajar, apakah wanita itu masih marah?Padahal dia sudah berjanji, begitu pulang akan segera mendaftarkan pernikahan mereka, jadi apa lagi yang bisa membuat Andin marah?Dengan perasaan gelisah, dia meneguk segelas minuman lagi.Teman-teman perempuan Mina mulai menggoda mereka."Pacar tujuh hari ini manis sekali! Menurutku sih, mana mungkin hanya tujuh hari, ini jelas-jelas pengumuman cinta sejati!""Ini bukan hanya menemani sementara, menurutku kalian berdua cepat atau

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 5

    Undangan pernikahan itu seolah-olah dibuat khusus untuknya.Di sana tertulis, [Toni Yuaris dengan tulus mengundang Anda untuk hadir.]Selain itu, tidak ada tulisan lain.Agam mengenal Toni, dia adalah seniornya semasa kuliah, yang dulu juga pernah mengejar Andin, meskipun saat itu Andin sudah menjalin hubungan dengannya.Namun, apakah hubungan mereka memang sedekat itu?Agam tidak terlalu tertarik dan merasa semua ini agak membingungkan.Agam membalas pesan ibunya, dan mengatakan bahwa dia tidak punya waktu.Lalu, dia naik ke lantai atas.Begitu masuk, Mina langsung menerjang dan memeluknya erat."Agam, akhirnya kau datang!""Aku sangat takut."Agam merasakan kelembutan di pelukannya, seluruh tubuhnya sempat kaku sejenak.Namun, akal sehat tetap membuatnya mendorong wanita di pelukannya itu menjauh dengan lembut."Mina, berdiri dulu."Saat menunduk, dia melihat Mina hanya mengenakan piyama tidur tipis berwarna merah muda.Rambut panjangnya yang basah menempel di leher, matanya memerah,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status