Share

Bab 4

Author: Ges
Perahu dalam foto itu jauh lebih besar dan lebih indah.

Yang terpenting, seluruh badan perahunya tertutup bunga magnolia favoritku, tidak ada satu pun bunga mawar.

Sesampainya di rumah, aku pun mulai berkemas.

Pakaian sederhana, dokumen penting, semuanya kurapikan perlahan.

Dan, foto-foto kebersamaan kami selama bertahun-tahun ini, setiap bagian belakangnya berisi tulisan tangan.

Aku membolak-balik semua foto itu satu per satu.

Foto saat berada di Danau Erhu, dia menulis, [Aku akan tetap bersama Andin seumur hidup.]

Foto saat menyaksikan matahari terbit bersama, dia menulis, [Andin jauh lebih indah daripada matahari terbit ....]

Aku merapikan semua foto itu, lalu sempat merasa ragu sejenak, dan akhirnya membuang semua ke dalam tong sampah.

Beberapa saat kemudian, aku samar-samar mendengar suara deru mobil dari lantai bawah.

Karena tiba-tiba turun hujan, Agam pulang lebih awal.

Pintu lalu terbuka, dia masuk dengan membawa serta aroma parfum Mina.

Aku tak berhenti, dan terus melipat pakaian terakhir.

Agam melepas sepatunya, berjalan ke depan pintu kamar tidur, dan bersandar di kusen pintu.

Dia menyampirkan jasnya dengan santai di lengan, alisnya tampak berkerut karena rasa kesal.

"Sudah puas merajuknya?"

Nada suaranya tidak kasar, tetapi penuh dengan ketidakpedulian dan rasa merendahkan.

Aku menatapnya, lalu menutup koper, dan bersiap untuk menarik resletingnya.

Sikap dinginku telah benar-benar menghabiskan sisa kesabarannya.

Agam berjalan mendekat dan merebut koperku dengan kasar.

Cengkeramannya sangat kuat hingga koper itu mengeluarkan bunyi benturan yang nyaring.

"Apa kau masih belum selesai berulah?"

Dia mengerutkan kening, hingga alisnya berkerut.

"Akhir-akhir ini aku sudah sangat sibuk dengan urusan pekerjaan."

"Upacara peluncuran perahu, pesta ulang tahun nenek, tapi kau terus-terusan bersikap dingin padaku. Apa kau sengaja membuat semua orang menertawakanku?"

‘Kalau kau tidak sibuk, kau pasti punya waktu untuk menenangkan Mina.’

‘Yang terpenting, mereka bukan sedang menertawakanmu, tapi aku.’

"Aku tidak bersikap dingin padamu."

Dia mencengkeram pergelangan tanganku dan mencoba berkompromi, sesuatu yang menurutnya adalah bentuk sikap mengalah.

"Aku tahu kau merasa tidak senang. Lagipula, itu hanya perahu dan perhiasan kecil? Semuanya hanya masalah sepele."

Hal-hal tentangku memang sepele, dan hal-hal tentang Mina adalah masalah besar.

Aku menatapnya, dan tiba-tiba teringat apa yang pernah dia katakan di obrolan hari itu.

[Andin itu mudah dibujuk. Dia sangat mencintaiku, jadi tidak akan berani macam-macam.]

"Aku mau memberi tahu sesuatu. Aku dan Mina akan pergi untuk perjalanan dinas besok."

Dia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telingaku, dan melontarkan tawaran yang dia anggap paling menggiurkan buatku.

"Setelah pulang nanti, aku akan menyempatkan waktu untuk mendaftarkan pernikahan kita."

"Kau sudah menunggu selama tujuh tahun, bukannya demi akta nikah itu? Aku akan mengabulkan keinginanmu."

Dia mengatakannya dengan begitu santai, seolah-olah mengurus akta nikah denganku adalah sebuah anugerah besar darinya.

Dalam hatinya, perahu pernikahan itu bisa diberikan kepada orang lain, perlakuan istimewanya juga bisa diberikan kepada orang lain.

Semua pengecualian dan perlakuan istimewa bisa menjadi milik Mina.

Hanya selembar akta nikah itu saja yang disisakan untukku.

Aku menatapnya dan langsung tertawa.

Menertawakan waktu tujuh tahunku, yang akhirnya membusuk di perahu pernikahan berhiaskan bunga mawar yang bukan menjadi milikku itu.

Melihatku tertawa, Agam mengira aku sudah merasa puas, dia merasa sangat lega dan ekspresinya menjadi semakin rileks.

"Sudah senang sekarang? Tunggu aku di rumah baik-baik."

Dia berjalan keluar, sambil menekan layar ponselnya beberapa kali.

"Aku perlu melakukan panggilan video dengan Mina dan bersiap-siap untuk besok ...."

Aku memotong ucapannya.

"Agam, aku mau pulang ke Kota Muara Apung besok, aku akan ...."

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Dia mengangkat tangan, menghentikan ucapanku yang belum selesai.

"Mina, ada apa?"

Suara di ujung telepon terdengar panik.

"Jangan takut, aku akan ke sana sekarang."

Setelah menutup telepon, dia langsung mengenakan mantelnya dan berkata kepadaku.

"Di luar ada petir, Mina paling takut petir, jadi aku mau ke sana memeriksa keadaannya."

"Kita akan bicara lagi nanti."

Setelah itu, dia pergi dengan tergesa-gesa.

Kata-kata " ... akan menikah" yang belum sempat kuucapkan, terpaksa kutelan kembali.

...

Agam bergegas keluar, ponselnya kembali berdering beberapa kali.

Dia terkekeh, mengira aku sudah mulai tidak sabar, setelah mendengarnya setuju untuk mengurus akta pernikahan kami.

Saat tiba di bawah apartemen Mina, dia memeriksa ponselnya, dan menyadari itu bukan pesan dariku.

[Agam, ingat untuk menghadiri pernikahan pewaris Yuaris Group minggu depan.]

Kemudian, muncul sebuah gambar undangan pernikahan.

Setelah membaca isinya, tangannya yang berada di pintu mobil tiba-tiba membeku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 10

    Agam merasa sangat lelah, dia hanya mampu menyaksikan Andin membawa kotak makanan itu ke dalam gedung.Dia teringat akan masa lalu.Dulu, dia selalu melewatkan sarapan dan sering menderita sakit maag.Andin akan menyiapkan berbagai macam sup setiap kali dia pulang kerja. Agam akan menemukan semangkuk sup hangat di meja, dan selalu berganti menu."Agam, ayo cepat cicipi, ini resep baru. Dijamin akan menghangatkan perutmu!"Namun sekarang, semangkuk sup itu masih tetap dimasak, tetapi sudah bukan untuknya lagi.Agam menangkupkan tangan di wajahnya, tidak mampu lagi menahan rasa sesak di dada, kemudian menangis tersedu-sedu.Dia bertemu Andin lagi lima tahun kemudian.Sepupunya Agam mengajak keluar untuk berjalan-jalan, atas permintaan Bu Vina.Di sebuah pusat perbelanjaan, dia bertemu dengan sepasang gadis kembar.Kedua gadis kecil itu sedang diam-diam berbagi es krim."Cepat makan, nanti bisa ketahuan mama!""Giliranku! Giliranku sekarang!" Agam terpesona menatap kedua gadis itu, kare

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 9

    Kerumunan orang perlahan mulai bubar, dan para tamu pun beranjak ke lokasi berikutnya.Mina memandang Agam yang duduk terkapar di aspal.Dia kemudian berbicara dengan suara pelan."Agam, aku sudah tahu lama kalau hari ini Andin akan menikah."Agam tiba-tiba menatapnya, sorot matanya penuh dengan ketidakpercayaan."Jadi, itu alasanmu terus memintaku menemanimu?"Mina mengangguk."Aku hanya ingin kau sadar, kalau dia sama sekali tidak mencintaimu!""Aku sudah menyukaimu selama ini! Jelas-jelas aku lebih cocok untukmu daripada Andin!""Kau juga mencintaiku, kan?"Agam memejamkan mata dengan kuat, hatinya terasa seperti diremas hancur oleh sebuah tangan tak terlihat.Dia mengira Andin akan selalu menunggunya.Dia mengira Andin adalah orang yang mudah dibujuk.Dia bahkan secara konyol berpikir, bahwa selembar akta nikah bisa menutupi semua keberpihakan dan pengkhianatannya.Dia sungguh bodoh.Saat membuka mata kembali, tatapannya sudah dipenuhi tekad."Mina, janji yang kuberikan padamu, sud

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 8

    Mina menarik lengan Agam dari belakang."Agam, tenanglah!"Namun, dia justru disingkirkan oleh Agam. Saat hendak berteriak lagi, sebuah suara tegas menghentikannya."Agam."Saat menoleh, ternyata itu adalah ibunya Andin, Bu Leni."Apa kau datang untuk mengganggu?"Agam seolah sedang menggenggam satu-satunya harapan terakhir, dia lalu mendekat dengan langkah lebar."Tante, ada apa ini?""Kenapa Andin bisa ada di sini dan jadi pengantin wanita?""Kami sebentar lagi akan segera mendaftarkan pernikahan."Bu Leni malah tersenyum mendengar ucapannya, lalu melirik ke arah Mina dengan nada mengejek."Agam, kau pasti bercanda, kan? Bukannya ini pacarmu?""Lantas, kau mau mendaftarkan pernikahan macam apa dengan anakku?"Wajah Agam seketika memucat.Suaranya mengecil, dan refleks disertai nada bersalah yang bahkan dia sendiri tidak sadari."Bukan begitu, Tante. Aku cuma menganggap Mina sebagai adik saja ....""Hubungan kami sudah berjalan tujuh tahun!""Aku sudah berjanji pada Andin, besok kami

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 7

    Tepat saat penutup kepala pengantin berwarna merah itu hampir terangkat oleh hembusan angin, seorang pengiring pengantin di samping segera menahannya.Namun seiring gerakannya, wajah pengiring pengantin itu menoleh, ternyata itu adalah Yulia.Yulia adalah sahabat baik Andin.Jantungnya seketika berdebar kencang, pandangannya terpaku pada sang pengantin wanita.Semakin lama dia memandangnya, semakin terasa familier, dan sebuah perasaan ganjil yang begitu kuat meluap di hatinya.Mengapa meski hanya sesaat, dia merasa pengantin wanita itu adalah Andin?Ini benar-benar tidak masuk akal!Namun, perasaan aneh di hatinya tak bisa ditekan sama sekali.Mina dengan nada riang menarik lengannya."Agam, coba lihat itu, perahu pengantinnya penuh bunga magnolia, cantik sekali!"Suara itu bagaikan petir yang menyambar di benaknya.Dia teringat kata-kata yang pernah diucapkan Andin."Agam, di hari pernikahan nanti, aku ingin kapal pengantinku dipenuhi dengan bunga magnolia! Pasti akan jadi yang paling

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 6

    Selama seminggu berikutnya, Agam terus menemani Mina.Memenuhi segala macam kebutuhannya.Selama waktu itu, Agam terkadang mengirim pesan kepada Andin, tetapi Andin tidak pernah membalasnya.Pada malam hari keenam, Mina mengajaknya menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.Sepanjang malam itu, pikiran Agam terus melayang dan tampak linglung.Karena sudah lama sekali Andin tidak membalas pesannya.Bukan hanya tidak membalas, Andin juga tidak menanyakan kapan dia akan pulang seperti biasanya.Ini sangat tidak wajar, apakah wanita itu masih marah?Padahal dia sudah berjanji, begitu pulang akan segera mendaftarkan pernikahan mereka, jadi apa lagi yang bisa membuat Andin marah?Dengan perasaan gelisah, dia meneguk segelas minuman lagi.Teman-teman perempuan Mina mulai menggoda mereka."Pacar tujuh hari ini manis sekali! Menurutku sih, mana mungkin hanya tujuh hari, ini jelas-jelas pengumuman cinta sejati!""Ini bukan hanya menemani sementara, menurutku kalian berdua cepat atau

  • Janji Bunga Magnolia di Atas Perahu   Bab 5

    Undangan pernikahan itu seolah-olah dibuat khusus untuknya.Di sana tertulis, [Toni Yuaris dengan tulus mengundang Anda untuk hadir.]Selain itu, tidak ada tulisan lain.Agam mengenal Toni, dia adalah seniornya semasa kuliah, yang dulu juga pernah mengejar Andin, meskipun saat itu Andin sudah menjalin hubungan dengannya.Namun, apakah hubungan mereka memang sedekat itu?Agam tidak terlalu tertarik dan merasa semua ini agak membingungkan.Agam membalas pesan ibunya, dan mengatakan bahwa dia tidak punya waktu.Lalu, dia naik ke lantai atas.Begitu masuk, Mina langsung menerjang dan memeluknya erat."Agam, akhirnya kau datang!""Aku sangat takut."Agam merasakan kelembutan di pelukannya, seluruh tubuhnya sempat kaku sejenak.Namun, akal sehat tetap membuatnya mendorong wanita di pelukannya itu menjauh dengan lembut."Mina, berdiri dulu."Saat menunduk, dia melihat Mina hanya mengenakan piyama tidur tipis berwarna merah muda.Rambut panjangnya yang basah menempel di leher, matanya memerah,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status