Home / Romansa / Jarak Rindu / Chapter 6

Share

Chapter 6

Author: Caerine
last update Last Updated: 2025-11-25 22:43:40

Esok paginya, kantor terasa terlalu terang.

Bukan karena lampunya, tapi karena pikirannya masih tertinggal di café kemarin—di meja panjang, di kalimat-kalimat yang hampir terucap dan di tatapan yang seharusnya tidak ia ingat sedetail itu.

Naya duduk di meja kerja sementara di Ruang QA, laptopnya terbuka, menampilkan laporan audit internal yang masih setengah jalan. Kursor berkedip di layar, menunggu angka, sementara pikirannya sibuk menghitung hal lain.

“Mungkin telat tujuh tahun, tapi aku siap.”

Kalimat itu terus muncul, seperti notifikasi yang lupa dimatikan.

“Naya.”

Suara Keira membuatnya mengangkat kepala. General Manager muda itu bersandar di bilik, memegang tablet.

“Jam sembilan kamu bisa ikut aku ke ruang meeting kecil?” tanya Keira. “Ada pembahasan pengaturan ulang jadwal commissioning. Kak Elric minta kamu ikut.”

Tentu saja. Nama itu lagi.

“Bisa,” jawab Naya. “Meeting room yang mana?”

“Yang kecil di ujung koridor. Yang ada jendelanya,” jelas Keira. Tatapannya menajam sedikit.

“Kamu yakin nggak apa-apa?”

“Aku engineer,” sahut Naya pelan. “Aku di sini buat kerja, Keir.”

“Itu bukan jawaban,” gumam Keira. Tapi ia tidak memaksa. “Oke. Jam sembilan, ya.”

Begitu Keira pergi, Naya menutup mata sebentar. Ia bisa melakukan ini. Toh ini hanya rapat. Lima puluh menit, mungkin satu jam. Angka, jadwal, kapasitas mesin.

Singkat. Terukur. Pasti.

Bukan soal hati.

Atau setidaknya, ia berharap begitu.

***

Ruang meeting kecil itu punya satu jendela yang menghadap ke parkiran. Naya duduk menghadap pintu, laptop sudah menyala. Di meja ada dua botol air mineral yang entah sejak kapan disiapkan oleh resepsionis.

Elric masuk beberapa menit kemudian, bersamaan dengan Keira dan kepala produksi.

“Pagi,” sapa Elric singkat. Ia tidak mencari mata Naya terlalu lama, tapi Naya bisa merasakan perhatiannya berdiri di ambang ruangan.

Pembahasan dimulai. Keira menjelaskan target timeline, kepala produksi mengeluh soal tenaga kerja, Elric mengarahkan diskusi agar tetap realistis.

Naya mengisi bagian teknis—berapa lama satu batch untuk proses kualifikasi, kapan validasi ideal dilakukan, apa saja risiko jika jadwal dipadatkan.

Mereka bertiga sesekali berdiskusi, membawa kertas, memindah-mindah blok timeline di layar.

Di sela-sela itu, ada momen kecil yang aneh: setiap kali Naya meletakkan pena terlalu dekat dengan tepi meja, Elric tanpa sadar menggesernya kembali ke tengah. Setiap kali Naya bergerak terlalu dekat ke layar, refleksnya adalah menarik kursinya sedikit mundur untuk memberi ruang.

Gerakan remeh.

Tapi tubuh Naya mengingat pola perlindungan itu, bahkan ketika hatinya ingin melarikan diri. “Kalau kita geser validasi proses ke minggu ketiga, validasi pembersihannya terlalu mepet,” komentar Naya pada suatu titik. “Aku nggak saranin.”

“Kalau kita nggak geser, line baru telat release sampai hampir sebulan,” kejar kepala produksi.

“Lebih baik telat release daripada main-main sama risiko kontaminasi,” sahut Elric tenang.

“Saya lebih mending dimarahi manajemen karena delay, daripada kena masalah. Kita harus recall, ganti rugi, belum trust issue.”

Naya menoleh. Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ia benar-benar menatap wajah Elric.

Dulu, suara itu yang menuntunnya menarik napas pelan di pinggir jalan. Sekarang, suara yang sama sedang bicara soal pasien—orang-orang yang bahkan belum pernah mereka lihat.

Ada garis tipis menghubungkan keduanya: orang yang tidak pernah main-main dengan nyawa. Termasuk nyawanya dulu.

“Setuju,” kata Naya pelan. “Kita cari cara lain, tapi jangan ambil risiko yang terlalu besar.”

Keira mengamati keduanya bergantian, sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi ia tidak berkomentar.

Akhirnya, mereka mencapai kompromi. Beberapa jadwal digeser, beberapa aktivitas dipadatkan, tapi jadwal validasi proses tetap berdiri tegak di tempatnya.

“Baik,” Keira menutup rapat. “Terima kasih, semuanya. Naya, nanti kamu kirimkan draft revisi timeline ke email aku dan Pak Elric, ya.”

“Siap.”

Kepala produksi keluar lebih dulu. Keira pura-pura membaca sesuatu di tablet, lalu berkata,

“Aku ke HR dulu. Kalian… silakan pakai ruangan kalau masih mau bahas hal teknis.”

Naya hampir protes. Tapi Keira sudah menghilang di balik pintu.

Tinggal mereka berdua. Lagi.

***

Beberapa detik pertama diisi dengan suara AC dan dengung lampu.

Naya pura-pura sibuk mengatur file di laptop. Elric berdiri di sisi meja, seolah ragu apakah ia harus duduk atau pergi.

Dejavu.

“Aku nggak nyangka,” ucapnya akhirnya. “Kamu beneran ada di sini. Di gedung yang sama. Di proyek yang sama.”

Kalimat itu bisa jadi pembuka percakapan apa pun. Naya memilih yang paling aman.

“Dunia ini kecil,” ujarnya singkat. “Especially di industri ini.”

“Kamu…marah?” Elric tiba-tiba bertanya.

Naya terkejut, menatapnya. “Marah?”

“Sama aku.” Ia menggeser kertas di depannya, meski tidak tampak benar-benar melihat. “Karena dulu… aku nggak nyari kamu. Nggak…menghubungi kamu lebih dulu.”

Kata-kata itu menyentuh sesuatu yang sudah lama ia kubur.

“Bukan tugas Kak Elric,” jawab Naya pelan. “Aku yang pergi.”

“Tapi aku yang janji bakal jagain kamu.” Mata Elric mengeras. “Dan hari kamu pergi… aku bahkan nggak nganterin kamu ke bandara.”

Ada memori yang muncul tanpa diundang: koper di depan pintu, Ardan yang memeluknya lama, udara pagi yang dingin, dan satu nama yang ia tunggu disebut tapi tidak pernah muncul.

“Kak Elric nggak tahu aku pergi jam berapa,” kata Naya, mencoba tersenyum datar. “Jadi kakak nggak bisa disalahin.”

“Ardan bilang kamu sengaja berangkat sebelum subuh,” balas Elric. “Supaya… nggak perlu pamit ke siapa pun.”

Ke siapa pun.

Kalimat itu terlalu luas.

“Dan kakak percaya?” tanya Naya lirih. “Kakak bahkan nggak—” ia berhenti. Nggak coba tanya langsung ke aku. Tapi kalimat itu terlalu gamblang untuk diucapkan.

“Aku bahkan nggak apa?” desak Elric lembut.

Ia menatapnya lama. Ada terlalu banyak jawaban. Terlalu banyak hari-hari di Jerman ketika ia berpikir: Kalau aku penting, mestinya dia nyari aku.

Terlalu banyak malam ketika ia menatap gelang biru di pergelangan tangan dan bertanya-tanya: Mungkin aku memang cuma adik sahabatnya. Titik.

“Apa bedanya sekarang?” Naya berusaha merapikan nada suaranya. “Kita di sini sebagai rekan kerja. Bukankah itu sudah cukup?”

“Permisin, Pak Elric?” suara dari luar mengetuk. “Pak, ada tamu dari vendor.”

Ia menutup mata sepersekian detik. Timing semesta selalu aneh.

“Sebentar,” jawab Elric. Lalu kembali menatap Naya. “Kita belum selesai bahas ini.”

“Aku sudah selesai,” sahut Naya pelan.

Ia menutup laptop, berdiri, menghindari tatapannya. “Terima kasih, Dokter. Itu saja sudah lebih dari cukup.”

Ia melangkah menuju pintu, melewatinya dengan jarak yang terlalu sempit. Bahu mereka hampir bersentuhan. Hampir.

Di luar, vendor menunggu. Di dalam, ruangan terasa lebih kosong dari sebelumnya.

-BERSAMBUNG-

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jarak Rindu   Chapter 37

    Setelah berkutat dengan permasalahan sabotase jalur pipa yang berujung pada ledakan di area produksi parfum, pagi ini Pabrik terasa berbeda.Suara tawa dan obrolan kembali terdengar di cafe bawah dekat resepsionis tempat para pekerja biasa menghabiskan waktu pagi dengan secangkir kopi sebelum memulai hari. Dengung suara AC yang disambut dengan suara ketikan keyboard dan suara klik mouse terdengar begitu normal dan menenangkan.Hari ini Naya datang sedikit lebih pagi. Bukan karena pekerjaan menumpuk, melainkan karena ia ingin menikmati beberapa menit pertama hari tanpa alarm darurat, tanpa bisikan ancaman, tanpa rasa waswas menoleh ke belakang.Ia ingin menikmati Althera dengan suasana baru.Naya berdiri di dekat jendela ruang utility, memandangi halaman pabrik yang basah oleh sisa hujan semalam. Untuk pertama kalinya setelah lama… ia bisa bernapas dengan lega.“Pagi.”Suara itu datang dari belakang. Tenang. Familiar.Elric.Naya menoleh. Kemeja abu-abu muda, lengan digulung, kopi di

  • Jarak Rindu   Chapter 36

    Pagi itu, hujan turun rintik-rintik,membuat suasana Semakin suram. Saat ini, Ruang kontrol sudah dipenuhi dengan cahaya dari layar. Grafik tampak stabil. Tekanan normal. Dan Tidak ada alarm yang berbunyi. Namun, ketegangan tetap terasa di udara. Tetha berdiri di depan monitor utama, jemarinya bergerak cepat. “Jam CCTV sudah kita kunci dan disinkronkan ulang,” katanya. “Kalau ada yang mencoba manipulasi lagi, sistem akan menandainya otomatis.” Zoe berdiri di sisi lain, membuka folder laporan. “Email anonim ke Naya sudah kita trace. IP-nya dipantulkan lewat dua proxy, tapi…” Ia berhenti sejenak. “…ada satu kesalahan kecil.” Semua menoleh. “Proxy terakhir pakai jaringan internal lama. Jalur yang masih aktif hanya ada satu di gedung utilitas lama.” Nandini mengangguk pelan. “Gedung workshop.” Reza langsung berdiri. “Aku kirim ke security.” “Jangan dulu,” potong Nandini tenang. “Kalau kita datang dengan orang-orang berseragam, mereka akan diam. Kita butuh… pengakuan.”

  • Jarak Rindu   Chapter 35

    Keputusan diambil tanpa ketukan palu.Nandini menutup laptopnya dengan satu gerakan tenang.Bukan karena diskusi selesai, tapi karena arah pencarian mereka sudah jelas.“Besok pagi,” katanya, “kita lakukan parallel inquiry. Bukan interogasi resmi. Masih pengumpulan fakta.”Metha mengangguk. “Aku ambil Bayu. Secara teknis dia di bawah scope engineering lama.”“Tetha,” lanjut Nandini, “kamu dengan IT. Aku mau full mirror access. Tidak ada lagi jam yang bisa ‘tersesat’.”Tetha tersenyum tipis. “Akhirnya. Aku sudah menunggu izin itu.”Zoe menatap Naya. “Kamu?”Naya mengangkat wajah. Ada jeda sebelum menjawab.“Aku ikut Yogi.”Ruangan hening lagi.Yogi adalah orang lama Yang tidak pernah benar-benar menerima perubahan. Yang terlalu sering berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi “kalian tidak tahu apa-apa”.“Pastikan kamu tidak sendirian,” kata Nandini datar.“Pasti,” jawab Naya.Reza melirik jam. “Aku awasin lewat cctv. Supaya kita tahu kalau ada orang yang keluar tanpa izin.”Nandini ber

  • Jarak Rindu   Side Story

    Nandini berdiri di depan screen besar yang menampilkan peta instalasi gas pabrik. Garis-garis biru yang seharusnya stabil kini berwarna merah di beberapa titik. Di bawahnya, grafik tekanan tidak turun sempurna—fluktuasi tidak biasa.“Ada seseorang yang menyentuh sesuatu di sini,” katanya sambil menunjuk panel historical bypass log.Di meja, Zoe, Metha, Tetha, serta beberapa spesialis HSE memperhatikan setiap kata..“Pertama,” lanjut Nandini, “log penggunaan bypass manual tidak terekam pada hari ledakan.”“Artinya?” tanya Metha.“Artinya…” Tetha menambahkan cepat, “Seseorang mematikan auto logging. Itu bukan tombol yang bisa tertekan tidak sengaja. Harus tahu caranya.”Zoe membuka data overlay CCTV.“Dan lihat ini,” katanya sambil menampilkan dua feed video dari dua kamera berbeda. Satu menunjukkan Yudo naik tangga. Satu lagi menunjukkan Surya di koridor dekat ruang utility.“Ini beda waktu tapi jam DVR tidak sinkron,” jelasnya. “Selisih lebih dari 3 menit.”“Jadi jam di sistem senga

  • Jarak Rindu   Chapter 34

    Sore itu, di ruang investigasi, mereka berkumpul lagi. Wajah-wajah lelah, map makin menumpuk.“Jadi,” Zoe merangkum, “dari keterangan teknisi korban, kita dapat tiga hal: satu, budaya manipulasi data dan tambal sulam sudah lama ada; dua, nama yang sama muncul berkali-kali sebagai pihak yang mendorong kelonggaran; tiga, ada sikap sinis terhadap manajemen baru yang tidak berhenti di level omongan.”“Ditambah rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang dengan akses card Pak Surya, perawakan mirip teknisi senior, masuk ke ruang panel,” tambah Tetha.“Dan kelompok informal orang lama yang masih menyisakan beberapa anggota di sini,” sambung Metha.“Dengan kata lain,” Nandini menyandarkan tubuh di kursi, “sistem rusak, budaya buruk, transisi setengah matang, dan orang-orang yang tidak senang dengan perubahan. Gas line hanya salah satu tempat di mana semua itu bertemu.”“Pertanyaannya,” Elric mengusap wajah, “apakah ledakan ini murni hasil kelalaian menahun… atau seseorang memang sengaja mengambil

  • Jarak Rindu   Chapter 33

    Informasi yang Naya terima cukup memberatkan hatinya, tapi di sisi lain ia juga merasa beruntung karena lead investigator yang memimpin investigasi internal ini adalah Nandini, bukan orang lain.Nandini melihat wajah Naya sejenak sebelum melanjutkan.“Kedua,” lanjut Nandini, “aku mau kamu hati-hati dengan rasa bersalahmu sendiri.” Naya mengangkat alis. “Maksudnya?” “Orang yang pakai hati dan otaknya di saat yang bersamaan, biasanya gampang merasa bersalah,” kata Nandini. “Apalagi kalau posisi mereka di tengah-tengah kekacauan seperti ini. Kamu tipe orang yang begitu. Dan itu bagus, sejauh tidak membuatmu menutupi kesalahan orang lain.” “Tidak menutupi?” Naya mengulang. “Kamu tahu ada yang salah di sistem lama. Kamu mungkin pernah lihat indikasi kelalaian orang,” ujar Nandini. “Kalau di kemudian hari, fakta-fakta mulai menyusun pola yang menunjukkan ada pihak yang sengaja melemahkan sistem… aku butuh kamu berani bilang ‘iya, dulu aku pernan lihat ini, tapi aku diam saja. ’.” “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status