登入Aroma kopi hitam hangat dan roti panggang mentega menyambut kehadiran Heri dan Sintya saat mereka memasuki area restoran utama hotel berbintang tersebut.Suasana pagi itu masih terbilang lengang, hanya dipenuhi beberapa tamu yang menikmati pemandangan perbukitan hijau dari balik jendela kaca.Heri menuntun Sintya dengan genggaman tangan yang erat dan protektif, merangkul pinggang ramping wanitanya sembari mencari meja terbaik di sudut ruangan yang menghadap langsung ke panorama alam.Namun, langkah taktis Heri sempat tertahan sesaat ketika pandangan mata elangnya menangkap sosok yang teramat familier di dekat meja bufet sarapan.Rani.Mantan istrinya itu sedang berdiri di sana dengan seragam kerja yang sama, sedang merapikan beberapa piring bufet.Tatapan Rani seketika tertambat pada Heri dan Sintya. Kilatan dengki, gengsi, dan kejengkelan terpancar jelas dari mata wanita itu saat menyaksikan betapa serasi dan mewahnya pasangan di hadapannya.Melihat kehadiran Rani yang kembali mengus
Pagi hari telah tiba.Sintya menjadi orang pertama yang terbangun. Wanita itu tersenyum tipis menatap wajah maskulin kekasihnya yang tampak begitu tenang tanpa beban.Perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Sintya turun dari ranjang, membungkus tubuh mulusnya dengan jubah mandi putih, lalu melangkah menuju kamar mandi utama yang bernuansa marmer mewah.Di dalam kamar mandi yang luas itu, Sintya mulai memutar keran, membiarkan air hangat mengalir deras mengisi bathtub porselen berukuran besar.Ia merogoh botol sabun aromaterapi, menuangnya hingga busa-busa putih yang harum melimpah memenuhi permukaan air.Sintya lalu melangkah ke depan cermin besar, menyikat gigi dan membasuh wajah cantiknya dengan lembut.Namun, indra kewaspadaan Heri yang terlatih tidak pernah benar-benar mati, bahkan dalam tidurnya yang lelap.Begitu menyadari kehangatan tubuh Sintya menghilang dari sisinya, mata elang Heri perlahan terbuka. Pria bertubuh tegap itu memutar tubuhnya, mendapati sisa tempat tidu
Setibanya di kamar, tanpa menunggu waktu, Heri langsung merenggut kaos oblong hitam yang melekat di tubuhnya, melemparkannya secara sembarangan ke atas lantai karpet tebal.Otot-otot dada bidang dan perut six-pack-nya yang mengeras kaku bertelanjang di bawah temaram pendar lampu kamar.Dada Heri naik-turun drastis. Rahang tegasnya mengetat keras, menahan gelombang kekesalan yang masih bergemuruh di ulu hatinya.Pertemuan tak terduga dengan Rani di meja resepsionis tadi benar-benar membakar egonya.Mantan istrinya itu sama sekali belum berubah; masih dangkal, penuh prasangka, dan bermulut tajam seperti saat meninggalkan dirinya dan Nathan dulu.Sintya melangkah mendekat dari arah belakang, meletakkan tas mewahnya di meja rias tanpa mengalihkan pandangan dari punggung lebar Heri yang penuh urat tegang."Pantas saja kamu dulu memilih menceraikan wanita itu," sahut Sintya dengan tenang namun sarat akan nada cemooh untuk Rani."Ternyata mulutnya pedas dan menjijikkan banget kayak gitu."He
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam menembus bukit, sorot lampu mobil akhirnya menyoroti bangunan hotel berbintang yang berdiri megah di kawasan destinasi wisata desa.Heri mematikan mesin, memutari mobil dengan langkah taktisnya yang mantap, lalu membukakan pintu untuk Sintya.Lengan kekarnya langsung merangkul pinggang ramping wanitanya, mengikat Sintya rapat di sisinya seolah memproklamirkan dominasi penuh sebelum mereka melangkah melewati pintu kaca otomatis area lobby.Atmosfer lobby yang dingin dan tenang mendadak berubah mencekam saat Heri menghentikan langkah tepat di depan meja receptionist.Seorang wanita ber-seragam penginapan dengan riasan tipis mendongak.Namun, begitu pandangan wanita itu bertubuh dengan sosok Heri, raut wajahnya seketika berubah keruh. Tatapan matanya tajam, memancarkan sengatan kebencian dan keangkuhan yang sangat pekat.Heri mematung. Otot-otot di sepanjang rahang tegapnya mengetat drastis.Sepasang mata elangnya membeku, membalas tatapan
"Selamat malam, Pak Adit," sapa Sintya langsung pada intinya begitu panggilan diangkat."Saya mau minta tolong diuruskan pendaftaran sekolah SMP paling bagus dan paling elite di daerah Jakarta Selatan, yang posisinya paling dekat sama apartemen saya."Dari seberang telepon, suara Pak Adit terdengar siap sigap. "Baik, Ibu Sintya. Untuk data calon siswanya bagaimana?""Atas nama Nathan Hermawan," sahut Sintya sembari mengulas senyum tipis, membayangkan wajah ceria anak tunggal Heri."Semua berkas kelulusan SD-nya bakal saya kirimkan lewat dokumen digital setelah ini. Saya dan Heri masih di kampung halaman Heri, kira-kira satu minggu lagi kami baru pulang ke Jakarta.""Siap, Ibu Sintya. Dengan senang hati saya akan bantu urus pendaftaran Dek Nathan ke sekolah terbaik di sana. Besok pagi, setelah semua formulir dan koordinasi dengan pihak yayasan selesai, saya bakal segera mengabari Ibu kembali," janji Pak Adit penuh profesionalitas."Terima kasih banyak, Pak Adit." Sintya mengangguk pela
Aroma gurih ikan bakar dan sambal terasi buatan Ibu Dewi memenuhi ruang makan sederhana malam itu. Cahaya lampu gantung bermangkut kuning memantul di atas meja kayu tebal, menciptakan suasana hangat keluarga yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh Heri.Di ujung meja, Pak Arya—ayah kandung Heri yang baru saja pulang memburuh dari pabrik pengolahan kayu, sedang duduk sembari mengusap peluh di lehernya.Otot-otot lengannya yang legam membuktikan betapa kerasnya kehidupan yang ia tempuh selama ini.Heri meletakkan sendoknya perlahan di atas piring.Pria bertubuh tegap itu membetulkan posisi duduknya, lalu menatap lurus ke arah kedua orang tuanya dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat serius dan taktis."Ibu, Bapak," panggil Heri, suaranya bariton rendah, menghentikan denting sendok di atas meja."Seperti yang sudah Heri bilang di telepon kemarin, kedatangan Heri kali ini mau bawa Nathan ikut ke kota. Nathan sudah lulus SD, dan Heri mau dia lanjut sekolah di Jakarta."Pak Arya
Heri terkekeh pelan melihat guratan cemas yang bercampur jengkel di wajah Sintya. Ia tahu betul bagaimana cara menjinakkan wanita sosialita yang sedang terbakar cemburu seperti ini.Dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda, Heri meraih jemari Sintya yang mencengkeram dadanya, lalu mengecup ujung
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu







