INICIAR SESIÓNTanpa membuang waktu untuk membalas godaan Sintya dengan kata-kata, Heri langsung merenggut seluruh pakaian yang berserakan di lantai fitting room.Dengan gerakan taktis yang teramat cepat, ia membantu Sintya mengenakan kembali mini dress-nya, menyambar seluruh belanjaan lingerie di meja kasir, dan membayar transaksi itu tanpa memedulikan tatapan heran dari pelayan toko.Langkah tegap Heri menyeret Sintya menelusuri koridor mall, memotong jalur menuju elevator khusus service, dan langsung meluncur turun menuju area basement parkir lantai P3—sudut paling bawah, paling temaram, dan paling sepi dari jangkauan lalu lalang orang.Begitu pintu elevator terbuka, Heri mencengkeram jemari Sintya, membawanya setengah berlari menuju SUV hitam milik pria itu yang terparkir membisu di balik pilar beton raksasa.CLIK!Sentakan tombol remote membuka kunci pintu. Heri menyentak pintu penumpang belakang, lalu mendorong tubuh mulus Sintya masuk ke dalam kabin luas ber-kaca film hitam pekat 90 persen ya
Pintu kaca toko lingerie mewah itu tertutup halus saat Heri melangkah masuk di belakang Sintya.Pria itu berdiri mematung di tengah ruangan yang dipenuhi aroma harum bunga mawar dan pencahayaan temaram nan erotis.Sepasang mata elang Heri menatap deratan kain-kain tipis yang terpajang, sementara napas baritonnya perlahan mengberat.Sintya bergerak lincah menelusuri etase. Jemari lentiknya tanpa ragu menyapu lembar demi lembar kain sutra transparan, renda-renda rendah, hingga potongan-potongan baju malam yang minim."Yang ini bagus... eh, yang ini juga seksi banget," gumam Sintya riang.Heri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah wanitanya.Otot-otot dada bidang sang mantan pengawal mengetat kaku saat menyaksikan Sintya mengumpulkan tidak tanggung-tanggung, sepuluh set lingerie sekaligus dengan bermacam motif dan potongan yang kian terbuka.Sintya berbalik, memamerkan tumpukan pakaian dalam di pelukannya sembari menyunggingkan senyum miring yang teramat menggoda."Ak
Deru mesin SUV hitam milik Heri membelah padatnya arus lalu lintas Jakarta yang riuh, menandai kembalinya mereka ke rimba beton ibu kota.Di bawah terik matahari siang, Heri mengarahkan kemudi menuju salah satu pusat perbelanjaan elite yang lokasinya berdekatan dengan kompleks apartemen mewah Sintya.Langkah kaki tegap Heri memandu Sintya dan Nathan menelusuri lantai marmer mall yang megah.Maman, yang sudah bersiap sejak pagi menunggu kedatangan mereka dari kampung, berjalan taktis beberapa tindak di belakang, siap siaga membawa barang belanjaan.Heri memperhatikan bagaimana Sintya langsung menggandeng jemari Nathan, membawanya masuk ke sebuah boutique pakaian anak ternama.Binar mata Nathan membola lebar, terpukau oleh deretan baju-baju stylish berkelas yang terpajang anggun.Sintya dengan cermat memilih beberapa kemeja casual, jaket, hingga kaos kasual berpotongan modern yang sangat cocok dengan postur tubuh Nathan yang tegap diturunkan dari Heri."Gimana, Nathan? Bagus nggak yang
Matahari pagi menyiram pekarangan rumah kayu sederhana itu dengan pendar hangat yang lembut. Suasana haru membungkus persiapan kepulangan mereka ke kota.Di samping SUV hitam yang terparkir anggun, Nathan tampak bergerak sangat lincah.Wajah polos anak laki-laki itu berbinar riang; tangannya bolak-balik memasukkan tas ransel dan perbekalan desa ke dalam bagasi mobil.Binar di matanya adalah binar kebahagiaan murni seorang anak yang akhirnya bisa menyatu kembali di sisinya sang ayah.Heri memungkas ikatan tali di bagasi, lalu berbalik melangkah menghampiri Pak Arya dan Ibu Dewi yang berdiri mematung di teras.Pria bertubuh tegap itu membetulkan posisi jaket kulitnya, melangkah penuh wibawa namun menyimpan kelembutan luar biasa di dasar matanya.Heri berlutut, meraih jemari renta kedua orang tuanya secara bergantian, lalu mencium punggung tangan mereka dengan ketulusan yang teramat pekat."Pak, Bu, Heri pamit mau bawa Nathan ke kota," tutur Heri, suaranya bariton rendah, bergetar menaha
Pagi hari di kawasan perkemahan dan taman perbukitan dekat hotel terasa sangat sejuk. Udara dingin pegunungan perlahan terhalau oleh pendar hangat mentari pagi yang menerobos celah-celah pepohonan pinus.Heri melangkah perlahan mengelilingi area taman dengan satu tangan merengkuh pinggang Sintya secara protektif, menikmati keheningan pagi sebelum mereka dijadwalkan kembali ke Jakarta keesokan harinya.Namun, ketenangan itu mendadak menguap saat derap langkah kaki berhak rendah terdengar tergesa-gesa mendekati mereka dari arah lorong taman.Heri memutar tubuhnya perlahan, memosisikan dirinya di depan Sintya secara insting.Sepasang mata elangnya mendapati Rani berdiri di hadapan mereka dengan napas memburu dan raut wajah kaku yang menahan amarah meluap-luap."Heri!" panggil Rani dengan suara melengking tajam, menunjuk langsung ke arah Heri. "Aku nggak setuju kalau kamu bawa Nathan pergi ke kota!"Mendengar seruan menuntut itu, Heri tidak langsung tersulut emosi.Pria bertubuh tegap itu
Sore harinya, lembayung senja mulai menyepuh perbukitan desa dengan pendar keemasan yang tenangDi sepanjang jalanan setapak yang sedikit menanjak di dekat pekarangan rumah Ibu Dewi, Nathan tampak asyik mengayuh sepeda merah kesayangannya.Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu tertawa riang setiap kali rodamunya melintasi genangan air kecil, menikmati sisa-sisa kebebasan masa kecilnya di kampung sebelum diboyong ke ibu kota.Namun, keceriaan Nathan mendadak terhenti ketika sebuah bayangan berdiri tepat di tengah jalan kecil tersebut, menghalangi laju sepedanya.Nathan menarik rem sepedanya perlahan. Sosok wanita ber-seragam kerja hotel yang rapi, Rani berdiri dengan melipat kedua tangan di dada.Wajahnya yang terpoles riasan tipis tampak kaku, menyimpan kecemasan dan dengki yang bergejolak sejak kejadian di restoran pagi tadi."Nathan, berhenti sebentar," panggil Rani, suaranya terdengar datar namun menuntut. "Ibu mau bicara sama kamu."Nathan menahan posisi sepedanya dengan kedu
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.







