Share

BAB 220

Author: Nona Mentari
last update publish date: 2026-08-05 00:23:19

Maman melepaskan cengkeramannya pada lingkar kemudi. Kontrol diri yang dipeliharanya rapat-rapat seketika hancur berkeping-keping.

Pria bertubuh tinggi besar itu memajukan tubuhnya yang kokoh, menangkup rahang Karin dengan tangan besarnya, lalu menyambar bibir wanita itu tanpa ampun.

SSSHHH!

Ciuman Maman mendarat liar dan menuntut. Bibir tebalnya melumat bibir merona Karin dengan penekanan intens, menyedot dan menguasainya secara brutal.

Karin melenguh kaget, namun detik berikutnya wanita itu m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Nona Mentari
Terima kasih sudah mampir kak. Setiap hari update 5 bab ya kakk
goodnovel comment avatar
Nahrul Fajeri
bagus cerita novel ini jangan dipotong potong karena pembaca bayar beli koin.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 376

    Setelah menahan diri selama lebih dari dua bulan penuh, sejak masa akhir kehamilan tua hingga tuntasnya masa nifas empat puluh hari, hasrat jantan Heri yang membara tidak lagi bisa dibendung.Heri membaringkan tubuh Sintya secara perlahan di atas bantalan sofa yang empuk, lalu menyusul di atasnya tanpa membiarkan berat badannya menindih fisik istrinya secara kasar.Jemari tegap Heri melusup ke balik kain gaun tidur sutra marun yang membalut tubuh Sintya, menyibakkannya ke atas dengan gerakan yang teratur namun penuh dengan desakan kepemilikan mutlak."Mas... pelan-pelan," desah Sintya lirih dengan mata terpejam pasrah, menyenggol bahu tegap Heri sewaktu kecupan-kecupan panas suaminya mulai merayap turun dari leher mulusnya menuju tulang selangka."Mas selalu tahu batasannya, Sintya," pangkas Heri dengan suara baritonnya yang teramat berat, serak, dan bergetar rendah di tenggorokan.Tangan kekar Heri merengkuh pinggul tebal Sintya, menyangga posisi tubuh istrinya agar mendapatkan kenya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 375

    Pukul sepuluh malam, keheningan yang amat menenangkan menyelimuti kediaman pribadi Heri.Di dalam kamar utama yang bernuansa kayu hangat dan mewah, boks bayi kayu jati yang berdiri di dekat ranjang menjadi tempat peraduan bagi Dimas Hermawan Utama.Bayi kecil itu tertidur lelap dengan napas yang halus dan teratur usai disusui.Masa nifas Sintya selama empat puluh hari telah tuntas sepenuhnya di bawah perawatan medis ketat dari tim dokter spesialis pribadi Heri Group.Kondisi fisik Sintya kini telah pulih sempurna. Bentuk tubuhnya kembali padat, matang, dan sangat menawan.Di ruang kerja pribadi rumah yang terletak di lantai dua, Heri duduk tegap di belakang meja kayu jati berukuran besar.Sang CEO mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan yang tergulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kustom dan otot lengan bawahnya yang kokoh.Pendar lampu meja berwarna kuning temaram membiaskan raut wajah tegas Heri yang fokus meneliti berkas ekspansi bisnis Cabang Lima dan laporan evaluasi

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 374

    Pukul dua siang, suasana di ruang OSIS SMP Favorit Kota terasa amat menegang.Tiga orang pengurus OSIS senior dari kelas tiga yang dipimpin oleh Kevin, Ketua Bidang Kedisiplinan duduk mengelilingi meja rapat kayu panjang.Ketidaksukaan dan rasa iri Kevin terhadap Nathan yang mendadak populer serta disegani oleh seluruh murid hanya dalam hitungan hari membuat senior itu mencari celah untuk menjatuhkan nama baik sang murid baru.Sore itu, layar komputer inventaris ruang OSIS menampilkan laporan kerusakan sistem jaringan laboratorium komputer utama.Beberapa berkas nilai digital terhapus, dan akun login yang tercatat di dalam log system menunjukkan identitas milik Nathan."Sudah jelas bukti digitalnya, Bu," pangkas Kevin dengan nada suara yang dibuat-buat prihatin saat menunjuk layar komputer di hadapan Ibu Retno, Guru Bimbingan Konseling yang baru saja dipanggil ke ruangan."Nathan menggunakan akses laboratorium saat jam istirahat kedua dan mengacak-acak server sekolah."Ibu Retno menge

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 373

    Pukul tujuh pagi tepat, deretan kendaraan yang mengantar para siswa memadati area depan gerbang utama SMP Favorit Kota.Sinar matahari pagi yang cerah memantul di atas kap mobil SUV hitam milik Heri Group yang berhenti sempurna di tepi jalan.Suasana di sekitar gerbang yang semula riuh oleh celoteh para murid mendadak agak mereda saat pintu penumpang belakang kendaraan mewah tersebut terbuka.Nathan melangkah keluar dengan gerakan yang tenang dan mantap.Remaja tiga belas tahun itu mengenakan seragam SMP yang amat rapi, kemeja putih bersih tersetrika licin dengan dasi biru tua terpasang presisi, serta celana bahan yang pas di badannya.Postur tubuhnya tumbuh tinggi tegap melebihi rata-rata anak seusianya. Rambut hitamnya tertata rapi, dan rahang tegasnya membiaskan garis wajah yang sangat mirip dengan sang papa, Heri.Personel pengawal bimbingan Maman yang mengemudi di depan hanya menurunkan kaca jendela sedikit, menatap sekeliling area gerbang dengan kewaspadaan terukur."Nanti sore

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 372

    Pukul sepuluh pagi tepat, tiga unit SUV VIP hitam milik Heri memutar perlahan memasuki gerbang besi tempa kediaman utama.Begitu roda kendaraan berhenti sempurna, Maman bersama empat personel pengawal elit langsung menyebar cepat memagari perimeter lobi depan, memastikan situasi aman total dari segala kemungkinan gangguan luar.Heri melangkah keluar pertama kali dari kabin penumpang belakang.Pria tegap itu mengenakan kemeja kasual hitam berlengan panjang yang tergulung rapi hingga siku.Dengan gerakan yang amat cekatan dan penuh kehati-hatian, Heri membopong boks bayi portabel berbahan kulit eksklusif yang memuat putra kecilnya, Dimas Hermawan Utama.Di sampingnya, Karin membukakan pintu untuk Sintya. Istrinya melangkah anggun keluar dari mobil, mengenakan terusan longgar bahan sutra lembut berselimut kain syal.Kendati wajahnya masih menyisa sedikit keletihan pasca-persalinan tiga hari lalu, kebahagiaan terpancar jelas dari paras ayunya."Semua jalur lorong lantai satu sudah disteri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 371

    Suara garis pemantau detak jantung janin berbunyi teratur di dalam ruang bersalin VIP Rumah Sakit Ibu dan Anak Internasional.Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu terasa amat tegang dan steril.Pukul empat lewat empat puluh lima menit subuh, tim dokter spesialis bedah dan perawat senior bersiap penuh mengelilingi ranjang persalinan.Pendar lampu operasi yang terang benderang menyinari wajah Sintya yang membasah oleh keringat dingin, menahan gelombang kontraksi asli yang kian rapat dan menghantam hebat.Di samping kiri kepala Sintya, Heri berdiri tegap tanpa goyah sedikit pun.Pria itu telah mengenakan pakaian steril hijau lengkap dengan masker melingkar di lehernya.Kemeja di balik jubah medisnya sudah tergulung, memperlihatkan lengan kekarnya yang memegang erat jemari halus Sintya.Telapak tangan kanan Heri yang lebar tak berhenti mengusap lembut kening dan pelipis istrinya dengan selembar kain kasa basah."Tarik napas dalam-dalam, Sintya. Atur doronganmu," instruksi Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status