Partager

BAB 220

Auteur: Nona Mentari
last update Date de publication: 2026-08-05 00:23:19

Maman melepaskan cengkeramannya pada lingkar kemudi. Kontrol diri yang dipeliharanya rapat-rapat seketika hancur berkeping-keping.

Pria bertubuh tinggi besar itu memajukan tubuhnya yang kokoh, menangkup rahang Karin dengan tangan besarnya, lalu menyambar bibir wanita itu tanpa ampun.

SSSHHH!

Ciuman Maman mendarat liar dan menuntut. Bibir tebalnya melumat bibir merona Karin dengan penekanan intens, menyedot dan menguasainya secara brutal.

Karin melenguh kaget, namun detik berikutnya wanita itu m
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Nona Mentari
Terima kasih sudah mampir kak. Setiap hari update 5 bab ya kakk
goodnovel comment avatar
Nahrul Fajeri
bagus cerita novel ini jangan dipotong potong karena pembaca bayar beli koin.
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 370

    Tiga hari usai menjalani observasi di rumah sakit, suasana di kediaman pribadi Heri dipenuhi kesiapan mutlak.Pukul empat sore, Heri berdiri tegap di ambang pintu kamar bayi yang terletak tepat di sebelah kamar utama.Ruangan berukuran luas itu kini sudah tertata sempurna dengan pendar interior berwarna krem hangat, tempat tidur bayi kayu jati berukir halus, serta perlengkapan medis darurat yang sengaja disyiagakan atas perintah langsung sang CEO.Maman dan Karin berdiri di koridor utama dekat tangga, menyodorkan map dokumen berisi laporan berkala. Heri berbalik, menatap dua kepercayaan utamanya itu dengan sorot mata yang dingin dan penuh kendali."Pengerjaan fondasi tiang pancang untuk Cabang Lima sudah tuntas seratus persen siang tadi, Heri," pangkas Maman dengan nada suara yang tegas dan mantap."Seluruh perimeter proyek disterilkan. Karin juga sudah mengunci pos anggaran termin kedua."Karin menyerahkan lembar verifikasi akhir kepada Heri. "Semua sistem administrasi dan perizinan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 369

    Pendar temaram lampu sudut kamar perawatan VIP membiaskan ketegangan gairah yang teramat pekat di atas sofa kulit cokelat tua. Pintu tebal yang terkunci rapat dari dalam memberi jaminan privasi mutlak bagi Heri.Rasa ragu yang sempat terlintas di benak sang CEO sirna sepenuhnya begitu jemari lentik Sintya mencengkeram tengkuknya, menarik wajah tegas Heri untuk mengunci bibir ayunya dalam ciuman yang mendalam.Heri membalas ciuman itu dengan dominasi jantan yang sangat membara, namun tetap dibalut kehati-hatian tingkat tinggi. Kedua tangan kekar Heri merengkuh pinggul tebal Sintya, menyangga tubuh istrinya agar posisi duduknya di pangkuan Heri benar-benar stabil.Pria tegap itu mengatur kemiringan tubuh mereka dengan presisi, memastikan perut buncit delapan bulan Sintya tersangga sempurna oleh dada bidangnya tanpa mengalami tekanan sekecil apa pun."Mas... perlahan," desah Sintya lirih di sela ciuman mereka, matanya terpejam pasrah saat merasakan jemari hangat Heri mulai menyingkap gau

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 368

    Pukul lima sore, Sintya dipindahkan ke ruang perawatan VIP suite di lantai paling atas Rumah Sakit Ibu dan Anak Internasional.Keputusan observasi satu malam diambil langsung oleh Heri untuk memastikan tidak ada lagi gelombang kontraksi palsu yang mengejutkan.Suasana ruangan itu sangat privat dan luas, lebih menyerupai kamar hotel berbintang lima ketimbang fasilitas medis.Dinding berbahan kedap suara, sofa kulit panjang berwarna cokelat tua, serta pendar lampu temaram menciptakan atmosfer yang amat tenang dan terisolasi dari garangnya lalu lintas kota di luar.Di luar pintu utama suite, Maman menempatkan dua pengawal berbadan tegap yang menjaga akses masuk secara mutlak. Tidak ada staf rumah sakit yang diizinkan masuk tanpa izin langsung dari sang komandan keamanan.Heri berdiri di samping ranjang periksa listrik yang empuk, sudah menanggalkan jas formalnya.Pria tegap itu kini hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi hingga siku, menunjukkan otot lengan bawahnya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 367

    Dua hari usai masa istirahat di Villa Puncak, suasana di ruang rapat lantai atas kantor pusat Heri Group tampak sibuk.Pukul sebelas siang, berkas perizinan amdal dan izin mendirikan bangunan untuk lokasi Cabang Lima terpampang rapi di atas meja kaca panjang.Heri duduk di kursi utamanya dengan kemeja putih berlengan panjang yang tergulung rapi hingga siku, mendengarkan paparan rinci dari Karin mengenai alokasi anggaran operasional awal.Di samping kanan Heri, Sintya duduk anggun di atas kursi kerja berlapis busa empuk yang disiapkan khusus.Meski usia kehamilannya sudah menginjak minggu-minggu akhir menjelang persalinan, Sintya bersikukuh ikut memantau draf perjanjian legalitas.Karin berdiri di depan layar proyektor, membalik lembaran dokumen laporan."Semua pos anggaran pembebasan lahan sudah tuntas ditandatangani kemarin sore, Pak Heri," pangkas Karin, mengarahkan penunjuk laser ke lembaran grafik di layar."Tim legal yang dipimpin Mbak Sintya juga sudah menuntaskan draf akhir per

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 366

    Pijar merah keemasan dari perapian kayu membakar remang ruangan tengah villa Puncak. Pertahanan akal sehat Heri runtuh total saat jemari halus Sintya menarik pinggang kaus hitamnya.Tanpa bersuara lagi, Heri membiarkan istrinya membimbing tubuh tegapnya menunduk, bergerak perlahan menuju karpet bulu tebal berwarna krem yang terhampar tepat di depan perapian.Kehangatan dari kayu bakar yang meletup-letup langsung menyapu kulit mereka yang tak ternaungi.Heri merebahkan tubuh tegapnya terlebih dahulu secara perlahan, menyangga punggung kokohnya pada tumpukan bantal tebal di tepi sofa.Pria itu menyapu area karpet dengan telapak tangan besarnya, memastikan tidak ada benda tajam atau lipatan kain yang akan mengganggu kenyamanan Sintya."Mas Heri," bisik Sintya halus, napasnya yang hangat menerpa rahang tegas suaminya saat ia merangkak mendekat.Heri tidak menjawab dengan kata-kata. Sorot mata baritonnya membara oleh gairah jantan yang amat pekat.Jemari tegap Heri merengkuh pinggul tebal

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 365

    Pukul tujuh malam tepat, iring-iringan tiga SUV hitam milik Heri Group akhirnya melintasi gerbang besi tempa Villa Puncak.Di luar bangunan megah bergaya kolonial modern itu, suasana tampak amat tenang namun siaga penuh.Maman bersama lima personel regu keamanan elit menyebar ke sudut-sudut strategis, memastikan parameter luar villa aman total tanpa ada celah gangguan sekecil apa pun.Heri melangkah keluar dari kabin penumpang belakang. Suhu udara malam yang menusuk tidak menyurutkan ketegapan tubuhnya.Pria itu sudah melepas kemeja kerja dan menggantinya dengan kaus lengan panjang berwarna hitam yang membungkus ketat dada bidangnya.Dengan cekatan dan gerakan amat hati-hati, Heri membopong Sintya keluar dari mobil, membawa istrinya masuk melewati pintu utama villa yang luas.Di dalam, perapian batu alam di ruang keluarga sudah menyala hangat, membiaskan pendar jingga yang lembut ke seluruh penjuru ruangan.Heri mendudukkan Sintya di atas sofa kain tebal berisikan busa empuk dekat per

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status