LOGINBeberapa minggu setelah mendapat ultimatum tegas dari Heri Utama, Nathan Utama menghadiri sebuah jamuan gala korporat tingkat tinggi di ballroom hotel bintang lima kota.Acara tersebut mempertemukan jajaran pimpinan konglomerasi, investor asing, serta pejabat lembaga pengawas keuangan nasional.Di tengah riuh rendah alunan musik kamar dan dentang gelas kristal para pimpinan bisnis papan atas, Nathan berdiri tegap di sudut meja VIP, memegang gelas wiski dengan ketenangan yang mengintimidasi.Pintu ganda ballroom mendadak terbuka lebar, menyerap perhatian sebagian tamu undangan. Sebuah rombongan direksi dari lembaga audit eksternal ternama melangkah masuk.Pandangan mata pekat Nathan seketika terkunci rapat pada sosok wanita yang berjalan paling depan di samping jajaran direktur utama.Wanita itu adalah Chelsea.Lima tahun berlalu sejak momen perkenalan mereka di sekretariat himpunan mahasiswa kampus, tempat Chelsea yang dulu merupakan mahasiswi baru lugu pernah ditundukkan oleh kecerdi
Menjelang tengah malam, mobil sedan hitam Nathan memasuki gerbang tinggi kediaman utama keluarga yang megah dan terisolasi di kawasan perbukitan eksklusif.Setibanya di sana, Nathan langsung diarahkan menuju ruang kerja pribadi sang ayah, sebuah ruangan luas bernuansa kayu klasik beraroma cerutu mahal dan koleksi buku tua.Heri Utama duduk tegap di balik meja kerja besar berlapis kulit, mengenakan jubah tidur sutra gelap dengan tatapan mata yang tajam, dingin, dan penuh otoritas seorang patriarch tulen.Tanpa basa-basi atau sapaan hangat seorang ayah kepada anak, Heri langsung melayangkan teguran tajam begitu Nathan berdiri di hadapannya."Duduk, Nathan," perintah Heri datar dengan intonasi suara bass yang sarat pengalaman dan kekuasaan mutlak.Nathan melangkah tenang, mendudukkan diri di kursi seberang meja tanpa menunjukkan sedikit pun rasa gentar. "Ada urusan mendesak apa sampai Anda memanggil saya malam-malam begini, Ayah?"Heri menyandarkan punggungnya, menatap putranya dengan pa
Lima tahun berlalu setelah era keemasan Nathan Utama memimpin restoran bintang lima cabang keempat milik keluarganya.Di usianya yang makin matang dan berada di puncak karier korporasi, Nathan telah menjelajahi petualangan duniawi yang tak terhitung jumlahnya.Ia telah menundukkan dan tidur dengan puluhan wanita berparas jelita dari berbagai latar belakang kelas atas, mulai dari kalangan eksekutif, selebriti hiburan, hingga wanita simpanan berkelas.Namun, di tengah gelimang harta, kekuasaan mutlak, dan manipulasi yang selalu dimenangkannya, perasaan hampa dan kejenuhan yang amat mendalam mulai merayap masuk ke dalam dada Nathan.Malam itu, di dalam penthouse mewahnya yang terletak di lantai paling atas gedung pencakar langit, Nathan berdiri di balik dinding kaca raksasa, menatap kerlip lampu kota yang membentang luas. Di tangannya, gelas kristal berisi cairan wiski amber digoyang perlahan.Rutinitas malam yang selama bertahun-tahun diwarnai penundukan fisik, kepatuhan mutlak, dan per
Nathan tidak memberi mereka waktu untuk bernapas.Dengan satu tarikan kasar, ia menarik Karin ke atas pangkuannya hingga wanita itu terpaksa menungganginya.Milik Nathan yang sudah basah dan tegang menusuk masuk ke dalam milik Karin dalam satu hentakan dalam, membuat tubuh aktris itu melengkung tajam.“Ahhh—! Nathan, terlalu dalam!” erang Karin, jari-jarinya mencengkeram bahu pria itu hingga kuku-kukunya memutih.Nathan hanya mendengus, kedua tangannya mencengkeram pinggang Karin dengan brutal lalu mengangkat dan menjatuhkan tubuh wanita itu berulang-ulang.Setiap hentakan membuat bunyi basah yang nyaring memenuhi ruangan.“Gerak sendiri. Lebih cepat.”Karin menurut, pinggangnya mulai naik-turun dengan tempo yang semakin gila. Miliknya sudah becek, lendirnya mengalir turun membasahi paha Nathan.Victoria langsung naik ke sofa, menungging sedikit di samping Nathan sambil menyodorkan payudaranya yang montok tepat ke mulut pria itu.“Hisap, hisap payudaraku,” desah Victoria serak, jari-j
Malam itu, penthouse Nathan Utama di lantai tertinggi gedung residensi mewah tampak tenang di luar, namun di dalam ruang utama yang luas, suasana sudah dipenuhi ketegangan erotis yang pekat.Nathan duduk di sofa kulit gelap yang luas, hanya mengenakan kemeja putih yang setengah terbuka dan celana formal yang masih rapi. Di hadapannya, tiga wanita berdiri dalam barisan yang sempurna: Victoria, Sisca, dan Karin.Victoria, wanita dewasa dengan aura elegan yang sudah lama berada di lingkaran Nathan, berdiri paling kiri. Tubuhnya langsing namun penuh, rambutnya diikat rapi.Di tengah, Sisca berdiri tegap dengan wajah profesional yang kini sudah kehilangan segala formalitas kantor. Di sisi kanan, Karin berdiri dengan bahu sedikit menurun, wajahnya masih menyimpan sisa-sisa ketegangan siang tadi, namun matanya sudah tunduk.Nathan menyilangkan kaki, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak.“Lepas semuanya,” perintahnya datar, suaranya rendah dan tanpa ruang
Untuk memastikan Karin tidak memiliki celah sedikit pun untuk merencanakan perlawanan balik atau membocorkan status terikatnya ke publik, Nathan Utama mengambil alih kendali penuh atas seluruh ekosistem kerja sang aktris.Melalui daya tekan finansial yang kuat dan ancaman penyebaran dokumen bukti pemerasan awal, Nathan memaksa pihak agensi manajemen tempat Karin bernaung untuk menandatangani adendum kontrak pengawasan khusus.Pagi itu, di dalam ruang kerja VIP lantai direksi, Nathan memanggil Sisca dan Karin secara bersamaan. Suasana ruangan terasa sangat kaku dan menekan.Sisca berdiri tegap di sisi meja kerja mengenakan gaun formal berpotongan rapi, sementara Karin berdiri di sisi sebaliknya dengan raut wajah tertekan dan tidak berdaya.Nathan melempar dua bendel dokumen hitam ke atas meja mahoni besar di hadapan mereka."Sisca," panggil Nathan datar dengan intonasi suara bass yang rendah dan tegas."Mulai hari ini, kamu resmi bertindak sebagai verifikator tunggal atas seluruh agend
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan







