แชร์

BAB 245

ผู้เขียน: Nona Mentari
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-10 09:55:34

Maman mendengarkan setiap patah kata cerita Heri dengan senyum miring yang penuh keakraban. Pria itu lantas mengusap rahang tegasnya yang ditumbuhi brewok tipis, menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak menyangka jalan hidup sahabatnya bisa berjalan se-ekstrem dan serumit itu.

"Gila kamu, Her," ujar Maman dengan tawa terkekeh rendah yang bergema pelan di dalam kamar VIP. "Garis takdir manusia itu benar-benar nggak ada yang tahu ya."

Heri menyunggingkan senyum tipisnya, menaikkan sebelah alisny
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 245

    Maman mendengarkan setiap patah kata cerita Heri dengan senyum miring yang penuh keakraban. Pria itu lantas mengusap rahang tegasnya yang ditumbuhi brewok tipis, menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak menyangka jalan hidup sahabatnya bisa berjalan se-ekstrem dan serumit itu."Gila kamu, Her," ujar Maman dengan tawa terkekeh rendah yang bergema pelan di dalam kamar VIP. "Garis takdir manusia itu benar-benar nggak ada yang tahu ya."Heri menyunggingkan senyum tipisnya, menaikkan sebelah alisnya. "Nggak tahu gimana maksudmu, Man?"Maman memajukan sedikit tubuh besarnya, menyandarkan kedua tangannya di paha kargonya yang kokoh."Ya kamu pikir saja sendiri. Dulu kamu cuma satpam biasa yang berdiri kaku menjaga gerbang rumah mewahnya, cuma dijadikan tempat pelampiasan rasa sepi dan pemuas hasrat di belakang si Reno.""Terus?" tanya Heri pendek."Terus lihat kamu sekarang!" Maman menunjuk dada bidang Heri dengan telunjuknya."Sekarang kamu malah bertransformasi penuh jadi pahlawan nasiona

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 244

    Pandangan mata elang pria mantan prajurit itu mendadak berubah teramat intens, menatap lurus ke arah Heri yang sedang bersandar di tumpukan bantal."Her," panggil Maman dengan suara bariton rendahnya yang mendalam."Kenapa, Man?" sahut Heri pendek, mengalihkan pandangannya dari selang infus.Maman berdeham pelan, rahang tegasnya mengetat sejenak sebelum melontarkan pertanyaan serius yang sudah lama mengganjal di dalam kepalanya. "Aku mau tanya satu hal. Dan aku mau kamu jawab jujur sama aku."Heri menaikkan sebelah alis tebalnya. "Tanya apa? Kayak sama siapa saja kamu ini pakai permisi segala.""Soal kamu sama Sintya," Maman memajukan sedikit tubuh besarnya ke depan, menaruh kedua sikunya di paha kargonya."Sebenarnya... kamu memang sudah menyimpan rasa suka dan cinta sama Sintya dari dulu? Maksudku, dari sebelum semua kekacauan sama Reno ini pecah?"Mendengar pertanyaan itu, Heri seketika terdiam. Bibir tebalnya terkunci rapat.Pria itu lantas menghembuskan napas panjang, lalu mengal

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 243

    Suster itu langsung menarik tangannya cepat-cepat, merapikan posisi berdirinya dengan gestur amat canggung dan gugup."E-enggak, Pak! Saya... saya cuma lagi menyeka badan Pak Heri sesuai prosedur rumah sakit kok!"Dengan tangan yang gemetaran dan gerakan terburu-buru, suster itu langsung mengubah sikapnya menjadi sangat formal dan profesional.Tangannya bergerak cepat menyapu permukaan perban Heri, merapikan kasa steril, lalu menutup kembali baskom kecil dan botol antiseptik di atas baki medisnya."S-sudah selesai, Pak Heri," ujar suster itu dengan suara yang mendadak patah-patah, tak berani menatap langsung ke arah Maman maupun Heri. "S-saya permisi dulu ke ruang jaga perawat."Tanpa menunggu jawaban, suster genit itu setengah berlari keluar dari kamar VIP, menutup pintu kayu dengan tergesa-gesa.Maman menyunggingkan senyum miringnya yang khas. Pria berotot itu melangkah makin dekat ke ranjang, matanya melirik ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat sebelum menatap Heri yang berb

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 242

    Matahari sore mulai condong ke barat, membiaskan sinar keemasan menerobos tirai tipis kamar perawatan VIP di lantai empat.Suasana kamar terasa begitu hening. Sintya baru saja pamit turun sebentar ke lantai bawah bersama Nathan untuk mengurus sisa berkas administrasi medis sekaligus membeli beberapa porsi makanan malam.Heri terbaring bersandar di atas kasur empuknya. Pria bertubuh tinggi besar itu memejamkan mata sejenak, menikmati ketenangan ruangan setelah seharian dipenuhi hiruk-pikuk pemeriksaan medis.Klek.Suara engsel pintu kamar VIP terdorong pelan. Seorang suster muda berwajah manis dengan seragam medis ketat berwarna biru muda melangkah masuk membawa sebuah baki berisi baskom kecil, handuk steril hangat, dan beberapa botol cairan antiseptik."Permisi, Pak Heri. Waktunya untuk menyeka badan dan mengganti balutan perban luar ya," ujar suster itu dengan nada suara yang sengaja dibuat agak halus dan mendayu-dayu.Heri membuka sepasang mata elangnya perlahan, menatap datar ke ar

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 241

    Sudah tiga hari berlalu sejak Heri dipindahkan dari ruang ICU. Pria itu kini sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan raut wajah yang merengut gusar.Jemari besarnya yang berurat terus meraba permandangan kasa steril yang membungkus rapat bekas luka jahitan di perut kirinya.Heri menghembuskan napas berat, lalu mengerang pelan sembari menggeser kakinya ke pinggir ranjang."Aduh... kaku banget ini badan," gerutu Heri dengan suara baritonnya yang berat.Sintya yang sedang berdiri membelakangi ranjang, sibuk merapikan tumpukan pakaian Nathan di dalam lemari kayu kamar, langsung menoleh cepat."Heri! Jangan banyak gerak dulu!" tegur Sintya seraya berjalan mendekati tempat tidur dengan wajah berseri-seri namun diwarnai cemas. "Kan dokter bilang perban perut kamu baru diganti tadi pagi.""Sintya, aku ini sudah merasa segar banget," protes Heri, menatap lurus calon istrinya dengan mata elang yang tajam."Aku cuma luka di perut, kaki sama tanganku masih utuh. Masa harus tiduran terus di

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 240

    Heri menyandarkan Punggung tegapnya yang berotot pada tumpukan bantal tebal di kepala ranjang kamar VIP.Kemeja pasien berwarna biru muda terpasang rapi, menutupi balutan kasa steril yang melingkar erat di perut kirinya.Rasa panas dan nyeri yang membakar masih menyengat tajam setiap kali pria bertubuh tinggi besar itu menggeser posisi duduknya, namun rahang tegas Heri tetap terkunci rapat tanpa menunjukkan rasa lemah sedikit pun.Sintya duduk setia di pinggir tempat tidur. Dengan telaten, tangan cantiknya memegang cangkir berisi air hangat ber-sedotan, menyodorkannya perlahan ke bibir Heri."Pelan-pelan minumnnya, Heri," bisik Sintya lembut.Matanya yang sembap kini memancarkan Binar kebahagiaan yang tak bertepi, bibir tipisnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum lega melihat calon suaminya sudah bisa diajak bicara.Heri meminum air hangat itu beberapa teguk, merasakan tenggorokannya yang tadinya kering kerontang perlahan membaik.Sepasang mata elang Heri menatap lekat wajah Sin

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 69

    Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 7

    Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status