MasukSuasana di dalam kamar VIP mendadak berubah menjadi sangat privat dan intens setelah pintu kayu kembali tertutup rapat. Keheningan pagi yang hangat menyelimuti ruangan ber-AC tersebut.Sintya berdiri tepat di samping ranjang tempat Heri berbaring. Wanita jelita itu menyunggingkan senyum tipisnya yang amat memikat.Tangannya yang lentik bergerak pelan meraih ujung cardigan berbahan rajut lembut yang menutupi bagian atas tubuhnya, lalu perlahan-lahan meloloskannya melewati lengan mulusnya.Heri yang tadinya hendak membetulkan letak bantal seketika terdiam kaku. Pria bertubuh tinggi besar itu terpana, matanya membola lebar hingga refleks menahan napasnya.Di balik cardigan yang kini tergeletak di atas kursi, Sintya rupanya mengenakan mini dress ketat tanpa tali (strapless) berwarna krem.Gaun itu memamerkan dengan jelas keindahan bahu mulusnya yang putih bersih serta belahan dadanya yang amat padat dan menantang. Siluet tubuhnya yang sintal dan berisikan terpampang nyata tepat di depan m
Pagi harinya di kamar VIP rumah sakit, sinar matahari menyusup hangat lewat selah gorden.Heri sedang duduk bersandar di atas ranjangnya. Luka tembak di perutnya terasa jauh lebih mendingan, membuat napasnya kini jauh lebih teratur dan plong.Klek.Pintu kamar mendadak terdorong pelan. Suster muda genit yang kemarin sempat diceramahi Maman melangkah masuk kembali.Pagi ini, riasan wajah suster itu terlihat jauh lebih tebal dengan polesan lipstik merah menyala. Seragam perawatnya sengaja ditarik agak ketat, menonjolkan lekuk dadanya saat ia mendorong baki peralatan medis."Selamat pagi, Pak Heri..." sapa suster itu dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat manja dan mendayu-dayu.Heri tidak menjawab. Pria bertubuh tinggi besar itu hanya melirik dingin dari sudut mata elangnya, lalu kembali memalingkan wajah menatap layar televisi yang menyala tanpa suara.Suster muda itu mendekat ke sisi kasur Heri.Dengan gerakan yang lambat dan sengaja memancing, ia mengulurkan tangannya untuk memer
Malam makin melarut. Jam dinding di lantai dasar restoran telah menunjukkan pukul sebelas malam.Seluruh karyawan dapur dan pelayan telah pamit pulang, menyisakan lampu-lampu utama yang dipadamkan satu per satu hingga hanya tersisa pendaran hangat lampu interior di lorong-lorong utama. Suasana lantai satu sudah benar-benar sunyi dan sepi.Di lantai dua, pintu kayu tebal ruang kerja pribadi Heri tertutup rapat. Cahaya dari lampu meja menyala redup, membiaskan sinar keemasan yang hangat di dalam ruangan yang beraroma kayu jati dan aroma parfum maskulin yang khas.Maman melangkah tegap menyusuri koridor lantai dua, langkah kakinya yang berat dan berwibawa memecah keheningan malam.Pria itu kemudian membetulkan posisi kerah kaus polos hitamnya yang melekat erat pada dada bidang dan otot lengannya yang berurat.Maman memegang selembar map kosong di tangan kirinya, sebuah alibi modus sederhana yang sengaja disiapkannya.Klek.Maman mendorong pintu kayu ruang kerja Heri, melangkah masuk ke d
Jam di dinding ruang administrasi restoran menunjukkan pukul empat sore.Suasana restoran sedang lengang di jeda antara jam makan siang dan makan malam.Maman berdiri tegap di dekat lemari arsip, mencoba fokus memeriksa lembaran kuitansi stok bahan dapur.Pria itu kini sedang berusaha mempertahankan wibawa dinginnya seperti biasa, lengkap dengan raut wajah datar dan rahang tegas yang mengetat kaku.Namun, pertahanan mental sang mantan prajurit keamanan itu mendadak diuji saat suara pintu kaca kamar dibuka dari luar.Klek.Karin melangkah masuk membawa dua cangkir teh manis hangat yang berasap tipis.Wanita berparas jelita itu mengenakan kemeja fitted berwarna merah muda yang membentuk lekuk dada dan pinggang mulusnya dengan sangat pas. Ujung kuncir rambutnya bergoyang pelan seiring langkah kakinya yang anggun."Mas Maman..." panggil Karin dengan suara merdu dan agak mendayu dari arah belakang.Maman yang sedang serius memegang tumpukan map tebal seketika tersentak kaget. Pria tegap be
Suasana di dalam area dapur dan ruang administrasi restoran milik Heri pagi itu tampak sibuk. Bau harum tumisan bumbu serta aroma kental kopi yang baru diseduh memenuhi udara.Di saat Heri masih harus menjalani pemulihan intensif di rumah sakit akibat luka tembaknya, dan Sintya disibukkan oleh jadwal ketat bolak-balik antara mengurus butiknya serta mendampingi sang calon suami, roda bisnis restoran tidak boleh terhenti.Maman secara penuh mengambil alih kepemimpinan operasional restoran untuk menggantikan posisi Heri.Pria itu berdiri tegap di tengah area meja bar, mengenakan kaus polos hitam yang membalut ketat otot dada dan lengannya yang berurat, dipadukan dengan celana kain kargo andalannya."Stok daging sapi sama sayuran buat makan siang sudah masuk semua?" tanya Maman dengan suara bariton rendahnya yang tegas pada kepala koki."Sudah lengkap, Mas Maman," jawab sang koki sigap. "Semua bahan segar sudah ditata di ruang penyimpanan dingin.""Bagus. Ingat, jaga kualitas rasa dan keb
Maman mendengarkan setiap patah kata cerita Heri dengan senyum miring yang penuh keakraban. Pria itu lantas mengusap rahang tegasnya yang ditumbuhi brewok tipis, menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak menyangka jalan hidup sahabatnya bisa berjalan se-ekstrem dan serumit itu."Gila kamu, Her," ujar Maman dengan tawa terkekeh rendah yang bergema pelan di dalam kamar VIP. "Garis takdir manusia itu benar-benar nggak ada yang tahu ya."Heri menyunggingkan senyum tipisnya, menaikkan sebelah alisnya. "Nggak tahu gimana maksudmu, Man?"Maman memajukan sedikit tubuh besarnya, menyandarkan kedua tangannya di paha kargonya yang kokoh."Ya kamu pikir saja sendiri. Dulu kamu cuma satpam biasa yang berdiri kaku menjaga gerbang rumah mewahnya, cuma dijadikan tempat pelampiasan rasa sepi dan pemuas hasrat di belakang si Reno.""Terus?" tanya Heri pendek."Terus lihat kamu sekarang!" Maman menunjuk dada bidang Heri dengan telunjuknya."Sekarang kamu malah bertransformasi penuh jadi pahlawan nasiona
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri







