LOGINJam menunjukkan pukul empat sore.Kesibukan jam makan siang di restoran milik Heri telah mereda total. Suasana lantai dua, khususnya area ruang administrasi, terasa sangat tenang dan lengang. Hanya terdengar dentingan ketukan jemari pada papan ketik laptop.Karin duduk bersandar di balik meja kerja kayu. Wajah cantiknya tampak agak lelah, mengamati deretan angka laporan kasur harian di layar laptop.Karena pendingin udara ruangan terasa kurang dingin, Karin mengulurkan tangannya, melonggarkan dua kancing atas kemeja putihnya.Tindakan itu secara tak sengaja memperlihatkan keindahan leher mulus serta belahan dadanya yang mengintip tipis di balik kemeja.Klek.Pintu ruang administrasi terdorong terbuka. Maman melangkah masuk sembari menggenggam satu cangkir kopi hitam panas di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang tumpukan nota pembelian bahan baku dari pasar pagi tadi.Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah kokoh dengan kaus hitam ketat yang masih melekat ketat membungku
Matahari pagi menyinari bagian depan restoran dua lantai milik Heri dengan hangat. Aroma bumbu rempah dan aroma tumisan khas dapur sudah tercium samar-samar saat pintu kaca utama dibuka dari dalam.Heri melangkah masuk menyusuri area lantai utama dengan langkah tegap, berwibawa, dan mantap.Pria bertubuh tinggi besar itu tampil gagah dalam balutan kemeja kasual berlengan pendek warna abu-abu gelap yang membungkus ketat dada bidangnya yang keras, dipadu dengan celana jins hitam.Aura kepemimpinan alami seorang pemilik utama yang telah pulih total terpancar amat kuat dari penampilannya."Selamat pagi, Pak Heri!" sapa Chef Aris, koki kepala restoran, dengan raut wajah amat lega.Jajaran staf pelayan dan koki yang sedang menyapu lantai serta merapikan meja makan seketika menghentikan kegiatan mereka.Mereka membungkuk hormat, menyambut kepulangan sang nahkoda bisnis dengan binar mata penuh antusiasme."Selamat pagi semuanya," balas Heri dengan suara bariton rendahnya yang dalam dan ramah.
Setelah seluruh saksi selesai memberikan keterangan dan fakta-fakta persidangan sudah berdiri tegak tanpa celah, suasana ruang sidang utama kembali lengang.Majelis hakim sempat memusyawarahkan amar putusan selama hampir satu jam sebelum akhirnya kembali memasuki ruangan."Persidangan dibuka kembali untuk umum," panggil Hakim Ketua sembari mengetukkan palunya satu kali.Seluruh pengunjung sidang, termasuk Heri, Sintya, Nathan, dan Maman, berdiri tegak di tempat masing-masing.Di sudut meja terdakwa, Reno dan Suryo dipaksa berdiri oleh petugas pengawal tahanan.Wajah kedua pria itu tampak sangat pucat, bahu mereka terkulai layu menanti vonis akhir yang akan menentukan sisa hidup mereka.Hakim Ketua membetulkan kacamata bacanya, lalu membacakan amar putusan dengan suara nyaring yang bergema di setiap sudut ruangan."Mengadili, menyatakan Terdakwa I, Reno, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan berencana serta keterlibatan dalam kej
Suasana di dalam ruang sidang utama Pengadilan Negeri mendadak berubah menjadi sangat hening dan mencekam. Ratusan pasang mata yang memenuhi kursi pengunjung tertuju ke depan saat panitera membacakan pemanggilan saksi kunci."Kepada saksi Heri, dimohon memasuki ruang sidang dan menduduki kursi saksi utama," seru panitera dengan nada resmi.Heri bangkit dari duduknya.Pria bertubuh tinggi besar itu membetulkan letak kemeja putih pas badannya, menepuk pelan bahu Sintya dan Nathan yang duduk di barisan paling depan, lalu melangkah tegap menuju kursi kayu di tengah ruang sidang.Postur tubuhnya yang tegap dan dominan memancarkan wibawa yang amat kuat, sama sekali tidak menunjukkan sisa-sisa rasa sakit akibat luka tembak di perutnya.Di sudut meja terdakwa, suasana kontras terlihat jelas. Reno duduk mengenakan kemeja putih yang tampak kusam dan kusut.Wajah tampannya yang dulu selalu dipenuhi kesombongan kini terlihat sangat tirus, matanya merah berurat, dan guratan frustrasi yang mendalam
Pagi hari di Pengadilan Negeri tampak jauh lebih sibuk dan menegangkan dari biasanya.Udara dingin dari pendingin ruangan menyapu koridor berlantai marmer yang dipenuhi oleh petugas keamanan, pengacara, serta puluhan wartawan yang berlalu-lalang.Dari ujung koridor, Heri melangkah dengan postur tegap, berwibawa, dan memancarkan aura dingin yang sangat dominan.Luka tembak di perutnya telah membaik total, memungkinkannya berjalan lurus tanpa rasa canggung sedikit pun.Pria itu tampil sangat memukau dalam balutan kemeja putih formal pas badan yang menonjolkan bentuk dadanya yang bidang dan keras, dipadu dengan celana bahan hitam berpotongan rapi.Di samping kirinya, Maman berjalan sigap bak seorang pengawal pribadi kelas atas.Mantan prajurit itu mengenakan setelan jas hitam ketat yang mencetak otot-otot lengannya yang tebal dan berurat.Sementara di sisi kanan Heri, Sintya melangkah anggun mempesona dalam balutan blazer krem yang membungkus sempurna lekuk tubuhnya yang sintal dan padat
Malam makin melarut. Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat.Suasana di dalam kamar tidur Nathan sudah hening total, menandakan remaja itu telah tertidur lelap setelah menyelesaikan seluruh tugas sekolahnya.Suasana apartemen mewah itu berubah menjadi sangat tenang, privat, dan sunyi. Heri melangkah perlahan menuju pintu kaca besar di sudut ruangan yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon luar.Pria itu membuka pintu geser, dan membiarkan hembusan angin malam yang sejuk menyapu wajah dan tubuh tegapnya.Heri berdiri menyandarkan kedua lengan kekarnya di atas pagar pembatas balkon. Pandangan mata elangnya menatap lurus ke luar, menikmati pendaran gemerlap lampu kota Jakarta yang terbentang luas di bawah sana.Klek.Suara gesekan kain terdengar pelan dari arah belakang. Sintya menyusul langkah Heri ke luar balkon.Wanita cantik itu telah melapiskan sebuah outer berbahan kain rajut tipis di atas bahunya untuk menghalau dinginnya angin malam."Belum t
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu






