FAZER LOGINDerum halus mesin SUV hitam milik Maman perlahan meredap saat kendaraan bongsor itu berhenti sempurna di area parkir khusus lantai dasar restoran pusat.Udara siang yang hangat menyambut langkah Heri, Maman, dan Nathan saat ketiganya melangkah keluar.Tidak ada lagi sisa-sisa ketegangan dari ruang Kepala Sekolah tadi pagi. Yang tersisa hanya ketenangan mutlak dari dua pria dewasa yang berhasil menjaga kehormatan darah daging mereka.Ketiganya melangkah naik menuju area VIP di lantai dua. Aroma harum olahan iga bakar rempah dan hidangan laut segar langsung menusuk indra penciuman begitu pintu kayu berukir itu terdorong terbuka.Sintya, yang anggun mengenakan gaun hamil bernuansa pastel, berdiri menyambut bersama Karin yang tampil sangat profesional dengan setelan kerjanya.Sintya seketika melangkah mendekat, matanya menatap Nathan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan cemas sekaligus penasaran. "Nathan! Kamu nggak apa-apa, Nak? Nggak ada yang l
Keheningan di dalam ruang Kepala Sekolah kini terasa menekan bagi pihak yang bersalah.Pak Wijaya membetulkan letak kacamatanya, memajukan tubuhnya ke arah meja kayu jati, lalu menatap Ryan dan Kusuma dengan sorot mata kecewa yang teramat dalam. Bukti rekaman video di atas meja sama sekali tak memberi celah untuk berdalih."Mengingat bukti ini sangat jelas dan tidak bisa disanggah," ujar Pak Wijaya dengan intonasi tegas yang tak bergeming.“Sekolah mengambil tindakan disiplin keras. Ryan akan menerima skorsing selama dua minggu penuh, catatan pelanggaran tingkat berat di berkas akademisnya, serta kewajiban membuat surat permohonan maaf tertulis kepada Nathan."Wajah Kusuma memerah padam karena rasa malu yang luar biasa.Rahangnya mengeras, namun tak ada satu pun kata pembelaan yang sanggup meluncur dari tenggorokannya.Dengan napas memburu dan jari-jari yang gemetaran, Kusuma menyambar tas kerjanya secara kasar dari atas sofa."
Di atas sofa kulit cokelat, Pak Kusuma, pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja bermerek bernuansa mencolok, duduk dengan menyilangkan kakinya kasar.Wajahnya yang kemerahan memancarkan amarah yang meluap-luap, sementara tangannya tak berhenti menepuk-nepuk lengan kursi.Di sisinya, Ryan duduk menunduk sembari sesekali meringis, mengusap dadanya dengan wajah yang sengaja dibuat sepucat mungkin.Pak Wijaya, sang Kepala Sekolah, duduk di balik meja kerjanya dengan pelipis yang mulai dibasahi keringat dingin.Gertakan dan ancaman pencabutan dana sponsor proyek fasilitas sekolah yang terus dilontarkan Kusuma sejak sepuluh menit lalu benar-benar menekan posisinya."Saya tidak mau tahu, Pak Wijaya!" bentak Kusuma dengan suara serak yang memenuhi ruangan, memotong penjelasan guru piket."Anak ini jelas-jelas preman! Ryan ini anak baik-baik, anak penurut! Lihat dadanya sampai memar begitu karena diserang secara brutal! Hari ini juga, anak bern
Melalui teropong khusus berpresisi tinggi di tangan Maman, pemandangan di sudut area parkir sepeda motor sekolah terlihat sangat jelas.Area tersebut cukup tersembunyi, terlindung oleh dinding pembatas dan deretan kendaraan yang terparkir rapi.Suasana di sana terbilang lengang, jauh dari jangkauan pandangan satpam yang bertugas di gerbang depan.Ryan—anak pengusaha kontraktor rival Heri,melangkah maju memangkas jarak.Kedua temannya yang berbadan lebih tinggi dan tegap mengambil posisi bersiap di kiri dan kanan, mengepung jalur jalan Nathan.Ryan menatap Nathan dengan pandangan meremehkan, membusungkan dadanya yang terbalut seragam rapi."Woi, Nathan!" panggil Ryan dengan nada suara yang sengaja ditinggikan, berniat menekan mental lawan."Gaya amat lo pagi-pagi diantar SUV baru. Lo pikir dengan harta bapak lo, lo bisa belagu di sekolah ini?"Nathan menghentikan langkahnya. Posisinya berjarak sekitar dua meter dari ketiga
Sinar matahari pagi membias lembut menembus jendela kaca berukuran besar di penthouse apartemen Heri.Suasana ruang makan terasa hangat dan tenang, diselimuti aroma gurih nasi goreng mentega dan uap kopi hitam pekat yang baru diseduh.Sintya melangkah anggun mengitari meja makan, meletakkan piring saji sembari mengusap perutnya yang mulai membuncit kencang.Heri berdiri di dekat cermin besar, jemari tangannya yang kokoh dengan cekatan merapikan simpul dasi sutra bernuansa gelap.Setelan jas mahal yang melekat sempurna di tubuh tegapnya memancarkan karisma mutlak seorang CEO berkelas. Di sudut meja, Nathan duduk tegap mengenakan seragam putih-biru yang amat rapi.Pandangan mata bocah itu tampak tajam dan penuh percaya diri, jauh berbeda dari sosoknya beberapa bulan lalu.Ingatan akan latihan fisik yang berat, usapan keringat, serta teknik tangkisan Taekwondo privat dari Master Ridwan di dojang telah membentuk mentalnya menja
Heri tidak membiarkan rasa risihnya bertahan lama. Tanpa membuang waktu, pria itu merogoh ponsel di saku celananya dan langsung memutar nomor Maman.Di seberang telepon, suara gemericik air hujan di cabang luar kota masih terdengar, namun nada suara Maman seketika berubah tajam begitu mendengar cerita ringkas dari Heri mengenai manuver nekat yang baru saja dilakukan Mayang di ruang kerja lantai dua."Biar aku yang bereskan kotoran itu sore ini juga, Her," ujar Maman dengan suara baritonnya yang berat dan mematikan. "Aku dan Karin sudah selesai di cabang. Kami langsung meluncur balik sekarang."Perjalanan dua jam ditempuh Maman dengan kecepatan penuh. Di balik kemudi SUV hitamnya, rahang Maman menegang keras.Karin yang duduk di sampingnya mengepal jemari dengan erat, siap menuntaskan berkas bukti manipulasi finansial yang telah ia susun dengan amat rapi.Tidak ada toleransi lagi bagi benalu yang sudah berani mengusik batas profesionalitas dan marta
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya







