LOGINJarum jam di dinding lobi menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit ketika tanda CLOSED resmi dipasang di pintu kaca utama.
Hari pertama operasional cabang empat telah berakhir dengan sukses yang gemilang.
Heri, Sintya, dan Nathan sudah lebih dulu meninggalkan lokasi setengah jam lalu, dikawal ketat oleh tim keamanan sekunder menuju penthouse apartemen mereka.
Kini, bangunan dua lantai berkonsep modern-minimalis itu mendadak hening total.
Lampu-lampu u
Pukul tiga pagi, di tengah keheningan yang lelap itu, deru mesin sepeda motor matik tanpa peredam suara mendadak memecah malam dari kejauhan.Dua orang tak dikenal mengendarai satu unit motor tanpa pelat nomor melaju kencang dari balik tikungan. Pengemudi motor sengaja mematikan lampu utama untuk menyamarkan identitas.Begitu mendekati gerbang utama cabang empat, pria di boncengan belakang bangkit sedikit dari joknya. Tangan kanan dan kirinya secara bersamaan melemparkan tiga kaleng cat minyak berukuran sedang ke arah fasad depan bangunan.Prang! Pyar!Benturan keras kaca pecah dan hantaman blek seng beradu menghantam dinding kaca tebal serta plang nama restoran berlogo megah Heri Utama.Cairan cat minyak kental berwarna merah darah seketika muncrat hebat, membasahi kaca pembatas, mengotori lantai granit pelataran, dan meleber jelek di atas ukiran kayu plang depan.Tanpa menghentikan laju kendaraan, pengemudi motor langsung memutar gas dalam-dalam, melesat kabur menghilang di balik ke
Pukul setengah dua belas malam, Karin melangkah anggun menyusuri lorong beton basah menuju sedan putihnya.Tangan kanannya menjinjing tas kulit kerja, sementara jemari kirinya menggenggam erat kunci mobil.Suara dentang tumit sepatu hak tingginya memantul teratur di dinding beton, memecahkan kesunyian malam yang pekat.Namun, sebelum Karin sempat menekan tombol pembuka kunci pintu mobil, sesosok pria berjas hitam yang berdiri di balik pilar beton mendadak melangkah keluar, memotong jalur jalannya."Selamat malam, Bu Karin," sapa pria itu dengan nada suara yang terlalu dibuat-buat sopan, namun memancarkan intrik yang licik.Karin menghentikan langkahnya seketika. Tubuhnya refleks bersiaga, memiringkan posisi berdiri dengan tatapan mata yang langsung berubah tajam dan dingin."Siapa kamu? Mau apa malam-malam begini di area parkir privat?"Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang memuat nada merendahkan. Tanpa membuang waktu, ia merogoh saku dalam jas mewahnya dan menarik keluar sebuah
Pukul sebelas malam, Maman menghentikan laju kendaraannya di balik deretan kontainer berkarat.Mesin kendaraan matikan pelan, menyisakan denting dingin dari logam knalpot yang mendingin di tengah keheningan malam.Maman merogoh saku jaket taktisnya, memastikan sarung tangan kulit hitam bertekstur kasar sudah terpasang rapi menyelimuti jemari kokohnya.Matanya yang tajam menembus kegelapan, menatap sebuah bangunan gudang tua berdinding seng bergelombang.Dari balik celah pintu kayu yang renggang, pendar lampu kuning yang remang-remang membias keluar, diiringi sayup-sayup gelak tawa kasar dan denting botol kaca yang saling bertabrakan.Tempat itu adalah markas informal tempat anak buah Broto dan jaringan preman bayaran Konsorsium Sanjaya biasa berkumpul untuk membagi uang kompromi dan menyusun aksi teror lapangan.Maman mendorong pintu mobil, melangkah keluar dengan tenang. Sepatu bot taktisnya menapak tanpa suara di atas permukaan tanah basah.Pria itu tidak membawa senjata api atau to
Pukul delapan pagi, Heri berdiri tegap di sudut ruangan, membetulkan posisi kancing jas abu-abu gelapnya di hadapan cermin.Langkah taktisnya dimulai pagi ini tanpa sedikit pun memberikan peringatan awal kepada pihak Dinas Pertanahan Daerah maupun Konsorsium Sanjaya.Di samping panggung mini, sebuah maket megah berskala presisi berdiri kokoh di bawah sorotan lampu sorot.Maket tersebut menampilkan rancangan pengembangan area Drive-Thru modern, VIP Lounge berlantai dua, serta area ruang hijau pesisir bernilai investasi puluhan miliar rupiah yang menyatu sempurna di atas lahan 800 meter persegi milik Pak Ridwan.Sintya melangkah mendekati suaminya, merapikan sedikit kerah kemeja Heri dengan jemarinya yang halus.Anggun dalam balutan gaun formal berwarna gelap, Sintya menampilkan ketenangan seorang wanita berkelas yang siap berdiri di garis depan pertarungan hukum."Semua wartawan dari media berita utama sudah siap di posisi, Mas," bisik Sintya lembut, menatap netra tegas Heri dengan pen
Pukul delapan malam, di dalam ruang kerja manajemen keuangan, Karin masih bertahan di meja besarnya. Meja kayu mahoni itu penuh oleh tumpukan berkas cetak, lembar audit internal, serta kertas laporan arus kas yang tertata rapi.Dua layar monitor resolusi tinggi di hadapannya menyala terang, membiaskan cahaya kebiruan pada paras ayu nan tegas wanita itu.Jemari Karin yang lentik menari lincah di atas papan ketik, menelusuri ratusan baris data transaksi keuangan digital yang sengaja disamarkan.Ketenangan ruangan itu perlahan terpecah oleh gema langkah kaki tegap yang terdengar mendekat dari arah koridor utama.Bunyi pantulan sepatu kulit eksklusif itu begitu khas dan sangat dihafal oleh Karin.Heri melangkah masuk dengan santai. Jas resmi yang digunakannya saat rapat maraton siang tadi kini sudah dilepas, menyisakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga separuh lengan bawah, menampakkan jam tangan mewah dan lengan kokoh sang CEO.Di tangan kanannya, Heri membawa seca
Pukul lima subuh, udara dingin pesisir masih merayap tebal menyelimuti area sekitar restoran cabang empat.Di tengah ketenangan, Maman melangkah tenang melakukan patroli rutin sendirian.Matanya yang tajam dan terlatih terus mengamati setiap sudut perimeter luar.Bagi Maman, jeda antara malam dan terbitnya matahari adalah waktu paling krusial untuk memastikan benteng pertahanan Heri Utama tidak memiliki celah sedikit pun.Saat langkah kaki tegapnya tiba di batas lahan kosong seluas 800 meter persegi milik Pak Ridwan, lahan yang rencananya akan disulap menjadi area Drive-Thru dan VIP Lounge, pandangan Maman seketika terkunci pada pergerakan mencurigakan.Dua unit mobil bak terbuka berhenti tanpa menyalakan lampu utama di bahu jalan yang remang. Dari bak belakang, enam pria berbadan tegap melompat turun secara senyap.Masing-masing membawa gulungan tali, beberapa batang kayu berujung runcing yang dililit cat kuning-hitam, serta gulungan kain spanduk tebal.Tanpa membuang waktu, mereka m
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.