Share

Kabar Tak Terduga

Penulis: WAZA PENA
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 21:43:56

Leo menatap Ayu beberapa detik setelah kata-kata itu terucap.

Ucapan sederhana, nada lembut, namun maknanya terasa berat.

"Jika Pak Leo butuh, bilang saja. Aku pasti melayani."

Ada jeda hening di antara mereka, bukan karena canggung, melainkan karena keduanya sama-sama memahami apa arti kalimat itu. Ayu tidak sedang bercanda. Dan Leo… tidak sepenuhnya mampu menolak.

"Terima kasih, Ayu," ucap Leo, suaranya sedikit serak. "Untuk semalam… dan untuk semua perhatianmu padaku."

Ayu tersenyum. Senyum yang tenang, tidak berlebihan, namun terasa tulus. "Aku juga berterima kasih, Pak Leo. Aku nyaman...."

Kata "nyaman" itu lagi-lagi menghantam pertahanan Leo. Ia mengangguk pelan, lalu berdiri, berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain.

"Ya sudah siap-siap aja, kita harus berangkat," ucapnya. "Jangan sampai telat. Kasihan jika mereka terlalu lama menunggu."

Ayu mengiyakan dengan cepat, kembali pada sikap profesionalnya. Seolah apa yang terjadi di kamar hotel semalam hanyalah sebuah rahasia yang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Kecurigaan Yang Semakin Nyata

    Ponsel Leo kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan. Dari Ayu.Leo segera mengangkatnya, menekan volume suara agar tetap pelan."Iya, Ayu," ucap Leo."Aku sudah keluar dari kantor Rendi, Pak. Sekarang lagi di mobil online," suara Ayu terdengar sedikit tegang, tapi berusaha terdengar tenang.Leo merasa dadanya sedikit mengendur."Bagus. Kamu langsung pulang saja.""Iya, Pak. Jujur saja… saya tadi sempat takut," ucap Ayu pelan.Kalimat itu membuat Leo mengepalkan tangannya tanpa sadar."Lain kali kalau ada apa-apa, langsung kabari saya. Jangan dipendam.""Baik, Pak."Panggilan berakhir. Leo menurunkan ponselnya perlahan. Ia masih duduk di tempat yang sama, namun pikirannya semakin kacau. Rendi kini jelas berada di posisi yang berbahaya di benaknya, bukan hanya karena kemungkinan hubungannya dengan Dinda, tetapi juga karena tindakannya terhadap Ayu."Orang seperti itu…" Leo menggeleng pelan. "Tidak bisa dipercaya."Sekali lagi, Leo terdiam.Ia sadar, ia harus lebih berhati-

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Perasaan Tak Biasa

    Panggilan itu diakhiri. Leo menurunkan ponselnya perlahan. Dadanya terasa penuh, bukan hanya oleh kecemburuan yang tak ingin ia akui, tapi juga oleh rasa was-was yang semakin menekan. Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya berjalan ke sofa dan duduk.Dinda keluar dari dapur dengan dua gelas minum. Sejak tadi matanya memperhatikan Leo, cara ia berdiri, cara ia bicara di telepon, hingga ekspresi wajahnya yang sulit disembunyikan."Mas kelihatan gelisah," ucap Dinda lembut sambil menyerahkan gelas. "Apa ada masalah di kantor?"Leo menerima gelas itu, meneguk sedikit. "Nggak apa-apa, Sayang. Urusan kerjaan saja. Lagi banyak yang harus diurus."Dinda duduk di sampingnya, tubuhnya sedikit condong mendekat. "Kalau capek, istirahat dulu. Jangan dipikirin sendirian, Mas."Leo tersenyum tipis, senyum yang terasa dipaksakan bahkan bagi dirinya sendiri. "Iya. Aku cuma lagi kebanyakan mikir sekarang."Dinda menepuk punggung tangan Leo dengan lembut. "Apa pun itu, aku di sini, Mas. Jangan

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Hasrat Terpendam Pada Sepupu

    Ayu menarik napas panjang. "Pak… aku ngerti bapak marah. Tapi… jangan langsung konfrontasi. Kasihan istri anda."Leo mengangkat tangan, menghentikan. "Aku tahu. Makanya aku ke kantor, bukan ribut di rumah."Ia menatap Ayu dengan mata lelah namun penuh tekad. "Aku nggak mau nuduh tanpa bukti. Tapi aku juga nggak mau dibodohi."Ayu mengangguk. "Anda bener, Pak. Kita harus hati-hati. Aku bakal cari tahu tentang Rendi secepat mungkin."Leo menunduk lagi. "Aku cuma mau kejelasan. Itu saja."Ayu menatapnya dengan empati. "Aku di pihak anda, Pak. Dan aku siap bantu."Leo mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya pagi itu, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai, tapi karena ia tahu kini ia tidak sendirian menghadapi semua ini.Di balik wajah tenangnya, Leo sudah mengambil keputusan dalam hati. Apa pun hasilnya nanti, ia akan menghadapinya. Dengan bukti, dengan kepala dingin. Namun satu hal pasti, hari ini, hidupnya sudah memasuki titik yang tidak akan pernah sama

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Desahan Di Kamar Mandi ++

    Malam semakin larut tanpa terasa. Hujan rintik yang sempat terdengar di luar jendela kini telah berhenti. Udara dingin menyusup perlahan ke dalam kamar, membuat Leo tanpa sadar menarik selimut lebih rapat. Tubuhnya akhirnya benar-benar terlelap, tenggelam dalam tidur yang tidak terlalu nyenyak.Namun sekitar pukul dua dini hari, Leo terbangun.Matanya terbuka perlahan, kepalanya masih terasa berat. Ia refleks menoleh ke samping, mencari keberadaan istrinya. Tetapi, Dinda tidak ada di sampingnya."Dinda?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.Tidak ada jawaban. Leo menghela napas kecil, mencoba berpikir positif. "Pasti ke kamar mandi," bisiknya pada diri sendiri.Ia memejamkan mata lagi sesaat, tapi rasa haus tiba-tiba menyerang. Tenggorokannya terasa kering. Akhirnya Leo bangkit perlahan dari kasur, berusaha tidak menimbulkan suara. Kakinya melangkah keluar kamar menuju dapur, menyalakan lampu kecil, lalu menuang air minum.Sambil minum, pikirannya masih setengah mengantuk. "

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Curiga Dibalik Kehangatan

    Dinda tertawa kecil, menepuk pelan lengan Leo. "Mas ini bisa aja ih....""Kenapa?" Leo tersenyum lebar. "Aku serius, Sayang. Aku siap bikin jalan buat si dedek, hehe....""Iya, iya," jawab Dinda sambil menggeleng. "Yang penting kita sama-sama sehat, Mas."Percakapan mereka terdengar ringan, nyaris tanpa beban. Keduanya sama-sama tertawa kecil, seolah semua kecemasan yang sempat muncul sepanjang hari tidak pernah ada. Namun mereka tidak menyadari satu hal, ada sepasang telinga lain yang mendengar percakapan itu.Dari arah dapur, Sindi muncul sambil membawa piring. Senyum di wajahnya terlihat nakal ketika ia melirik ke arah Leo dan Dinda.“Wah," ucap Sindi sambil mendekat. "Aku nggak sengaja dengar obrolannya."Dinda langsung menoleh. "Sindi!""Apa?" Sindi tertawa kecil. "Mbak Dinda sama Mas Leo santai banget bahasnya, hehe."Leo ikut tersenyum kaku. "Kamu denger dari mana?""Ya dari sana," jawab Sindi sambil menunjuk dapur. "Kupikir obrolannya serius, ternyata…" ia menggantung kalimatn

  • Jatah Malam Untuk Mertua   Perhatian Atau Kebohongan

    Ayu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Apa Mbak Dinda bilang apa-apa?""Dia bilang sudah hubungi dokter. Katanya mau periksa kehamilan," jawab Leo. "Tapi aku nggak tahu siapa dokter itu. Kenapa yang datang dokternya cowok?"Ayu menghela napas. "Pak Leo, aku ngerti kekhawatiran Bapak. Tapi jangan langsung mengarah ke hal buruk."Leo tertawa kecil, pahit. "Aku juga berharap pikiranku salah."Ayu menatap Leo dengan sorot lembut. "Pak… Bapak sendiri lagi capek secara mental. Banyak tekanan. Wajar kalau jadi sensitif."Leo terdiam. "Mungkin."Ayu lalu bertanya pelan, "Terus… soal Rendi?"Leo menegakkan tubuhnya. "Aku masih nunggu kamu cari tahu."Ayu mengangguk. "Aku belum hubungi dia. Aku mau pilih waktu yang tepat. Jangan sampai terkesan mencurigakan.""Terima kasih," ucap Leo tulus.Ayu tersenyum tipis. "Aku cuma nggak mau Pak Leo terus tersiksa sama pikiran sendiri."Leo menatap Ayu cukup lama. Ada perasaan aneh yang muncul, perasaan dimengerti. Sesuatu yang belakangan ini jarang i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status