MasukRuang tamu berplafon tinggi itu perlahan kembali diselimuti ketenangan yang syahdu. Debar jantung Arini berangsur mereda, bertalu beriringan dengan ritme dada bidang Rendra yang begitu kokoh menopang tubuhnya. Tangan kasar sang montir bergerak teramat perlahan, menyampirkan kembali helai gaun sutra untuk menutupi pundak dingin wanita itu. Tiada lagi kepanikan yang mencekam, hanya tersisa desau pendingin ruangan yang membelai keheningan di antara mereka berdua. "Tarik napasmu pelan-pelan, Arini," bisik Rendra seraya menyapukan kecupan hangat di kening sang nyonya. Belaian lembut itu terasa begitu tulus, mengalirkan rasa damai yang meresap hingga ke relung batin Arini yang paling rapuh. Arini membenamkan wajahnya di lekuk leher Rendra, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi penawar dahaga jiwanya. "Terima kasih sudah mendekap lukaku, Mas Rendra..." gumam Arini dengan suara parau yang sarat kelegaan. Rendra tersenyum teduh seraya menyeka sisa air mata di sudut mata bulat yang
Isak tangis Arini semakin pecah di dada bidang Rendra saat deru mesin mobil suaminya benar-benar hilang dari kejauhan. Tubuh ramping berbalut gaun sutra tipis itu berguncang hebat, menumpahkan segala kehancuran batin yang dipendamnya bertahun-tahun. Rendra duduk di atas karpet beludru tebal ruang tamu seraya merengkuh erat pinggang Arini ke dalam dekapannya. Telapak tangan kasar sang montir menangkup pipi porselen Arini, mengusap lelehan air mata yang membasahi bibir ranum wanita itu. "Tumpahkan semuanya di sini, Arini... jangan tahan rasa sakitmu lagi," bisik Rendra dengan suara bariton serak yang begitu menenteramkan. Arini mendongakkan kepalanya seraya menatap sepasang mata elang Rendra dengan pandangan sayu yang sarat keputusasaan. "Mas Danang selalu membuatku merasa kotor dan tidak berharga, Mas..." rintih Arini dengan napas tersengal-sengal di sela tangisnya. Jemari lentik Arini mencengkeram erat bahu kekar Rendra, lalu menarik tengkuk pria itu agar mendekat. "Hapus semu
Suara ketukan nada tombol digital di gagang pintu depan membeku dalam keheningan yang mematikan. Arini membelalakkan matanya dengan napas yang seketika tercekat di tenggorokan. "M-Mas Danang... dia balik!" bisik Arini dengan wajah yang memucat seputih kain kafan. Rendra bertindak secepat kilat tanpa membuang waktu sedetik pun. Kedua tangan kekar sang duda menyambar pinggang ramping Arini, mengangkat tubuh molek itu turun dari meja marmer dengan gerakan mantap. Tangan kiri Rendra lekas menaikkan ritsleting celananya dan mengencangkan gesper sabuk kulitnya dengan satu sentakan cepat. Arini menarik ke atas gaun satin merah mudanya yang kusut dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Dua tali tipis itu dipasang kembali ke pundaknya, menutupi dua aset ranum yang masih memerah dan memancarkan hawa panas. "Sembunyi ke mana, Mas?! Pintu depan langsung mengarah ke ruang tamu ini!" bisik Arini nyaris menangis dalam kepanikan luar biasa. Sorot mata elang Rendra menyapu cepat tata ruang ta
"Suamimu menelantarkanmu di jalanan dan meninggalkanmu kedinginan di rumah besar yang sunyi ini," balas Rendra dingin dan menusuk. Kedua telapak tangan Rendra yang besar mendarat kokoh di sisi meja, mengurung tubuh sintal Arini di antara dadanya yang bidang. Aroma maskulin khas Rendra bercampur wangi sabun mandi seketika membius indra penciuman Arini. Napas panas Rendra menerpa kening Arini, memicu desiran hangat yang langsung melumpuhkan sisa tenaganya. "Semalam kamu menyerahkan dirimu seutuhnya di atas kasur saya, Arini... dan rasa itu membuat saya tidak bisa tidur sedetik pun," bisik Rendra dengan suara parau yang membakar gairah. Arini menelan ludah dengan susah payah, merasakan ujung sepatu Rendra merapatkan posisi di antara kedua kakinya. "Mas... semalam itu cuma kekhilafan karena aku panik..." dalih Arini dengan bibir ranum yang bergetar lemah. Rendra menyunggingkan seringai tipis seraya mencondongkan wajahnya mendekati ceruk leher jenjang Arini. "Kekhilafan tidak memb
Arini mengerang panjang di dalam mulut Rendra, mengalungkan kedua paha mulusnya semakin erat di pinggang kokoh sang pria. Setiap sentakan ritmis bertenaga dari tubuh kekar sang montir mengirimkan letupan kembang api kenikmatan yang belum pernah Arini cecap selama lima tahun pernikahannya. Di lantai bawah, suara gedoran keras kembali menghantam pintu depan bengkel. BRAAAK! "Buka pintunya, Rendra! Aku tahu kamu di dalam bersama istriku!" raung Danang dari pelataran luar, disusul teriakan satpam yang berusaha menahannya. Suara ancaman sang suami sah yang begitu dekat justru melipatgandakan desakan adrenalin terlarang di atas ranjang kapuk. Ketakutan akan terbongkar menyatu dengan kepuasan fisik yang teramat dahsyat, membuat dinding pertahanan Arini remuk berkeping-keping. "Mas... ahhh... Danang di bawah, Mas..." desah Arini terengah-engah seraya meremas rambut pendek Rendra dengan kuku-kukunya. Rendra menekan tubuhnya semakin dalam, memberikan hentakan penuh kepemilikan yang lan
Bisikan parau dan putus asa dari bibir ranum Arini seketika membakar habis sisa pertahanan akal sehat Rendra di atas kasur kapuk tersebut. Tatapan mata bulat Arini berkilat basah menatap lurus ke dalam manik mata elang pria kekar yang melayang di atas tubuhnya. "Kuasai aku malam ini, Mas... buat aku merasakan bagaimana rasanya dicintai seorang lelaki sejati," pinta Arini seraya meremas otot lengan Rendra dengan napas memburu. Rendra menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa terbakar gairah liar. Dada bidang berotot sang duda menekan lembut dua gundukan ranum Arini yang terekspos dari balik sisa gaun satin basah. "Kamu benar-benar yakin dengan permintaan gilamu ini, Arini?" bisik Rendra dengan suara bariton serak yang bergetar rendah di dekat daun telinga sang nyonya. "Suamimu sedang berdiri di depan pintu bengkel bersama petugas keamanan komplek." Air mata kepasrahan meleleh membasahi pipi porselen Arini yang panas merona. "Persetan dengan Danang!" desah Arini seraya menari
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon
“Ikuti saja perintahku dan jangan membantah! Untuk bayarannya, akan kuberi tambahan bonus, khusus dari aku. Paham?” Nyonya Selin berbisik pelan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Bayu.“Si-siap, Nyonya, saya siap melakukan apapun demi kebaikan Nyonya.”Nyonya Selin akhirnya bernapas lega, yang k
"Sayang, satu kali lagi, dong. Please, Sayang. Aku belum puas nihh...."Suara rengekan Nyonya Selin, istri bos tempat Bayu bekerja, tak sengaja didengar oleh Bayu yang siap menjemput sang bos untuk berangkat kerja. Dia baru seminggu bekerja di sini, karena membutuhkan biaya untuk sekolah adiknya di






