LOGINNyonya Selin tidak langsung menyentuh cangkir tersebut, melainkan menatap suaminya dengan binar mata yang mendadak berkilat penuh rencana tersembunyi. Bayu yang hafal dengan tatapan mata itu seketika menelan ludah dengan waswas. "Kenapa kamu menatapku seperti itu, Selin? Jangan bilang kamu ngidam hal aneh lagi..." Nyonya Selin tersenyum manis seraya menepuk ruang kosong di atas kasur empuk. "Mendekat ke sini dulu, Mas Bayu." Bayu melangkah hati-hati lalu duduk di tepi ranjang tepat di hadapan istrinya. Tangan lentik Nyonya Selin terulur merapikan kerah baju Bayu seraya mengikis jarak di antara wajah mereka. "Bawaan bayi kita mendadak kepingin melihat sesuatu dari masa lalu kita, Mas," bisik Nyonya Selin dengan nada suara yang teramat lembut dan menggoda. "Masa lalu apa maksudmu?" tanya Bayu dengan alis bertaut heran. Nyonya Selin mengedipkan matanya dengan senyuman nakal yang memabukkan. "Buka lemarimu, cari seragam safari hitam berkerah kaku yang dulu sering kamu pakai wa
Nyonya Selin mengeluarkan sebuah dokumen berkas penyitaan dari dalam tas tangannya, lalu meletakkannya tepat di atas selimut Dinda. "Sore tadi, majelis hakim telah resmi membekukan seluruh aset pribadi milikmu dan Paman Tirta, termasuk apartemen mewah dan mobil sport merah kesayanganmu." Mata Dinda membelalak horor membaca lembaran surat ketetapan sita eksekusi dari pengadilan negeri tersebut. "Kamu... kamu memiskinkan aku sekeluarga, Kak?!" pekik Dinda dengan suara tercekat di tenggorokan. "Hukum negara yang memiskinkanmu karena kerakusanmu mencuri uang perusahaan keluarga selama bertahun-tahun," balas Nyonya Selin lugas tanpa ampun. Nyonya Selin perlahan menoleh menatap Bayu, lalu meraih telapak tangan kasar sang suami dan menuntunnya mendarat lembut di atas perutnya. Sepasang mata cokelat keemasan sang nyonya menatap adik tirinya dengan kilatan kemenangan mutlak. "Dan satu hal lagi yang harus kamu tanamkan baik-baik di kepalamu sebelum kamu dipindahkan ke sel isolasi
Dentingan sendok di meja restoran seketika terhenti saat kabar mengejutkan dari manajer itu mengudara. Nyonya Selin lekas menyeka sisa air mata di pipi porselennya, mengembalikan tatapan mata cokelat keemasannya yang tajam dan berwibawa. "Bersimbah darah katamu?" tanya Nyonya Selin dengan nada suara dingin menusuk. "Benar, Nyonya... petugas rutan mengabarkan Nona Dinda melukai pergelangan tangannya menggunakan pecahan cermin rias dan menolak ditangani tim medis sebelum bertemu Pak Bayu," lapor manajer restoran tersebut dengan tubuh sedikit membungkuk tegang. Bayu menghela napas panjang seraya membersihkan sisa tetesan air es di kerah jas hitamnya. Sorot mata pemuda desa itu menggelap, merasa muak dengan kelakuan adik tiri istrinya yang terus mencari celah membuat kekacauan. "Kenapa dia masih saja berani menyebut nama saya setelah semua perbuatannya?" desis Bayu dengan rahang yang mengeras kaku. Nyonya Selin perlahan bangkit berdiri dari kursi makannya, merapikan letak gaun per
Restoran mewah berlantai kaca di lantai tiga puluh sebuah hotel berbintang itu menyuguhkan panorama gemerlap lampu malam ibu kota.Bayu duduk tegak di salah satu meja bundar dengan setelan jas hitam terbaiknya, menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa luar biasa kering.Keringat dingin mulai merembes di balik kerah kemejanya saat menatap gadis muda yang duduk canggung di seberang meja.Rina, staf sekretaris baru yang menggantikan posisi Dinda di kantor, menatap atasannya itu dengan ekspresi wajah penuh kebingungan."Pak Bayu... sebenarnya ada keperluan dinas apa Bapak mengajak saya makan malam di restoran semewah ini?" tanya Rina seraya meremas serbet makan di pangkuannya.Gadis berhijab rapi itu tampak serba salah, melirik daftar menu makanan Prancis yang harganya setara gaji mingguannya.Bayu melirik sekilas ke arah pot tanaman palem besar di sudut ruangan yang berjarak tiga meja dari posisinya.Di balik rimbunnya daun palem tersebut, Nyonya Selin tampak duduk mengenakan kacamat
"Aku pengen kamu selingkuhin aku, Mas Bayu!" ulang Nyonya Selin dengan nada suara yang teramat santai layaknya meminta dibelikan permen kapas di pasar malam. Keringat dingin seketika mengucur deras membasahi pelipis dan tengkuk Bayu. 'Gusti Pangeran, cobaan macam apa lagi ini setelah sekian lama berjuang melawan preman dan keluarga besar?' jerit batin Bayu dengan isi kepala yang mendadak berputar pusing tujuh keliling. Bayu menelan ludah dengan susah payah seraya memegang kedua pundak halus istrinya. "Kamu jangan bercanda yang aneh-aneh begini, Selin... apa kepalamu pusing atau pengaruh mual muntah kemarin bikin kamu melindur?" "Aku seratus persen sadar, Mas!" bantah Nyonya Selin seraya menepis tangan Bayu dengan raut wajah yang mendadak cemberut manja. Setitik air mata hormon kehamilan mendadak menggenang di pelupuk mata sang nyonya. "Bawaan bayi di dalam perutku ini penasaran sekali ingin merasakan drama diselingkuhi pria setia seperti kamu, Mas!" tutur Nyonya Selin dengan b
Cahaya matahari pagi menyelinap lembut menembus kisi-kisi tirai kamar tidur utama, menghangatkan lantai marmer yang dingin. Di dalam kamar mandi, Nyonya Selin berdiri mematung di depan wastafel seraya menatap benda pipih putih di telapak tangannya dengan tatapan tak percaya. Dua garis merah muda yang tegas dan tebal terpampang nyata di atas jendela indikator alat uji kehamilan tersebut. Tubuh wanita berkelas itu mendadak bergetar hebat, sementara butiran air mata hangat mulai menggenang di pelupuk mata cokelat keemasannya. Ketukan pelan di pintu kamar mandi terdengar menyapa lembut diiringi suara langkah tenang sang suami. "Selin? Kamu di dalam?" panggil Bayu seraya memutar handel pintu kayu yang tidak terkunci. Bayu melangkah masuk mengenakan kemeja santai, menatap raut wajah istrinya yang tampak membeku dengan napas tertahan. "Ada apa, Sayang? Perutmu mual lagi?" tanya Bayu cemas seraya lekas merengkuh kedua pundak halus sang istri. Nyonya Selin perlahan mengangkat tangannya
Nyonya Selin menatap kedua pelayan wanitanya dengan ekspresi datar, lalu berkata dengan nada sedingin es, "Besok akan ada acara penting di rumah ini. Kamu, Lastri, bersihkan seluruh toilet dan dapur. Sementara kamu, Sumi, bereskan kamar atas.""B-baik, Nyonya.""Dan kamu, Bayu...."Tatapan Nyonya S
"I-ya, Nyonya?"Bayu menoleh, dan Nyonya Selin melemparkan sebuah kedipan mata yang super menggoda. Kedipan yang seketika membuat Si Gatot di dalam celana Bayu kembali mendadak berdenyut kencang."Nggak ada, makasih untuk hari ini, ya."Bayu mengangguk dan berjalan gontai menuju kamar pembantu di p
Bayu menggenggam kedua tangannya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Pikiran tentang masa depannya yang di ujung tanduk karena menyinggung majikan, membuat dirinya panik bukan main.'Aduh, bodoh banget sih kamu, Bay! Kalau dipecat, gimana nasib sekolah adik di desa? Gimana biaya berobat Ibu?'"Saya cu
Meski agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nyonya Selin, Bayu tetap menjawab dengan suara agak terbata-bata, "L-lumayan, Nyonya. Waktu di kampung, saya sering memijat orang tua sepulang kerja di sawah."Jujur saja otaknya sudah mulai berpikir yang tidak-tidak saat ditanya seperti itu oleh Nyon







