Mag-log inHallie yang ditatap oleh Morgan pun merinding ketakutan. Dia berpikir kembali, sepertinya tidak ada yang salah dengan omongannya. Hanya saja, entah kenapa, Morgan seolah-olah tetap merasa Morgan bisa membaca pikirannya saja.Morgan telah tiba di luar ruang pemeriksaan. Pada saat ini, Theresia sedang menunggu di luar pintu. Wajahnya kelihatan tidak begitu tenang.Setelah Morgan berjalan mendekat, Theresia baru menyadari keberadaan Morgan. Dia memutar bola matanya dan menunjukkan ekspresi kaget.Morgan mengamati Theresia dari atas hingga bawah. Theresia baik-baik saja, hanya terdapat sedikit luka ringan di bagian lengannya.Theresia bertanya, “Kenapa kamu bisa kemari?”Tidak terlihat ekspresi apa pun di atas wajah Morgan. Tatapannya ketika melihat Theresia menjadi berat. “Apa janjimu kepadaku waktu itu?”Theresia tertegun sejenak. Responsnya sangatlah cepat. Ketika di dalam apartemen malam itu, Morgan memberi tahu Theresia untuk tidak berhubungan dengan Roger lagi. Theresia menggeleng de
Hallie masih terbengong melongo di tempat. Perubahan mendadak itu sungguh mengagetkannya. Ketika orang-orang di sekitar mulai membahas, dia baru tiba-tiba tersadar dari bengongnya, lalu segera menghentikan taksi untuk mengikuti mobil Theresia dan yang lain.Setibanya di rumah sakit, Hallie menuruni mobil, tetapi tidak segera ke dalam, melainkan duluan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon.Panggilan telah berdering selama lima atau enam kali. Ketika dia mengira pria itu tidak akan mengangkatnya lagi, panggilan tiba-tiba terhubung. Suara rendah dan dingin seketika terdengar kemari. “Siapa ini?”Hallie tertegun sejenak, baru berkata dengan panik, “Kak Morgan, sudah terjadi sesuatu. Kamu cepat ke rumah sakit.”Morgan bertanya, “Apa yang terjadi?”Hallie segera berkata, “Theresia dan Tuan Roger ditabrak mobil. Mereka semua masuk ke rumah sakit. Kamu segera kemari!”Hallie bisa merasakan napas orang di ujung ponsel menjadi berat. Suaranya tidak setenang tadi lagi. “Di rumah sakit mana?”Ha
Klien menyapa Roger dengan sopan, lalu berjalan memasuki restoran.Roger berkata dengan kening berkerut, “Tiba-tiba ibuku telepon aku, katanya mau bahas masalah aku sama kamu. Aku kira dia juga panggil kamu kemari.”Theresia mengangkat alisnya dengan kaget. “Bukannya kamu sudah jelaskan masalah kita dengan Bu Jovita?”Roger juga merasa heran. “Iya, aku sudah beri tahu dia masalah kita sudah putus. Apa lagi yang ingin dia lakukan?”Theresia kepikiran kemungkinan Hallie sedang menghasut Jovita. Dia pun mengingatkan Roger. “Hallie, Bu Jovita … dan Agnes sangat dekat. Kamu … mesti lebih hati-hati.”Roger tersenyum getir. Dia memang sudah masuk jebakan ibu kandungnya dan Agnes. Hanya saja, tidaklah mungkin untuk menikahkannya dengan Hallie. Di dalam restoran.Melalui jendela, Hallie melihat mereka berdua sedang mengobrol di luar sana. Dia tidak tahu kenapa Theresia bisa kemari. Tiba-tiba dia mulai merasa cemas. Dia takut Theresia akan membongkar identitasnya di hadapan Roger. Saking gugupn
Hari ini, Theresia datang dengan persiapan. Roger pasti sudah membocorkan kabar kepada Theresia!Roger bukan hanya memecat Agnes dari perusahaan saja, dia bahkan bersekongkol dengan orang luar untuk menindas keluarga sendiri. Dalam sesaat, rasa benci Agnes terhadap Roger jauh lebih besar daripada terhadap Theresia!Agnes mesti balas dendam. Dia pasti akan balas dendam!…Saat bekerja, Hallie pun merasa tidak begitu fokus. Hari ulang tahun Jovita sudah berlalu belasan hari. Jovita memang masih bersikap sangat ramah terhadapnya, bahkan lebih ramah daripada sebelumnya, tetapi Roger tidak pernah mencarinya sama sekali.Ketika kepikiran dengan telepon tadi pagi, Hallie pun merasa semakin tidak tenang lagi. Dia berpikir sebentar, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jovita.Terdengar suara antusias Jovita dari ujung telepon. “Hallie, apa kamu sudah pergi kerja?”Hallie membalas dengan tersenyum, “Sudah.”Jovita bersikap semakin lembut dan hati-hati. “Ada urusan apa mencariku?”Halli
Saat pulang, waktu sudah larut malam. Ketika melihat lampu di dalam ruang tamu masih menyala, Theresia merasa seperti tertangkap melakukan kesalahan saja. Dia pun menoleh untuk bertanya pada Morgan, “Kalau Kakek tanya kenapa kita pulang semalam ini, gimana jelasinnya?”Apalagi mereka pulang bersama!Morgan menggandeng tangan Theresia. Tatapannya kelihatan gelap di bawah cahaya malam. “Apa masih perlu dijelaskan lagi?”Ujung bibir Theresia melengkung ke atas. Namun, saat memasuki rumah, dia meronta untuk melepaskan tangan Morgan. Aska dan Jemmy yang berada di dalam ruang tamu masih belum tidur. Mereka sedang menunggu kepulangan cucu mereka dengan bermain catur.Begitu Aska mendengar ucapan pelayan, dia pun berdiri dan berjalan kemari. Tatapannya penuh dengan rasa perhatian. “Jeje, apa kamu lembur lagi?”Theresia menyapa Jemmy, lalu mengangguk dengan tersenyum. “Iya, Kakek nggak usah tunggu aku.”“Aku tidak bisa tidur, makanya main catur sama Jemmy!” kata Aska dengan terkekeh, “Apa kamu
Theresia dan Morgan kembali ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin mobil untuk meninggalkan tempat.Di bawah pencahayaan gelap, dagu pria itu kelihatan jelas. “Sepertinya Hallie sudah melakukan banyak hal di belakang!”Theresia menunjukkan ekspresi merenung. “Dia ingin mengandalkan kekuatan Keluarga Manthana.”Pada hari pernikahan Sonia waktu itu, Theresia menyadari bahwa anggota Keluarga Manthana sedang menjilat Hallie. Kebetulan Keluarga Manthana juga memiliki dendam terhadap Theresia, mereka pun bisa dimanfaatkan oleh Hallie. Tentu saja, masalah memanfaatkan ini terkadang juga dua arah.Morgan berkata, “Setelah pulang nanti, aku akan ngomong sama Kakek Aska untuk segera mempublikasi identitasmu, lalu mengusir Hallie.”Theresia memutar bola matanya, lalu menggeleng dengan tersenyum. “Jangan, jangan beri tahu Kakek.”“Emm?” Morgan merasa tidak puas.Sudut mata Theresia sedikit terangkat. Tatapannya yang berkilauan itu bagai sedang menyembunyikan ide buruk saja. “Keluarga Manthana ing
Rose berucap, “Lumayan, dia kompeten dan juga pintar. Aku juga semakin cocok sama dia.”“Waktu itu, dia bersamamu pergi menemui Stephen?” tanya Sonia.Rose mengiakan, lalu menceritakan kembali masalah Stephen dan Luciana memintanya untuk membuat desain cincin. Kening Rose berkerut ketika berkata, “S
Stephen berbicara dengan nada bersalah, “Nona Rose, maaf. Tadi pagi aku pergi ke gunung, jadi tidak ada sinyal. Aku tidak bisa angkat teleponmu.”Rose berkata, “Apa kamu sudah baca berita di internet?”Stephen duluan merasa syok, kemudian baru berkata, “Sudah … aku sudah membacanya. Aku benar-benar
Mata Rose seketika terbelalak. Dia spontan mulai meronta, tetapi di belakang tubuhnya adalah tembok yang dingin, sedangkan di depannya adalah seorang pria yang beraura dingin. Seluruh perlawanan Rose pun ditelan oleh Juno.“Uhm ….”Rose berusaha sekuat tenaga untuk memukul pundak si pria. Dia tidak
Penghangat di kamar dibuka dengan sangat tinggi. Rose pun merasa haus, mengambil gelasnya, lalu berjalan ke lantai bawah untuk mengisi air.Setibanya di dapur, pembantu sedang membereskan bahan makanan untuk besok pagi. Ketika melihat Rose sedang menuang air, dia pun bertanya dengan penuh perhatian,







