تسجيل الدخولTatapan Theresia melirik bagian kemeja hitam basah Morgan. Dia pun berkata, “Hari ini aku mesti kembali ke Apartemen Tribeca sebentar. Aku mau pulang untuk cari dokumen.”Morgan mengangguk. “Kalau begitu, kita pergi makan dulu. Nanti kita baru pergi ambil dokumen setelah makan.”Theresia tidak berpendapat lain.Morgan memutar bola matanya dan bertanya, “Apa masih mau makan steamboat?”Theresia melihat hujan di luar sana. Bola mata indahnya berkilauan. Dia berkata dengan tersenyum, “Makan masakan lokal Jembara saja. Aku bawa kamu ke tempat yang enak.”Suasana dan lingkungan di restoran ini sangat cocok untuk menikmati hujan. Morgan mengangkat kepalanya. “Kamu bantu aku navigasi.”Theresia mengeluarkan ponsel untuk mencari letak restoran.Mereka berdua merasa sangat beruntung. Mereka memang telat, tetapi mereka menemukan sebuah tempat yang cukup bagus. Lingkungan ini terasa elegan, bisa melihat seluruh pemandangan Kota Jembara.Di malam hujan Kota Jembara, kabut dan awan tampak berpadu,
Semua orang yang memiliki hubungan dekat dengan Keluarga Angsara berangsur-angsur mendapatkan kartu undangan.Hari demi hari berlalu. Masih ada dua hari sebelum acara jamuan dimulai.Gara-gara Hallie, Jovita sangat memperhatikan masalah Keluarga Angsara, jadi pagi hari tadi dia sudah mencari tahu masalah jamuan Keluarga Angsara dari orang lain.Jovita menghubungi Hallie dengan antusias, “Hallie, dengar-dengar Tuan Aska mau mengadakan acara pengenalan untuk kamu. Nanti, aku pasti akan ke sana. Aku dan ayahnya Roger akan hadir.”Hallie merasa panik, lalu berusaha untuk menenangkan dirinya. “Bibi dan Paman nggak boleh ke sana.”Jovita berkata dengan kaget, “Kenapa tidak boleh ke sana?”“Apa Bibi punya undangan dari kakekku?” tanya Hallie.Jovita berkata dengan canggung, “Tidak punya.”Hallie menganalisis dengan serius, “Kalau nggak punya undangan dan kamu tiba-tiba muncul, gimana aku perkenalkan kalian nantinya? Aku nggak bisa berbohong, tapi kalau aku jujur, Kakek pasti akan marah. Apala
Julia melihat rambut Theresia masih basah. Dia pun menekan Theresia untuk duduk di atas ranjang, lalu mengambil pengering rambut untuk mengeringkan rambutnya.Theresia memeluk kedua lutut dengan tangannya. Dia sedang mengenakan gaun panjang. Rambut panjangnya yang tertiup angin terurai lembut menutupi sisi wajahnya yang menawan. Kecantikan yang biasa terlihat jadi sedikit berkurang, berganti dengan kesan yang lebih manis dan patuh.“Bukannya Ibu bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan sama aku?” tanya Theresia.Julia mengeringkan rambut Theresia dengan lembut, lalu bertanya, “Apa kamu dan Morgan pernah kepikiran untuk menikah?”Theresia menurunkan bulu mata panjangnya. “Nggak.”“Tidak?” Julia berkata dengan tersenyum, “Morgan sudah tidak muda lagi. Memangnya dia tidak ribut untuk menikahimu?”Theresia membalas, “Ibu, hubungan aku dan Morgan nggak seperti yang kamu bayangkan.”Kening Julia berkerut. Dia menutup pengering rambut, lalu duduk di samping. “Apa maksudmu?”Theresia menyelip
Di Kediaman Keluarga Angsara.Saat ini sedang ada yang datang bertamu. Aska dan tamu sedang mengobrol di ruang baca. Jemmy pun keliling halaman sendirian.Julia dan Vans sedang mengobrol di taman bunga. Dia dapat melihat bayangan tubuh Jemmy dari kejauhan. Setelah mengobrol beberapa saat, dia baru berjalan ke sisi Jemmy.“Paman Jemmy, cuaca panas sekali. Aku sudah masak teh pereda kental. Kamu duduk sebentar di paviliun. Aku akan bawa ke sana.”Jemmy mengangguk dengan tersenyum. “Oke.”Tidak lama kemudian, Julia datang dengan mengantar teh kemari. Dia menuangkan teh ke dalam mangkuk untuk Jemmy. “Aku sudah mengganti resepnya, tidak akan terlalu dingin. Coba kamu cicipi.”Jemmy meminum seteguk, lalu mengangguk tanda mengiakan. “Segar sekali.”Julia meletakkan teko teh. “Semalam, Theresia pulang bersama Morgan. Sepertinya hubungan mereka sudah kembali seperti semula!”Kening Jemmy berkerut. “Aku memahami temperamen Morgan. Theresia pasti sudah menderita.”Julia mengangguk dengan perlahan
Theresia meremas jubah mandi di tubuh Morgan. Tatapan malasnya kelihatan sedikit menggoda. Dia melakukan protes dengan suara kecil, “Ini lagi di rumah, sepertinya nggak bagus seperti ini?”Apalagi sebelum pulang tadi, mereka juga sudah ….Morgan menurunkan Theresia di atas ranjang. Dia mengangkat tangannya untuk mengusap bibir lembab Theresia, kemudian berkata dengan nada rendah, “Kita tidak melakukan apa pun.”Theresia mengangkat alisnya. “Apa kita cukup ngobrol di dalam selimut saja?”Morgan berbaring di samping Theresia dengan ekspresi santai dan tenang. “Aku tidak ngobrol dan tidur. Aku lihat kamu tidur saja.”Theresia merasa ada yang aneh dengan Morgan hari ini. Jangan-jangan akhirnya dia menyadari bahwa dirinya sudah salah paham terhadap Theresia. Jadi, dia merasa bersalah? Tidak mungkin!Kata “bersalah" tidak mungkin muncul di kamus pria ini.Theresia berbaring di atas ranjang. Dia dapat mencium aroma wangi di tubuh pria itu, alhasil dia tidak bisa tertidur. Dia mengulurkan tang
Theresia mengangguk. “Oke!”“Tidur sana!” Julia menepuk pelan pundaknya, lalu membalikkan tubuhnya untuk memasuki kamar.Morgan telah kembali ke kamar. Setelah membasuh tubuhnya, dia merokok di balkon. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengambil ponsel untuk melihat sekilas. Tatapannya kelihatan semakin tegas di malam hari. Panggilan pun diangkat. “Halo!”“Aku Roger.”“Aku tahu.”Roger tersenyum lembut. “Maaf sekali, sudah mengganggu Tuan Morgan di malam hari. Aku yang suruh Theresia datang membantuku hari ini. Aku harap Tuan Morgan jangan salah paham.”Tidak terdengar emosi apa pun dari suara Morgan. “Berhubung kalian sudah putus, tidak seharusnya kalian saling mengganggu satu sama lain lagi.”Semakin terdengar rasa bersalah dari suara Roger. “Tuan Morgan jangan salah paham. Seharusnya Theresia sudah jelaskan kepadamu. Sebelumnya kami bisa bersama hanya karena Theresia ingin membalas budiku saja.”Morgan bertanya, “Budi apa?”Roger menceritakan masalah Theresia tiba-tiba jatuh sakit
Sonia sudah melangkah hingga pintu keluar dan sedang mengenakan sepatunya. Setelah selesai, perempuan itu menoleh ke belakang dan pamit pulang. “Pak Reza, Tandy, sampai jumpa.”Tandy melihat Sonia yang sudah keluar langsung menoleh ke arah Reza sambil berkata, “Om, papaku sudah mau ulang tahun dan ak
Hana mengedipkan matanya, “Reza, apa maksud kamu ini?”Reza menyapukan sorot mata yang dingin ke wajah Hana, “Apa kamu nggak mengenal mereka?”Hana tertawa dengan suara yang sedikit dipaksakan, “Bagaimana mungkin aku bisa mengenal mereka?”Seseorang yang berjongkok di paling depan, tiba-tiba mengangkat
Keesokan harinya, ketika Sonia bangun, hari sudah terang. Reza tidak ada dan dia sendirian di tempat tidur.Ketika dia turun dari tempat tidur untuk mencari pakaiannya, pahanya bergetar. Dia hampir terjatuh. Dia menghela napas, merasa seolah telah kembali ke masa di mana dia mengikuti pelatihan inten
Pesan sudah dikirim Sonia, tapi dia tidak mendapatkan balasan apa-apa.Hari ini Ranty juga sedang senggang, dia membawa Sonia untuk pergi bersenang-senang, mencicipi masakan baru.Tak disangka di saat meninggalkan restoran, mereka malah bertemu dengan Melvin. Dia dan temannya juga makan di sini. Melvi







